" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Jumat, 02 Juni 2017

Panduan I’tikaf Nabi



I’tikaf atau berdiam diri dalam masjid adalah salah satu amalan utama di bulan Ramadan, Ia merupakan momen terbaik untuk memaksimalkan amal ibadah. Terlebih ketika memasuki sepuluh hari terakhir bulan yang mulia tersebut, setiap muslim disunnahkan untuk meningkatkan taqarrub-nya kepada Allah serta berlomba-lomba untuk meraih malam lailatul Qadar, yaitu satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Sebagai umat Islam, segala sesuatu tentunya kita harus berpedoman kepada Al-Qur’an dan petunjuk Nabi SAW. Demikian juga dengan I’tikaf, agar tidak menyimpang dari petunjuk Nabi SAW, kita pun perlu mengerti bagaimana Praktek Nabi SAW dalam melaksanakan I’tikaf.

Diriwayatkan bahwa suatu kali Rasulullah SAW pernah I’tikaf pada sepuluh hari pertama, kemudian sepuluh hari pertengahan untuk mencari Lailatul Qadar, berikutnya semakin jelas bagi beliau bahwa Lailatul Qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir. Maka setelah itu beliau secara kontinyu melakukan I’tikaf selama sepuluh hari terakhir (Ramadan) hingga bertemu Rabbnya Azza wa Jalla.

Suatu kali beliau meninggalkan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir, lalu beliau menggantinya pada sepuluh hari pertama di bulan Syawal. (HR. Bukhari-Muslim). Bahkan pada tahun terakhir menjelang wafatnya, beliau melaksanakan I’tikaf selama 20 hari. (HR. Bukhari, no. 2040)

Ada yang mengatakan bahwa sebab Rasulullah SAW melaksanakan I’tikaf lebih lama karena telah mengetahui ajalnya, maka beliau ingin memperbanyak amal kebaikan guna menjelaskan kepada umatnya tentang kesungguhan beramal agar mereka menghadap Allah dalam kondisi yang terbaik.

Sebagian yang lain mengatakan bahwa sebabnya adalah karena Malaikat Jibril datang menyimak Al-Quran darinya sekali setiap Ramadan. Namun pada tahun menjelang wafatnya, Jibril menyimaknya sebanyak dua kali. Karena itu, beliau I’tikaf dua kali lebih banyak dari sebelumnya.

Namun pendapat yang lebih kuat adalah karena pada tahun sebelumnya beliau tidak bisa melaksanakannya disebabkan safar. Pendapat ini dikuatkan oleh riwayat dari Imam An-Nasai, Abu Daud dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban. Yaitu bersumber dari sahabat Ubai bin Ka’ab, bahwa ia berkata:


أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْر الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَان , فَسَافَرَ عَامًا فَلَمْ يَعْتَكِف , فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اِعْتَكَفَ عِشْرِينَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan I’tikaf sepuluh akhir Ramadan. Lalu beliau safar sehingga tidak sempat melaksanakan i’tikaf. Maka pada tahun berikutnya beliau beri’tikaf dua puluh hari.”

Dahulu Rasulullah SAW minta dipasangkan tenda di dalam masjid, lalu beliau berdiam diri di dalamnya agar bisa menghindari dari orang-orang serta bisa fokus menghadap Allah Ta’ala, sehingga sempurnalah menyendiri (khalwat) dalam bentuk yang sebenarnya.

“Suatu saat beliau beri’tikaf di kemah kecil dan meletakkan tikar di pintunya.” (HR. Muslim, no. 1167)

Dalam Kitab Zaadul Ma’ad, 2/90 Ibnu Qayim beromentar, “Ini semua agar bisa mencapai maksud dan ruh dari i’tikaf itu sendiri. Berbeda dengan apa yang dilakukan orang-orang yang tidak paham yang menjadikan i’tikaf sebagai tempat bersenang-senang dan menarik pengunjung serta tempat untuk berbincang-bincang. Cara i’tikaf mereka sangat berbeda dengan i’tikaf Nabi.”

Beliau selalu berada di dalam masjid, tidak keluar kecuali untuk memenuhi hajat. Aisyah r.a berkata,

وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

“Beliau tidak pulang ke rumah kecuali jika memiliki hajat jika sedang i’tikaf.” (HR. Bukhari, no. 2029, Muslim, no. 297)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Kecuali karena kebutuhan manusia.” Imam Az-Zuhri menafsirkannya, “Buang air kecil dan besar.”

Rasulullah SAW juga selalu menjaga kebersihannya. Beliau mengeluarkan kepalanya dari masjid ke kamar Aisyah, lalu rambutnya dicuci dan disisir olehnya.

Dari Aisyah r.a, dia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْغِي إِلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ مُجَاوِرٌ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ . وفي رواية للبخاري ومسلم : (فَأَغْسِلُهُ) . وترجيل الشعر تسريحه

“Adalah Nabi SAW menyorongkan kepalanya kepadaku saat beliau i’tikaf di masjid, lalu aku sisir. dan saat itu aku sedang haid.” (HR. Bukhari-Muslim) Dalam riwayat Muslim, ‘Lalu aku mencucinya.’


Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan, “Dalam hadits tersebut terdapat kebolehan membersihkan, mengharumkan serta mandi, berhias dan menyisir. Jumhur berpendapat tidak ada yang dimakruhkan, kecuali apa yang dimakruhkan di dalam masjid.

Termasuk petunjuk Nabi SAW, jika sedang melaksanakan i’tikaf tidak membesuk orang sakit dan tidak melakukan takziah. Hal tersebut agar lebih konsentrasi dalam bermunajat kepada Allah Ta’ala. Karena wujud dari hikmah i’tikaf adalah memutuskan hubungan dengan manusia untuk menghadap Allah Ta’ala. Aisyah r,a berkata;

السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لا يَعُودَ مَرِيضًا ، وَلا يَشْهَدَ جَنَازَةً ، وَلا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلا يُبَاشِرَهَا ، وَلا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلا لِمَا لا بُدَّ مِنْهُ

“Sunnah bagi orang yang i’tikaf untuk tidak membesuk orang sakit dan tidak takziah serta tidak berjimak atau mencumbu isterinya, juga tidak keluar dari masjid untuk suatu keperluan, kecuali perkara yang mengharuskannya keluar.” (HR. Abu Daud)

Sebagian isteri-isteri Rasulullah SAW menemuinya saat beliau sedang i’tikaf. Apabila mereka pulang, maka beliau ikut mengantarkannya. Hal itu terjadi di malam hari.

“Dari Shafiah, isteri Nabi SAW, dia mendatangi Rasulullah SAW untuk menemuinya saat dia i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Lalu dia berbincang-bincang sesaat dengannya. Kemudian dia bangkit pulang, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam ikut bangkit mengantarkannya ke rumahnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Perlu dipahami bahwa letak rumah Rasulullah saw berdempetan dengan masjid. Jadi, meskipun beliau mengantarkan istrinya yang mengunjunginya, maka hal tu tetap tidak mengharuskan beliau keluar dari komplek masjid.

Kesimpulannya adalah praktek I’tikaf Nabi SAW cukup menggambarkan akan kemudahan dan tidak memberatkan. Seluruh waktunya beliau gunakan untuk berzikir kepada Allah Ta’ala dan melakukan ketaatan kepadaNya demi menyambut datangnya malam Lailatul Qadar. (Lihat: Zadul Ma’ad, Ibnul Qayim, 2/90, Al-I’tikaf Nazratun Tarbawiyah, DR. Abdul Latif Balthu)

Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :



Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!


Rasulallah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:



لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.


"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."



Lathaiful Ma'arif, hlm. 19




 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :