" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Rabu, 20 September 2017

Puasa 1 Muharram : Pengertian, Hukum, Keistimewaan dan Penetapannya


Umat islam tentunya mengenal dengan baik bahwa selain ibadah puasa Ramadhan, ada ibadah puasa lain yang dapat dilakukan selain di bulan ramadhan. Kita sebagai umat islam tentunya mengenal tentang puasa 1di bulan Muharram atau yang dikenal dengan puasa Asy syura. Meskipun banyak perbedaan pendapat tentang tanggal terbaik mengenai puasa di bulan Muharram khususnya pada tanggal 1 Muharram. 


Asal-usul Bulan Muharram 


Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam tahun Hijriyah atau tahun islam dan merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan. Diantara ke empat bulan tersebut adalah, bulan Muharram, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Hal ini disebutkan dalam firman Allah SWT berikut ini 


إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ 


“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS. At Taubah:36) 


Bulan Muharram tidak hanya dimuliakan oleh umat islam tetapi Juga dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini masyarakat saat itu dilarang untuk melakukan hal-hal yang sifatnya tidak baik dan yang menyakiti orang lain seperti peperangan dan bentuk perkelahian lainnya lainnya. 


Kemudian Islam datang dan semua tradisi umat jahiliyah dihapuskan termasuk kesepakatan untuk tidak melakukan peperangan pada bulan tersebut. Meskipun bulan Muharram adalah bulan pertama Hijriyah namun anggapan bahwa Rasul melakukan hijrah pada bulan ini adalah salah karena pada saat rasul berhijrah ke Madinah saat itu adalah bulan Syafar dan Rasul tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal. 

Keistimewaan Bulan Muharram 


Banyak keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Muharram diantaranya adalah disebutkan berikut ini 
Pada bulan ini khususnya pada tanggal 10 Muharram Allah telah menyelamatkan nabi Musa As dan kaumnya yakni bani israil dari kejaran tentara Fir’aun dan menenggelamkan mereka dalam laut Merah. 
Rasul menetapkan tanggal 10 Muharram untuk berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah dan untuk menghapuskan tradisi masyarakat jahiliyah. Tadinya puasa sunnah 10 Muharram wajib hukumnya namun akhirnya diubah menjadi puasa sunnah sebagaimana puasa lainnya yang dilakukan di luar bulan ramadhan. 


Rasul bersabda 
“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya termasuk empat bulan yang dihormati: Tiga bulan berturut-turut;Dzul Qoidah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang terdapat antara bulan Jumadal Tsaniah dan Sya’ban. (HR Imam Muslim) 


Hukum Puasa 1 Muharram 


Dalam bulan Muharram berdasarkan ajaran dan syariat Islam,umat islam dianjurkan untuk berpuasa khususnya pada sepuluh hari pertama bulan ini. Namun tidak ada dalil dan dasar hukum yang pasti mengenai keutamaan puasa pada tanggal 1 Muharram. Meskipun demikian umat islam mengenal puasa pada tanggal 10 Muharram yang sangat dianjurkan untuk dilakukan untuk mendapatkan pahala dan keutamaannya. 


Lebih banyak dalil yang menyebutkan tentang puasa tanggal 10 bulan Muharram atau yang dikenal dengan sebutan puasa Asy yura. Meskipun demikian jika umat islam ingin berpuasa pada tanggal 1 Muharram tetaplah diperbolehkan.

Dasar Hukum Puasa Muharram 


Puasa sepuluh hari di bulan Muharram terutama pada tanggal 10 Muharram dikenal denga istilah Yaumu ‘Asyuro, yang artinya hari pada tanggal kesepuluh bulan Muharram. Kata Asyuro berasal dari kata ‘asyarah’ yang dalam bahasa Arab berarti sepuluh. Pada tanggal 10 Muharram atau hari Asyuro inilah terdapat sebuah sunnah Rasulullah yang mengajarkan umatnya untuk berpuasa atau dikenal dengan shaum Asyura. Adapun dalil yang menyebutkan tentang keutamaan puasa Asy syura atau puasa muharram antara lain 
Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan 


Disebutkan dalam hadits bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa Asy yura. Dari Abu Hurairah ra, “Rasulullah saw bersabda: 


“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (yaitu) Muharram. sedangkan shalat yang paling utama setelah (shalat) fardhu adalah shalat malam.” (HR Abu Hurairah) 


Dalam hadits lainnya juga disebutkan tentang asal mula penetapan bulan Muharram 


Dari Ibnu Abbas ra, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agungyaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musaas berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya)untuk berpuasa” (HR Bukhari). 


Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim) 


Walaupun sejarah menyebutkan bahwa ada kesamaan dalam ibadah puasa Muharram dengan puasa yang dilakukan oleh kaum yahudi, rasul menganjurkan umatnya untuk tidak hanya berpuasa pada tanggal 10 saja melainkan berpuasa sebelum dan sesudah tanggal 10 Muharram. 


Hukum puasa Muharram adalah sunnah 


Berpuasa dalam bulan Muharram memang tadinya diwajibkan sebagai tradisi masyarakat jahiliyah namun Rasulullah juga melakukan puasa tersebut dan menjadikannya sebagai puasa sunnah dan hanya mewajibkan puasa ramadhan.

Diriwayatkan dari Aisyah ra, dia berkata: 

Dahulu orang-orang Quraisy pada masa jahiliah berpuasa pada hari ‘Asyuro, maka ketika beliau (Rasulullah saw) datang ke Madinah beliau berpuasa dan merintahkannya, kemudian ketika telah ditetapkan kewajiban puasa bulan Ramadhan, beliau meninggalkan (perintah wajib) puasa ‘Asyuro, siapa yang berkehendak maka dia berpuasa, dan siapa yang tidak maka dia (boleh) meninggalkannya. (Muttafaq alaih) 
Puasa Muharram menghapuskan Dosa 


Ibadah puasa adalah salah satu amalan untuk menghapuskan dosa yang dilakukan di masa lalu maupun masa sekarang. Abu Qatadah ra meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: 


“Dan puasa hari Asyura, aku berharap kepada Alllah menjadi penghapus dosa selama setahun sebelumnya.” 
Rasul tidak melewatkan puasa di bulan Ramadhan 


Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia dan rasul selalu berusaha untuk melakukan puasa di bulan ini. 


Ibnu Abbas ra berkata: 


“Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw mengupayakan untuk puasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyuro, dan bulan ini yaitu Bulan Ramadhan.” 
Hari istimewa saat nabi Musa diselamatkan 


Rasulullah berpuasa di hari ini karena menganggapnya istimewa dan begitu juga dengan masyarakat jahiliyah sebelumnya. 


“Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro, maka dia berkata: “(Hari) apa ini?” Mereka menjawab: “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah selamatkan Bani Isra’il dari musuhnya, karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini.” Rasulullah saw bersabda:“Saya lebih berhak kepada Musa dari kalian.”Maka beliau berpuasa dan memerintahkan para shahabatnya untuk berpuasa.” 
Puasa tidak hanya di tanggal 10 Muharram 


Untuk membedakan puasa umat islam dengan umat Yahudi atau nasrani maka Rasul menganjurkan umatnya untuk berpuasa sebelum dan sesudah tanggal 10 Muharram termasuk jika melaksanakan puasa sejak tanggal 1 Muharram. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata: 


“Ketika Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyuro dan memerintahkan (kaum muslimin) untuk berpuasa, mereka (para shahabat) berkata: ‘Ya Rasulullah! Ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nashrani,’ maka bersabdalah Rasulullah :“Jika bertemu) tahun depan, Insya Allah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (bulanMuharram).” Namun ternyata tahun depannya Rasulullah saw sudah meninggal dunia.” 
Tidak ada Ritual lain dalam bulan Muharram selain puasa 


Meskipun bulan Muharram adalah bulan yang mulia namun perlu diingat bahwa tidak ada ibadah atau ritual lain yang dilakukan dibulan ini sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa kaum dan ritual tersebut justru kental dengan perbuatan syirik misalnya tradisi atau ritual malam Asy syuro atau yang dilakukan oleh masyarakat yang menganut budaya Kejawen 


Disebutkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan Ibnu Khuzaimah bahwa Rasul bersabda dalam sebuah hadits 


“Puasalah pada hari Asyuro, dan berbedalah dengan Yahudi pada masalah ini, berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” 
Tahap Penetapan Puasa Muharram 


Dalam beberapa riwayat dan hadits, maka ada beberapa hal yang menjadi dasar penetapan puasa di bulan Muharram yakni sebagai berikut 
Rasul berpuasa Muharram Sebelum memerintahkan umatnya untuk berpuasa 


Rasulullah saw telah melakukan puasa Muharram sejak awal dan beliau berpuasa sebagaimana orang-orang Quraisy pada masa Jahiliah melakukan puasa tersebut meskipun demikian pada saat itu beliau belum memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa. 
Rasul menganjurkan umatnya untuk berpuasa di bulan Muharram 


Saat rasulullah SAW datang ke Madinah dan mengetahui bahwa kaum Yahudi juga 


berpuasa pada hari ‘Asyuro, beliau tetap melaksanakan puasa dan memerintahkan para sahabat dan umatnyanya untuk berpuasa juga. Sebagian ulama berpendapat bahwa pada saat itu puasa Muharrama wajib hukumnyya dan sebagian lain menganggapnya sebagai sunnah muakad. Sponsors Link


Turunnya Kewajiban Puasa Ramadhan 


Setelah kewajiban puasa Ramadhan diturunkan yakni tepatnya pada tahun 2 H, maka setelah itu Rasul tidak lagi memerintahkan umatnya untuk berpuasa di bulan Muharram dan tidak juga melarangnya sehingga puasa di bulan ini adalah sunnah hukumnya. Adapun perintah puasa di bulan ramadhan disebutkan dalam dalil berikut ini 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”(QS Al Baqarah 183) 
Rasul tetap berpuasa Muharram di akhir hidupnya 


Karena keutamaan puasa Muharram maka diakhir kehidupannya Rasulullah saw tetap bertekad untuk tidak hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja akan tetapi berpuasa pada tanggal sebelumnya dan sesudahnya agar berbeda dengan ibadah yang dilakukan oleh kaum yahudi.


Dengan melihat sejarah dan riwayat serta dasar hukum dari puasa Muharram maka dapat diketahui bahwa tidak ada kejelasan perintah puasa pada tanggal 1 Muharram akan tetapi umat islam tidak dilarang melakukan puasa pada tanggal tersebut karena melaksanakan puasa dalam bulan Muharram dapat dilakukan pada tanggal yang mana saja meskipun diutamakan puasa Muharram dilakukan pada tanggal 9, 10 dan 11 Muharram saja. Puasa yang dilakukan seharusnya hanya dilakukan atas nama Allah dan ditujukan untuk beribadah saja dan bukan untuk tujuan lainnya apalagi untuk tujuan menyekutukan Allah atau perbuatan syirik.

Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :

Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!



Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:



لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.


"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."



Lathaiful Ma'arif, hlm. 19




 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :