" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Jumat, 03 Februari 2017

Harga Diri Laki-Laki Adalah Bekerja



Image result for HARGA DIRI LAKI-LAKI ADALAH BEKERJABagi laki-laki khususnya suami, jangan sampai anda tidak bekerja dan berpangku tangan terus-menerus.

“Tetaplah bekerja walaupun tidak punya pekerjaan tetap”
Terkadang “Rasa gengsi” dan “tidak mau memulai” itulah yang membuat laki-laki menganggur lama dan tidak bekerja. Jika direnungi sangat banyak pekerjaan yang bisa menghasilkan harta walaupun sedikit. Paling minimal bisa memberikan makan keluarga. Misalnya
-Memulai bisnis sederhana menjual nasi kuning pagi-pagi pinggir jalan

-Memulai menjadi karyawan pembantu warung pinggir jalan

-Dan usaha lainnya dengan modal seadanya yang ada pada saat itu
Perhatikan hadits berikut, yaitu seorang yang bekerja seadanya mencari kayu di hutan kemudian menjualnya untuk penghidupannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻷَﻥْ ﻳَﺄْﺧُﺬَ ﺍََﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺍَﺣْﺒُﻠَﻪُ ﺛُﻢَّ ﻳَﺎْﺗِﻰ ﺍﻟْﺠَﺒَﻞَ ﻓَﻴَﺎْﺗِﻰَ ﺑِﺤُﺰْﻣَﺔٍ ﻣِﻦْ ﺣَﻄَﺐٍ ﻋَﻠَﻰ ﻇَﻬْﺮِﺥِ ﻓَﻴَﺒِﻴْﻌَﻬَﺎ ﻓَﻴَﻜُﻒَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﺧَﻴْﺮٌﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﺍَﻥْ ﻳَﺴْﺄَﻝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﺍَﻋْﻄَﻮْﻩُ ﺍَﻭْ ﻣَﻨَﻌُﻮْﻩُ .
“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”. [1]
Yang paling penting adalah tawakkal, sebagaimana tawakkal burung. Burung bergerak dahulu, keluar dahulu untuk mencari makan, padahal burung tidak tahu di mana makanannya, tetapi poinnya adalah: tetap bergerak dan tetap bekerja [2]
Bisa saja Allah akan bukakan pintu rezeki selanjutnya, misalnya:
-Warung nasi kuningnya berkembang pesat, punya nama dan punya banyak cabang dan berhasil
-Setelah menjadi karyawan warung, ia bisa mempelajari dan membuka warung sendiri kemudian berkembang san sukses dengan banyak cabang
Perhatikan bagaimana Nabi Dawud, seorang raja, akan tetapi makan dari hasil usahanya sendiri.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻛَﺎﻥَ ﺩَﺍﻭُﺩُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﻻَﻳَﺄْﻛُﻞُ ﺍِﻻَّ ﻣِﻦْ ﻋَﻤَﻞِ ﻳَﺪَِْﻩِ .
“Nabi Daud tidaklah makan, melainkan dari hasil usahanya sendiri”.[3]
Demikian juga nabi Zakaria yang seorang tukang kayu, meskipun beliau adalah Nabi dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, beliau tidak malu menjadi tukang kayu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻛَﺎﻥَ ﺯَﻛَﺮِﻳَّﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﻧَﺠَّﺎﺭًﺍ .
“Nabi Zakaria Alaihissalam adalah seorang tukang kayu”.[4]
Jadi, jangan sampai kita hanya berpangku tangan saja, tidak mau bekerja hanya karena gengsi dan terlalu banyak rencana dan ingin kesempurnaan sehingga tidak mau memulai.
@Yogyakarta Tercinta
Penyusun: Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

Catatan Kaki:
[1] HR Bukhari, no. 1471
[2] Silahkan baca penjelasan selengkapnya tulisan kami:
[3] HR Bukhari, no.2073
[4] HR Muslim, no. 2379; Ahmad II/296, 405, 485




Selamat jumpa lagi rekan-rekan di tulisan saya kali ini. Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang hubungan seorang laki-laki dengan perempuan. Eeh…, bukan maksud saya hubungan seorang laki-laki dengan pekerjaan. Hehe…

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah motor dengan nomor polisi B 3469 OL. Memang tidak ada yang spesial dari motor dan nomor polisinya itu. Tapi tulisan berbentuk sticker yang menempel di bawah plat nomor polisinya lah yang spesial. Tulisan itu bertuliskan “Harga Diri Seorang Laki-laki adalah Bekerja”

Tulisan itu membuat saya bertanya dalam hati. Apakah benar harga diri seorang lelaki hanya diukur dari pekerjaannya saja? Bila benar begitu seorang laki-laki direktur sudah pasti memiliki harga diri paling tinggi diantara yang lainnya.

Lalu, apakah seorang laki-laki yang tidak bekerja itu berarti tidak mempunyai harga diri? Bagaimanakah dengan seorang laki-laki yang bekerja menjadi pencuri. Bukankah itu adalah sebuah pekerjaan?

Jawabannya adalah, TIDAK! Harga diri seorang manusia (bukan hanya laki-laki) tidaklah diukur dari pekerjaan yang di kerjakannya. Tetapi di lihat dari habluminallohnya dan habluminannasnya. Habluminannoh dan habluminannas sangatlah mempengaruhi harga diri seorang insan.

Seperti yang disampaikan sebelumnya, semakin baik hubungan dengan-NYA. Maka akan semakin tinggi derajat seorang insan sebagai hamba-NYA. Hal ini juga berbanding lurus hubungannya dengan insan lainnya. Semakin baik perilakunya maka hampir bisa dipastikan hubungan dengan manusia lainnya juga akan semakin baik pula. Setelah dua hal itu terpenuhi maka derajat seseorang pun akan tinggi.

Dengan berdasar kepada hal di atas, mari kita menilik sesuatu yang kita sebut sebagai pekerjaan.

Kerja, kerja, kerja!

Ada begitu banyak pekerjaan di bumi ALLAH ini. Ada pekerjaan yang dilakukan di atas bumi, di permukaan bumi bahkan ada juga pekerjaan yang dilakukan di dalam perut bumi. Bila suatu pekerjaan dilakukan sesuai dengan syariah-NYA, pekerjaan itu memiliki label halal (diridhoi-NYA). Namun bila pekerjaan yang di lakukan tidak sesuai dengan syariah-NYA, maka pekerjaan itu memiliki label haram (semoga kita terhindar dari pekerjaan-pekerjaan ini. Amiin).


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi… (QS. 28: 77).

Pada prinsipnya, ALLAH telah menyediakan pekerjaan untuk kita semua. Kita hanya diharuskan untuk memilih dan menekuni pekerjaan yang telah kita pilih sebagai pintu rejeki bagi kita. Tentunya pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan syariah-NYA, agar timbal-balik yang kita terima atas pekerjaan itu menjadi berkah bagi kita dan bukan malah mendatangkan mudharat. Terlebih rejeki yang halal bisa mendatangkan kemaslahatan bagi ummat.

Bekerja adalah suatu ibadah kepada-NYA. Satu hal yang pasti, suatu ibadah pasti akan mendatangkan manfaat, begitu juga dengan bekerja. Jika kita bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan, pasti manfaat akan kita rasakan. Baik manfaat dalam bentuk materi maupun non-materi. Tidak hanya kita yang mendapat manfaat. Dengan menyisihkan sebagian manfaat yang kita dapatkan dari bekerja kita akan bisa memberikan manfaat untuk orang lain di sekitar kita. Bahkan bekerja untuk menafkahi keluarga itu digolongkan seseorang yang beramal di jalan ALLAH (Fii Sabilillah).

Jangan Pernah Malu

Jangan pernah malu dengan apa yang kita kerjakan, selama pekerjaan yang kita kerjakan berlabel halal. Walaupun kita hanya mengerjakan hal kecil. Namun jangan pernah menganggap suatu pekerjaan itu adalah hal yang sepele. Lakukanlah dengan sepenuh hati dan kita pasti akan memetik manfaat yang besar dari pekerjaan itu dan kita bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Ada satu hal yang masih saya ingat dari perkataaan salah seorang mentor saya. Dia mengatakan bahwasannya: “Lakukan apa yang bisa kita kerjakan! Jangan pernah meremehkannya! Dan percayalah suatu waktu pasti pekerjaan itu akan membuat kita bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain!”

So.., tunggu apa lagi. Mari kita giat bekerja untuk beribadah, mendapat manfaat dan juga untuk memberikan manfaat kepada orang lain.


Etos kerja islami

Bila kita sudah memiliki semangat dalam bekerja, itu sudah cukup untuk awalan kita dalam mencari rezeki dijalan-NYA. Namun ada satu hal terpenting bila kita melakukan sebuah pekerjaan. Kita perlu yang namanya “Etos Kerja”. Etos kerja yang membuat kita memiliki valuedalam melakukan pekerjaan kita.

Kita sebagai muslim harus memiliki etos kerja islami. Etos kerja yang bisa membawa kita melesat menjadi seorang yang bisa berprestasi dalam bekerja.

Pertama, bekerjalah dengan sebaik-baiknya. Rasakan bahwa suatu pekerjaan akan membawa manfaat dan nikmat bagi kita. Jangan pernah bekerja dengan setengah hati, selain akan membuat hasil pekerjaan kita tidak maksimal. Bekerja setengah hati juga akan membuat kita tidak akan pernah bisa menikmati pekerjaan.

Kedua, rajinlah dan bekerja cerdas. Dalam menjalakan pekerjaan kita harus tanpa bermalas-malasan. Lakukan pekerjaan yang bisa kita lakukan hari ini, jangan pernah menundanya esok atau di lain waktu. Bekerjalah dengan cerdas, karena bekerja cerdas membuat kita mempunyai nilai lebih ketimbang kita hanya bekerja keras semata.

Ketiga, berorientasilah kepada kualitas. Karena pekerjaan kita bisa dinilai dari kualitas yang kita hasilkan. Beberapa orang tidak mau tahu betapa jerih payahnya kita dalam berproses, yang mereka ingin lihat adalah hasil akhir dan kualitas yang excellence.

Keempat, bekerjalah dengan tetap menjaga harga diri. Mencari pekerjaan yang berlabel halalitu merupakan harga mati. Setelah mendapatkan itu bekerjalah dengan jujur dan amanah. Sebab hal itu merupakan benteng kita untuk menjaga kehormatan diri.


“Carilah kebutuhan hidup dengan senantiasa menjaga harga diri. Sesungguhnya segala persoalan itu berjalan menurut ketentuan” (HR. Ibnu Asakir dari Abdullah bin Basri).


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :