" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 07 Januari 2017

Kisah Islami Istri yang Sabar


Image result for Kisah Islami Istri yang Sabar

Emosi yang tidak terkendali hanya akan melelahkan dan meresahkan diri sendiri. Sabab saat marah maka emosi sangat tidak setabil dan sulit untuk dikendalikan. Seluruh isi hati tertumpah ruah, nafas tersenggal - senggal dan biasanya akan bertindak sekehendak hawa nafsu. Pepatah arab berbunyi "Man shabara dhafara" yang artinya barang siapa yang bersabar akan sukses. Di dalam surat Al - Baqarah Allah subhanahu wa ta'ala juga berfirman :

yaa ayyuhaa alladziina aamanuu ista'iinuu bialshshabri waalshshalaati inna allaaha ma'a alshshaabiriina

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al - Baqarah [2] : 153)

Orang orang yang sabar akan selalu disertai oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Selain itu orang yang akan sukses dalam hidupnya adalah orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi ( orang yang sabar). Kecerdasan emosional bisa dibentuk dengan melatih kesabaran dan tekun dalam menempuh perjalanan menuju sabar. Orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang tabah dan sabar saat menghadapi musibah. Pada kesempatan kali ini kita akan menyimak mengenai sebuah kisah kesabaran dan ketabahan seorang istri yang sabar menghadapi musibah. Ia menghadapi musibah dengan kecerdasan emosional yang tinggi. Berikut ini kisah selangkapnya.

Kisah sabar seorang istri dalam memperlakukan suami


Sabar menghadapi musibah


Kisah ini terjadi di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ada seorang shahabiyah yang mempunyai seorang anak kecil. Meski ia tidak bisa membaca dan menulis, namun ia adalah sosok mukminah sejati. Imanya memenuhi jantung dan hatinya. Keimanannya diuji dan dibuktikan saat dia bersabar ketika menghadapi ujian berat dalam hiputnya.

Suatu hari anaknya sakit, sementara suaminya tidak sedang berada di rumah , suaminya berada di tempat yang jauh untuk bekerja. Anak kecil itu akhirnya meninggal dunia ketika suaminya bekerja. Istri itu duduk di samping anaknya dan menangis sejenak. Ia terjaga dari tangisannya. Ia menyadari suaminya sebentar lagi akan pulang.

Ia bergumam, "Kalau aku menangis terus - menerus di samping jenazah anakku ini, kehidupan tidak akan dikembalikan kepadanya dan aku akan melukai perasaan suamiku. Padahal ia akan pulang dalam keadaan yang lelah." Kemudian ia meletakkan jenazah anaknya yang sudah meninggal ke suatu tempat.

Tibalah suaminya pulang dari tempat kerja. Ketika suaminya hendak masuk ke rumah, sang istri menyambutnya dengan senyum ramah. Tidak terlihat kesedihan di wajahnya , padahal sebenarnya di dalam hati nya dia merasa sangat sedih karena baru saja ditinggal pergi oleh anaknya. Ia menyambut suaminya dengan mengajak makan.

"Mana anak kita yang sakit" , tanya sang suami kepada istrinya.

"Alhamdulillah ia sudah lebih baik" jawab sang istri. ( Wanita itu tidak berbohong karena anaknya memang sudah berada di surga yang keadaannya jauh lebih baik)

Sang istri berusaha menghibur suaminya hingga ia akan beristirahat. Ia mengajak suaminya untuk tidur hingga terbangun menjelang waktu subuh. Sang suami bangun, mandi dan kemudian melaksanakan shalat qabliah subuh.

Ketika ia akan berangkat ke masjid untuk shalat jamaah, istrinya mendekat sambil berkata "Suamiku, aku punya keperluan."

"Sebutkanlah" kata suaminya.

Sang istri berkata "Kalau ada seseorang yang menitipkan amanah kepada kita, lalu pada saatnya orang itu mengambil amanah tersebut dari kita, bagaimana pendapatmu kalau amanah itu kita tahan dan kita tidak mau memberikan kepadanya?"

"Pastilah aku menjadi suami yang paling buruk akhlaknya dan khianat dalam beramal " jawab suaminya. "Itu merupakan perbuatan yang tercela. Aku berkewajiban mengembalikan amanah itu kepada pemiliknya."

Sang istri berkata,

"Sudah tiga tahun Allah menitipkan amanah kepada kita. Kemarin dengan kehendak-Nya, Allah mengambil amanah itu dari kita. Anak kita kini sudah meninggal dunia. Ia ada di kamar sebelah. Sekarang berangkatlah engkau dan lakukanlah shalat."

Suaminya pergi ke kamar untuk menengok anaknya yang telah meninggal. Ia lalu pergi ke masjid untuk shalat berjamaah di masjid Nabi. Pada waktu itu Nabi menjemputnya seraya berkata, "Diberkatilah malam kamu yang tadi itu". Malam itu adalah malam ketika suami istri itu bersabar dalam menghadapi musibah.

Sahabat, dari cerita tersebut kita dapat menangkap gambaran bagaimana sang istri memperlakukan suaminya dengan sabar dan juga suaminya memperlakukan istri dengan sabar pula. Dalam istilah saat ini keduanya memiliki kecedasan emosional yang tinggi. Biasanya keluarga yang seperti ini akan bisa bertahan lama. Semoga kisah tadi bisa menjadi pembelajaran kepada kita untuk senantiasa bersabar dalam segala masalah yang kita hadapi. Karena apa yang diberikan Allah kepada kita, baik nikmat maupun ujian, itu adalah yang terbaik untuk kita. Allah mengetahui segala sesuatu yang tidak kita ketahui.

Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :