" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

Minggu, 05 November 2017

Tata Cara Shalat Tahiyatul Masjid Lengkap

أنا أحبك يا رسول الله


Sebelum baca, harus BERSHOLAWAT dulu!,
Allahumma Sholli A'la Sayyidina Muhammad?

Ya ALLAH..., Ya RAHMAN.....,Ya RAHIM 
Muliakanlah orang yang membaca dan membagikan status ini 
Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid 
Lapangkanlah hatinya 
Bahagiakanlah keluarganya 
Luaskan rezekinya seluas lautan 
Mudahkan segala urusannya 
Kabulkan cita-citanya 
Jauhkan dari segala Musibah 
Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,
Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar. 
Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang 
membaca dan membagikan status ini. 
Aamiin ya Rabbal'alamin

I REALLY LIKE THIS LINK


Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!



http://www.alikhlasmusholaku.top/2017/11/tata-cara-shalat-tahiyatul-masjid.html

Ada banyak shalat sunnah yang bisa kita lakukan. Walaupun shalat sunnah bukanlah suatu kewajiban, akan tetapi sangat baik jika kita melaksanakannya. Tidak ada salahnya melaksanakan shalat sunnah apalagi mengingat bahwa shalat wajib kita saja terkadang masih kurang khusyuk dan berkualitas. Untuk itu, pastinya harus selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas dari shalat kita.
Hal ini sebagaimana disampaikan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. “ (QS Al Ahzab : 21)
Salah satu shalat sunnah yang bisa dilakukan adalah melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Shalat tahiyatul masjid adalah shalat yang dilaksanakan saat masuk kepada masjid. Shalat ini sebagai bentuk kita masuk ke rumah Allah, niat ibadah, dan juga bentuk menghargai masjid sebagai tempat ibadah kepada Allah SWT. Harapannya, masuk ke masjid menjadi motivasi bagi kita untuk terus beribadah.

Dalil Tentang Shalat Tahiyatul Masjid

Tentang shalat tahiyatul masjid, ada beberapa pendapat dari ulama dan juga hadist-hadist yang terkait. Untuk itu, diketahui bahwa shalat tahiyatul masjid sifatnya hanya sunnah dan tidak wajib. Pelaksanaannya menjadi hak muslim akankah dilaksanakan atau tidak. Maka bergantung pada dorongan dan kondisi yang ada di masjid juga. Berikut adalah dalil-dalil dan ayat-ayat yang ada mengenai shalat tahiyatul masjid.
  1. Shalat Ketika Masuk Masjid
“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR Bukhari dan Muslim)
Shalat ini dalam hadist dinyatakan hanya dua rakaat. Untuk itu, pelaksanaan di luar itu tidak dinyatakan dalam hadist dan juga tidak ada penjelasannya. Jika ingin melakukan shalat dengan jumlah rakaat lainnya, maka bisa melaksanakan shalat sunnah lainnya yang disyariatkan oleh Islam.
  1. Shalat Saat Akan Melaksanakan Shalat Jumat
Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka beliau langsung bertanya padanya, “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pelaksanaan Shalat Tahiyatul Masjid
Pada prinsipnya shalat tahiyatul masjid dilaksanakan sebagaimana shalat wajib. Namun berbeda di aspek-aspek tertentu saja. Untuk itu tidak sulit melaksanakan shalat tahiyatul masjid, sangat mudah dan sesuai dengan apa yang biasanya kita lakukan di shalat lainnya. Berikut adalah tata cara pelaksanaan shalat tahiyatul masjid.
  1. Hukum Shalat
Sebagaimana dijelaskan diatas, shalat tahiyatul masjid bersifat sunnah bukan wajib. Akan tetapi sunnah ini adalah sunnah muakad atau sunnah yang sangat dianjurkan. Selain untuk menambah pahala, shalat sunnah tahiyatul masjid juga menjadikan kita lebih menghargai rumah Allah dan masjid sebagai tempat suci untuk beribadah.
Tetapi kita ketahui juga walaupun ibadah sunnah, akan tetapi shalat memiliki keutamaan. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadist, “Shalat itu sebaik-baik perbuatan, baik sedikit maupun banyak.” (HR Ibnu Majah)
  1. Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan shalat tahiyatul masjid bisa dilakukan kapan saja selagi memasuki masjid. Sebelum duduk atau shalat lainnya, maka shalat tahiyatul masjid bisa dilakukan. Ibaratnya seperti pertama masuk masjid, maka hal pertama setelah berwudhu yang bisa dilakukan adalah shalat tahiyatul masjid.
  1. Jumlah Rakaat
Shalat tahiyatul masjid disyariatkan hanya 2 rakaat saja. Selebihnya tidak dijelaskan lagi dalam hadist, dan bisa melaksanakan shalat lainnya di shalat wajib atau sunnah selain tahiyatul masjid.
Tentu saja shalat-shalat sunnah lainnya bisa kita laksankaan seperti shalat rawatib, dsb. Ingatlah bahwa pahala dari shalat sangatlah tinggi, sebagaimana disampaikan oleh hadist Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha yang merupakan istri Raslullah, “Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.”
  • Berwudhu
Sebagaimana perintah Allah lainnya mengenai shalat, tentu saja sebelum melaksanakan shalat adalah berwudhu. Walaupun shalat tahiyatul masjid adalah sunnah, tetapi wajib untuk berwudhu. Maka itu adalah syarat sah shalat yang harus diikuti. Jika tidak berwudhu maka hilang syarat sah tersebut dan menjadi sia-sia shalat sunnahnya.
Sebagaimana hadist yang disampaikan dari Ibnu Umar RA, “Tidak ada shalat kecuali dengan thoharoh. Tidak ada sedekah dari hasil pengkhianatan.”
  1. Niat
“Sesungguhnya amalan-amalan seseorang tergantung niatnya,dan seseorang  akan mendapatkan balasan sesuai niatnya” (HR Muslim dan Bukhari)
Dalam hadist di atas ditunjukkan bahwa segala sesuatu bergantung kepada niatnya. Niat yang baik dan kuat tentu akan menghasilkan ibadah yang baik dan juga sempurna. Untuk itu, niat memang menentukan arah dan tujuan ibadah kita.
Untuk niat, ada beberapa ulama yang mengatakan bahwa tidak perlu diucapkan atau dilafadzkan namun dalam hati saja. Untuk itu, bisa juga dalam bahasa Indonesia, tidak harus melulu bahasa arab. Akan tetapi, ada juga yang mengharuskan bahasa arab sebagaimana Rasulullah. Untuk itu yang paling terpenting adalah bukan pada bacaan atau tidaknya, tapi kemantapan hati kita untuk beribadah atau tidak. Karena jika hati tidak mantap, tidak lurus, dan kurang ikhlas, tentu menunjukkan niat yang lemah.
Dalam bahasa Indonesia dapat dibaca “Aku sholat sunnah Tahiyatul Masjid dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
  • Pelaksanaan Shalat
Tidak jauh berbeda pelaksanaan tahiyatul masjid. Pelaksanaan shalat tahiyatul masjid dilaksanakan sebagaimana shalat-shalat wajib lainnya. Mulai dari bacaan, tata cara hingga prosesnya semuanya tidak berbeda. Diantaranya adalah :
  • Melakukan Takbiratul Ihram
  • Membaca surat Al Fatihah sebaagai pembuka tau pengawal
  • Membaca Surat-surat pendek lainnya, yang dipilih sesuai dengan kita
  • Melakukan Ruku
  • Melakukan I’tidak
  • Melakukan Sujud
  • Melakukan Duduk Diantara dua sujud
  • Melakukan Sujud Kedua
  • Dan Masuk rakaat Kedua
Untuk Rakaat kedua hal yang dilakukan juga serupa yang berbeda setelah sujud kedua maka duduk tasyahud akhir dan memberikan salam.
Walaupun bersifat sunnah, akan tetapi shalat tahiyatul masjid juga wajib dilaksanakan dengan khusyuk, tumaninah, dan sesuai dengan syariat. Bukan saja hanya asal-asalan atau sekedar melaksanakan. Tentu niat yang ikhlas dan tujuan yang lurus akan membuat shalat kita lebih sempurna dan bernilai dihadapan Allah SWT. Dan Allah tidak menilai hanya dari sekedar 1 kali pelaksanaan namun juga kekonsistenan kita.
Amal ibadah yang istiqomah atau konsisten tentu lebih disenangi Allah daripada melaksanakan sekali saja namun jarang atau tidak pernah dilakukan setelah itu.
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS Al Baqarah : 177)
Selamat menjalankan ibadah sunnah lainnya. Semoga Allah menggolongkan kita sebagai hamba-Nya yang senantiasa beribadah, mengikuti sunnah Rasul dan melaksanakan apa yang menjadi syariatnya.

Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :



http://www. alikhlasmusholaku.blogspot.com

YA ALLAH JAUHKANLAH KAMI SEMUA DARI SIKSA KUBUR, HARAMKANLAH NERAKA ATAS JASADKU, KEDUA ORANGTUAKU, DAN SEMUA ORANG YG MENGUCAP "AAMIIN" DIKOMENTAR..
.
Sudah baca Like, komen Aamiin, lalu BAGIKAN dengan Ikhlas!



Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
“Siapa yang mengajak kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya, tidak akan dikurangi sedikitpun dari pahala mereka…” (HR. Muslim 2674, Abu Daud 4609 dan yang lainnya).



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN

✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.

"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."

Lathaiful Ma'arif, hlm. 19



Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar