" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Jumat, 02 Juni 2017

ARTI DAN SEJARAH HALAQAH DAN LIQO'


Ummu Hasnaa 1
Oleh: Ummu Hasnaa Fajriah Nur, S.Pd.I.
Arti Halaqoh    
    Kata halaqah berasal dari bahasa arab yaitu halaqah atau halqah yang berarti lingkaran. Kalimat halqah min al-nas  artinya kumpulan orang yang duduk.[1]
       Halaqah sendiri dikenal dalam berbagai istilah, ada yang menyebutnya dengan usrah (keluarga), karena metode halaqah ini lebih bersifat kekeluargaan.
        Ada pula yang menyebutnya dengan liqa’. Sedangkan dalam bahasa Jawa, halaqah ini lebih dikenal dengan wetonan atau bandongan.
    Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil Muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta mereka dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan manhaj (kurikulum) tertentu. Biasanya kurikulum tersebut berasal dari murabbi/naqib yang mendapatkannya dari jamaah (organisasi) yang menaungi halaqah tersebut. Di beberapa kalangan, halaqah disebut juga mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.[2]
    Menurut Hanun Asrohah halaqah adalah proses belajar mengajar yang dilaksanakan murid-murid dengan melingkari guru yang bersangkutan. Biasanya duduk dilantai serta berlangsung secara kontinu untuk mendengarkan seorang guru membacakan dan menerangkan kitab karangannya atau memberi komentar atas karya orang lain.[3]
     Sedangkan menurut Hasbullah, metode halaqah atau wetonan adalah metode yang di dalamnya terdapat seorang kyai yang membaca kitab dalam waktu tertentu, sedangkan santrinya membawa kitab yang sama, lalu santri mendengarkan dan menyimak bacaan kiyai. Metode ini dapat dikatakan sebagai proses belajar mengaji secara kolektif.[4] 
   Tidak jauh berbeda, Haidar Putra Daulay dalam bukunya Sejarah Pertumbuhan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia menuturkan, wetonan atau bandongan adalah metode kuliah di mana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai. Kyai membacakan kitab yang dipelajari saat itu, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan.[5]
   Halaqah merupakan kumpulan individu yang berkeinginan kuat untuk membentuk kepribadian muslim secara terpadu yang berlandaskan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Oleh karena itu peranan halaqah sangat penting dalam tujuan pembentukan kepribadian muslim, yang pelaksanaannya berlandaskan kepada contoh Nabi ` dalam membina para sahabatnya. Halaqah sebagai perisai pelindung bagi pesertanya dari pengaruh eksternal yang kotor. Masing-masing peserta terikat hubungan persaudaraan yang mendalam seperti keluarga. Halaqah juga merupakan kumpulan individu yang mempunyai kepentingan yang sama untuk meningkatkan iman dan amal saleh. [6]
     Pendidikan melalui sistem halaqah ini mengembangkan program yang berkelanjutan sehingga memperoleh suatu interaksi dengan Islam secara intensif. Pematangan kejiwaan, pemikiran, akidah, dan pematangan perilaku merupakan kegiatan berkelanjutan. Pematangan secara berkelanjutan ini hanya dapat dilakukan dengan sarana halaqah.[7]
   Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa halaqah merupakan sekumpulan individu muslim yang bersungguh-sungguh dan berusaha untuk tolong menolong sesama anggota halaqah untuk mempelajari, memahami, dan mengamalkan Islam secara menyeluruh yang berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah `. Hal ini sejalan dengan firman Allah l dalam QS. Al-Maidah: 2,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب  

….dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Sejarah Halaqah
Ummu Hasnaa 3Halaqah sudah dimulai sejak awal Islam. Sebagaimana diketahui, Mekkah merupakan sentral agama bangsa Arab. Di sana ada peribadahan terhadap Kakbah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh bangsa Arab. Cita-cita untuk memperbaiki keadaan bangsa Arab tentu bertambah sulit dan berat jika orang yang hendak mengadakan perbaikan jauh dari keadaan lingkungan bangsa Arab. Hal ini membutuhkan usaha yang keras maka, dalam menghadapi kondisi seperti itu, tindakan yang paling bijaksana adalah tidak terkejut karena tiba-tiba mnghadapi sesuatu yang menggusarkan bangsa Arab.[8]
    Pada awal dakwah Islam di Mekkah, Rasulullah SAW menampakkan Islam kepada orang yang paling dekat dengannya, anggota keluarganya dan sahabat-sahabat karib Rasulullah SAW.  Rasulullah mendakwahkan mereka dan juga siapa saja yang memang diketahui mencintai kebaikan, kebenaran, dan kejujuran beliau.
    Rasulullah SAW menemui dan mengajarkan Islam kepada mereka secara sembunyi-sembunyi, hal ini dilakukan karena untuk menjaga keselamatan masing-masing. Rasulullah membuat pertemuan-pertemuan di rumah beberapa sahabat. Yang masyhur dalam proses penanaman nilai-nilai ajaran Islam ini  dilakukan di rumah al-Arqam. Di dalam majlis ini, terdiri dari beberapa orang sahabat. Rasulullah ` sendiri yang lebih banyak mendidik dan membentuk mereka agar memiliki kepribadian yang Islami. Melalui halaqah pertama ini terbentuklah sekelompok orang mukmin yang senantiasa bahu-membahu untuk untuk menegakkan kalimat Allah.
    Pada periode dakwah di Madinah, halaqah pertama kali dilakukan di masjid. Nabi  SAW melakukan tugas mendidik umat melalui halaqah di masjid yang menyatu dengan rumah beliau pada waktu-waktu yang dipilih. [9] Ibnu Mas’ud meriwayatkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

Nabi SAW membuat sela-sela (lingkaran) dalam ceramah pada hari-hari tertentu demi menghindari kebosanan. (HR. Bukhari No.66
    Dalam halaqah, Nabi ` menyampaikan materi ilmu yang beragam. Namun yang paling diutamakan oleh Nabi adalah mengajarkan al-Qur`an.[10] M. Alawi al-Makki mengatakan:
Pada majelis-mejelis halaqah kenabian dipelajari ilmu-ilmu dasar beserta kaidah-kaidahnya, seperti berbagai macam fadhilah, wawasan pemikiran, akhlak, tradisi yang baik, dan faedah-faedahnya yang besar, yang merupakan sumber ilmu pengetahuan. Kami akan menuturkan sebagian dari apa yang dipelajari para sahabat pada halaqah agung yang mulia tersebut. Dan tidak diragukan lagi, sesungguhnya ilmu dasar terpenting di situ adalah al-Qur`an al-Karim.[11]
   Pada zaman tabi’in, terdapat halaqah-halaqah ilmu di Madinah Munawwarah yang memakmurkan masjid Nabawi yang mulia. Di masjid itu para ulama yang langka dari para pembesar tabi’in berkumpul sebagaimana kumpulan gugusan bintang-bintang yang bersinar di jantung langit. Ada halaqah yang dipimpin ‘Urwah bin az-Zubair, ada halaqah yang dipimpin Said bin al-Musayyib, dan ada halaqah yang dipimpin Abdullah bin ‘Utbah.[12]
   Menurut Satria Hari Lubis, dalam bukunya Menggairahkan Perjalanan Halaqahhalaqah berawal dari berdirinya jamaah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 M. di Mesir, Hasan al-Banna sangat prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang jauh dari nilai-nilai Islam. Al-Banna berusaha keras mengembalikan umat kepada agamanya. Dari pengamatannya yang mendalam, al-Banna pun sampai pada satu kesimpulan bahwa hal ini disebabkan kaum muslimin tidak terdidik secara Islami. Lalu al-Banna pun mengenalkan sistem pendidikan alternatif yang harus dilakukan oleh anggota jamaahnya. Sistem tersebut disebut dengan sistem usrah. Anggota jamaah dibagi dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan tingkat pemahamannya terhadap Islam.[13]
   Dengan dibimbing oleh seorang naqib, para anggota Ikhwanul Muslimin saat itu secara serius mempelajari Islam yang berorientasi pada pengamalan Islam. hasilnya, jamaah Ikhwanul Muslimin saat itu dikenal oleh kawan dan lawannya sebagai j metode halaqah bagi pendidikan akhlak Islami ummahat amaah yang anggotanya sangat konsisten menegakkan Islam di dalam diri dan masyarakat. Sepeninggal Hasan al-Banna, sistem usrah dilanjutkan oleh para pengikutnya. Sistem ini akhirnya menyebar dengan berbagai modifikasinya ke berbagai gerakan Islam lainnya.[14]
    Di Nusantara, sistem halaqah ini dikategorikan dalam sistem pembelajaran tradisional. Sistem halaqah ini sudah mulai diterapkan sejak masuknya Islam di Nusantara. Pada awalnya diterapkan di masjid-masjid, surau, dan langgar-langgar yang merupakan cikal bakal lahirnya pesantren. Seiring perkembangan zaman,  pesantren juga ikut mengalami perkembangan, berupa lahirnya berbagai inovasi baru dalam dunia pendidikan pesantren. Tapi ada hal yang merupakan ciri khas yang tidak bisa lepas yaitu penerapan sistem halaqah dalam pembelajaran di pesantren, meskipun sudah ada  sistem pembelajaran klasik atau madrasah.[15]
   Kini fenomena halaqah/usrah menjadi umum dijumpai di lingkungan kaum muslimin di mana pun mereka berada. Walaupun mungkin dengan nama yang berbeda-beda. Penyebaran halaqah/usrah yang pesat tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan halaqah/usrah dalam mendidik pesertanya menjadi mukmin yang bertakwa kepada Allah . Saat ini halaqah/usrah menjadi sebuah alternatif pendidikan keislaman yang masif dan merakyat. Di dalam halaqah tidak lagi melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial, atau budaya pesertanya. Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan agama Islam atau tidak. Halaqah/usrah telah menjadi sebuah wadah pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) yang semakin inklusif saat ini.[16]
   Demikian penjelasan tentang arti halaqoh dan sejarahnya. semoga kita semua mendapat taufik dari Alloh SWT untuk senantiasa bersemangat mendatangi halaqoh-halaqoh ilmu kapanpun dan di manapun kita berada. Amien..Wallohu A’lam
[1]Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab – Indonesia, hlm. 290.
[2] Satria Hadi Lubis, Menggairakan Perjalanan Halaqah: Kiat Agar Halaqah Lebih Dahsyat Full Manfaat, Pro You, Yogyakarta, 2011, hlm. 16.
[3] www.psikologip.blogspot.com/2011/12/ halaqoh.html diakses pada tanggal 9 Februari 2013, pukul 14.31 WIB.
[4] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia: Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1999, hlm. 26.
[5] Haidar Putra Daulay, Sejarah Pertumbuhan Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009, hlm. 69.
[6] Irwan Prayitno, Kepribadian Dai: Bahan Panduan bagi Dai dan Murabbi, Pustaka Tarbiatuna, Bekasi, 2003, hlm. 387.
[7] Ibid., hlm. 387.
[8] Lihat: Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiiqu al-Makhtuum: Bahtsun fi as-Sirah an-Nabawiyah ‘Ala Shahibina Afdhalish Shalati Wa as-Salam, (terj. Kathur Suhardi), Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 2010, hlm. 71.
[9] http://psikologip.blogspot.com/2011/12/halaqoh.html diakses pada tanggal 9 Februari 2013, pukul 14.31 WIB.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
[12] http://kisahmuslim.com/tokoh-tabiin-said-bin-musayyab/ diakses pada tanggal 18 Juli, pukul 14.09 WIB.
[13] Satria Hadi Lubis, Menggairakan Perjalanan Halaqah: Kiat Agar Halaqah Lebih Dahsyat Full Manfaat, hlm. 17-18.
[14] Ibid., hlm. 18.
[15] http://wahidah01.blogspot.com/2009/04/halaqah-suatu-sistem-pembelajaran.html diakses pada tanggal 25 Mei 2013, pukul 13.34 WIB.
[16] Satria Hadi Lubis, Menggairakan Perjalanan Halaqah: Kiat Agar Halaqah Lebih Dahsyat Full Manfaat, hlm. 18.