" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

Rabu, 13 Mei 2020

Tata Cara Sholat Idul Fitri Berjamaah di Rumah 1 Syawal 1441 H Sesuai Fatwa MUI + VIDEO

أنا أحبك يا رسول الله


Sebelum baca, harus BERSHOLAWAT dulu!,
Allahumma Sholli A'la Sayyidina Muhammad?

Ya ALLAH..., Ya RAHMAN.....,Ya RAHIM 
Muliakanlah orang yang membaca dan membagikan status ini 
Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid 
Lapangkanlah hatinya 
Bahagiakanlah keluarganya 
Luaskan rezekinya seluas lautan 
Mudahkan segala urusannya 
Kabulkan cita-citanya 
Jauhkan dari segala Musibah 
Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,
Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar. 
Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang 
membaca dan membagikan status ini. 
Aamiin ya Rabbal'alamin

I REALLY LIKE THIS LINK



Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!






Pandemi Virus Corona, menurutnya tidak boleh menjadi halangan untuk merasakan kebahagian Idul Fitri.

"Mari kita sambut kehadiran Idul Fitri 1441 H dengan suka-cita dan bahagia, karena itu adalah hari kemenangan dan hari kembalinya kita ke fitrah yang suci," katanya.

"Mari berbagi kepedulian kepada yang memerlukan, agar mereka juga dapat berlebaran seperti kita semua. Pandemi covid-19 tidak boleh mengurangi kebahagiaan dan kegembiraan kita dalam menyambut Idul Fitri 1441 H," kata Fachrul.


Panduan sholat Idul Fitri

Pada dasarnya, hukum shalat Idul Fitri adalah sunnah.

Umat Islam bisa melaksanakannya secara mandiri maupun berjamaah.

Lantas bagaimana caranya melakukan ibadah sholat Idul Fitri di rumah?

Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Tengah telah mengeluarkan panduan Pelaksanaan sholat Idul Fitri 1441 H/2020 M dalam Situasi Darurat covid-19 Nomor: 04/DP-P.XIII/T/V/2020.

Berikut panduan tata cara sholat Idul Fitri

1. Niat sholat

"Ushalli sunnatan li 'Idil Fitri rak'ataini lillahi ta'ala,"

Artinya: Aku berniat sholat Idul Fitri dua rakaat karena Allah ta'ala.

2. Takbiratul Ihram (Allahu Akbar) sambil mengangkat kedua tangan

3. Membaca Doa Iftitah

4. Membaca Takbir sebanyak 7x pada rakaat pertama

Kemudian di sela-sela setiap takbir membaca secara pelan (sirr): "Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu Akbar"

Artinya: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar

5. Membaca Surat al-Fatihah dan surat pendek yang dihafal, disunnahkan surat al-A'la

6. Ruku', sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua dan berdiri lagi

7. Dalam posisi berdiri kembali pada rakaat kedua, membaca takbir sebanyak 5x seraya mengangkat tangan, di antara setiap takbir itu membaca secara pelan (sirr): "Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu Akbar," seperti pada rakaat pertama.

Kemudian membaca Surat al-Fatihah dan surat pendek yang dihafal, disunnahkan Surat al-Ghasyiyah

8. Ruku', sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, tahiyyat dan diakhiri salam

9. Selesai salam, kemudian disunnahkan khutbah Idul Fitri

Pelaksanaan Khutbah

Khutbah sholat Idul Fitri terdiri dari dua khutbah, yakni:

Khutbah pertama

1. Membaca takbir 9x

2. Membaca tahmid (alhamdulillah)

3. Membaca shalawat (Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad)

4. Ajakan bertaqwa kepada Allah SWT (ittaqullah)

5. Membaca ayat Al-Quran (sebisanya)

Khutbah kedua

1. Membaca takbir 7x

2. Membaca tahmid (alhamdulillah)

3. Membaca shalawat (Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad)

4. Ajakan bertaqwa kepada Allah SWT (ittaqullah)

5. Membaca ayat Al-Quran (sebisanya)

6. Membaca doa untuk umat Islam (sebisanya)



Sebagian besar ulama memiliki pendapat bahwasannya, hukum yang mengikat salat idul fitri adalah Fardhu’ kifayah.  Dimana seorang muslim boleh hukumnya meninggalkan salat idul fitri, namun lebih diutamakan apabila datang dan melaksanakannya, hal ini dimaksudkan agar dapat berkumpul serta bertemu dengan kaum muslimin yang lain.
Karena meskipun dalam fiqih salat idul fitri dikategorikan sebagai ibadah Sunnah, tetapi sunah yang dimaksud adalah sunnah mu’akad (atau sunnah yang ditekankan). Sehingga akan dianggap tidak pantas apabila tidak dilakukan (atau ditinggalkan), kecuali dengan alasan yang benar-benar syar’i menurut islam.
Sedangkansebagian ulama yang lain berpendapat bahwa salat idul fitri memiliki hukum (yangmendekati) fardhu ’ain. Yaitu ibadah yang sama syarat dan ketentuannya dengan salat jum’at. Apabila seorang lelaki muslim yang sudah mencapai usia baligh, dan telah memenuhi syarat sah untuk salat, maka harus hukumnya berangkat salat idul fitri. Dalam pandangan ini, terdapat beberapa dalil yang menguatkan.
Tentu saja, antara dua pandangan yang berbeda diatas, keduanya berbagi satu persamaan yaitu memiliki penekankan bahwa :
“berangkatlah dan tunaikanlah salat idul fitri sebagai upaya memenuhi keimanan dan bertemu dengan sanak saudara dan sesama muslim yang lain.”
Jelasbahwasannya dengan berangkat salat idul fitri maka tidak akan ada kerugian yangakan kita dapat. Bahkan menunaikannya malah membuat kita lebih bahagia daripadamenolak pergi ke masjid karena merasa bahwa salat iedul fitri hanyalah ibadahsunnah.
Namun tentu, dalam mengkaji perihal Fiqih yang terkandung dalam Ibadah Salat Idul Fitri, terkadang muncul beberapa pertanyaan perihal tata cara yang dilakukan. Salah satu diantara beberapa pertanyaan tersebut adalah perihal hukum melaksanakan salat idul fitri sendirian. Disini kita akan membahasnya.
Apakah Diperbolehkan untuk Salat Idul Fitri Sendirian di Rumah?
Bagi deretan muslim yang taat, hari raya lebaran merupakan hari yang tunggu-tunggu. Pasalnya di hari tersebut banyak sekali kebahagiaan yang bisa didapat setelah perjuangan dalam berpuasa selama 1 bulan lamanya.
Salah satunya adalah kebahagiaan untuk pergi ke masjid dan menunaikan salat ied. Namun karena beberapa alasan, terkadang seorang muslim tidak bisa berangkat ke masjid. Kita ambil contoh seorang ibu yang harus menjaga anaknya di rumah sehingga tidak dapat ikut menunaikan kewajibannya untuk salat ied di pagi lebaran.
Semisal ibu tersebut memutuskan untuk salat ied di rumah. Apakah ada dalil yang menguatkan keputusannya tersebut? Apakah hukum melaksanakan salat idul fitri sendirian di rumah?
Dalam menjawab pertanyaan tersebut, kita harus kembali menilik hukum dari salat idul fitri itu sendiri. Salat Ied, baik salat Idul Fitri maupun salat Idul Adha hukumnya adalah sangat dianjurkan (sunnah mu’akad) untuk dilaksanakan dan dilakukan secara berjamaah. Berikut adalah penjelasan dan pandangan dari beberapa ulama perihal masalah yang dimaksud. Imam Syafi’i dalam kitabnya, Al-Umm, mengatakan bahwasannya :
وَلِلتَّطَوُّعِ وَجْهَانِ صَلَاةٌ جَمَاعَةً وَصَلَاةٌ مُنْفَرِدَةً وَصَلَاةُ الْجَمَاعَةِ مُؤَكَّدَةٌ وَلَا أُجِيزُ تَرْكَهَا لِمَنْ قَدَرَ عَلَيْهَا بِحَالٍ وَهُوَ صَلَاةُ الْعِيدَيْنِ وَكُسُوفِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَالِاسْتِسْقَاءِ
“Shalat sunnah terbagi dua, yakni yang dilaksanakan berjamaah dan yang sendiri-sendiri. Adapun shalat sunnah yang sangat dianjurkan berjamaah tidak diperkenankan untuk meninggalkannya bagi yang mampu melaksanakannya, yaitu salat dua hari raya, gerhana matahari dan bulan, serta shalat istisqa.”
Kemudian, jika berhalangan untuk melakukan salat ied berjamaah,shalat Ied boleh dilaksanakan sendirian. apabila kita melirik penjelasan dariAbu Hasan Ali al-Bagdadi dalam kitab al-Iqna’fil fiqh asy-Syafi’i yang mengatakan bahwa:
وَيُصلي العيدان فِي الْحَضَر وَالسّفر جمَاعَة وفرادى
Dan hendaklah melaksanakan shalat dua hari raya dalam keadaan hadir maupun bepergian, baik dengan berjamaah maupun sendiri-sendiri.
Namun harus ada penekanan disini bahwasannya, Kondisi meninggalkan salat ied yang dimaksud adalah kondisi-kondisi yang dihitung secara syar’i menurut hukum-hukum islam. Tidak layak apabila seorang muslim meninggalkan salat ied karena malas dan kemudian dia dengan sengaja melakukan salat sendiri di rumah. Hal tersebut benar-benar tidak pantas.
Tata Cara dalam Melakukan Salat Ied Sendirian
Memang, secara pribadi Rasulullah belum pernah mencontohkan secara langsung perihal tata cara salat ied sendirian (wallahu a’lam bishowab). Pasalnya Rasulullah selalu melaksanakan salat idul fitri bersama para sahabat. Diawali dengan mengajak para perempuan dan anak kecil untuk berbondong menuju lapangan (tempat Rasulullah dan para sahabat melaksanakan salat idul fitri), tidak luput para perempuan haid pun diajaknya oleh Rasulullah untuk mendengarkan khutbah (meskipun dilarang untuk mendekati tempat salat).
Namun dalam diskusi para ulama. Terdapat beberapa pandangan yang memberikan penjelasanperihal tata cara melakukan salat ied sendirian.
1. Tidak dilaksanakan tidak apa-apa
Ibnu Qudamah dalam kitab al-mughni berpendapat bahwasannya,“Barangsiapa yang tertinggal shalat Ied, maka tidak ada kewajiban qodho baginya. Karena hukum shalat Id adalah fardhu kifayah. Jika sudah mencapai kadar kifayah (ditinggalkan boleh tapi dilaksanakan lebih utama), maka sudah dikatakan cukup.”
Pendapat Ibnu Qudamah juga dikuatkan oleh Imam Maliki yang juga berpendapat sama. Yaitu tidak menganggap adanya qadha. Secara garis besar, maka hukunya boleh apabila ditinggalkan.
2. Dilaksanakan (sendirian) dengan 4 Rakaat
Imam al-Auza’i, Imam Ahmad dan Ats-Tsauri berpendapat bahwa, orang yanghendak mengqadha shalat Ied hendaklahmelakukannya dengan salat empat rakaat, baik dengan satu salam atau dua salam(dua rakaat dua rakaat). Empat rakaat ini diqiyaskan kepada salat Jum’at yangapabila terlewat maka harus menggantinya dengan empat rakaat. Pendapat iniberdasarkan riwayat dari Ibnu Mas’ud yang berbunyi :
 قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ: مَنْ فَاتَهُ الْعِيدُ فَلْيُصَلِّ أَرْبَعًا
Abdullah bin Mas’ud berkata,“Barangsiapa yang luput dari shalat Id maka hendaklah ia shalat empat rakaat”  (HR. Thabrani)
Namun Ibnu Mundzir dan Imam Syafii menganggap bahwa pendapat yang menyatakan qadha shalat Id dengan empat rakaat adalah tasybih yang lemah, pasalnya shalat Ied tidak bisa dikategorikan sebagai salat pengganti, sebagaimana salat Jumat yang merupakan pengganti dari shalat Dzuhur yang memiliki empat rakaat.
3. Dilaksanakan 2 Rakaat dengan Takbir
Pendapat lain adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi’i dan Abu Tsaur.Yang mana mereka mengutarakan bahwa salat Id boleh dilakukan seperti biasanya,  yaitu dua rakaat beserta takbir dengan suara jahr (keras atau lantang). Ia boleh memilih untuk shalatberjamaah atau sendirian.
Diantara pandangan diatas, sebenarnya terdapat beberapa pandangan lain.Yang satu diantaranya mengatakan bahwa salat dilakukan di lapangan (tempatsalat ied berlangsung), maka dilakukan 2 rakaat, dan apabila di tempat lainmaka dilakukan 4 rakaat.
Namun tentu saja, karena diantaranya saling berseberangan satu samalain. Jika kita harus mearik garis lurus dan tetap berada di jalan yang benarmaka lebih baik kita berangkat saja.Sehingga kita tidak akan terbentur dengan kebingungan karena berbagai macampendapat yang kontradiktif.
Tetapi, apabila semisal untuk menambah kadar keilmuan dan mencari pandanganyang paling shahih, maka ayalnya kitaharus belajar perihal fiqihnya secara dalam lebih dari beberapa penjelasanmentah diatas.
Apapun itu terkait hukum melaksanakan salat idul fitri sendirian,semoga kita selalu diberi kemudahan dan tuntunan untuk tetap berada di jalan yang lurus. Amin, Insyaallah.

Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :



alikhlasmusholaku.top & alikhlasmusholaku.blogspot.com

YA ALLAH JAUHKANLAH KAMI SEMUA DARI SIKSA KUBUR, HARAMKANLAH NERAKA ATAS JASADKU, KEDUA ORANGTUAKU, DAN SEMUA ORANG YG MENGUCAP "AAMIIN" DIKOMENTAR..
.
Sudah baca Like, komen Aamiin, lalu BAGIKAN dengan Ikhlas!




Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)


TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN

✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.

"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."

Lathaiful Ma'arif, hlm. 19



Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar