" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 29 April 2017

TAQARRUB ILALLAH


Kedekatan manusia kepada Allah SWT tidaklah muncul tiba-tiba, tetapi melalui proses, seperti hubungan antara dua orang manusia yang saling mencintai. Pada awalnya tidak saling mengenal, tetapi dengan intensitas pertemuan yang makin sering dari waktu ke waktu maka akan timbul rasa kasih sayang yang kemudian menimbulkan pemahaman ‎‎dan pengenalan terhadap diri masing-masing. Dan rasa kasih sayang yang timbul lambat laun akan ‎‎menimbulkan rasa cinta. Ibarat dari pepatah, “Tak kenal maka tak sayang.”
Begitupula apabila manusia ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah, maka manusia harus belajar mengenal Allah, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan yang disyariatkan dalam Al-Qur’an dan As-sunnah-Nya. Kadangkala, dalam menjalani kehidupan keseharian, manusia tidak pernah luput dari permasalahan dan cobaan yang ‎melanda hidup ini. Apakah dengan ujian itu akan menjadi lupa kepada Allah atau akan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ketika manusia sudah berusaha mendekatkan dirinya pada Allah, maka Allah akan mendekat pula kepada hambanya. Dari Anas r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang yang diriwayatkannya dari tuhannya, “Bila seorang hamba mendekat kepada-Ku (Allah) sejengkal, maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Bila dia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan bila dia mendekatiku dengan berjalan, maka Aku mendekatinya dengan berlari.“ (HR Bukhari)

KESALAHPAHAMAN TENTANG PENGERTIAN TAQARRUB ILALLAH

Upaya manusia untuk mendekatkan diri disebut taqarub, berasal dari akar kata qurb (dekat), dan aqriba (kerabat). Kata taqarrub dalam bahasa Arab artinya mendekat. Taqarrub ilallah artinya mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan kewajibab-kewajiban yang telah ditetapkan-Nya. Tetapi, saat ini tidak sedikit orang memaknai taqarrub ilallah dengan pengertian yang sempit, yaitu hanya sebatas ibadah mahdhah saja, seperti shalat, puasa, haji, dan dzikir. Sementara itu, pelaksanaan ajaran islam dalam interaksi antara manusia dengan manusia seperti mu’amalat, akhlaq, math’umat(berkaitan dengan makanan), malbusaat (berkaitan dengan pakaian), uqubat (pelaksanaan sanksi hukum) serta menegakkan SYARIAT ISLAM dan menjalankan RODA PEMERINTAHAN ISLAM dianggap bukan bagian dari taqarrub ilallah. Hal ini disebabkan karena pengaruh paham sekularisme yang membatasi agama hanya hubungan manusia dengan Tuhannya)…, padahal tidaklah demikian.

MAKNA TAQRRUB ILALLAH

Lalu… pemahaman “TAQARRUB ILALLAH” yang tepat itu seperti apa?. Istilah “taqarrub ilâ Allâh” berasal dari nash-nash syariah yang membicarakan upaya pendekatan diri kepada Allah SWT, antara lain hadis dari Nabi saw. Bahwa Allah SWT berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepadanya; tidaklah hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan nafilah-nafilah (nawâfil) hingga aku mencintainya.” (HR al-Bukhari & Muslim, Fath al-Bari, XVllllllll/342; Syarh Muslim, IX/35).

Dari hadist diatas, dari kata “mendekatkan diri kepada-Ku” (yataqarrabu ilaiyya) inilah kemudian lahir istilah “taqarrub ilâ Allâh“. Kata taqarrub secara bahasa artinya adalah mencari kedekatan (thalab al-qurbi). Jadi, “taqarrub ilâ Allâh” secara bahasa adalah mencari kedekatan dengan Allah, ini menurut (Ibnu Hajar Al-Asqalani). Dari pengertian bahasa inilah para ulama merumuskan pengertian taqarrub ilâ Allâh secara syar’i.

Para ulama seperti Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan, arti kedekatan secara fisik antara manusia dan Allah dalam arti jarak, jelas adalah mustahil. Jadi, hadis Nabi saw. di atas tidak dapat diartikan menurut arti hakikinya, melainkan harus dipahami dalam arti kiasan-nya yang telah masyhur dalam gaya bahasa orang Arab. Maka dari itu, makna syar’i dari “taqarrub ilâ Allâh” adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban dan larangan- larangan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. (Fath al-Bâri, XXI/132; Syarh Muslim, IX/35; Al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa‘, 1/499; Syarh al-Bukhâri li Ibn Bathal, XX/72).

Ruang Lingkup Taqarrub ilallah

Dalam syariat islam, ada lima hukum yang mengatur manusia dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah dengan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang telah ditetapkan-Nya, seperti: halal, Sunnah, mubah, makruh dan haram.
Menurut Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab jami’ul Ulum wal Hikam juz 1 halaman 361, versi maktabah syamilah, beliau menerangkan bahwa ruang lingkup taqarrub ilallah ada dua golongan :
1. Orang yang melaksanakan kewajiban (ada’al faraidh), yang meliputi perbuatan melakukan kewajiban yang diwajibkan oleh Allah(Fi’l al alwajibat) dan meninggalkan apa yang diharamkan oleh Allah (tark al – muharramat).
2. orang yang melaksanakan segala amalan yang sunnah-sunnah (Nawafil )

PERBUATAN WAJIB (Fi’l alwajibat)

Dalam Al Qur’an dan As-Sunnah, aktivitas taqarrub ilallah berkaitan dengan perbuatan Fi’l al alwajibat terbagi dalam tiga dimensi, yaitu:

Pertama, Habluminallah (hubungan antara manusia dengan Allah).
Dalam hubungan kita dengan Allah, kita mengenal yang namanya ibadah Mahdhah contohnya; mengerjakan shalat, zakat dan puasa. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sholat adalah salah satu ibadah wajib yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana yang disebutkan di Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 3, 43, 45, 83, 110, 153, 177, 238, 277, Surat Annisa ayat 43, 102, 103, 162, dsb. Sholat adalah ibadah pertama yang diperiksa dalam perhitungan amal di akherat dan menjadi tolok ukur seluruh amal ibadah lainnya. Bila sholatnya baik maka seluruh amal ibadahnya baik, begitu juga sebaliknya bila sholatnya jelek (atau tidak pernah sholat) maka jeleklah seluruh amal lainnya. Begitu pula dalam melakukan aktivitas ibadah zakat dan berpuasa pun juga harus sesuai dengan aturan hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT didalam Al Qur’an dan As-sunnah-Nya, agar amalan tersebut diterima oleh Allah SWT.

Kedua, Habluminafsi (hubungan antara diri manusia dengan dirinnya) .
Hal ini berkaitan dengan segala aktivitas dan tingkah laku setiap individu itu harus berdasarkan syariat islam, diantaranya mencakup hal-hal yang berkaitan dengan makanan dan minuman halal seperti yang diatur dalam ayat suci Al qur’an, diantaranya ;( QS Al baqarah 168, 172, 173), [(QS. Al Maidah: 3), (QS. Al An’am: 145), (QS. Al An’am: 121)], bagaimana berpakaian syar’i sesuai yang disyariatkan oleh Allah seperti yang dterangkan dalam firman Allah [QS Al Ahzab:59, QS An nur: 31], serta ahlak ( cara bersikap), yaitu bagaimana menjadi pribadi muslim yang beraklaqul kharimah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Ketiga, Habluminannas (hubungan manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungan sekitarnya).
Kenyataan yang ada pada masyarakat saat ini, kebanyakan dari mereka sering mengartikan aktivitas dalam bertaqarrub ilallah hanya sebatas 2 dimensi saja, yaitu hanya aktivitas yang berkaitan dengan habluminallah dan habluminafsi. Banyak kaum muslimin berpandangan bahwa Islam tidak berhak mencampuri aspek kehidupan yang lain selain kedua dimensi diatas. Padahal, Islam itu luas, sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada di dalam kehidupan manusia, hal apapun itu lepas dari perhatian Islam ini. Hal yang sebenarnya adalah Islam mengatur seluruh Aspek Kehidupan Manusia tanpa terkecuali mencakup semua aspek kehidupan dalam aktivitas interaksi antara manusia dengan manusia (habluminannas). Bahkan yang terjadi dewasa ini, banyak diantara kita kaum muslimin masih mempunyai pandangan yang sempit dalam memahami makna dari aktivitas kewajiban sebagai seorang muslimin terkait dengan habluminannas. Sebagian orang masih mengartikannya hanya sebatas personal saja, yaitu hanya sebatas bagaimana kita berbuat baik dengan orang lain, bagaimana bersikap ramah dan tersenyum kepada sesama muslim, bagaimana bersikap sabar apabila didzolimi orang lain atau untuk tidak berbuat dzalim kepada orang lain saja. Seharusnya, aktivitas taqarub ilallah terkait dengan habluminannas yang sebenarnya itu mencakup makna yang sangat luas, yaitu mencakup semua aktivitas yang berkaitan dengan mu’amalah (ipoleksosbud hankam) dan uqubat ( pelaksanaan sanksi hukum).

Ruang lingkup aktivitas dari muamalah meliputi, ipoleksosbud hankam adalah;
• Ideologi Islam : Ide hukum semua dari Allah yaitu Al Qur’an & Hadist, dimana sebagai hamba Allah harus berhukum dengan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sesuai dalam Al qur’an dan As-sunnahNya dengan bermabdakan islam, bukan ideologi kapitalis atau sosialism
• Politik Islam : segala sesuatu yang mengurus urusan umat dengan meniru politik islam yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW
• Ekonomi Islam :dalam sitem ekonomi islam telah mengatur transaksi jual-beli, kerja sama ekonomi antara Negara, mengharamkan riba, judi dan suap, tetapi menghalalkan jual-beli, ekonomi islam akan memperhatikan kesejahteraan rakyat dan sosial, dll
• Sosial Islam :dalam negara islam bahwa Pendidikan Islami gratis, Kesehatan gratis, sarana umum gratis, pendidikan itu diatur oleh Allah, mana pendidikan yang boleh dan mana pendidikan yang tidak boleh, islam juga mengatur interaksi antara non-muslim dan orang muslim sehingga bisa hidup berdampingan dengan tenang dan damai bahkan sejahtera di bawah aturan hukum syariat Islam, dan semua hal tersebut akan terjadi apabila syariat islam telah ditegakkan,
• Budaya Islam : dalam hal pergaulan,aturan islam melarang kita untuk mendekati zina , tidak ada pergaulan bebas, tidak ada ( feminisme, pornografi, pornoaksi, khamr), dll.
• Pertahanan & Keamanan Islam :semata-mata untuk melindungi rakyat dari gangguan luar, berjihad untuk penyebaran Islam ke seluruh dunia
• Contoh Uqubat dalam Negara khilafah /islam, apabila mencuri dipotong tangannya, berzina dirajam atau 100 dera.

PERBUATAN HARAM (Tark al-Muharramat)

Aktivitas taqarrub ilallah terkait dengan perbuatan “tark al- muharramat” adalah menjauhi dan meninggalkan segala bentuk aktivitas-aktivitas, seperti;
• bid’ah dalam ibadah,
• makan &minum yang haram,
• tunduk dan meniru budaya barat dengan membuka aurat, zina, minum khamr, pornoaksi, pornografi, pergaulan bebas
• Dalam ekonomi, menerapkan sistem ekonomi kapitalis, yaitu melakukan riba, suap, judi
• dalam berhubungan sosial, segalanya dinilai dengan materi dan berlandaskan asas manfaat semata.
• berhukum pada hukum buatan manusia dalam bidang ipoleksosbud hankam, contohnya dalam sistem demokrasi dengan mengikuti voting dalam keharaman
• dalam sistem pertahanan dan keamanan Negara; tunduk pada penjajah atau tunduk pada Negara yang memiliki power lebih kuat, tidak adil atau dzalim dalam menerapkan saksi (uqubat)

Semua aktivitas tark al- muharramat diatas merupakan suatu keharaman bila dilakukan.

Bentuk Taqarrub ilallah yang lain, selain menjalankan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan – larangan tersebut diatas adalah dengan mempergiat menjalankan hal-hal yang sunnah (Nawafil), seperti; puasa senin kamis, menyembelih kurban, bersedekah, membaca Al qur’an, dll. Menghindari perbuatan-perbuatan makruh, seperti; tidak makan makanan yang berbau tajam sebelum pergi ke masjid, meniup makanan yang panas, tidak berbicara didalam kamar mandi, dll. Serta menjauhi hal- hal yang mubah, agar supaya tidak terlena dari hal-hal yang wajib, seperti menuntut ilmu Allah, membaca & memahami serta melaksanakan isi & makna dari Al Qur’an dengan segenap jiwa dan raga, berdakwah untuk memperjuangkan tegaknya syariah islam.

Jadi, dalam bertaqarrub ilallah agar supaya kita dapat meraih kecintaan Allah adalah dengan lebih pergiat lagi melakukan kewajibab-kewajiban yang wajib dan Sunnah, jauhi yang haram dan makruh, jangan terlena dengan yang mubah. Sebab apabila seseorang bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban yang telah diwajibkan serta diikuti dengan menyempurnakan diri dengan mengerjakan amalan-amalan Sunnah(nawafil), menjauhi yang haram dan makruh, tidak terlena dengan yang hal-hal yang mubah, maka Allah akan mendekatkan orang itu kepada-Nya, dan akan mengangkat derajatnya dari derajat iman ke derajat ihsan, membuat hatinya penuh dengan ma’rifatullah, selalu ada kecintaan, pengagungan, rasa takut & rindu kepada Allah didalam hatinya, maka orang itu apabila berbicara, mendengar, melihat, berdoa memohon perlindungan, selalu hanya berdasarkan petunjuk Allah, sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadist:

“Tiada henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah nafilah, sehinggga Aku mencintanya. Kalau Aku sudah mencitainya, maka aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya dan Aku akan menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya; dan Aku akan menjadi tangannya yang ia pergunakan; dan Aku akan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku niscaya akan Kuberi apa yang ia minta; dan jika ia memohon perlindungan pada-Ku niscaya Aku lindungi” (lihat Fathul Baari, Syarah Shahih Bukhari, XI/341-345, lihat Fauzie Sanqarith & Muahammad Al Khaththath, Taqarrub Ilallah, hal V dan X)

KUNCI TAQARRUB ILALLAH

Dalam usaha bertaqarrub illlah, Kita tidak bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT apabila tidak ada iman didalam hati kita. Pertama kita harus mengenal siapa Allah itu, mempercayai bahwa kita ini sebagai hamba Allah harus mengimani dan menyadari (makrifat) hubungan kita (sebagai hamba) dengan Allah Sang Pencipta sebagai Al-ma’bud (yang disembah/ diibadahi karena rasa cinta dan pengagungan).

1. IMAN dan BERAMAL SHALEH

َمَا أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَى إِلاَّ مَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ ءَامِنُونَ

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS. Saba’ [34]: 37)

2.MAKRIFATULLAH
Mengimani sifat-sifat Allah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Iman kepada Allah. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui dan memahami Ilmu mengenal Allah melalui nama- nama dan sifat-sifat-Nya, sebagaiman firman Allah SWT:

ِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allah).” (QS. Fathir:28)

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan paling mengenal-Nya di antara kamu sekalian.” (HR. Al-Bukhari, no. 20; hadits shahih; dari Aisyah)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Barang siapa yang mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, pasti dia akan mencintai-Nya.” (Madarijus Salikin, 3:17)

3. HUBUNGAN KITA DENGAN ALLAH SEBAGAI HAMBA, SANG PENCIPTA SEBAGAI MA’BUD

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
(QS. Az – Zariyat 51:56)

Kiat-kiat Taqarrub ilallah (Tombo Ati)

• Membaca, mendengarkan, menghafal ayat-ayat Al Qur’an, disertai dengan meresapi atau menghayati makna dari setiap ayat yang dibaca untuk mencerahkan akal dan jiwa, Insya Allah dengan membaca Al Qur’an dan meresapi maknanya, akan menjadikan kita makin dekat dengan-Nya.
• Sholat Malam untuk meraih disiplin bagi orang-orang yang shalih
• Solat wajib tepat waktu
• Bergaul dengan orang-orang shalih: seperti yang kita ketahui bahwa tingkat keimanan seseorang kadangkala bisa turun atau naik, untuk itu perlu dijaga agar tingkat keimanan dalam diri kita tetap tinggi, yaitu dengan berada disekeliling orang-orang yg dekat dengan Allah SWT untuk mendapatkan ilmu dan nasehat dari mereka (orang-orang shaleh) sehingga akan membawa kita untuk semakin dekat kepada-Nya.
• Shiyam: menahan rasa lapar dan haus dalam shiyam akan menjadikan seseorang lebih bersabar dan lebih bisa mengendalikan hawa nafsu
• Dzikir malam (membiasakan dzikir di malam hari), dengan selalu dzikirullah mengingat dan mengagungkan Asma Allah dan sifat-sifat-Nya serta memahami maknanya, dalam segala situasi dan kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan, sehingga akan menumbuhkan ketenangan & kejernihan serta membersihkan hati&jiwa.
• Menambah pengetahuan keislaman dengan cara bertholabul ilmu mendatangi majelis-taklim, membaca buku, membaca di internet tentang pengetahuan Islam, artikel Islam, tausyiah, dsb), melihat video Islami yang dapat meningkatkan keimanan kita.
• Selalu bermuhasabah diri dan mengingat akan kematian

Semua aktivitas diatas serentak haruslah disertai dengan memperbaiki kondisi lingkungan umat saat ini, yaitu dengan **IKUT BERJUANG MENDAKWAHKAN TEGAKNYA SYARIAT ISLAM YANG KAAFFAH DIMUKA BUMI INI** agar syariat Allah bisa diterapkan kembali dimuka bumi ini dalam segala aspek kehidupan manusia, Baik dalam aspek HABLUMINALLAH, HABLUMINAFSI, MAUPUN HABLUMINANNAS (MELIPUTI IPOLEKSOSBUDHANKAN & UQUBAT).

Pentingnya Taqarrub ilâ Allâh

Aktivitas taqarrub ilâ Allâh adalah demi meraih kecintaan Allah kepada hamba-Nya, karena jika seseorang mendekatkan diri kepada Allah, maka dia akan dicintai Allah.

Ibnu Rajab Al-Hanbali menerangkan, “jika orang mendekatkan diri kepada Allah maka dia akan dicintai Allah. Orang yang dicintai Allah akan mendapatkan berbagai balasan yang baik dari Allah, semisal keridhaan dan rahmat Allah; limpahan rezeki-Nya, taufik-Nya, pertolongan-Nya, dan sebagainya”. (Jâmi’ al-’Ulum wa al-Hikâm, XXXVIII/10-12; Syarah Muslim, X/35).

Dalam Hadits Bukhari diterangkan tentang sikap Allah kepada hamba-Nya yang bertaqarrub kepada-Nya:
“Jika seorang hamba mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatinya sehasta; jika ia mendekati-Ku sehasta, aku akan mendekatinya sedepa; jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekatinya dengan berlari”(Shahih Bukhari XI/199, lihat Fauzie Sanqarith & Muhammad Al Khaththath, Taqarrub Ilallah, hal IX)

Sementara itu orang yang tidak mau mendekatkan diri kepada Allah maka dia tidak akan dicintai Allah, tak akan mendapat berbagai balasan yang baik dari Allah, dan akan diganti Allah dengan orang lain yang mencintai-Nya. Ibnu Rajab Al-Hanbali menafsirkan ayat di atas dengan berkata, “Dalam ayat ini terdapat isyarat seakan Allah berkata, ‘Orang yang berpaling dari mencintai Kami, yang tidak mau mendekatkan diri kepada Kami, maka Kami tak akan pedulikan dia, dan akan Kami ganti dia dengan orang yang lebih layak mendapat karunia ini.” (Jâmi’ al-’Ulum wa al-Hikâm, XXXVIII/12).

Hadits tentang dzikir di malam hari yang biasa dibaca Rasulullah saw. sebelum shalat tahajjud:

Sahabat Ibnu Abbas meriwayatkan hadits bahwasanya Nabi saw. pada saat bangun malam untuk bertahajjud mengucapkan:

o [اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ لَكَ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ وَوَعْدُكَ الْحَقُّ وَلِقَائُكَ حَقٌّ وَقَوْلُكَ حَقٌّ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقٌّ وَ السَّاعَةُ حَقٌّ اَللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ فَاغْفِرْ لِيْ مَاقَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَاأَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَإِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ]

Artinya :
“Ya Allah, bagi-Mu segala puji; Engkau Pemelihara langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya. Dan bagi-Mu segala puji,bagi-Mu kekuasaan langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau cahaya langit dan bumi serta yang ada di antara keduanya. Dan bagi-Mu segala puji, Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi benar, dan Nabi Muhammad saw. adalah benar, serta kiamat itu benar. Ya Allah, hanya kepada Engkaulah aku berserah diri, hanya kepada Engkaulah aku beriman,hanya kepada Engkaulah aku bertawakkal, hanya kepada Engkaulah aku kembali, hanya karena Engkaulah aku berdebat, dan hanya kepada Engkaulah aku meminta keputusan hukum, maka ampunilah dosa-dosaku yang terdahulu dan yang kemudian, serta dosa-dosaku yang tersembunyi dan terang-terangan, Engkaulah yang mendahulukan dan mengakhirkan, tiada Tuhan kecuali Engkau, dan tiada daya serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”.

KHATIMAH

Taqarrub ilallah tidak hanya terbatas pada ibadah-ibadah yang terkait dengan habluminallah dan habluminafsi saja, melainkan juga meliputi segala aspek kehidupan terkait interaksi antara manusia dengan manusia (habluminannas), yang serentak wajib disertai dengan menerapkan syariah islam secara kaffah dan menyeluruh di bidang ipoleksosbud hankam & sanksi hukum dalam bingkai Negara Khilafah.

Berjuanglah agar Islam Kaffah tegak di muka bumi sehingga kita bisa sempurna beribadah kepada-NYA. Siapa yang mengharap cintaNYA…? Pergiat yang wajib dan Sunnah, jauhi yang haram dan makruh, jangan terlena dengan yang mubah. Jangan ditunda…. sebab maut selalu mengintai kita kapan…di mana…? Hanya Allah-lah yang Maha tahu.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka, dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad dijalan Allah dan tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas( pemberian_Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah: 54).

Semoga kita termasuk hamba Allah SWT yang dicintai oleh-Nya…aamiin.

wassalam

disampaikan oleh ukhti Rini ummu halimah ,MTRI 1 april 2015

Rasulallah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!

 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.blogspot.com #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :