Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016
" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU, JANGAN LUPA KLIK LIKED ATAU DISUKAI, GAMBAR FACEBOOK DITENGAH HALAMAN MELAYANG, SEBENTAR LAGI AKAN MUNCUL "

Senin, 02 Januari 2017

100 Sunnah Nabi Dan Hadis





100 سنة ثابتة

Kumpulan Seratus Macam Sunnah Nabi

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِليَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا زَالَ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ باِلنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ ، وَمَا تَرَدَّدْتُ فِيْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَ أَنَا أَكْرَهُ مُسَاءَتَهُ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي:6502]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-. telah bersabda: “Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi salah seorang wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya, dan tidaklah seorang hamba mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan sesuatu pekerjaan yang lebih Aku sukai dari apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku tidak henti-hentinya mengerjakan amalan-amalan sunnah (melengkapi amalan-amalan fardhu) sehingga Aku mencintainya, dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, dan penglihatannya yang dengannya ia melihat, dan tangannya yang dengannya ia melakukan pekerjaan, dan kakinya yang dengannya ia melangkah, dan jika ia meminta niscaya Aku kabulkan, dan jika ia mohon perlindungan niscaya Aku akan melindunginya, dan tidak pernah Aku enggan sedikitpun terhadap pekerjaan yang Aku lakukan seperti keengganan-Ku ketika mencabut nyawa orang yang beriman, ia membenci (kesulitan) dalam menghadapi kematian, sedangkan Aku tidak suka menyiksanya (ketika ajalnya datang menjelang).” (HR. Bukhari).

Daftar 100 Sunnah Nabi: 

Silakan download ebook 100 Sunnah Nabi, Kumpulan 100 Macam Sunnah Nabi.

Sunnah-sunnah Tidur

1. Tidur dalam keadaan berwudhu

قَـالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ لِلْبَرَّاءِ بْنِ عَازِب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: (( إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ ، فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ اْلأَيْمَنِ... الحديث )) [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:6311-6882] .

Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepada Barra bin ‘Azib -radhiyallahu ‘anhu -: “Jika kamu menghampiri tempat berbaringmu (hendak tidur), maka berwudhulah seperti wudhumu ketika akan shalat, lalu bertumpulah pada lambung kananmu.” (Muttafaqun ‘alaih).

2. Membaca surah al Ikhlash, al Falaq, dan an Naas sebelum tidur

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا ، فَقَرَأَ فِيْهِمَا: (( قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ )) وَ (( قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ )) وَ (( قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ )) ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ ، وَمَا أَقَبْلَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 5017]

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra.: “Bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-jika menghampiri tempat tidurnya setiap malam beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniup keduanya seraya membaca pada keduanya ((Qul huwallaahu ahad)) dan ((Qul a’uudzu birabbil falaq)) dan ((Qul a’uudzu birabbin naas)), kemudian mengusap seluruh jasadnya yang terjangkau oleh beliau dengan keduanya, dimulai dari kepala, wajah, dan seluruh bagian tubuhnya baik depan ataupun belakang. Dan beliau mengerjakan hal tersebut sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari).

3. Membaca takbir dan tasbih sebelum tidur



عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ حِيْنَ طَلَبَتْ مِنْهُ فَاطِمَةُ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ـ خَادِمًا: (( أَلاَ أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ ؟ إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا ، أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا ، فَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلاَثِيْنَ ، وَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ ، وَاحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ. فَهَذَا خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ )) [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 6318 –6915]



Diriwayatkan dari ‘Ali - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda tatkala Fatimah ra. meminta seorang pembantu kepadanya: “Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik bagi kalian dari seorang pembantu? Jika kalian menghampiri tempat tidur atau tempat berbaring kalian (hendak tidur), maka bertasbihlah sebanyak tiga puluh tiga kali, lalu bertahmidlah sebanyak tiga puluh tiga kali, kemudian bertakbirlah sebanyak tiga puluh empat kali, maka yang demikian lebih baik dari seorang pembantu.”(Muttafaqun ‘alaih).


4. Berdoa ketika terbangun saat tidur



عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( مَنْ تَعَارَّ مِن اللَّيْلِ فَقَالَ: لاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، اَلْحَمْدُ لله، وَسُبْحَانَ اللهِ ، وَالله أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، ثُمَّ قاَلَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ، أَوْ دَعَا ، اُسْتُجِيْبَ لَهُ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ وَصَلَّى قُبِلَتْ صَلاَتُهُ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 1154].



Diriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Barangsiapa mengigau pada suatu malam dan terbangun dari tidurnya lalu membaca: “Laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syariikalah, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir, al hamdulillaah, wa subhaanallaah, wallaahu akbar, walaa haula walaa quwwata illaa billaah.” (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-nya kekuasaan, bagi-Nya segala pujian, Dia Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu, segala puji hanya bagi Allah, dan Maha Suci Allah, dan Allah Maha Besar, dan tiada daya serta upaya melainkan kepada Allah semata). Kemudian mengucapkan:“Allaahummaghfir lii.” (Ya Allah, ampunilah aku), atau berdoa, niscaya doanya dikabulkan, dan jika ia berwudhu lalu shalat, niscaya shalatnya diterima.” (HR. Bukhari).



5. Berdoa ketika bangun dari tidur dengan doa yang datang dari Nabi

(( اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا ، وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي مِنْ حَدِيْثِ حُذَيْفَةَ بْنِ اليَمَان رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: 6312 ] .

“Al hamdulillaahilladzii ahyaanaa ba’damaa amaatanaa wa ilaihin nusyuur.”(Segala puji hanya bagi Allah, yang telah mengidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya-lah kami dikembalikan). (HR. Bukhari).

Beberapa Sunah Wudlu dan Shalat

6. Madhmadhah (berkumur) dan istinsyaq (mengirup air kedalam hidung) dengan satu cidukan air

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : (( تَمَضْمَضَ ، وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 555 ] .

Diriwayatkan dari Abdullah bin Zaid - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Berkumur dan menghirup air kedalam hidungnya dengan satu cidukan di telapak tangannya.” (HR. Muslim).

7. Berwudhu sebelum mandi

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : (( كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ ، بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ تَوَضَّأَ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُوْلَ الشَّعْرِ ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيْضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي :248 ].

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Jika mandi dari janabah, memulai dengan mencuci kedua tangannya, lalu berwudhu seperti wudhunya ketika akan shalat, kemudian memasukkan jari-jari tangannya ke dalam air dan menyela-nyela pangkal rambutnya, lalu mengguyur kepalanya dengan air menggunakan kedua tangannya sebanyak tiga kali, lalu meratakan air keseluruh kulit tubuhnya.” (HR. Bukhari).

8. Membaca tasyahhud setelah berwudhu



عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْلُ : أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ ، يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 553 ]


Diriwayatkan dari Umar Ibnul Khathab - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakannya, lalu mengucapkan: “Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.” (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya). melainkan terbuka delapan pintu surga baginya, ia boleh masuk dari mana saja ia kehendaki.” (HR. Muslim).

9. Hemat dalam penggunaan air



عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ باِلصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ ، وَيَتَوَضَّأُ بِالْـمُدِّ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 201- 737 ].



Diriwayatkan dari Anas - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah mandi dengan air sebanyak satu sha’ sampai dengan lima mud dan berwudhu dengan air sebanyak satu mud.” (Muttafaqun ‘alaih).


10. Shalat dua rakaat setelah berwudhu



قَالَ النبي صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ تَوَضَّأ َنَحْوَ وُضُوْئِيْ هَذَا ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مِنْ حَدِيْثِ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا:159- 539 ] .



Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, lalu shalat dua rakaat dengan hati yang khusyu’ (tidak memikirkan hal-hal di luar shalat), niscaya diampuni segala dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih).


11. Mengulangi apa yang diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawat kepada Nabi

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، أَنَّهُ سَمِـعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُــوْلُ: (( إِذَا سَمْعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ... الحديث)) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 849 ].
ثُمَّ يَقُوْلُ بَعْدَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: ( اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةِ ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ ) رَوَاهُ الْبُخَارِي. مَنْ قَالَ ذَلِكَ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَةُ النَّبِيِّ

Diriwayatkan dari abdullah bin ‘Amr —Radhiyallahu ‘anhuma— bahwasanya ia mendengar Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah kepadaku, maka sesungguhnya barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali.” (HR. Muslim).
Kemudian setelah bershalawat kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- ia mengucapkan: “Allaahumma rabba haadzihid da’watit taammah, wash shalaatil qaa-imah, aati Muhammadanil washiilata walfadhiilah, wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzii wa’adtah.” (Ya Allah, Yang Mengatur panggilan yang mulia ini, dan shalat yang tegak, berilah Muhammad kedudukan yang tinggi dan kemuliaan, dan bangkitkanlah ia di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan). (HR. Bukhari).

Siapa yang mengucapkannya niscaya mendapatkan syafaat Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-.

12. Banyak bersiwak

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ ، لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ )) [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:887 - 589].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - Bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Andaikan aku tidak memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap akan melaksanakan shalat.”(Muttafaqun ‘alaih).
** Dan disunnahkan pula bersiwak ketika bangun dari tidur, atau ketika akan berwudhu, atau pada saat berubahnya bau mulut, atau ketika akan membaca al Qur’an, dan ketika akan masuk rumah.

13. Bersegera pergi ke masjid

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : (( ... وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِيْ التَّهْجِيْرِ (التَبْكِيْر ) لاَسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ ... الْحَدِيْث )) [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 615-981 ] .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “... Andaikan mereka mengatahui keutamaan bersegera (pergi ke masjid), niscaya mereka akan berlomba mengerjakanya...”(Muttafaqun ‘alaih).

14. Pergi ke masjid dengan berjalan kaki

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُوْ اللهَ بِهِ الْخَطَايَا ، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ )) قَالُوْا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: (( إِسْبَاغُ الْوُضُوْءِ عَلَى الْمَكَارِهِ ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ ، وَانْتِظَارُ الصَلاَة ِبَعْدَ الصَّلاَةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ )) [رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 587 ].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang dapat menghapuskan dosa dan mengangkat derajat !? Mereka berkata: “Iya wahai Rasulullah” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat-saat yang dibenci, memperbanyak langkah ke masjid, dan menunggu shalat setelah shalat, yang demikian itulah ribath (mengikat diri dengan sesuatu yang disukai oleh Allah).” (HR. Muslim).

15. Bergegas menuju shalat dengan tenang dan berwibawa

عَنْ أَبِيْ هُـرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَأْتُوْهَا تَسْعَوْنَ ، وَأْتُوْهَا تَمْشُوْنَ ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِيْنَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا ، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 908 -1359 ]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika iqamah telah dikumandangkan, maka janganlah kalian tergesa-gesa menuju shalat, namun berjalanlah dengan penuh ketenangan, maka apa yang kalian dapati (dari rakaat shalat bersama imam) shalatlah, dan apa yang tertinggal sempurnakanlah.” (Muttafaqun ‘alaih).

16. Doa masuk dan keluar masjid

عَنْ أَبِيْ حُمَيْدٍ السَّاعِدِي ، أَوْ عَنْ أَبِيْ أُسَيْدٍ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ـ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: ((إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ ، وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 1652 ].

Diriwayatkan dari Abu Humaid as Sa’idi, atau dari Abu Usaid —Radhiyallahu ‘anhuma— ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian masuk ke dalam masjid hendaklah ia mengucapkan:“Allaahummaftahlii abwaaba rahmatik.” (Ya Allah, bukakanlah pintu rahmat-Mu untukku). Dan jika ia keluar hendaklah ia mengucapkan: “Allaahumma innii as-aluka min fadhlik.” (Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu sebagian karunia-Mu). (HR. Muslim).

17. Shalat menggunakan sutrah (pembatas tempat sujud)

عَنْ مُوْسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( إِذَا وَضَعَ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلَ مُؤَخِرَةِ الرَّحِلِ فَلْيُصَلِّ ، وَلاَ يُبَالِ مَنْ مَرَّ وَرَاءَ ذَلِكَ)) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 1111 ].

Diriwayatkan dari Musa bin Thalhah dari ayahnya ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika seorang di antara kalian meletakkan di hadapannya sesuatu seperti muakhkharah ar rahil (kayu di belakang tenda yang ada di atas unta), maka hendaklah ia shalat dan tidak memperdulikan siapapun yang berlalu dibelakangnya.” (HR. Muslim).
** Sutrah: adalah sesuatu yang diletakkan di depan orang yang sedang shalat, seperti tembok, tiang, atau lainnya.

** Muakhkharah ar rahil: adalah (sebatang kayu) tingginya kurang lebih dua pertiga hasta.

18. Iq’a di antara dua sujud

عَنْ أَبِيْ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ طَاوُوْسًا يَقُوْلُ: قُلْنَا لِابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فِي اْلإِقْعَاءِ عَلَى الْقَدَمَيْنِ ، فَقَالَ : ((هِيَ السُّنَّةُ ))، فَقُلْنَا لَهُ: إِنَّا لنَرَاهُ جَفَاءً بِالرَّجُلَ، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: (( بَلْ هِيَ سُنَّةُ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ)) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: :1198 ].

Diriwayatkan dari Abu zubair bahwasanya ia mendengar Thawus berkata: Kami mengatakan kepada Ibnu ‘Abbas - radhiyallahu ‘anhuma - tentang iq’a di atas dua telapak kaki, maka ia mengatakan: “Itu (iq’a) adalah sunnah.” Dan kami mengatakan kepadanya: Sesungguhnya kami menilainya sebagai sesuatu yang berat bagi laki-laki. Maka Ibnu Abbas berkata: “Akan tetapi hal tersebut adalah sunnah Nabimu.” (HR. Muslim).

** Iq’a: adalah menegakkan dua telapak kaki lalu duduk di atas tumit keduanya, dan hal tersebut dilakukan pada saat duduk di antara dua sujud.

19. Tawarruk pada tasyahud yang kedua


 عَنْ أَبِيْ حُمَيْدٍ السَّاعِدِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ فِيْ الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ ، قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى ، وَنَصَبَ اْلأُخْرَى ، وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 828 ] .

Diriwayatkan dari Abu Humaid as Sa’idi - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- jika duduk pada rakaat yang terakhir, mengulurkan kaki kirinya (ke bawah kaki kanan) dan menegakkan talapak kaki kanannya lalu duduk di atas tempat duduknya (pantatnya).” (HR. Bukhari).

20. Memperbanyak doa sebelum salam


عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ـ  قَالَ: (( كُنَّا إِذَا كُنَّا مَعَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ، إِلَى أَنْ قَالَ: ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُوْ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 835 ] .

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar —Radhiyallahu ‘anhuma— ia berkata: “Kami jika bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- .., sampai dengan perkataannya: Kemudian hendaklah ia memilih doa yang ia sukai lalu berdoa dengannya.” (HR. Bukhari).

21. Melaksanakan shalat sunnah rawatib



عَنْ أُمِّ حَبِيْبَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، أَنَّهَا سَمِعَـتْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي للهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ الْفَرِيْضَةِ ، إِلاَّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِيْ الْجَنَّةِ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 1696 ].




Diriwayatkan dari Umu Habibah - radhiyallahu ‘anha - bahwasanya ia mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Tidaklah seorang muslim melaksanakan shalat (sunnah) setiap hari sebanyak dua belas rakaat di samping shalat fardhu, melainkan Allah sediakan baginya sebuah rumah di surga.”(HR. Muslim).



** Sunnah-sunnah rawatib: Jumlahnya dua belas rakaat dalam satu hari satu malam, empat rakaat sebelum Zhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah ‘Isya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.


22. Shalat Dhuha

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: (( يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى (أَيْ: مِفْصَل)مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ، فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَيُجْزِىءُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 1671 ] .

Diriwayatkan dari Abu Dzar - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- sesungguhnya beliau bersabda: “Pada setiap persendian salah seorang di antara kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya, maka setiap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, serta menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran merupakan shadaqah, dan hal itu semua tercukupi bila ia mengerjakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR. Muslim).

** Waktu shalat Dhuha yang paling utama adalah pada saat matahari meninggi dan panas yang menyengat, dan akhir waktunya adalah pertengahan hari (pada saat matahari berada tepat di atas kepala). Paling sedikit dikerjakan sebanyak dua rakaat, dan tidak ada batas maksimalnya.

23. Qiyamullail

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ سُئلَ : أَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوْبَةِ، فَقَالَ: (( أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوْبَةِ ، الصَّلاَةُ فِيْ جَوْفِ اللَّيْلِ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 2756 ] .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah ditanya: Shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu? Maka beliau bersabda: “Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat pada pertengahan malam.” (HR. Muslim).

24. Shalat Witir



عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( اِجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمُ بِاللَّيْلِ وِتْرًا )) [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:998 - 1755].



Diriwayatkan dari Ibnu Umar —Radhiyallahu ‘anhuma— bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jadikanlah akhir shalat kalian pada malam hari shalat Witir.” (Muttafaqun ‘alaih).



25. Shalat di atas dua sandal (Jika diyakini kesucian keduanya dari najis)

سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَكَانَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْ فِيْ نَعْلَيْهِ؟ قَالَ: (( نَعَمْ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 386 ] .

Anas bin Malik - radhiyallahu ‘anhu - pernah ditanya: “Apakah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- shalat di atas sandalnya? Ia berkata: Iya.” (HR. Bukhari).

26. Shalat di masjid Qubba

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ـ قَالَ: (( كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَأْتِيْ قُبَّاءَ رَاكِبًا وَمَاشِيًا )) زَادَ ابْنُ نُمَيْرٍ: حَدَّثَنَا عُبَيْدُاللهِ،عَنْ نَافِعٍ: (( فَيُصَلِّيْ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ)) [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 1194 – 3390 ]

Diriwayatkan dari Ibnu Umar —Radhiyallahu ‘anhuma— ia berkata: “Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah datang ke masjid Qubba dengan berkendaraan atau berjalan kaki.” Ibnu Numair menambahkan: Ubaidillah telah mengatakan kepada kami dari Nafi’: “Maka beliau shalat dua rakaat di dalamnya.” (Muttafaqun ‘alaih).



27. Melaksanakan shalat sunnah di rumah


عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِيْ مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيْبًا مِنْ صَلاَتِهِ ، فَإِنَّ اللهَ جَاعِلٌ فِيْ بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ خَيْرًا )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 1822 ] .



Diriwayatkan dari Jabir - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian telah melaksanakan shalatnya di masjid, maka hendaklah ia melaksanakan sebagian shalatnya di rumah, karena sesungguhnya Allah mengaruniakan dari shalatnya (yang dilaksanakan di rumah) itu kebaikan pada rumahnya.” (HR. Muslim).


28. Shalat Istikharah

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا اِلاِسْتِخَارَةَ فِيْ اْلأُمُوْرِ كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّوْرَةَ مِنَ الْقُرْآنِ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 1162 ].

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- mengajarkan shalat istikharah kepada kami untuk semua urusan, sebagaimana beliau mengajarkan kami satu surah dari al Qur’an.” (HR. Bukhari).
** Tata cara pelaksanaannya seperti yang tertera pada hadits di atas: Yaitu seseorang shalat sebanyak dua rakaat, kemudian membaca:

(( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ ، اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ (وَيُسَمِّيْ حَاجَتَهُ) خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ ، وَمَعَاشِيْ ، وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ ، فَاقْدُرْهُ لِيْ ، وَيَسِّرْهُ لِيْ ، ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ ، وِإنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ ، وَ مَعَاشِيْ ، وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ ، فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ ، وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ )) .

“Allaahumma innii astakhiiruka bi’ilmika, wa astaqdiruka biqudratika, wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim, fa innaka taqdiru walaa aqdiru, wa ta’lamu walaa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub, Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amra (menyebutkan urusannya) khairun lii fii diinii wa ma’aasyii wa’aaqibati amrii fadurhu lii wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi, wa in kunta ta’lamu anna haadzal amra syarrun lii fii diinii wa ma’aasyii wa ‘aaqibati amrii fashrifhu ‘annii washrifnii ‘anhu waqdurliyal khaira haitsu kaana, tsumma ardhinii bihi.”

(Ya Allah, aku mohon petunjuk-Mu dengan ilmu-Mu dan ketentuan-Mu dengan kekuasaan-Mu, dan aku mohon sebagian karunia-Mu yang besar, maka sesungguhnya Engkau Maha Kuasa sedangkan aku tidak mampu, dan Maha Mengetahui sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (menyebutkan urusannya) adalah kebaikan bagiku pada agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka takdirkanlah ia bagiku dan mudahkanlah, kemudian berkahilah aku padanya, namun jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku pada agamaku, kehidupanku, dan akhir urusanku, maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah kebaikan untukku dalam segala urusan (yang Engkau takdirkan), lalu jadikanlah aku ridha terhadapnya).

29. Diam di mushalla (tempat shalat) setelah shalat fajar sampai terbitnya matahari

عَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: (( أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ جَلَسَ فِيْ مُصَلاَّهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسَنًا )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 1526] .

Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah - radhiyallahu ‘anhu -: “Bahwasanya Nabi–shallallahu ‘alaihi wasallam- jika shalat fajar duduk di tempat shalatnya sampai terbitnya matahari dengan baik.” (HR. Muslim).

30. Mandi pada hari Jum’at

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ـ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( إِذَا جَاءَ أَحَدُكُم الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 877 -1951 ] .

Diriwayatkan dari ibnu Umar —Radhiyallahu ‘anhuma— ia berkata: Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian menuju shalat Jum’at, hendaklah ia mandi.” (Muttafaqun ‘alaih).

31. Bergegas menuju shalat Jum’at di awal waktu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ، وَقَفَتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ ، يَكْتُبُوْنَ اْلأَوَّلَ فَاْلأَوَّلَ ، وَمَثَلُ المُهَجِّرِ (أَيْ:اَلْمُبَكِّر) كَمَثَلِ الَّذِيْ يُهْدِيْ بَدَنَةً ، ثُمَّ كَالَّذِيْ يُهْدِيْ بَقَرَةً ، ثُمَّ كَبْشاً ، ثُمَّ دَجَاجَةً، ثُمَّ بَيْضَةً ، فَإِذَا خَرَجَ اْلإِمَامُ طَوَوْا صُحُفَهُمْ ، وَيَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 929 - 1964 ] .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Jika datang hari Jum’at para malaikat berdiri di pintu masjid mencatat orang yang datang secara berurutan, dan perumpamaan orang yang datang di awal waktu seperti orang yang mengurbankan seekor unta, selanjutnya seperti orang yang mengurbankan seekor sapi, yang berikutnya seperti orang yang mengurbankan seekor kambing, dan yang berikutnya seperti orang yang mengurbankan seekor ayam, dan yang berikutnya seperti orang yang mengurbankan sebutir telur, maka jika imam keluar (menuju mimbar) mereka menutup catatan mereka untuk mendengarkan khutbah.”(Muttafaqun ‘alaih).

32. Mencari saat mustajab pada hari Jum’at

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: (( فِيْهِ سَاعَةٌ، لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّيْ ، يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا ، إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ )) وَأَشَاَرَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا. [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 935- 1969 ].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wasallam- berbicara tentang hari Jum’at, beliau bersabda: “Di dalamnya terdapat waktu yang tidak ditemui oleh seorang muslim, sedang ia dalam keadaan shalat meminta sesuatu kepada Allah ta’ala melainkan Allah berikan kepadanya apa yang ia minta.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya seraya menyedikitkannya (waktunya sangat singkat). (Muttafaqun ‘alaih).


33. Pergi menuju shalat ‘Ied melalui satu jalan dan pulang melalui jalan yang lain

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيْدٍ خَالَفَ الطَّرِيْقَ)) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 986 ].

Diriwayatkan dari Jabir - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- jika datang hari raya (shalat ‘Ied) selalu menyeling jalannya (saat pergi dan pulang).” (HR. Bukhari).

34. Shalat jenazah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: ((مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاطُ ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ )) قِيْلَ: وَمَا الْقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ: (( مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيْمَيْنِ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 2189 ]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang menyaksikan jenazah sampai ia dishalatkan, maka baginya satu qirat, dan siapa yang menyaksikannya sampai ia dikebumikan, maka baginya dua qirat.” Dikatakan: Apakah dua qirat itu? Beliau bersabda: “Seperti dua gunung yang besar.” (HR. Muslim).

35. Ziarah kubur

عَنْ بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا ...اَلْحَدِيْث)) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 2260 ].

Diriwayatkan dari Buraidah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “(Dulu) aku melarang kalian menziarahi kubur, maka sekarang ziarahilah.” (HR. Muslim).

** Perhatian: Haram hukumnya bagi wanita menziarahi kubur sebagaimana yang difatwakan oleh syaikh Bin Baz —Rahimahullaah— dan beberapa ulama lainnya.

Sunnah-sunnah Puasa


36. Sahur

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( تَسَحَّرُوْا ؛ فَإِنَّ فِيْ السَّحُوْرِ بَرَكَةً )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 1923 - 2549 ].


Diriwayatkan dari Anas - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Sahurlah kalian, karena di dalam sahur terdapat keberkahan.” (Muttafaqun ‘alaih).

37. Menyegerakan ifthar (berbuka), setelah benar-benar terbenamnya matahari

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفِطْرَ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 1957 - 2554 ].


Diriwayatkan dari Sahal bin sa’ad - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Manusia (yang berpuasa) selalu dalamkeadaan baik selama mereka menyegerakan ifthar.” (Muttafaqun ‘alaih).

38. Mendirikan malam-malam Ramadhan

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 37-1779 ]


Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang mendirikan malam-malam Ramadhan berdasarkan iman dan keikhlasan karena Allah, niscaya diampuni segala dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih).



39. I’tikaf di bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh hari terahir



عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ـ قَالَ: (( كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الآوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 2025 ] .



Diriwayatkan dari Ibnu Umar —Radhiyallahu ‘anhuma— ia berkata: “Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wasallam- melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terahir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).


40. Puasa enam hari di bulan Syawwal

عَنْ أَبِيْ أيَوُّبَ اْلأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّال ،كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 2758 ]

Diriwayatkan dari Abu Ayub al Anshari - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu berpuasa enam hari di bulan Syawwal, laksana orang yang berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim).



41. Puasa tiga hari setiap bulan


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( أَوْصَانِيْ خَلِيْلِيْ بِثَلاَثٍ ، لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوْتَ: صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 1178-1672 ].



Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-) telah berwasiat kepadaku tentang tiga hal dan aku tidak pernah meninggalkannya sampai aku meninggal dunia: Puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan melaksanakan shalat Witir sebelum tidur.”(Muttafaqun ‘alaih).


42. Puasa hari ‘Arafah

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ )) [رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 3746] .

Diriwayatkan dari Abu Qatadah - radhiyallahu ‘anhu - bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Puasa hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR. Muslim).

43. Puasa ‘Asyura (10 Muharram)

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( صِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 3746 ] .

Diriwayatkan dari Abu Qatadah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Puasa ‘Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim).

Sunnah-sunnah Safar

44. Memilih kepala rombongan

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ ، وَأَبِيْ هُرَيْرَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ـ قَالاَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدَهُمْ )) [ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ: 2608 ] .

Diriwayatkan dari Abu Said dan Abu Hurairah —Radhiyallahu ‘anhuma—mereka berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika ada tiga orang melakukan safar, maka hendaklah mereka memilih salah seorang di antaranya menjadi kepala rombongan.” (HR. Abu Dawud).

45. Bertakbir ketika menanjak dan bertasbih tatkala menurun

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( كُنَّا إِذَا صَعَدْنَا كَبَّرْنَا ، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 2994 ] .

Diriwayatkan dari Jabir - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Kami tatkala menanjak bertakbir dan ketika menurun bertasbih.” (HR. Bukhari).

** Takbir pada saat menaiki ketinggian, dan tasbih pada saat menuruni ketinggian atau jalan yang menurun.

46. Doa singgah di sebuah tempat

عَنْ خَوْلَةَ بِنْتِ حَكِيْمٍ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ـ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ ، حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 6878 ] .

Diriwayatkan dari Khaulah binti Hakim ra. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa singgah di suatu tempat lalu mengucapkan: “A’uudzu bikalimaatillaahit taammaati min syarri maa khalaq.” (Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya). Niscaya, apapun tidak akan membahayakannya sampai ia meninggalkan tempat tersebut.” (HR. Muslim).

47. Singgah di masjid terlebih dahulu ketika datang dari safar

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِالْمَسْجِدِ فَصَلَّى فِيْهِ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 443-1659 .]

Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- jika datang dari safar singgah di masjid terlebih dahulu lalu shalat di dalamnya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Sunnah-sunnah Pakaian dan Makanan

48. Berdoa ketika memakai baju baru

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ : إِمَّا قَمِيْصًا ، أَوْ عِمَامَةً، ثُمَّ يَقُوْلُ: (( اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ ، أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ ، وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ، وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ )) [ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ: 4020 ].

Diriwayatkan dari Abu Said al Khudri - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- jika membeli baju baru menyebutkan namanya, baik kemeja ataupun ‘imamah (semacam kopiyah), kemudian mengucapkan: “Ya Allah, segala puji hanya untuk-Mu, Engkau telah memakaikan pakaian ini kepadaku, aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dalam memakainya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dalam memakainya.” (HR. Abu Dawud).

49. Memakai sandal dengan kaki kanan

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَـالَ: قَـالَ رَسُـوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيُمْنَى ، وَإِذَا خَلَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ، وَلْيُنْعِلْهُمَا جَمِيْعًا، أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيْعًا )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:5855 - 5495 ].


Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu memakai sandal hendaklah ia memulai dengan kaki kanannya, dan apa bila ia melepasnya hendaklah ia dahulukan kaki kirinya, dan hendaklah ia memakai keduanya atau melepaskan keduanya.” (Muttafaqun ‘alaih).



50. Membaca basmalah ketika akan makan


 .عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِيْ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ فِيْ حِجْرِ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ يَدِيْ تَطِيْشُ فِيْ الصَّحْفَةِ ، فَقَالَ لِيْ: (( يَا غُلاَمُ سَمِّ اللهَ ، وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 5376 - 5269 ]



Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Aku pernah berada dalam pemeliharaan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- dan tanganku bergerak kesana-kemari di sekitar nampan makanan, lalu beliau berkata kepadaku: “Wahai anak laki-laki, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (Muttafaqun ‘alaih).


51. Mengucapkan hamdalah setelah makan dan minum

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ اْلأَكْلَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشُّرْبَةَ فَيَحْمَدُهُ عَلَيْهَا )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 6932 ] .

Diriwayatkan dari Anas bin Malik - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Sesungguhnya Allah benar-benar meridhai seorang hamba yang makan lalu memuji-Nya atas makanan tersebut, dan minum lalu memuji-Nya atas minuman tersebut.” (HR. Muslim).

52. Duduk ketika minum

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرُّجُلُ قَائِمًا )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 5275 ]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Bahwasanya beliau melarang seseorang minum dalam keadaan berdiri.” (HR. Muslim).

53. Berkumur setelah minum susu

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ شَرِبَ لَبَنًا فَمَضْمَضَ، وَقَالَ: (( إِنَّ لَهُ دَسَمًا )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:798- 5609 ].

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- minum susu lalu beliau berkumur, dan berkata: “Sesungguhnya susu itu mengandung lemak.” (Muttafaqun ‘alaih).

54. Tidak mencela makanan

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( مَا عَابَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ ، كَانَ إِذَا اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:5409 - 5380 ]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah mencela makanan sedikitpun, jika mau, beliau memakannya dan jika tidak menyukainya maka beliau meninggalkannya.”(Muttafaqun ‘alaih).

55. Makan dengan tiga jari

عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ بِثَلاَثِ أَصَابِعَ ، وَيَلْعَقُ يَدَهُ قَبْلَ أَنْ يَمْسَحَهَا )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 5297 ]

Diriwayatkan dari Ka’ab bin Malik - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- makan dengan tiga jari, dan menjilati tangannya sebelum membersihkannya.” (HR. Muslim)


56. Minum dan berobat dengan air zamzam

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَاءِ زَمْزَمَ: (( إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 6359 ] 

Diriwayatkan dari Abu Dzar - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda tentang air zamzam: “Sesungguhnya ia adalah air yang diberkahi dan makanan yang mengenyangkan.” (HR. Muslim).

Thayalisi menambahkan: (وَشِفَاء سُقْمٍ ) “Dan obat dari segala penyakit.”

57. Makan sebelum shalat ‘Iedul Fitri

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَاِلكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : (( كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُوْ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمْرَاتِ )) وَفِيْ رِوَايَةٍ: (( وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 953 ]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak pergi menuju shalat ‘Iedul Fitri kecuali setelah makan beberapa butir kurma.” Dalam riwayat lain: “Beliau makan kurma dalam jumlah yang ganjil.” (HR. Bukhari).

Dzikir dan do'a

58. Banyak membaca al Qur’an

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ الْبَاهِلِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ ، فَإِنَّهُ يَأتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لأَصْحَابِهِ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 1874 ].

Diriwayatkan dari Abu Umamah al Bahili - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Bacalah al Qur’an, sesungguhnya ia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim).

59. Membaguskan suara saat membaca al Qur’an

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( مَا أَذِنَ اللهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حُسْنَ الصَّوْتِ ، يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:5024 - 1847 ].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya ia mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Allah tidak mengizin alunan suara yang bagus pada sesuatu seperti izin-Nya kepada seorang nabi untuk membaguskan suaranya dengan al Qur’an, beiau membaguskan dan mengeraskan suaranya dengan al Qur’an.” (Muttafaqun ‘alaih).

60. Mengingat Allah di setiap waktu

عَنْ عَائِشَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ـ قَالَتْ: (( كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 826 ] .

Diriwayatkan dari ‘Aisyah - radhiyallahu ‘anha - ia berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- selalu mengingat Allah di setiap waktu.” (HR. Muslim).

61. Tasbih

عَنْ جُوَيْرِيَّةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِيْنَ صَلَّى الصُّبْحَ، وَهِيَ فِيْ مَسْجِدِهَا، ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى ، وَهِيَ جَالِسَةٌ ، فَقَالَ: (( مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِيْ فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا ؟)) قَالَتْ: نَعَمْ ، قَالَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أربَعَ كَلِمَاتٍ ، ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمَ لَوَزَنتْهُنَّ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ، عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ )) [رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 2726]

Diriwayatkan dari Juwairiyyah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- keluar dari sisinya pada saat shalat Shubuh, sedangkan ia (Juwairiyyah) berada di tempat sujudnya, kemudian beliau kembali setelah datang waktu dhuha dan ia masih dalam keadaan duduk. Maka beliau bersabda: “Kamu masih dalam keadaanmu sewaktu aku meninggalkanmu? Ia menjawab: Iya. Beliau bersabda: “Aku telah mengucapkan empat kata setelahmu sebanyak tiga kali, yang apabila ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan pada hari ini niscaya akan menyamainya: “Subhaanallaahi wabihamdihi, ‘adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimaatih.” (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, sebanyak bilangan ciptaan-Nya, dan keridhaan diri-Nya, dan timbangan ‘Arsy-Nya, dan tinta kalimat-kalimat-Nya). (HR. Muslim).

62. Mendoakan orang yang bersin

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: اَلْحَمْدُ للهِ ، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوْهُ أَوْ صَاحِبُهُ : يَرْحَمُكَ اللهُ. فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرْحَمُكَ اللهُ ، فَلْيَقُلْ: يَهْدِيْكُمُ اللهُ ويُصْلِحُ بَالَكُمْ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 6224 ]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan “al hamdulillah.” (segala puji hanya bagi Allah), lalu saudara atau temannya mengucapkan doa: “Yarhamukallaah.” (semoga Allah merahmatimu), dan jika ia mengucapkan doa: “Yarhamukallaah.”, maka hendaklah ia membalas dengan doa: “Yahdiikumullaahu wayushlihu baalakum.” (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu). (HR. Bukhari).

63. Mendoakan orang yang sakit

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى رَجُلٍ يَعُوْدُهُ ، فَقَال صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ ، إِنْ شَاءَ اللهُ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِ ي: 5662]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas —Radhiyallahu ‘anhuma— Bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah menjenguk orang yang sakit, maka beliau mengucapkan: “Tidak apa-apa, suci Insya Allah.” (HR. Bukhari).

64. Meletakan tangan di atas anggota badan yang sakit disertai dengan doa

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِيْ الْعَاص رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ وَجْعًا، يَجِدُهُ فِيْ جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ ، فَقَالَ لَهُ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِيْ يَأْلَمُ مِنْ جَسَدِكَ، وَقُلْ: بِاسْمِ اللهِ ، ثَلاَثًا ، وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ: أَعُوْذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 5737 ]

Diriwayatkan dari Usman bin Abi al ‘Ash - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya ia mengeluh kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang sakit yang ia rasakan di tubuhnya sejak ia masuk Islam, maka beliau berkata kepadanya: “Letakkanlah tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit, lalu ucapkanlah:“Bismillaah.” (Dengan menyebut nama Allah) tiga kali, kemudian ucapkanlah sebanyak tujuh kali: “A’uudzu billaahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir.”(Aku berlindung kepada Allah dan dengan kekuasaan-Nya dari keburukan yang aku dapati dan aku takutkan). (HR. Muslim).

65. Membaca doa ketika mendengar suara ayam jantan berkekuyuruk dan berlindung (kepada Allah) ketika mendengar ringkikan keledai

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوْا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا ، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيْقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإِنَّهَا رَأَتْ شَيْطَانًا )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:3303 - 6920 ] .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika kamu mendengar ayam jantan berkekuruyuk, mohonlah kepada Allah akan karunia-Nya, karena sesungguhnya ia melihat malaikat, dan jika kalian mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari godaan syaitan, karena sesungguhnya ia telah melihat syaitan.”(Muttafaqun ‘alaih).



66. Membaca doa ketika turun hujan


عَنْ عَـائِشَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ: (( اَللَّهُمَّ صَيْبًا نَافِعًا )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 1032 ] .



Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- jika melihat hujan turun beliau mengucapkan: “Allaahumma shaiban naafi’a.” (Ya Allah, turnkanlah hujan yang bermanfaat). (HR. Bukhari).



67. Berzikir kepada Allah tatkala akan masuk ke dalam rumah


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِالله رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللهَ ـ عَزَّ وَجَلَّ ـ عِنْدَ دُخُوْلِهِ ، وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ : لاَ مَبِيْتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ دُخُوْلِهِ ، قَالَ الشَّيْطَانُ : أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيْتَ، وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ عِنْدَ طَعَامِهِ ، قَالَ : أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيْتَ وَالْعَشَاءَ)) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 5262 ]
 .



Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika seseorang masuk kedalam rumahnya, lalu ia berzikir kepada Allah ta’ala pada saat memasukinya dan pada saat ia makan, syaitan berkata: “Tidak ada tempat menginap dan makan malam bagi kalian.” Dan jika ia memasukinya tanpa disertai dengan zikir kepada Allah, syaitan berkata: “Kalian mendapatkan tempat menginap.” Dan jika ia tidak berzikir kepada Allah pada saat makannya, syaitan berkata: “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam.” (HR. Muslim).

68. Zikir kepada Allah dalam majlis

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوْا اللهَ فِيْهِ ، وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى نَبِيِّهِمْ،إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ (أَيْ: حَسْرَةٌ) فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ )) [ رَوَاهُ التِّرْمِذِي: 3380 ] .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Tidaklah satu kaum duduk dalam satu majlis, lalu tidak berzikir kepada Allah, tidak pula bershalawat kepada Nabi mereka, melainkan penyesalan atas diri mereka, jika Allah kehendaki, Allah azab mereka, dan jika Allah kehendaki Allah ampuni mereka.” (HR. Tirmidzi).


69. Membaca doa ketika masuk ke dalam tempat buang hajat

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ أَيْ: أَرَادَ دُخُوْلَ الْخَلاَءِ قَالَ:((اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ )) [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 6322-831]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- jika masuk kedalam tempat buang hajat membaca:“Allaahumma inni a’uudzu bika minal khubutsi wal khabaa-its.” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan syaitan laki-laki dan syaitan perempuan.” (Muttafaqun ‘alaih).

70. Berdoa ketika angin bertiup dengan kencang

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَصَفَتِ الرِّيْحُ قَالَ: (( اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا ، وَخَيْرَ مَا فِيْهَا ، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا ، وَشَرِّ مَا فِيْهَا ، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 2085 ] 

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Jika angin bertiup dengan kencang Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- mengucapkan: “Allaahumma inni as aluka khairaha, wa khaira maa fiiha, wa khaira maa ursilat bihii, wa a’uudzu bika min syarrihaa, wasyarri maa fiiha wasyarri maa ursilat bihi.” (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akan kebaikannya dan kebaikan yang ada padanya serta kebaikan sebab dikirimnya ia, dan aku belindung dari keburukannya dan keburukan yang ada padanya serta keburukan sebab dikirimnya ia.” (HR. Muslim).

71. Mendoakan kaum muslimin secara tersembunyi (tanpa sepengetahuan mereka)

عَنْ أَبِيْ الدَّرْدَاء رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( مَنْ دَعَا لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، قَالَ المَلَكُ المُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ ، وَلَكَ بِمِثْلٍ)) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 6928 ].

Diriwayatkan dari Abu Darda - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya ia mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, niscaya malaikat yang diwakilkan untuknya mengucapkan: “Amin, dan bagimu seperti apa yang kamu panjatkan.” (HR. Muslim).


72. Berdoa tatkala tertimpa musibah

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ـ أَنَّهَا قَالَتْ ، سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ مَا أَمَرَهُ اللهُ: إِنَّا للهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ ، اَللَّهُمَّ أْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا ـ إِلاَّ أَخْلَفَ اللهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 2126]

Diriwayatkan dari Ummu Salamah ra. bahwasanya ia berkata: Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu mengucapkan apa yang Allah perintahkan: “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Allaahumma’jurnii fii mushiibatii wa akhlif lii khairan minhaa.”(Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah ini, dan datangkanlah sesuatu yang lebih baik darinya). Melainkan Allah berikan kepadanya sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.” (HR. Muslim).

73. Menebarkan salam

عَنِ الْبَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( أَمَرَنَا النَبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ: أَمَرَنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيْضِ، ... وَإِفْشَاءِ السَّلاَمِ ،... اَلْحَدِيْث )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 5175 - 5388 ] .

Diriwayatkan dari Barra bin ‘Azib - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: “Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan dan melarang kami dengan tujuh perkara: Beliau memerintahkan kami agar menjenguk orang sakit, ... dan menebarkan salam, ... hadits.” (Muttafaqun ‘alaih).

Beberapa macam sunnah

74. Menuntut ilmu

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 6853 ] .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang meniti sebuah jalan guna menuntut ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

75. Mohon izin masuk (ke dalam kamar atau rumah seseorang) sebanyak tiga kali

عَنْ أَبِيْ مُوْسَى اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( اَلاِسْتِئْذَانُ ثَلاَثٌ، فَإِنْ أُذِنَ لَكَ، وَ إِلاَّ فَارْجِعْ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:6245- 5633 ].

Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Minta izin itu sebanyak tiga kali, maka jika diizinkan bagimu (masuklah), dan jika tidak maka pulanglah.” (Muttafaqun ‘alaih).


76. Tahnik anak yang baru lahir


عَنْ أَبِيْ مُوْسَى اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: (( وُلِدَ لِيْ غُلاَمٌ ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيْمَ ، فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ ... اَلْحَدِيْث )) [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 5467 - 5615]


Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy’ari - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata:“Anakku telah lahir, lalu aku membawanya kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- , kemudian beliau menamainya Ibrahim dan men-tahnik-nya dengansebutir kurma, lalu mendoakannya dengan keberkahan.” (Muttafaqun ‘alaih). 

** Tahnik: Memapak makanan yang manis-manis lalu menggerakkannya (memasukkannya) pada mulut bayi yang baru lahir, dan lebih utama bila makanan tersebut berupa kurma.


77. Akikah untuk anak yang baru dilahirkan

عَنْ عَائِشَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ـ قَالَتْ : (( أَمَرَنَا رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَعُقَّ عَنِ الْجَارِيَةِ شَاةً ، وَعَنِ الْغُلاَمِ شَاتَيْنِ )) [ رَوَاهُ أَحْمَدَ: 25764 ] .

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan kita melaksanakan akikah untuk bayi perempuan dengan (menyembelih) satu ekor kambing, dan untuk bayi laki-laki dengan dua ekor kambing.” (HR. Ahmad).

78. Membuka sebagian anggota badan agar terkena air hujan

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَصَابَنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ . قَالَ: فَحَسَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَوْبِهِ حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: (( لِأَنَّهُ حَدِيْثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ)) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 2083 ]

Diriwayatkan dari Anas - radhiyallahu ‘anhu - ia bekata: Kami pernah kehujanan pada saat bersama Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- ia berkata: Lalu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- menyingkapkan pakaiannya agar (sebagian badannya) terkena air hujan. Maka kami berkata: Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal tersebut? Beliau bersabda: “Karena sesungguhnya ia adalah (rahmat) yang baru saja diciptakan oleh Allah ta’ala.” (HR. Muslim). 

** Menyingkapkan pakaiannya: Maksudnya adalah membuka sebagian anggota badannya (yang bukan aurat)

79. Menjenguk orang sakit

عَنْ ثَوْبَانَ ، مَوْلَى رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( مَنْ عَادَ مَرِيْضًا ، لَمْ يَزَلْ فِيْ خُرْفَةِ الْجَنَّةِ )) قِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَمَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: (( جَنَاهَا )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 6554 ] .

Diriwayatkan dari Tsauban pembantu Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka ia senantiasa berada dalam khurfah surga. Dikatakan: Wahai Rasulullah, apakah khurfah surga itu? Beliau bersabda: “Tamannya yang penuh dengan beraneka macam buah-buahan.” (HR. Muslim).

80. Senyum

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا ، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 6690 ] .

Diriwayatkan dari Abu Dzar - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadaku: “Janganlah sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun ia, walau bertatap muka dengan saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim).


81. Saling berkunjung karena Allah ta’ala

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخاً لَهُ فِيْ قَرْيَةٍ أُخْرَى ، فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا ( أَيْ: أَقْعَدَهُ عَلَى الطَّرِيْقِ يَرْقُبُهُ ) فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ: أَيْنَ تُرِيْدُ؟ قَالَ: أُرِيْدُ أَخاً لِيْ فِيْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لاَ ، غَيْرَ أَنِّيْ أَحْبَبْتُهُ فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، قَالَ: فَإِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ إِلَيْكَ ، بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيْهِ )) [ رَوَاْهُ مُسْلِمٌ: 6549 ].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Bahwasanya seorang laki-laki mengunjungi saudaranya pada sebuah perkampungan lain, maka Allah mengutus seorang malaikat yang menunggunya di sebuah jalan. Setelah sampai kepadanya, ia (malaikat) berkata: Hendak kemanakah kamu? Ia menjawab: Aku ingin mengunjungi saudaraku di kampung ini. Ia berkata: Apakah kamu mempunyai kepentingan terhadapnya? Ia berkata: Tidak, tetapi aku mencintainya karena Allah ta’ala, Ia berkata: Sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Muslim).

82. Seseorang menyampaikan kepada saudaranya bahwa ia mencintainya

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيْ كَرِب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ ، فَلْيُعْلِمْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ )) [ رَوَاهُ أَحْمَدُ: 16303 ] .

Diriwayatkan dari Miqdam bin Ma’di Karib - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahukannya.” (HR. Ahmad).

83. Menahan (menutup mulutnya dengan tangan) pada saat menguap

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : (( اَلتَّثَاؤُبُ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ: هَا ، ضَحِكَ الشَّيْطَانَ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:3289 - 7490].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Menguap adalah dari syaitan, maka jika salah seorang di antara kalian menguap, hendaklah ia menahannya menurut kemampuannya, dan sesungguhnya jika seseorang di antara kalian mengatakan “haa...” (pada saat menguap) maka syaitan tertawa.” (Muttafaqun ‘alaih)

84. Berbaik sangka kepada orang

عَنْ أَبِيْ هُــرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُــوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 6067-6536 ] 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jauhilah berburuk sangka, karena berburuk sangka adalah perkataan yang paling dusta.” (Muttafaqun ‘alaih).

85. Membantu keluarga dalam pekerjaan rumah tangga

عَنِ اْلأَسْوَدِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ـ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِيْ بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: ((كَانَ يَكُوْنُ فِيْ مِهْنَةِ أَهْلِهِ (أَيْ: خِدْمَتِهِمْ) ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 676 ] .

Diriwayatkan dari al Aswad ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah ra. apa yang Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- kerjakan di rumahnya? Ia menjawab: “Beliau melayani keluarganya, jika datang waktu shalat maka beliau pergi (ke masjid) untuk mengerjakan shalat.” (HR. Bukhari)

86. Sunnah-sunnah fitrah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ، أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: اَلْخِتَانُ ، وَاْلاِسْتِحْدَادُ (حَلْقُ شَعْرِ الْعَانَةِ)، وَنَتْفُ اْلإِبْطِ، وَتَقْلِيْمُ اْلأَظْفَارِ ، وَقَصُّ الشَّارِبِ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 5889 - 597 ]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “fitrah ada lima macam: Khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan mencukur kumis.” (Muttafaqun ‘alaih).



87. Menyantuni anak yatim

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْمِ فِيْ الْجَنَّةِ هَكَذَا )) . وَ قَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَبَّابَةِ وَالْوُسْطَى.[ رَوَاهُ الْبُخَارِيْ: 6005 ] .

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Aku dan penyantun anak yatim berada di dalam surga seperti ini.” Beliau mengatakan dengan kedua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Bukhari).

88. Menjauhi sifat pemarah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ ، قَالَ: (( لاَ تَغْضَبْ )) . فَرَدَّدَ مِرَارًا ، قَالَ: (( لاَ تَغْضَبْ )) [ رَوَاهُ الْبُخَارِي: 6116 ] .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Berwasiatlah kepadaku.” Lalu beliau bersabda: “Jangan marah.” Dan orang tersebut terus mengulangi permintaannya, lalu beliau bersabda: “Jangan marah.” (HR. Bukhari).

89. Menangis karena takut kepada Allah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّهِ ... وَذَكَرَ مِنْهُمْ : وَرَجَلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 660-1031 ].

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Ada tujuh golongan manusia yang mendapatkan naungan Allah, di hari yang tiada satupun naungan selain naungan-Nya... di antaranya beliau sebutkan: Seorang yang mengingat Allah dalam kesunyian lalu menetes air matanya.” (Muttafaqun ‘alaih).

90. Shadaqah jariyah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ )) [رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 4223]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara: Shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang saleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim).

91. Membangun masjid

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ قَالَ عِنْدَ قَوْلِ النَّاسِ فِيْهِ حِيْنَ بَنَى مَسْجِدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: إِنَّكُمْ أَكْثَرْتُمْ وَإِنِّيْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( مَنْ بَنَى مَسْجِدًا ـ قَالَ بُكَيْرٌ: حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ: يَبْتَغِيْ بِهِ وَجْهَ اللهِ ـ بَنَى اللهُ لَهُ مِثْلَهُ فِيْ الْجَنَّةِ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 450- 533]

Diriwayatkan dari Usman bin ‘Affan - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata ketika orang-orang ramai memrbicarakan dirinya tatkala ia membangun masjid Rasulullah–shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Sesungguhnya kalian banyak membicarakan pertentangan terhadap diriku, sungguh aku telah mendengar Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang membangun sebuah masjid —telah berkata Bukair: Aku mengira ia berkata: “Mengharapkan dengannya (melihat) wajah Allah ta’ala— Maka Allah akan memberikan baginya bangunan yang serupa di surga.” (Muttafaqun ‘alaih).

92. Mudah dalam menjual dan membeli

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمْحًا إِذَا بَاعَ ، وَ إِذَا اشْتَرَى ، وَإِذَا اقْتَضَى )) [رَوَاهُ الْبُخَارِي: 2076 ] 

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah —Radhiyallahu ‘anhuma— Bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Allah menyayangi orang yang mudah dalam menjual dan membeli serta dalam menuntut haknya.” (HR. Bukhari).

93. Menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بِطَرِيْقٍ ، وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيْقِ ، فَأَخَّرَهُ ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ ، فَغَفَرَ لَهُ ))[ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 4940]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Tatkala seseorang sedang melewati sebuah jalan, ia menemukan sebatang pohon yang berduri, lalu ia menyingkirkannya, maka Allah berterima kasih kepadanya, lalu mengampuni (dosa-dosa)-nya.” (HR. Muslim)

94. Shadaqah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ ، قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : (( مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ ، وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ ، فَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ، ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّيْ أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ )) [مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ: 1410-1014]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa bersedekah, walaupun hanya seharga satu biji kurma dari pencarian yang halal —Dan Allah tidak menerima kecuali sesuatu yang baik— maka Allah menerima dengan tangan kanan-Nya, kemudian memeliharanya bagi pemiliknya, seperti salah seorang di antara kalian memelihara seekor anak kuda, sehingga menjadi seperti gunung yang besar.” (Muttafaqun ‘alaih).

95. Memperbanyak amal saleh pada sepuluh Dzulhijjah

عَنِ بْنِ عَبّاَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ: (( مَا الْعَمَلُ فِيْ أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِيْ هَذِهِ يَعْنِيْ أَيَّامَ الْعَشْرِ)) قَالُوْا: وَلاَ الْجِهَادُ؟ قَالَ: (( وَلاَ الْجِهَادُ ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ )) [رَوَاهُ الْبُخَارِي: 969]

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Tiada amalan yang lebih utama dari amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari (pertama bulan Dzulhijjah). Mereka berkata: Tidak pula jihad (di jalan Allah)? Beliau bersabda: “Tidak pula jihad (di jalan Allah), kecuali seseorang yang keluar berjuang dengan jiwa dan hartanya hingga tidak tersisa sesuatupun dari darinya.” (HR. Bukhari).



96. Membunuh cicak

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِيْ أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ ، وَفِيْ الثَّانِيَةِ دُوْنَ ذَلِكَ ، وَفِيْ الثَّالِثَةِ دُوْنَ ذَلِكَ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 8547 ]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barangsiapa yang membunuh cicak dengan satu kali pukulan, ditulis baginya seratus kebaikan, dan barangsiapa yang membunuhnya pada pukulan yang kedua, baginya lebih sedikit dari itu (seratus kebaikan), dan barangsiapa yang membunuhnya pada pukulan yang ketiga, baginya lebih sedikit dari itu (seratus kebaikan).” (HR. Muslim).

97. Melarang seseorang agar tidak membicarakan setiap apa yang ia dengar

عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: (( كَفَى بِالْمَرْءِ إِثمًاأَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ )) [رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 7 ]

Diriwayatkan dari Hafsh bin ‘Ashim - radhiyallahu ‘anhu - ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Cukuplah seseorang dikatakan berdosa ketika membicarakan segala sesuatu yang didengarnya.” (HR. Muslim).

98. Mengharapkan pahala dan keridhaan Allah ketika menafkahi keluarga

عَنْ أَبِيْ مَسْعُوْدٍ الْبَدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً ، وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا، كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ )) [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ: 2322]

Diriwayatkan dari Abu Mas’ud al Badri - radhiyallahu ‘anhu - dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim jika menafkahi keluarganya dengan mengharapkan pahala dan keridhaan Allah ta'ala, maka baginya (pahala) shadaqah.” (HR. Muslim)

99. Lari-lari kecil saat thawaf

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ـ قَالَ: (( كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا طَافَ الطَّوَافَ اْلأَوَّلَ، خَبَّ (أَيْ:رَمَلَ) ثَلاَثًا وَمَشَى أَرْبَعًا ... اَلْحَدِيْث )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ :1644- 3048 ]

Diriwayatkan dari Ibnu Umar —radhiyallahu ‘anhuma— ia berkata: “Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wasallam- jika thawaf pada thawaf yang pertama (thawaf qudum), berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama, dan berjalan pada empat putaran lainnya.” (Muttafaqun ‘alaih).

** Ramal: Berjalan cepat dengan langkah-langkah kecil, dikerjakan pada tiga putaran pertama pada thawaf qudum (thawaf yang dikerjakan seorang muslim pada saat ia baru sampai di Mekkah) baik pada saat ia mengerjakan haji atau umrah.


100. Mengerjakan amal saleh secara kontinyu walaupun sedikit

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، أَنَّهَا قَالَتْ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ اْلأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: (( أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ )) [ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ:6465- 1828 ]

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya ia berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah ditanya: Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah? Beliau bersabda: “Amalan yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih)

Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :