" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

Minggu, 19 April 2020

10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan Bersama Rasulullah


Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Yang memuliakan orang-orang yang ta’at, Yang mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat. Shalawat dan salam atas Imam orang-orang yang bertaqwa dan sebaik-baik ahli ‘ibadah, Muhammad,  wa ba’du:
Allah telah memuliakan umat ini dan memberikan karunia kepadanya dengan mendatangkan musim-musim yang penuh dengan kebaikan, pahala yang berlipat di dalamnya, yang mampu menyentuh ha serta mendorong manusia berbondong-bondong menyongsongnya untuk melakukan amal yang sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala.
Oleh karena itu, orang yang hanya hidup dalam menyongsong panggilan Allah dan memiliki semangat yang nggi akan berusaha sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepadaNya; dan ini merupakan bekal yang amat mulia. Allah berfirman (arnya), “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki dak berguna,[88]. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan ha yang bersih.“[89] {Q.S.asy-Syu’arâ`:88-89}.
Rasulullah, bersabda, “Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad.” 
(HR Muslim)

Berikut ini ulasan ringkas tentang beberapa petunjuk Nabi, berkenaan dengan akvitas beliau pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan:

1. Beliau, Bersungguh-sungguh Di Dalam Beribadah


Nabi, menambah frekuensi ibadahnya pada al-‘Asyrul Awaakhir (sepuluh hari terakhir) di bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Dan hal seper ini dak pernah dilakukannya pada selain hari-hari tersebut. Seluruh hari-harinya dihabiskannya untuk beribadah, berseah diri dan berzikir.
Dalam hal ini, isteri beliau; ummul Mukminin, ‘Aisyah x, menjelaskan, “Rasulullah, sangat bersungguh-sungguh pada al-‘Asyrul Awaakhir, sesuatu yang dak beliau lakukan pada selain hari-hari tersebut.” (HR Muslim)
‘Aisyah berkata lagi, “Bila memasuki al-‘Asyrul Awaakhir, Rasulullah, menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya serta bersungguh-sungguh dan bergiat sekali.” (HR Muslim)
Ali bin Abu Thalib berkata, “Bila menginjak al-‘Asyrul Awaakhir, Nabi, benar-benar sungguh-sungguh dan dak meniduri isteri-isterinya.”(HR Baihaqi dan dinilai
Hasan oleh penahqiq Musnad Imam Ahmad)

2. Melakukan Qiyamul Lail (Shalat Malam)

Qiyamul Lail yang dilakukan oleh beliau pada al-‘Asyrul Awaakhir ini memiliki keismewaan tersendiri, diantaranya:
Bahwa beliau dalam shalatnya dak melebihi sebelas raka’at, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah x, dia berkata, “Rasulullah dak menambah (raka’at shalatnya) baik di bulan Ramadhan ataupun selainnya melebihi sebelas raka’at.” (HR al-Bukhari)
Beliau memanjangkan shalatnya tersebut (melamakan temponya), sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah x, keka ditanya, “Bagaimana shalat Rasulullah di bulan Ramadhan?.” Dia menjawab, “Beliau dak menambah (raka’at shalatnya) baik di bulan Ramadhan ataupun selainnya melebihi sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at, dan (mengenainya) jangan ditanya bagaimana indah dan panjang (lama)-nya, kemudian shalat empat raka’at lagi, dan (mengenainya) jangan ditanya bagaimana indah dan panjang (lama)-nya, kemudian shalat ga raka’at. Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah engkau dur sebelum shalat wir?, beliau bersabda, “Wahai ‘Aisyah! Sesunguhnya kedua mataku ini tidur akan tetapi hatiku tidak tidur.” (HR al-Bukhari)
Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh an-Nu’man bin Basyir z, dia berkata, “Kami melakukan shalat malam bersama Rasulullah, pada bulan Ramadhan, malam ke duapuluh ga (dan berakhir) sampai seperga malam pertama, kemudian kami lakukan lagi bersama beliau malam ke duapuluh lima (dan berakhir) sampai setengah malam, kemudian kami lakukan lagi bersamanya pada malam ke duapuluh tujuh (dan berakhir) sampai kami menyangka bahwa kami dak mendapatkan sahur karenanya.” (HR an-Nasa`iy)

3. Beliau Menyetor (Hafalan) al-Qur’an Kepada Jibril ‘alaihissalaam

Diantara hal yang menguatkannya adalah hadits Ibn ‘Abbas c. Di dalamnya terdapat ungkapan, “…Jibril p, menemui beliau, setiap malam di bulan Ramadhan hingga berakhirnya. Keka itu, Nabi, menyetor (hafalan) al-Qur’an kepadanya.” (HR al-Bukhari).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Fathimah x, disebutkan sabda beliau (artinya), “…Sesungguhnya Jibril p, mengetengahkan kepadaku al-Qur’an sekali seap tahunnya, sedangkan tahun ini berlangsung dua kali.” (HR al-Bukhari)
Sabda beliau, “mengetengahkan” dan perkataan Ibnu ‘Abbas c, dalam riwayat yang lain: “(Jibril) membelajarkannya”; mengandung pengeran bahwa terkadang satu dari keduanya membaca dan yang satu lagi mendengarkan, begitu pula sebaliknya.” (Lihat:
Fathul Bari, VIII, hal. 659)


4. Beliau Amat Tawadhu' dan Menampakkan Kezuhudan


Diantara indikasi yang menguatkannya adalah sebagai berikut:
Mengalirnya air hujan dari atas atap masjid membasahi tempat beliau shalat. Demikian pula, kondisi beliau yang sujud di atas tanah yang bercampur air sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri z, dia berkata, “lalu langit menjadi mendung pada malam itu kemudian turun hujan membasahi masjid, persis di tempat shalat Nabi, pada malam ke duapuluh satu. Lalu mataku memandangi Rasulullah, dan melihatnya keluar dari shalat shubuh dalam kondisi wajahnya yang penuh dengan lumuran tanah bercampur air.” (HR.Bukhari) Keka Qiyamul lail, beliau melakukannya di atas sehelai kar, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah x, dia berkata, “Dulu orang-orang melakukan shalat secara terpisah-pisah, lalu Rasulullah, memerintahkanku agar membentangkan sehelai kar untuknya, lalu beliau shalat diatasnya.” (HR Abu Daud, no.1374. Syaikh al-Albany berkata di dalam Shahih Sunan Abi Daud, ‘Hasan Shahîh’)
Keka i’kaf beliau singgah di rumah yang terbuat dari pelepah kurma. (Lihat: hadits Ibn ‘Umar, diriwayatkan oleh Ahmad. Penahqiqnya, Syaikh al-Arna`uth berkata, ‘Hadits Shahih)
Sedikitnya makanan yang dimakan oleh beliau. (Lihat: hadits Dlumrah bin ‘Abdullah bin Unais dari ayahnya, Sunan Abu Daud, no.1379. Syaikh al-Albany mengomentari, ‘Hasan Shahih’)

5. Beliau Melakukan I’kaf pada al-‘Asyrul Awaakhir

Nabi, beri’kaf pada al-‘Asyrul Awaakhir dari bulan Ramadhan dan memasang tempat khusus baginya di dalam masjid seraya menyendiri untuk menghadap Rabb-Nya meskipun di tengah kesibukan beliau dengan dakwah, tarbiyah, pengajaran dan jihad. Di antara indikasinya adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas z, dia berkata, “Nabi, beri’kaf pada al-‘Asyrul Awaakhir dari bulan Ramadhan.” (HR at-Turmuzy, dia berkata, hadits Hasan Shahih. Hadits ini juga dinilai Shahih oleh Syaikh al-Albany dalam kitabnya Shahih as-Sunan).
6. Beliau Antusias mencari Lailatul Qadr

Malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan dan Nabi, antusias dan secara sungguh-sungguh mencarinya dengan menambah frekuensi ibadah beliau melebihi ibadah yang beliau lakukan pada hari-hari lainnya. Di antara hal yang menguatkannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri z, bahwasanya Rasulullah, bersabda, “Sesungguhnya aku beri’kaf pada sepuluh hari pertama untuk mencari malam ini (Lailatul Qadr), kemudian aku beri’kaf lagi pada sepuluh pertengahan, kemudian aku didatangi dan dikatakan kepadaku, ‘sesungguhnya ia ada pada sepuluh hari terakhir (al-‘Asyrul AwAkhir).’ Barangsiapa di antara kamu yang ingin beri’ikaf, maka beri’kaflah.!” Lalu orang-orangpun beri’kaf bersama beliau.” (HR Muslim)


7. Beliau Tidak Lupa Memperhatikan Para isterinya

Di antara indikasinya adalah: 

Pertama, beliau menganjurkan mereka agar banyak-banyak berbuat kebajikan dan amal shalih. Salah satu contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali z, “Bahwasanya pada al-’Asyrul Awaakhir dari bulan Ramadhan Nabi, membangunkan keluarganya (untuk shalat malam).” (HR at-Turmuzy, dia berkata, hadits Hasan Shahih)

Kedua, beliau pernah dak beri’kaf Ramadhan dalam setahun untuk menjaga perasaan isteri-isteri beliau dan menghilangkan kekhawaran akan tumbuhnya persaingan tidak sehat di antara mereka lantaran cemburu. (HR al-Bukhari)

Ketiga, beliau mengajak mereka berbicara sekali waktu saat beliau berada di peri’kafannya. (Shahih Bukhari, hadits no. 6219, 2038)

Keempat, beliau mengizinkan mereka beri’kaf bersama beliau (dengan memasang tempat khusus bagi kaum wanita dalam masjid Nabawi). (Lihat: Shahih Bukhari, hadits no. 2035, 2045)

8. Beliau, Tetap Memberikan Bimbingan Agama Kepada Manusia

Nabi, mengarahkan manusia dan mengajak mereka untuk mengerjakan amal shalih. Indikasinya, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri z, di dalamnya terdapat, “… Kemudian beliau bersabda, ‘Aku menghidupkan sepuluh pertama Ramadhan (dengan ibadah), kemudian telah tampak olehku agar melakukannya lagi pada al-‘Asyrul Awakhir; barangsiapa yang ingin melakukan i’kaf bersamaku maka hendaklah dia mantap di peri’kafannyanya. Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku (sesuatu) pada malam ini namun kemudian aku dilupakan (untuk mengingatnya); oleh karena itu, carilah ia pada sepuluh hari terakhir (al-‘Asyrul Awaakhir), dan carilah ia pada seap tanggalnya yang ganjil.” (HR al-Bukhari)

9. Beliau, Tetap Memberikan Fatwa Kepada Orang Yang Memintanya

Indikasinya; sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Dhumrah bin ‘Abdullah bin Anis dari ayahnya, dia berkata, [didalamnya terdapat,] “Beliau bersabda (kepadanya), “sepernya kamu punya keperluan.?” Dia menjawab, ‘ya, sekelompok kaum dari Bani Salamah mengutusku kepadamu untuk menanyakan malam Lailatul Qadr. Beliau bersabda, “Tanggal berapakah malam ini.?” Dia menjawab, ‘duapuluh dua.’ Beliau bersabda, “Ia (malam Lailatul Qadr) ada pada malam ini.“ Kemudian dia pulang dan berkata, yakni (maksud ucapan Nabi, tersebut adalah-red) malam yang akan datang ini, yaitu malam kedua puluh ga” (HR Abu Daud dan dinilai Hasan Shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahih as-Sunan).

10. Beliau, Menempatkan Dirinya Sebagai Qudwah (Panutan) Bagi Manusia

Di antara indikasinya:
Pertama, beliau pergi ke masjid untuk melakukan shalat malam bersama orang-orang, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah x, ‘bahwasanya Rasulullah, pada suatu malam keluar saat tengah malam, lalu beliau melakukan shalat di masjid, kemudian beberapa orang mengiku shalat beliau…” (HR Bukhari)
Kedua, beliau i’kaf untuk mencari dengan sungguh-sungguh Lailatul Qadr dan mengajak manusia untuk melakukan hal itu. (Lihat: Shahih Muslim, hadits no. 1167) 


11. Kasih Sayang Beliau, Terhadap Umatnya


Di antara yang menguatkan hal itu adalah:
Pertama, beliau melarang para shahabatnya untuk melakukan puasa wishal (terus menerus ap hari) sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada mereka. Dalam hal ini, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah x, dia berkata, “Rasulullah, melarang Wishal (puasa terus menerus ap hari) karena kasih sayang beliau terhadap mereka. Lantas mereka berkata, ‘Akan tetapi engkau melakukan wishal.?‘ Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku dak seper (kondisi) kalian; sesungguhnya aku diberi makan oleh Rabb-ku.” Dan keka ada sebagian mereka yang ngotot untuk melakukan itu, beliau, memberikan peringatan dan mencela ndakan mereka tersebut namun keka sebagian lagi tak mempan dengan peringatan melalui kata-kata, beliau memberikan mereka sanksi dan hal ini beliau lakukan semata-mata karena takut nannya akan menyusahkan diri mereka sendiri. (Lihat: Shahih Bukhari, hadits no. 1964 dan Shahih Muslim, hadits no. 1105, 1104)
Kedua, beliau dak shalat malam bersama para shahabatnya secara jama’ah karena khawar nannya hal itu akan diwajibkan terhadap mereka. (Lihat: Shahih Bukhari, hadits no. 1129)

12. Perintah Beliau, Agar Orang-Orang Mengeluarkan Zakat Fithrah

Indikasinya adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Tsa’labah z, dia berkata, “Rasulullah, telah berkhuthbah di hadapan manusia sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Iedul Fithri, lalu bersabda, “Keluarkanlah satu sha’ burr atau qamh (keduanya merupakan jenis gandum) antara dua orang atau satu sha’ kurma atau satu sha’ sya’ir (sejenis gandum juga) untuk seap orang; kecil maupun tua.” (HR Abu Daud dan ‘Abdurrazzaq –lafazh hadits ini berasal darinya; dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

13. Beliau Mewakilkan Sebagian Tugasnya Kepada Para Shahabat

Di antara indikasinya adalah perkataan Abu Hurairah z, “Rasulullah, mewakilkan kepadaku untuk menangani zakat Ramadhan, lalu seseorang datang kepadaku sembari memberi sedikit makanan dan aku mengambilnya, kemudian aku berkata: ‘aku akan mengadukan hal ini kepada Rasulullah,” (HR Bukhari)
Sumber: Diterjemahkan dari tulisan Syaikh Nashir asy-Syimaly berjudul Barnaamaj I’kaaf
Hotline Partisipasi
PROGRAM BUKA PUASA NUSANTARA
AL-SOFWA 1438 H/ 2017 M
Salurkan donasi Anda untuk program tersebut melalui:
Rekening:                                      Contact Person:
BSM 799.9090.995                      SMS/Whatsapp:
BCA  547.049.4141                     0818 0600 8474
An. Yayasan Al-Sofwa
Office:
Yayasan Al-Sofwa, Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 35
Jagakarsa Jakarta Selatan Telp. 021.78836327
Mohon bantu sebarkan, semoga menjadi amal kebaikan kita semua. Jazakumullaahu khaira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar