" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 07 Januari 2017

Shalat Rawatib Muakkad dan Ghoiru Muakkad






Di dalam islam ada yang disebut amalan sunnah. Yaitu amalan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, berupa perkataan, perbuatan dan ketetapan. Bukan perkara yang diada-adakan dalam agama, namun perkara yang benar - benar ada contoh dan tuntunannya dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.


Shalat sunnah rawatib

Salah satu amalan sunnah tersebut adalah shalat sunnah. Shalat sunnah adalah shalat yang bila ditinggalkan tidak berdosa. Namun sebenarnya shalat sunnah memiliki keutamaan yang tak ternilai harganya.Sebuah amalan ringan yang sarat pahala, yang tidak selayaknya disepelekan seorang hamba. Salah satu shalat sunnah yang bisa dirutinkan adalah shalat rawatib.

Shalat Rawatib

Shalat rawatib adalah shalat sunnah yang dilakukan sebelum atau sesudah shalat wajib untuk mengiringi shalat wajib. Shalat rawatib yang dilakukan sebelum shalat wajib disebut shalat sunnah qobliyah dan shalat rawatib yang dilakukan setelah shalat wajib disebut shalat sunnah ba'diyyah. Jumlah rakaat shalat rawatib berbeda beda sesuai dengan shalat wajib yang diiringi. Sebagaimana hadit berikut ini.

Hadits 1
Dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh."
(HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)

Hadits 2
Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,

فِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ

"Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh."
(HR. Bukhari no. 1180)

Hadits 3
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ

"Barangsiapa merutinkan shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah Zhuhur, maka akan diharamkan baginya neraka."
(HR.Abu Daud no. 1269, An Nasa-i no. 1816, dan At Tirmidzi no. 428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari ketiga hadits tersebut bisa disimpulkan bahwa ada perbedaan dalam jumlah rakaat shalat rawatib dhuhur, yaitu : bisa dilakukan 4 rakaat sebelum dhuhur dan 2 rakaat setelah dhuhur atau 2 rakaat sebelum dhuhur dan 2 rakaat setelah dhuhur atau 4 rakaat sebelum dhuhur dan 4 rakaat setelah dhuhur. Itulah kesimpulan berdasakan hadits di atas. Atau bisa juga disimpulkan seperti tabel berikut ini :



Sumber: Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik, 1/381 (Hasil kesimpulan dari berbagai macam hadits yang membicarakan mengenai shalat sunnah rawatib).

Keterangan :
- Shalat rawatib muakkad (ditekankan untuk dikerjakan)
- Shalat rawatib ghoiru muakkad (tidak begitu ditekankan untuk dikerjakan)


Semoga sedikti penjelasan mengenai shalat rawatib ini bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan mengenai shalat rawatib muakkad dan ghoiru muakkad.


Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :

Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!


Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:



لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.


"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."



Lathaiful Ma'arif, hlm. 19




 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :