" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Kamis, 13 April 2017

UJUB MEMANG BAHAYA


Bismillaah.

Satu dosa yang paling menjebak adalah ujub. Ujub mendorong untuk menjadikan diri sendiri sebagai tolok ukur kesuksesan, kemuliaan, kebaikan. Dia akan memusuhi dan membenci, setiap orang yang tidak berbuat seperti yang diinginkannya. Dalam hematnya, dirinya sudah benar, orang lain salah besar. Frekuensi kata tertinggi yang dilontarkannya adalah, “Saya.”

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Tiga hal yang menyelamatkan : Takut kepada Allah ta’ala dalam kondisi rahasia maupun terang-terangan; 

Bersikap adil ketika ridha maupun marah ; Dan bersikap pertengahan (tidak boros dan tidak pelit) ketika fakir ataupun ketika kaya. 

Tiga hal yang membinasakan : 

Hawa yang diikuti ; Kikir yang dituruti; Kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” [📓Hasan: Shahih Al Jami’ no. 3039; Ash Shahihah no. 1802]

Faktor pemicu ujub antara lain adalah terlalu berlebihan dalam bermuhasabah dimana dia terjerumus ke dalam sikap bangga bahwa dirinya telah banyak beramal shalih dan berlebihan dalam bersyukur atas keberhasilan berbuat kebaikan.

Yang paling banyak diingatnya adalah hadits, “Barangsiapa kebaikannya menggembirakannya dan keburukannya menyedihkannya, maka dialah orang mukmin.” [📓Sunan At Tirmidzi no. 2318]

Faktor lain adalah dia terlalu berlebihan dalam keinginannya untuk meneladankan kebaikan. Meneladankan kebaikan atau mengajarkan kebaikan dalam bentuk sikap riil memang bentuk dakwah yang efektif. Sayangnya orang yang terjangkit ujub ini ingin agar seluruh gerak-geriknya dijadikan sumber ilmu bagi orang lain.

Dalam hal ini dia telah mensucikan dirinya sendiri, sebab dalam qalbu telah terpatri dengan kuat keyakinan bahwa dirinya telah berada di puncak keutamaan sehingga dia merasa orang lain patut untuk mencontoh kebaikan darinya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan tegas bersabda, “Jangan mensucikan diri kalian, Allah lebih tahu tentang orang yang ahli kebaikan di antara kalian.” [📓Shahih Muslim no. 3992]

Kondisi ini jauh berbeda dengan para salaf dahulu. Keshalihan mereka terekam hingga kini bukan atas usaha mereka mempromosikan diri, melainkan dipromosikan oleh orang lain.

Para salaf lebih banyak menyembunyikan keshalihan mereka karena takut tidak bisa ikhlas.

Rekaman jejak keshalihan mereka ada hingga sekarang adalah bukan karena keinginan mereka, tapi orang lain-lah yang ingin agar generasi khalaf dapat belajar dari mereka.

Kalaupun mereka melontarkan kata-kata sarat hikmah, itu murni dari ketulusan qalbu, tanpa rekayasa sedikitpun, dan didorong keinginan melestarikan kebaikan. Dan jarang sekali mereka menjadikan diri sebagai poros ucapan mereka.

Maka sudah saatnya kita mengoreksi diri, benarkah niat kita dalam menampakkan kebaikan itu murni untuk keteladanan? Ataukah untuk popularitas? Atau pula agar tetap diterima oleh orang-orang dekat? 

Biasanya, ketika ahli ujub sudah tidak diterima lingkungannya, dia akan mencari kambing hitam. Pada taraf paling parah, dia akan mempersalahkan semua orang, dan ujubnya pun semakin menggerogoti qalbunya.

Wallahu a'lam.

Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :

Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!


Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:



لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.


"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."



Lathaiful Ma'arif, hlm. 19




 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :