" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

Kamis, 18 Juni 2020

Rezeki Setiap Orang Sudah di Takar dan Tidak Akan Tertukar + Video


أنا أحبك يا رسول الله


Sebelum baca, harus BERSHOLAWAT dulu!,
Allahumma Sholli A'la Sayyidina Muhammad?

Ya ALLAH..., Ya RAHMAN.....,Ya RAHIM 
Muliakanlah orang yang membaca dan membagikan status ini 
Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid 
Lapangkanlah hatinya 
Bahagiakanlah keluarganya 
Luaskan rezekinya seluas lautan 
Mudahkan segala urusannya 
Kabulkan cita-citanya 
Jauhkan dari segala Musibah 
Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,
Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar. 
Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang 
membaca dan membagikan status ini. 
Aamiin ya Rabbal'alamin

I REALLY LIKE THIS LINK



Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!


alikhlasmusholaku.top/2020/06/rezeki-setiap-orang-sudah-di-takar-dan.html




Diantara perkara yang menentramkan bathin seorang hamba adalah tatkala ia menyadari bahwa Alloh telah menetapkan kadar rejeki seseorang. Kadang dilapangkan, kadang disempitkan, ada yang diberi harta banyak, ada yang diberi bagian sedikit. Semua ini adalah ketetapan Alloh Ta’ala. Alloh Ta’ala berfirman: Katakanlah:
“Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).”  (QS. Saba: 39).
Bila Alloh Ta’ala menghendaki, seorang yang bodoh dan buta hurufpun bisa menjadi orang yang kaya raya. Sebaliknya yang berpendidikan tinggi, diploma atau sarjana justru hidup sederhana tanpa harta yang berlimpah. Karena memang rejeki tidak berkaitan dengan tingkat pendidikan seseorang.
Tidak sedikit orang ‘ndeso-katro’, wajah tidak rupawan, malah diberi kelapangan rejeki, sementara yang ‘keren-gagah & ngotani’ malah kesulitan mencukupi kebutuhan hidupnya. Ternyata  rejeki memang tidak berbanding lurus dengan tampang wajah seseorang.
Terkadang usaha yang telah terencana dengan baik, segala kemungkinan telah diperhitungkan ternyata ‘gagal maning-gagal maning ’. Sementara yang kelihatan santai, tidak terlalu difikirkan malah berbuah kesuksesan.
 Ya…itulah ‘misteri rejeki’. Yang jelas membuat kita semakin yakin Alloh-lah yang melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Alloh telah menetapkan kadar rejeki yang akan diterima masing-masing hamba atas kehendakNya, dengan Ilmu, hikmah dan keadilanNya.
Yang lapang rejekinya
Saat rejeki lapang semestinya seorang hamba bersyukur. Dia manfaatkan rejeki tadi untuk apa-apa yang menjadi keridhoanNya. Tidak membuatnya terlena, berpaling, apalagi rejeki tadi justru digunakan untuk mendurhakaiNya.
Yang perlu disadari, ketika Alloh Ta’ala melapangkan rejeki seorang hamba, maka belum tentu itu adalah tanda kemuliaan dan kecintaan dariNya. Alloh Ta’ala berfirman:
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa),Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar” (QS. Al Mu’minun:55-56).
Kadang lapangnya rejeki bisa jadi hanyalah istidroj, yaitu seseorang tengah ditarik berangsur-angsur menuju kebinasaan dari arah yang tidak disadarinya. Saat seorang hamba ingkar kepadaNya, lalai dengan perintahNya, suka menerjang laranganNya, kok malah rejeki kian lapang, harta kian banyak, waspadalah! Itu semua hanya istidroj. Sebagaimana firmanNya:
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (QS Al An’am: 44)
Yang sempit rejekinya
Sebaliknya ketika seorang hamba tengah disempitkan rejekinya itupun  bukan berarti bahwa hamba tadi tidak dicintaiNya atau dimuliakanNya.  Bisa jadi sempitnya rejeki tadi adalah kebaikan baginya.
Tidak sedikit saat seseorang dilapangkan justru lupa diri dan  terkunci hatinya untuk bersyukur. Sebagaimana FirmanNya:
Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. (QS Asy Syura: 27).
Maka saat Alloh Ta’ala menghendaki kebaikan kepada seorang hamba terkadang justru Alloh sempitkana rejekinya, tentu dengan berbagai hikmah dan kebaikan yang mengiringinya.
Diantara hikmah saat seseorang disempitkan  rejekinya  adalah bahwa Alloh berkehendak menghapus dosa-dosanya. Sebagaimana beliau pernah bersabda:
Diantara dosa ada yang tidak akan terhapus kecuali dengan al humum, yaitu beratnya beban penghidupan (sempitnya rejeki)” (HR Thobroni).
Hikmah lain dari sempitnya rejeki adalah mempermudah saat hisab. Kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Rabnya sampai dia mempertanggungjawabkan lima perkara, diantaranya adalah tentang hartanya dari mana didapatkan, dan untuk apa dinafkahkan. Maka beruntunglah orang  yang saat di dunia sempit rejekinya, sedikit hartanya. Karena merekalah orang-orang yang akan merasakan kemudahan saat hisab. Sebagaimana sabda Beliau:
Dua perkara yang dibenci anak Adam. Yang pertama kematian, padahal kematian adalah kebaikan daraipada hidup penuh dengan ujian. Yang kedua adalah sedikitnya harta, padahal sedikitnya harta adalah ringan saat di hisab” (HR. Tirmidzi)
Termasuk diantara keutamaan orang yang disempitkan rejekinya (miskin) kelak di yaumul akhir adalah mereka  lebih cepat masuk surga dibanding orang-orang kaya. Tentang ini Beliau SAW bersabda:
“Orang-orang fakir dari kalangan kaum muslimin setengah hari (yaitu setara lima ratus tahun) lebih dahulu masuk ke dalam surga daripada orang-orang kaya” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah & Ibnu Hiban)
Bahkan berbahagialah wahai orang miskin (yang di dunia disempitkan rejekinya) Beliau telah melihat bahwa kebanyakan penghuni surga adalah orang-orang msikin. Sebagaimana diceritakan oleh Usamah bin Zaid, dia mengatakan bahwa Beliau SAW bersabda:
“Aku berdiri di pintu surga, ternyata paling banyak yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Adapun orang-orang kaya masih tertunda. Sementara penghuni neraka masuk ke dalam neraka” (HR. Bukhari & Muslim).
Inilah hikmah dilapangkan dan disempitkannya rejeki. Yang jelas sedikitnya harta tidak mesti seorang jadi sengsara. Sebaliknya orang yang bergelimang harta itupun tidak mesti dia bahagia. Karena bahagia dan sengsara tidak mutlak disebabkan harta yang berlimpah, tapi lebih karena hati yang lapang yang dipenuhi rasa syukur akan nikmatnya.
Jika ini dipahami, maka seorang hamba tidak protes terhadap jatah rezekinya, bahkan qona’ah (menerima dan rela) atas jatah rezekinya sembari meyakini bahwa hal ini adalah pilihan Allah yang terbaik baginya. Ia meyakini juga bahwa Allah lebih mengetahui dan lebih sayang terhadap diri hamba-Nya daripada hamba itu sendiri. Walaupun rezeki halal yang diperolehnya sedikit, namun itu adalah yang terbaik bagi dirinya. Hingga ia bersyukur saat dilapangkan rejekinya, dan bersabar saat disempitkan rejekinya.
Ya Alloh, berkahilah kami dengan rejeki yang halal, yang menguatkan badan ini untuk tunduk kepada keridhoanMu, istiqomah berada dan berjuang di jalanMu…amin ya rabbal ‘alamin.




Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :




http://www. alikhlasmusholaku.blogspot.com

YA ALLAH JAUHKANLAH KAMI SEMUA DARI SIKSA KUBUR, HARAMKANLAH NERAKA ATAS JASADKU, KEDUA ORANGTUAKU, DAN SEMUA ORANG YG MENGUCAP "AAMIIN" DIKOMENTAR..
.
Sudah baca Like, komen Aamiin, lalu BAGIKAN dengan Ikhlas!



Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Siapa yang mengajak kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya, tidak akan dikurangi sedikitpun dari pahala mereka…” (HR. Muslim 2674, Abu Daud 4609 dan yang lainnya).


TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN

✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.

"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."

Lathaiful Ma'arif, hlm. 19



Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar