" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Selasa, 05 Desember 2017

KEJAR AKHIRAT, MAKA DUNIA AKAN MENGIKUTI + Video

Ya ALLAH..., Ya RAHMAN.....,Ya RAHIM 
Muliakanlah orang yang membaca dan membagikan status ini 
Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid 
Lapangkanlah hatinya 
Bahagiakanlah keluarganya 
Luaskan rezekinya seluas lautan 
Mudahkan segala urusannya 
Kabulkan cita-citanya 
Jauhkan dari segala Musibah 
Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,
Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar. 
Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang 
membaca dan membagikan status ini. 
Aamiin ya Rabbal'alamin

I REALLY LIKE THIS LINK


Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!


Seorang hamba yang cerdas akan selalu berusaha mencari bahkan mengejar kehidupan akhirat yang abadi. Mereka tidak akan mengejar kehidupan dunia yang rendah, semu, sangat sementara, fana dan pasti akan punah. Allah berfirman :   “Walal aakhiratu khairul laka mina uula”  Dan sungguh yang kemudian itu lebih baik bagimu dari pada yang permulaan (Q.S ad Duhaa 4). 

Tapi sungguh ada yang menarik bahwa seorang hamba yang bersungguh sungguh mengejar akhirat maka pastilah Allah juga akan memberikan  dunia baginya. Bahkan jika Allah berkehendak Dia akan memberi hamba-Nya harta yang berlimpah.

Abdurrahman bin ‘Auf adalah salah satu sahabat yang sangat kaya. Ketahuilah bahwa beliau sangat dermawan.  Tidak ada satupun riwayat yang menjelaskan bahwa beliau berjuang keras untuk mendapatkan harta dunia. Dia tidak habis habisan dalam berbisnis. Ia berbisnis dengan santai tapi dengan pertolongan Allah Ta’ala hasilnya selalu berlimpah. Hartanya tidak untuk dinikmati sendiri melainkan untuk dinikmati oleh keluarga, kerabat bahkan masyarakat Madinah serta untuk  membela perjuangan menegakkan Islam. Ketahuilah bahwa dalam kehidupan sehari hari   beliau tidaklah berjuang dengan keras untuk mendapatkan dunia tapi berjuang untuk mengejar  negeri akhirat yang kekal. 

Jangan salah paham.
Namun ada pula diantara manusia yang salah paham. Mungkin karena ketidak tahuan maka sebagian manusia ada yang berkata : Jangan bicara akhirat melulu. Jangan urusan akhirat dan ibadah terus. Dunia juga harus dikejar. Paling tidak fifty-fifty lah. Bukankah Allah telah berfirman : “Wabtaghi fiimaa ataakallahud darul aakhirah. Walaa tansa nashiibaka minad dun-yaa. Wa ahsin kamaa ahsanallahu ilaika. Walaa tabghil fasaada fil ardhi. Innallaha laa yuhibbul mufsidiin”.  Dan carilah pada sesuatu yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada hamba hamba Allah) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu  dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan.  (Q.S al Qashash 77). 

Bukankah Rasulullah juga telah bersabda :“I’mal lidun-yaaka ka–annaka ta’isyuabadan, wa’malli aakhiratika ka-annaka tamuutu ghadan”.Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash bahwa Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Beramallah (bekerjalah) untuk duniamu seakan akan kamu akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu seakan akan kamu akan mati besok.
Inilah ayat dan (hadits ?) yang sering dijadikan sandaran oleh orang orang yang mengejar dunia dan sangat sedikit mereka yang berusaha dan mencari bekal untuk hari akhirat.

Penjelasan ulama tentang makna ayat dan kedudukan hadits diatas.
Point Pertama : Tentang makna surat al Qashash ayat 77.
Ayat 77 dari surat al Qashash ini bukanlah bermakna  bahwa manusia berkewajiban mencari dunia dan akhirat secara seimbang atau dengan istilah yang sering dipakai fifty-fifty. Tidak, tidak demikian maknanya.  

Ketahuilah bahwa ayat 77 ini bukanlah ayat yang berdiri sendiri  tapi adalah satu kesatuan dengan ayat sebelum dan sesudahnya yaitu ayat 76 sampai 82. Ayat 76, 78 sampai  82 adalah berkisah tentang Qaarun. Qaarun, sebagaimana kita ketahui adalah makhluk Allah yang hidup di zaman nabi Musa, bahkan dia adalah anak paman nabi Musa. Setelah dia kaya raya, datang kesombongan dan kekikirannya.Dia tidak mau menginfakkan sebagian hartanya maka akhirnya dia ditenggelamkan Allah kedalam bumi bersama hartanya. 

Nah, ayat 77 al Qashash ini adalah nasehat yang penting dan terutama ditujukan kepada Qarun yang melalaikan akhirat dengan hartanya yaitu sangat pelit atau kikir untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah. Lalu ditegur melalui ayat ini. Lihatlah kalimat pembuka ayat ini :“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu” Yaitu bersedekahlah dan berinfaklah dengan harta yang telah diberikan Allah kepada engkau wahai Qaarun (dan juga orang orang yang semisalnya).

Sebagai tambahan penjelasan, mari kita lihat apa yang dikatakan Syaikh as Sa’di tentang tafsir ayat ini : 

Pertama : “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagian) negeri akhirat. Maksud ayat ini adalah jika sudah tercapai bagimu berbagai sarana akhirat yang (mungkin) tidak dimiliki (sebagian) orang lain, yaitu berupa harta kekayaan, maka gunakanlah ia untuk memperoleh sesuatu yang ada disisi Allah dan bersedekahlah. Jangan sekali kali kamu merasa cukup dengan hanya sekedar memperoleh kepuasan nafsu dan meraih berbagai kelezatan.

Kedua : “Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari duniawi” Maksudnya, Kami tidak memerintahkan supaya kamu menyedekahkan seluruh harta kekayaanmu sehingga engkau menjadi terlantar. Akan tetapi berinfaklah untuk akhiratmu dan bersenang senanglah dengan harta duniamu dengan tidak merusak agamamu dan tidak pula membahayakan akhiratmu.

Ketiga : “Dan berbuat baiklah” kepada hamba hamba Allah, “sebagaimana Allah telah berbuat kepadamu”yaitu dengan menganugerahkan kamu harta kekayaan ini.
Keempat : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi” dengan  bersikap sombong dan berbuat berbagai maksiat terhadap Allah serta tenggelam di dalam berbagai kenikmatan dengan melupakan Pemberi nikmat itu.
Kelima : “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang berbuat kerusakan” Bahkan Allah akan menyiksa mereka atas perbuatan itu dengan siksa yang paling berat.

Point kedua tentang kedudukan hadits “bekerjalah untuk duniamu …”
Para ulama  telah memberikan penilaian terhadap kedudukan hadits ini, diantaranya adalah :

Pertama : Hadits ini disebutkan oleh Abdullah bin Mubarak dalam Kitab az Zuhd, dari Muhammad bin Ajlan dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash yaitu ucapan yang semakna dengan hadits diatas. Sanad riwayat ini lemah karena terputus. Muhammad bin ‘Ajlan tidak bertemu dengan Abdullah bin Amr bin ‘Ash. (Lihat Silsilah Ahaaditsidh Dha’ifah wal Maudhu’ah).

Kedua :  Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, seorang ahli hadits abad ini berkata : Hadits ini   tidak ada asal usulnya secara marfu’ dari Rasulullah, meskipun riwayat ini sangat populer diucapkan dikalangan kaum muslimin zaman sekarang. (Kitab Silsilah hadits Dha’if dan Maudhu’)

Ketiga : Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, seorang ulama besar dari Saudi, berkata : Ucapan ini diriwayatkan sebagai hadits dari Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi Wasallam, pada hal bukan hadits. Yang benar adalah bahwa pernyataan di atas diriwayatkan dari ucapan sahabat Abdullah bin Amr bin ‘Ash, itupun dengan periwayatan yang lemah. (Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin).

Jangan keliru dalam memahami hakikat dunia dan keberuntungan.
Memang banyak manusia yang keliru dalam memahami dan memberi nilai kepada dunia. Mereka telah tertipu dengan kehidupan dunia. Dikira akan ada terus. Pada hal dunia itu semu, fatamorgana dan fana. 

Namun demikian, kita lihat, sebagian manusia saat ini  berlomba mengejar harta dunia dengan segala kenikmatan dan kelezatannya. Mereka merasa bahwa dunia ini adalah segalanya sehingga harus diburu dengan segala cara. Jika tidak bisa meraih dunia berarti mereka telah memperoleh kerugian bukan keberuntungan. Benar, kita harus mengejar keberuntungan dan tidak ada yang mau rugi.

Hanya saja, seorang muslim tidaklah boleh  salah dalam memahami makna keberuntungan.  Allah telah menjelaskan makna keberuntungan yang hakiki yaitu sebagaimana firman-Nya :  “Kullu nafsin dzaa-iqatul maut, wa innama tuwaffauna ujuurakum yaumal qiyaamah, faman zuhziha ‘anin naari wa udkhilal jannata faqad faaz. Wamal hayaatad dun-yaa illaa mataa’ul ghuruur” Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Q.S Ali Imran 185).

Syaikh as Sa’di berkata : Bahwa ayat yang mulia ini mengandung penjelasan tentang zuhud dari dunia karena bersifat sementara dan tidak kekal. Dan bahwa dunia itu adalah perhiasan yang menipu, membuat fitnah dengan keindahannya, menipu dengan kecantikan dan kemolekannya. Kemudian dunia itu akan berpindah dan ditinggalkan menuju negeri yang abadi. Jiwa jiwa manusia akan dipenuhi dengan dengan apa yang telah diperbuatnya di dunia ini berupa kebaikan maupun keburukan. 

Selanjutnya dijelaskan pula oleh beliau bahwa : Maka barang siapa dijauhkan, artinya dikeluarkan, dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh dia telah beruntung,  maksudnya dia telah memperoleh kemenangan yang besar dan selamat dari siksa yang pedih dan sampai kepada surga yang penuh nikmat. (Kitab Tafsir Kariimir Rahman).

Jadi berlombalah mengejar akhirat dan dunia pasti  akan diperoleh sebagaimana yang telah Allah Ta’ala tetapkan bagi setiap hamba.


Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.

"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."

Lathaiful Ma'arif, hlm. 19



Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :