" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Senin, 02 Januari 2017

Inilah Sebab Nabi Melarang Kencing Berdiri Secara Dunia Medis & Hukum Kencing berdiri ( Video )








Kencing atau bahasa halusnya buang air seni ini sudah bukan suatu hal yang asing lagi bagi umat manusia. Setiap manusia melakukan aktivitas ini untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme tubuh (mengeluarkan kotoran tubuh). Dalam melakukan aktivitas inipun kita dituntut melakukannya dengan benar dan sesuai aturan.
Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ”anha, di mana beliau berkata,“Siapa yang bilang bahwa Rasulullah SAW kencing sambil berdiri, jangan dibenarkan. Beliau tidak pernah kencing sambil berdiri.”
Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW tidak pernah kencing sambil berdiri semenjak diturunkan kepadanya Al-Quran.

Secara medis kencing berdiri adalah penyebab utama penyakit kencing batu pada semua penderita penyakit tersebut dan merupakan salah satu penyebab penyakit lemah syahwat bagi sebagian pria.

Secara agama, kebanyakan orang yang biasanya kencing berdiri kemudian mereka akan mendirikan shalat, ketika akan ruku’ atau sujud maka terasa ada sesuatu yang keluar dari kemaluannya, itulah sisa air kencing yang tidak habis terpencar ketika kencing sambil berdiri, apabila hal ini terjadi maka shalat yang dikerjakannya tidak sah karena air kencing adalah najis dan salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadats kecil maupun hadats besar.

Umumnya kita memandang ringan terhadap cara dan tempat buang air, mungkin karena pertimbangan waktu atau situasi dan kondisi yang mengharuskan (terpaksa) untuk kencing berdiri tanpa menyangka keburukannya dari sisi sunnah dan kesehatan. Orang dulu mempunyai budaya melarang anak kencing berdiri sehingga kita sering mendengar pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, karena memang terdapat efek negatif dari kencing berdiri.

Kebiasaan orang kencing berdiri akan mudah lemah bathin, karena sisa-sisa air dalam pundit-pundi yang tidak habis terpancar menjadikan kelenjar otot-otot dan urat halus sekitar zakar menjadi lembek dan kendur. Berbeda dengan buang air jongkok, dalam keadaan bertinggung tulang paha di kiri dan kanan merenggangkan himpitan buah zakar. Ini memudahkan air kencing mudah mengalir habis dan memudahkan untuk menekan pangkal buah zakar sambil berdehem-dehem. Dengan cara ini, air kencing akan keluar hingga habis, malahan dengan cara ini kekuatan sekitar otot zakar terpelihara.
Ketika buang air kencing berdiri ada rasa tidak puas, karena masih ada sisa air dalam kantong dan telur zakar di bawah batang zakar. Ia berkemungkinan besar menyebabkan kencing batu. Kenyataan membuktikan bahwa batu karang yang berada dalam ginjal atau kantong seni dan telur zakar adalah disebabkan oleh sisa-sisa air kencing yang tak habis terpencar. Endapan demi endapan akhirnya mengkristal/mengeras seperti batu karang.

Jika anda biasa meneliti sisa air kencing yang tak dibersihkan dalam kamar mandi, anda bayangkan betapa keras kerak-keraknya. Bagaimana jika itu ada di kantong kemaluan Anda?? Hal ini juga merupakan salah satu yang menyebabkan penyakit lemah syahwat pada pria selain dari penyebab kencing batu.
Sesungguhnya banyak siksa kubur dikarenakan kencing maka bersihkanlah dirimu dari (percikan dan bekas) kencing. (HR. Al Bazzaar dan Ath-Thahawi)
Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata: Rasulullah saw. pernah melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda: Ingat, sesungguhnya dua mayit ini sedang disiksa, namun bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena ia dahulu suka mengadu domba, sedang yang lainnya disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya. Kemudian beliau meminta pelepah daun kurma dan dipotongnya menjadi dua. Setelah itu beliau menancapkan salah satunya pada sebuah kuburan dan yang satunya lagi pada kuburan yang lain seraya bersabda: Semoga pelepah itu dapat meringankan siksanya, selama belum kering. (Shahih Muslim No.439)

Demikian hikmahnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam melarang kencing berdiri. Dan bagi muslim yang shalat, kadang setelah keluar dari WC dan mau shalat, ketika ruku’ dalam shalat kita merasa ada sesuatu yang keluar dari kemaluan, itu adalah sisa air kencing yang tidak habis terpencar akibat dari kencing berdiri yang tidak tuntas keluar, hal ini menyebabkan shalat tidak sah karena salah satu sarat sahnya shalat adalah bersih dan suci dari najis baik hadats kecil maupun hadats besar, dan air kencing merupakan najis.

Sehingga Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasalam sering mengingatkan dalam sabdanya: “Hati-hatilah dalam masalah kencing karena kebanyakan siksa kubur dikarenakan tidak berhati-hati dalam kencing”.

Maka ada baiknya kita belajar adab-adab dan sunnah-sunnah di kamar mandi (WC) berikut agar kita banyak mendapatkan manfaat baik di dunia (kesehatan) maupun di akhirat (agama) yang telah diajarkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasalam.

Tambahan:

Buang air jongkok (tidak berdiri jika tidak terpaksa/darurat). Agar kotoran bisa keluar tuntas sehingga tidak menjadi penyebab kencing batu maupun lemah syahwat.
Menggunakan alas kaki. Menurut penelitian di Amerika di dalam kamar mandi/WC ada sejenis virus dengan type Americanus yang masuk lewat telapak kaki orang yang ada di WC tersebut. Dengan proses waktu yang panjang virus tersebut naik ke atas tubuh dan ke kepala merusak jaringan otak yang menyebabkna otak lemah tak mampu lagi mengingat, blank semua memori otak sehingga pikun. Sandal hendaknya diletakkan di luar WC, jangan di dalam WC, karena semakin kotor, lembab dan tak mengenai sasaran kebesihan.
Masuk kamar mandi/WC dengan kaki kiri dan keluar dengan kaki kanan. Inilah sunnah yang diperintahkan oleh Nabi, dan juga disunnahkan untuk membaca doa sebelum masuk kamar mandi (doa dibaca di luar kamar mandi) dan setelah keluar dari kamar mandi. Berbeda jika kita masuk masjid dan rumah, masuk masjid atau rumah dengan kaki kanan dan keluar dengan kaki kiri.
Beristinja’ dengan air dan dengan tangan kiri.
Beristinja’ (bersuci dan membersihkan kotoran) dengan air, bukan dengan tissue atau lainnya kecuali jika tidak ditemukan air ketika dihutan, padang pasir dsb. Boleh gunakan tissue tapi harus dibilas lagi dengan air setelahnya. Syarat kebersihan dan kesucian dari najis menurut syariat adalah hilang warna, hilang bau, dan hilang rasa dari najis tersebut. Beristinja’ juga disunnahkan dengan tangan kiri, inilah pembagian tugas dari tangan, bagaimana tangan kiri untuk urusan ‘belakang’ sedangkan untuk makan & minum disunnahkan dengan tangan kanan, jangan dicampuradukkaan, tangan yang untuk urusan belakang itu juga untuk makan. Dan Nabi melarang makan & minum dengan tangan kiri.
Jangan merancang/merencanakan sesuatu di WC. Nabi sangat melarang merencanakan atau membuat suatu rencana/ide/inspirasi di dalam WC, karena WC adalah markaznya syetan sebagaimana doa kita ketika hendak masuk WC: “Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khabaits”, Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan laki-laki maupun perempuan”. Karena dikhawatirkan rencana/ide/inspirasi yang didapat berasal dari bisikan syetan yang kelihatannya baik tapi setelah dijalankan ternyata banyak mudharat/keburukannya. Begitu juga setelah keluar WC, baca istighfar dan doa keluar WC. Secara adab dan budaya pun sangat tidak baik, masa sambil buang kotoran mencari ide/inspirasi atau merencanakan sesuatu yang baik apalagi sesuatu itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Disunnahkan juga untuk menyegerakan keluar WC apabila hajat sudah selesai, bukan malah bernyanyi-nyanyi apalagi sambil baca buku atau Koran.
Ketika buang air dilarang menghadap atau membelakangi qiblat, apabila lubang WC menghadap qiblat hendaknnya ketika buang air badan agak diserongkan sedikit

Apabila sunnah diamalkan walaupun dalam kamar mandi maka kita ini juga namanya ibadah. Betapa sayangnya setiap hari kita ke kamar mandi beberapa kali tapi tidak mendapatkan pahala ibadah dengan menghidupkan sunnah. Padahal salah satu maksud dan tujuan manusia diciptakan adalah untuk ibadah.




Hukum Kencing Berdiri

Berikut beberapa hadits yang sering dikutip sebagai dalil berkenaan dengan kencing sambil berdiri, yakni :
1. Dari Huzaifah berkata :
كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْتَهَى إِلَى سُبَاطَةِ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا
Artinya : Aku pernah berjalan bersama Nabi SAW, saat kami sampai di suatu tempat pembuangan sampah suatu kaum beliau buang air kecil sambil berdiri (H.R.Muslim)[1]


2. Dari Aisyah r.a. berkata :
مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُولُ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوهُ، مَا كَانَ يَبُولُ إِلاَّ قَاعِدًا.
Artinya : Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Nabi SAW kencing sambil berdiri maka janganlah kalian percayai, karena beliau tidak pernah buang air kecil kecuali dengan duduk.(H.R. al-Turmidzi[2] dan al-Nasa-i[3])


3. Hadits ِAbu Hurairah beliau berkata :
أن النبي صلى الله عليه وسلم باَلَ قَائِماً مِن جَرَحٍ كَانَ بِمَأبِضهُ
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW kencing berdiri karena ada luka pada ma'bizt-nya (H.R Baihaqi)[4]


4. Dari Jabir r.a beliau berkata :
نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبُولَ الرَّجُلُ قَائِمًا
Artinya : Rasulullah SAW melarang seseorang kencing sambil berdiri. (H.R al-Baihaqi)[5]


Imam al-Nawawi telah menyebut beberapa sebab kenapa Nabi Muhammad SAW kencing sambil berdiri berdasarkan hadits shahih riwayat Huzaifah di atas berdasarkan yang dihikayah oleh al-Khuthabi, al-Baihaqi dan lainnya, yakni :
a. Menjadi kebiasaan orang Arab melakukan kencing sambil berdiri untuk menyembuhkan sakit tulang sulbi dan kemungkinan Nabi Muhammad SAW sakit tulang sulbi ketika itu. Pendapat ini diriwayat dari Syafi’i.
b. Nabi Muhammad SAW kencing sambil berdiri karena sakit ma’bizt (sakit dalam tulang paha). Ini berdasarkan hadits riwayat al-Baihaqi dan lainnya berbunyi :
أن النبي صلى الله عليه وسلم باَلَ قَائِماً مِن جَرَحٍ كَانَ بِمَأبِضهُ
Artinya : Sesungguhnya Nabi SAW kencing berdiri karena ada luka pada ma'bizt-nya (H.R Baihaqi)


Namun hadits ini menurut al-Nawawi dha’if.
c. Karena tidak didapati tempat duduk, maka terpaksa berdiri. Hal ini karena ujung tempat pembuangan sampah tersebut tinggi.
d. Al-Marizi dan Qadhi Iyadh menyebutkan karena kencing sambil berdiri aman dari keluar hadats dari jalan lain menurut kebiasaan, berbeda halnya kalau kencing sambil duduk. Karena itu umar mengatakan, ” Kencing sambil berdiri lebih bagus bagus dubur.”
e. Imam al-Nawawi menambah sebab yang lain, yaitu perbuatan Nabi Muhammad SAW ini hanya sekali, sedangkan adat beliau kencing sambil duduk. Ini menunjukkan bahwa perbuatan ini hanya untuk menjelaskan kepada ummat bahwa kencing sambil berdiri adalah mubah. Nabi Muhammad SAW sering kencing sambil duduk didukung oleh dari Aisyah r.a. berkata :
مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَبُولُ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوهُ، مَا كَانَ يَبُولُ إِلاَّ قَاعِدًا.
Artinya : Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Nabi SAW kencing sambil berdiri maka janganlah kalian percayai, karena beliau tidak pernah buang air kecil kecuali dengan duduk.(H.R. al-Turmidzi[6] dan al-Nasa-i[7])


Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini diriwayat oleh Ahmad bin Hanbal, al-Turmidzi, al-Nasa-i dan lainnya. Isnadnya baik.
Kemudian Imam al-Nawawi menambahkan bahwa telah diriwayat beberapa hadits yang melarang kencing sambil berdiri, namun hadits tersebut dha’if. Setelah itu al-Nawawi mengatakan dan indikasinya beliau setuju dengan pernyataan tersebut, yaitu :
قال العلماء يكره البول قائما إلا لعذر وهي كراهة تنزيه لا تحريم
ِ"Para ulama mengatakan, makruh kencing sambil berdiri kecuali ada uzur, yakni makruh tanzih, bukan tahrim”[8]


Menurut hemat kami, pendapat yang menyatakan makruh kencing sambil berdiri merupakan pendapat yang lebih rajih dari sisi pendaliliannya, sebagaimana sudah dijelaskan oleh al-Nawawi pada point ”e” di atas.
Pendapat yang menyatakan makruh kencing sambil berdiri ini merupakan mazhab Syafi’i sebagaimana telah ditegaskan oleh al-Nawawi dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab sebagai berikut :
فَقَالَ أَصْحَابُنَا يُكْرَهُ الْبَوْلُ قَائِمًا بِلَا عُذْرٍ كَرَاهَةَ تَنْزِيهٍ وَلَا يُكْرَهُ لِلْعُذْرِ وَهَذَا مَذْهَبُنَا
ِ"Sahabat kita (pengikut Syafi’i) mengatakan makruh kencing sambil berdiri dengan tanpa uzur sebagai makruh tanzih dan tidak makruh kalau uzur. Ini adalah mazhab kita.”[9]


Catatan
1. Hadits Aisyah r.a. yang mengatakan Nabi Muhammad SAW tidak pernah buang air kecil kecuali dengan duduk tidak bisa membatalkan riwayatdari Huzaifah yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah kencing sambil berdiri, karena Aisyah r.a. bisa saja mengatakan yang demikian itu, karena beliau memang tidak pernah melihatnya. Hal ini mengingat Aisyah r.a. tidak selamanya berada di samping Nabi SAW, yakni seperti ketika Nabi SAW dirumah isteri beliau yang lain, ketika Nabi SAW berperang dan ketika di tempat-tempat lain dimana Aisyah r.a tidak ada. Dan ini terbukti ada riwayat yang shahih yang mengatakan Nabi Muhammad SAW pernah kencing sambil berdiri (hadits Huzaifah di atas)
2. Namun berdasarkan hadits Aisyah r.a patut dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW sering dan malah menjadi adat kencing sambil duduk dan tidak sambil berdiri. Karena itu, dipahami bahwa kencing sambil berdiri hanya makruh, bukan haram.
3. Hadits Aisyah di atas hanya merupakan khabar bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah kencing sambil berdiri, jadi bukan melarangnya atau bahkan mengharamkannya.
4. Hadits-hadits lain-lain yang mengandung larangan kencing sambil berdiri, seandainya hadits tersebut shahih haruslah dipahami sebagai larangan makruh, karena Nabi SAW sendiri pernah kencing sambil berdiri sebagaimana hadits shahih di atas.
5. Imam al-Nawawi telah mengutip apa yang sudah dihikayah oleh Ibnu al-Munzir dalam kitab al-Isyraq bahwa telah terjadi khilaf ulama tentang hukum kencing sambil berdiri sebagai berikut :
a. Telah shahih dari Umar bin Khatab, Zaid bin Tsabit, Ibnu Umar dan Sahal bin Sa’ad mereka pernah kencing sambil berdiri. Ada diriwayat juga seperti itu pada Anas, Ali dan Abu Hurairah. Pernah melakukan kencing sambil berdiri Ibnu Siriin dan Urwah bin Zubair.
b. Ibnu Mas’ud, al-Sya’bi dan Ibrahim bin Sa’ad memakruhnya dan Ibrahim bin Sa’ad ini tidak membolehkan jadi saksi orang yang kencing sambil berdiri.
c. Pendapat lain mengatakan kalau tempat kencing tersebut dapat memercik percikan kencing atas orang itu karena kencing sambil berdiri, maka hukum kencing sambil berdiri adalah makruh dan kalau tidak, maka tidak mengapa. Ini merupakan pendapat Malik.
d. Pada ujung kalam Ibnu al-Munzir, beliau mengatakan, kencing sambil duduk lebih aku sukai, sedang sambil berdiri adalah mubah.[10]

[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 228, No. 273
[2] al-Turmidzi, Sunan al-Turmidzi, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal.6 2, No. 12
[3] al-Nasa-i, Sunan al-Nasa-i, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal.8 2, No. 25
[4] al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal. 164, No. 489
[5] al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal.165, No. 496
[6] al-Turmidzi, Sunan al-Turmidzi, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal.6 2, No. 12
[7] al-Nasa-i, Sunan al-Nasa-i, Maktabah Syamilah, Juz. I, Hal.8 2, No. 25
[8] al-Nawawi, Syarah Muslim, Muassisah Qurthubah, Juz. III, Hal. 212-213
[9] al-Nawawi, Majmu’ Syarh al-Muhazzab, Maktabah al-Irsyad, Jeddah,Juz. II, Hal. 100

Rasulallah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!



 
 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.blogspot.com #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :