" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Senin, 22 Juni 2015

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 37

Ya ALLAH..., Ya RAHMAN.....,Ya RAHIM 
Muliakanlah orang yang membaca dan membagikan status ini 
Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid 
Lapangkanlah hatinya 
Bahagiakanlah keluarganya 
Luaskan rezekinya seluas lautan 
Mudahkan segala urusannya 
Kabulkan cita-citanya 
Jauhkan dari segala Musibah 
Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,
Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar. 
Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang 
membaca dan membagikan status ini. 
Aamiin ya Rabbal'alamin

I REALLY LIKE THIS LINK


Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!





Surat Al-Ahzab Ayat 37


وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا
Arab-Latin: Wa iż taqụlu lillażī an'amallāhu 'alaihi wa an'amta 'alaihi amsik 'alaika zaujaka wattaqillāha wa tukhfī fī nafsika mallāhu mubdīhi wa takhsyan-nās, wallāhu aḥaqqu an takhsyāh, fa lammā qaḍā zaidum min-hā waṭarā, zawwajnākahā likai lā yakụna 'alal-mu`minīna ḥarajun fī azwāji ad'iyā`ihim iżā qaḍau min-hunna waṭarā, wa kāna amrullāhi maf'ụlā
Terjemah Arti: Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

Terjemahan Tafsir Bahasa Indonesia (Isi Kandungan)

dan ketika kamu (wahai nabi) berkata kepada orang yang Allah beri nikmat Islam kepadanya, (yaitu Zaid bin Haritsah yang dimerdekakan oleh Nabi dan pernah di angkat sebagai anak olehnya) dan kamu memberi nikmat kemerdekaan kepadanya, “Biarkan istrimu, Zainab binti Jahsy, dalam ikatan pernikahanmu dan jangan mentalaknya dan bertakwalah kepada Allah wahai Zaid.” Dan kamu menyembunyikan dalam hatimu (wahai Nabi) apa yang Allah wahyukan kepadamu, yaitu talak Zaid terhadap istrinya dan menikahkanmu dengan mantan istrinya tersebut, dan Allah menampakkan apa yang kamu sembunyikan, kamu takut orang-orang munafik akan berkata, “Muhammad menikahi mantan istri anak angkat nya.” Padahal Allah lebih patut untuk kamu takuti. Maka ketika Zaid sudah menunaikan hajatnya darinya dan mentalaknya, kemudian istrinya telah menyelesaikan masa iddahnya, Kami menikahkanmu dengannya, agar kamu menjadi teladan dalam membatalkan adat larangan menikah dengan mantan istri anak angkat setelah terjadi talak. Orang-orang Mukmin tidak berdosa untuk menikahi wanita-wanita yang sudah ditalak oleh suami-suami mereka, bila suami-suami mereka sudah menunaikan hajat mereka dari mereka, sekalipun suami-suami tersebut adalah anak angkat mereka. Ketetapan Allah pasti terlaksana tanpa penghalang dan penolak. 
Pengangkatan anak sendiri adalah adat jahiliyah yang dibatalkan oleh firman Allah:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ
“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka” (QS Al-Ahzab : 5)

 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia
37. Ingatlah wahai Nabi, ketika engkau berkata kepada Zaid bin Haritsah yang telah Allah anugerahkan nikmat Islam. Juga telah Allah anugerahkan nikmat merdeka dari perbudakan dan mendapat pendidikan yang baik. Nabi berkata: “Pegang eratlah istrimu Zainab di sisimu (pertahankanlah). Takutlah kepada Allah, jangan sampai engkau menceraikannya. Kamu menyembunyikan sesuatu yang akan Allah tampakkan. Hal itu adalah perintah Allah kepada Nabi untuk menikahi Zainab setelah dia diceraikan oleh Zaid, dan sudah habis masa iddahnya. “Engkau, Muhammad, takut mengungkapkannya kepada manusia, takut jika mereka berkata: “Muhammad telah menikahi bekas istri putera angkatnya (Zaid bin Harisah).” Sungguh, benar-benar hanya Allah-lah yang paling berhak untuk engkau takuti atas segala apapun dan Yang paling berhak untuk engkau malu kepada-Nya. Adapun setelah Zaid menceraikan istrinya setelah menikahinya, dan Zaid juga sudah tidak menghendaki Zainab sebagai istrinya setelah mereka berdua bertengkar. Maka Kami jadikan Zainab sebagai istrimu. Sehingga orang mukmin tidak menganggap bahwa menikahi bekas istri anak angkatnya itu dosa, padahal tidak dosa. Dengan syarat apabila suami mereka sudah tidak menginginkan mereka kembali dan sudah habis masa iddah. Ketetapan Allah itu pasti terjadi. Sahabat Anas radliyallahu ‘anhu berkata: “Ayat ini turun untuk Zainab binti Jahsy dan Zaid bin Haritsah.”
 Tafsir Al-Wajiz / Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili
Ingatlah wahai Nabi Allah pada hari yang engkau berkata kepada orang yang Allah telah beri nikmat atasnya berupa keimanan, dan engkau juga telah memberi nikmat kepadanya dengan membebaskannya, dia adalah Zaid bin Haritsah; Dima dahulu dia adalah budak yang kemudian dimerdekakan oleh Nabi ﷺ, kemudia oleh ﷺ diangkat menjadi anak sebelum ada larangan mengangkat anak angkat, dimana engkau berkata kepadanya : Tahanlah istrimu Zainab binti Jahsy , jangan engkau talak dia, bertakwalah engkau Zaid kepada Allah, bersabarlah atas hakmu. Sedangkan engkau (Muhammad) juga menyembunyikan pada dirimu apa yang sebenarnya telah Allah wahyukan kepadamu atas perceraian zaid kepada istrinya dan engkau (Allah telah wahyukan) untuk menikahinya. Ketahuilah bahwa Allah akan menampakkannya apa yang telah engkau sembunyikan, dan Kami mengetahui engkau (Muhammad) melakukan demikian karena sebab menjaga agar tidak nampak kepada orang-orang bodoh dari munafik dan mereka berkata : Muhammad telah menikahi mantan istri anak angkatnya. Sungguh Allah yang paling berhak untuk ditakuti dari selain-Nya. Ini adalah ketakutan yang manusiawi, karena sebab manusia tidak menginginkan digunjing dengan perkataan ini dan itu (tanpa sumber); Maka ketika zaid selesai kebutuhannya dengan istrinya, dia menceraikannya dan berlakulah iddah baginya, kemudian kami jadikan dia sebagai istrimu wahai Muhammad; Agar tidak menjadikan bagi seorang yang beriman kesempitan dan kesulitan dan dosa atas pernikahan dengan mantan istri dari anak angkatnya setelah ditalaknya setelah selesai hajjatnya dan menyelesaikan masa iddahnya. Dan engkaulah qudwah bagi mereka dalam membatalkan tradisi. Dan apa yang telah Allah tetapkan tidak ada yang dapat menolaknya. Tidak diragukan atas kisah Zaid bin Haritsah adalah sebagai pembatalan dari anak angkat yang popular dan sebagai tradisi jahiliyyah.
 An-Nafahat Al-Makkiyah / Muhammad bin Shalih asy-Syawi
Dengan menjadikannya muslim.


Dengan memerdekakannya. Orang ini adalah Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu. Dia pada awalnya adalah seorang tawanan di zaman jahiliyah, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membelinya sebelum Beliau diangkat menjadi Nabi, kemudian Beliau memerdekakannya dan menjadikannya sebagai anak angkat yang kemudian dihapus. Suatu ketika Zaid datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminta pendapat Beliau tentang sikapnya ingin menceraikan istrinya, yaitu Zainab binti Jahsy. Maka Beliau menjawab dengan jawaban seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.



Yakni jangan engkau menceraikannya, dan bersabarlah terhadap perbuatan yang muncul darinya.



Dalam semua masalahmu dan dalam masalah istrimu, karena takwa mendorong untuk bersabar dan memerintahkannya.



Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa ayat ini, “Sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah,” turun berkenaan dengan Zainab binti Jahsy dan Zaid bin Haritsah.



Imam Qurthubi dalam tafsirnya berkata, "Orang-orang (para ulama) berselisih tentang tafsir ayat ini. Qatadah, Ibnu Zaid, dan jamaah para mufassir, di antaranya Thabari dan yang lain berpendapat, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam terlintas dalam dirinya kecantikan Zainab binti Jahsy, sedangkan ketika itu ia istri Zaid. Beliau ingin sekali jika Zaid menalaknya, lalu Beliau menikahinya…dst.” Selanjutnya Imam Qurthubi berkata, “Inilah yang disembunyikan Beliau dalam hatinya, akan tetapi Beliau wajib melakukan amr ma’ruf, yaitu dalam kata-kata Beliau, "Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,” Namun pendapat ini dibantah oleh Syaikh Asy Syinqithi, bahwa pendapat ini tidak benar dan tidak layak bagi Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.



Imam Qurthubi juga menukil serupa dengan itu dari Muqatil dan Ibnu Abbas, dan ia juga menyebutkan dari Ali bin Al Husain, bahwa Allah mewahyukan kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Zaid nanti akan menalak Zainab, dan Allah akan menikahkan ia dengan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Setelah Beliau mengetahui hal ini berdasarkan wahyu, Beliau berkata kepada Zaid, “Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Yang Beliau sembunyikan dalam hatinya adalah bahwa Allah akan menikahkan Beliau dengan Zainab radhiyallahu 'anha.



Setelah menyebutkan pendapat ini, Imam Qurthubi berkata, “Para ulama kami rahmatullah ‘alaihim berkata, “Pendapat ini adalah pendapat yang paling baik tentang tafsir ayat ini, dan inilah yang dipegang oleh para peneliti dari kalangan mufassir, para ulama yang dalam ilmunya, seperti Az Zuhri, Al Qadhi Bakar bin Al ‘Alaa Al Qusyairiy, Al Qadhi Abu Bakar ibnul ‘Arabi dan lain-lain…dst.” Sampai ia (Imam Qurthubi) berkata, “Adapun riwayat bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkeinginan kepada Zainab istri Zaid, bahkan terkadang keluar kata-kata canda yang kurang malu seperti ungkapan rindu, maka ini hanyalah berasal dari orang yang bodoh terhadap kemaksuman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari hal seperti ini atau orang yang kurang memuliakan kehormatan Beliau.” At Tirmidziy Al Hakiim dalam Nawaadirul Ushul, -dan ia menyandarkan perkataannya kepada Ali bin Al Husain- berkata, “Ali bin Al Husain datang membawa (berita) ini dari perbendaharaan ilmu sebagai salah satu permata dan salah satu mutiara di antara sekian permata dan mutiara, bahwa Allah hanyalah menegurnya dalam masalah yang telah Dia beritahukan kepadanya, bahwa ia (Zainab) akan menjadi salah satu istrinya, lalu mengapa Beliau berkata seelah itu kepada Zaid, “Tahanlah istrimu,” dan Beliau takut jika orang-orang akan berkata, “Beliau menikahi istri anaknya,” padahal Allah lebih berhak untuk ditakuti.”



Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut berkata, “Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir menyebutkan di sini beberapa atsar dari sebagian salaf radhiyallahu 'anhum yang kami sangat senang sekali berpaling darinya karena tidak sahih, sehingga kami tidak sebutkan sampai akhirnya,” dan di sana terdapat ucapan Ali bin Al Husain yang telah kita sebutkan di sini.



Syaikh Asy Syinqithi berkata, “Yang benar dalam masalah ini insya Allah adalah apa yang kami sebutkan, di mana Al Qur’an menunjukkan demikian, yaitu bahwa Allah memberitahukan kepada Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Zaid akan menalak Zainab dan bahwa Dia akan menikahkan Zainab dengan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ketika itu Zainab sebagai istri Zaid. Ketika Zaid mengeluhkan tentang Zainab kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau malah berkata kepadanya, “Tahanlah dirimu dan bertakwalah kepada Allah, “ maka Allah menegurnya karena ucapannya itu, yaitu, “Tahanlah istrimu,” setelah Beliau mengetahui bahwa Zainab akan menjadi istrinya shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Beliau takut orang-orang berkata, bahwa Beliau ingin menikahi istri anaknya di waktu Zainab sebagai istri Zaid, jika Beliau menampakkan apa yang Beliau ketahui yaitu pernikahan Beliau dengan Zainab. Dalil terhadap hal ini ada dua: pertama, apa yang kami kemukakan, bahwa Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman, “Sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah,” inilah yang dinyatakan Allah Jalla wa ‘Alaa, yaitu pernikahan Beliau dengan Zainab dalam firman-Nya, “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia,” Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak menampakkan sedikit pun apa yang mereka sangka, yaitu bahwa Beliau mencintainya. Jika itu maksudnya, tentu Allah akan menampakkannya sebagaimana yang anda ketahui. Kedua, Allah Jalla wa ‘Alaa menegaskan, bahwa Dia yang menikahkah Beliau dengan Zainab, dan bahwa hikmah ilahi dalam pernikahan itu adalah untuk menghilangkan keharaman menikahi istri anak angkat dalam firman Allah Ta’ala, “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka,” firman-Nya, “agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka,” merupakan sebab yang jelas menikahnya Beliau dengan Zainab sebagaimana kami sebutkan, dan karena Allah yang menikahkannya untuk hikmah ilahi ini, maka jelas sekali bahwa sebab pernikahan Beliau kepadanya bukan karena cinta kepadanya yang menjadi sebab Zaid menalaknya sebagaimana yang mereka sangka. Hal ini diperjelas oleh firman Allah Ta’ala, “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya)…dst.” Yang menunjukkan bahwa Zaid telah mengakhiri keperluan kepadanya dan tidak butuh lagi, maka ia menalaknya dengan pilihannya, dan yang tahu adalah Allah Ta’ala.”



Nanti mereka akan mengatakan, “Beliau menikahi istri anaknya.” Padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala hendak menetapkan syariat yang umum bagi kaum mukmin, bahwa anak angkat bukanlah anak hakiki dari segala sisi, dan bahwa istrinya tidak mengapa dinikahi oleh ayah angkatnya setelah ditalak dan habis masa iddahnya.



Dalam segala sesuatu, sehingga tidak perlu mempedulikan kata-kata mereka.



Ibnu Sa’ad di juz 8 qaf 1 hal. 73 meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Hammad bin Zaid bin Tsabit dari Anas, ia berkata: Turun ayat berkenaan dengan Zainab binti Jahsy, “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia,” Anas juga berkata, “Oleh karena itu, Zainab berbangga-bangga di hadapan istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan mengatakan, “Yang menikahkan kamu semua adalah keluargamu, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah dari atas langit yang tujuh.” (Para perawinya adalah para perawi hadits shahih).



Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Tsabit dari Anas bin Malik ia berkata: Ketika masa iddah Zainab binti Jahsy habis, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Zaid bin Haritsah, “Aku tidak mendapatkan orang yang paling amanah dan terpercaya bagi diriku daripada engkau. Datangilah Zainab dan lamarkanlah dia untukku.” Anas berkata, “Maka Zaid pergi mendatanginya, dan ketika itu ia sedang meragikan rotinya. (Zaid berkata),” Saat aku melihatnya ia tampak besar (terhormat) dalam hatiku, aku tidak sanggup melihatnya ketika aku tahu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebu-nyebut tentangnya, maka aku palingkan punggungku dan aku berbalik ke belakang serta berkata, “Wahai Zainab! Bergembiralah, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebut dirimu.” Ia pun berkata, “Aku tidak melakukan apa-apa, sampai aku meminta pilihan kepada Allah,” lalu ia bangkit menuju masjidnya dan turunlah ayat Al Qur’an, “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia,” (Hadits ini para perawinya adalah para perawi hadits shahih, diriwayatkan pula oleh Ahmad juz 3 hal. 195, dan diriwayatkan pula oleh Muslim juz 9 hal. 228).



Maksudnya, setelah habis idahnya.



Yakni pasti terjadi dan tidak ada yang dapat menghalangi.



Dari ayat ini dapat diambil beberapa faedah, di antaranya adalah:



- Pujian terhadap Zaid bin Haritsah karena namanya disebutkan dalam Al Qur’an.



- Allah memberitahukan, bahwa Dia telah memberinya nikmat Islam dan iman. Ini adalah persaksian dari Allah, bahwa ia adalah seorang muslim dan mukmin, lahir maupun batin.



- Orang yang dimerdekakan mendapatkan kenikmatan dari orang yang memerdekakan.



- Bolehnya menikahi bekas istri anak angkat, sebagaimana ditegaskan dalam ayat di atas.



- Pengajaran dengan sikap lebih meresap daripada dengan ucapan, apalagi jika ditambah dengan ucapan, maka yang demikian adalah cahaya di atas cahaya.



- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan semua ayat tanpa menyembunyikan, meskipun ayat yang di sana terdapat celaan bagi dirinya. Ini menunjukkan bahwa Beliau adalah utusan Allah, tidak berkata kecuali sesuai yang diwahyukan kepadanya, dan tidak bermaksud meninggikan dirinya.



- Cinta sekedar dalam hati seorang hamba kepada orang lain selain istrinya adalah tidak mengapa selama tidak disertai dengan perbuatan yang dilarang, dan seorang hamba tidaklah berdosa meskipun berangan-angan untuk memilikinya.



- Orang yang dimintai nasihat adalah orang yang diamanahi, maka wajib baginya memberi nasihat yang lebih bermaslahat bagi yang meminta nasihat.



- Seorang hamba harus mendahulukan takut kepada Allah daripada takut kepada manusia.



- Keutamaan Zainab radhiyallahu 'anha, karena Allah yang menikahkannya dengan Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.



- Seorang wanita yang telah bersuami tidak boleh dinikahi dan berusaha untuk memilikinya serta mencari sebab-sebabnya, sampai suaminya menyelesaikan keperluan dengan istrinya dengan menalaknya dan sampai habis masa iddahnya.

 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I










— هداية الإنسان بتفسير القران


Dan ingatlah, ketika engkau, wahai nabi Muhammad, beberapa kali berkata kepada orang, yakni zaid bin ''ri'ah, yang telah diberi nikmat oleh Allah dengan memeluk agama islam dan engkau juga telah memberi nikmat kepadanya dengan memerdekakannya dan mengangkatnya menjadi anak, 'pertahankanlah terus istrimu, zainab binti ja'sy! jangan kau ceraikan ia, dan bertakwalah kepada Allah dengan bersabar menjalani pernikahanmu meski istrimu kurang menghormati'mu'. 38. Pernikahan dengan zainab menjadi beban bagi nabi karena erat kaitannya dengan persoalan yang sangat peka dalam masyarakat. Allah menguatkan hati nabi untuk menjalani pernikahan tersebut dan menegaskan, 'tidak ada keberatan apa pun pada nabi Muhammad tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. Allah telah menetapkan yang demikian sebagai sunah, yakni ketetapan-ketetapan Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.
 Tafsir Ringkas Kemenag RI











Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :



alikhlasmusholaku.top & alikhlasmusholaku.blogspot.com

YA ALLAH JAUHKANLAH KAMI SEMUA DARI SIKSA KUBUR, HARAMKANLAH NERAKA ATAS JASADKU, KEDUA ORANGTUAKU, DAN SEMUA ORANG YG MENGUCAP "AAMIIN" DIKOMENTAR..
.
Sudah baca Like, komen Aamiin, lalu BAGIKAN dengan Ikhlas!




Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)





TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.

"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."

Lathaiful Ma'arif, hlm. 19





Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar