" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Jumat, 30 Desember 2016

MENCAMPURADUKKAN KEBENARAN DENGAN KEBATILAN





Tafsir al-Baqarah ayat 42 Part 1

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ ( البقرة :42)

Artinya : “Dan janganlah mencampuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahui ” ( al-Baqarah : 42)

Jika pada ayat sebelumnya Allah swt memberikan tahdzir (peringatan) kepada orang-orang Yahudi dari dlalal(perbuatan sesat),maka pada ayat ini Allah swt memberikan tahdzir kepada mereka dari idl-lal (tindakan penyesatan). Idl-lal (penyesatan) sebagaimana disinggung dalam ayat tersebut dilakukan oleh orang-orang Yahudi dengan dua cara. Cara yang pertama adalah dengan labsul-haq bil-bathil’ (mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan). Mereka mengubah sebagian isi kitab Taurat, dengan memasukkan ungkapan yang bersumber dari nafsu sesat mereka (kebatilan) ke dalam rangkaian ayat (kebenaran) seraya menyatakan kepada pengikut-pengikut mereka, bahwa itu adalah firman Allah swt. Idl-lal cara pertama ini kerap dilakukan orang-orang Yahudi. Misalnya saja ketika mereka diperintahkan memasuki pintu gerbang kota Yerussalem. Mereka diperintahkannya masuk sambil bersujud, tunduk, merendahkan hati, seraya menyatakan permohonan pengampunan ‘waqulu hith-thatun naghfirlakum khathayakum’. Mereka mengubah perintah itu dengan mengganti kata ‘hith-thah’ dengan kata ‘hinthah’ yang berarti permohonan gandum, sehingga ayat itu menjadi ‘waqulu hinthatun naghfirlakum khathayakum’.


Labsul-haq bil-bathil yang kerap dilakukan, mengisyaratkan bahwa dalam kitab Taurat yang ada di tangan orang-orang Yahudi terdapat kebenaran yang benar-benar bersumber dari firman,dan terdapat pula kebatilan yang bersumber dari hasil nalar mereka sendiri. Dengan kata lain Taurat yang ada di tangan mereka sudah tidak original lagi. 


Laksana sebuah virus, tindakan penyesatan melalui cara mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan ini menyebar. Tidak saja menjangkiti kaum Yahudi, melainkan telah banyak menimpa kaum Muslimin yang sesat dari dulu hingga sekarang. Sebagian diantaranya yang tercatat dalam sejarah adalah : 
Pada masa khilafah Abu Bakar as-Shiddiq ra, sebagaian dari kalangan orang-orang arab menyatakan murtad dan menolak untuk menyetorkan zakat kepada beliau. Mereka berdalih dengan mengatakan : 


اِنَّنّا كُنَّا نعْطِي الزَّكّاةَ لِلرَّسُوْلِ وَنُعْطِيْهِ ، فَلَيْسَ عَلَيْنَا طَاعَةٌ لاَِحَدٍ بَعْدَهُ


“Dahulu memang kami menyetorkan zakat kepada Rasulullah dan taat kepadanya. Sekarang pasca Rasulullah, tak ada kewajiban bagi kami untuk taat kepada siapapun juga “


Dan seorang penyair dari kalangan mereka mengadakan propaganda penyesatan dengan mengatakan :


أَطَعْنَا رَسُوْلَ اللهِ اِذْ كَانَ بَيْنَنَا فَيَا لَعِبَادٍ مَالاَِبِيْ بَكْرٍ


“Kita taat kepada Rasulullah manakala Rasulullah berada diantara kita. Duhai kiranya hamba-hamba! Tak ada ketaatan kepada Abu Bakar “. 
Pada masa khilafah Utsman bin ‘Affan ra, karena kebenciannya dan hasratnya yang menggelora agar khlilafah segera diambil alih oleh Ali bin Abi Thalib kw, ketika mereka melihat ‘Utsman bin ‘Affan sedang duduk di singgasana dan tiba-tiba cincin Rasulullah yang dikenakannya lepas terjatuh, mereka melakukan propaganda menyebar luaskan kejadian tersebut pada khalayak dengan menyatakan bahwa : 

وّذّالِكَ رَمْزٌ عَلَى سُقُوْطِ خِلاَفَتِهِ

“Hal tersebut merupakan pertanda jatuh dan runtuhnya khilafah/ kepemimpinan ‘Usman bin ‘Affan ra “. 
Pada masa khilafah ‘Ali bin Abi Thalib kw, kaum Khawarij keluar menarik dukungan dan berbalik memusuhi, ketika beliau menerima tawaran arbitrase (perundingan) dari Mu’awiyah dengan bersemboyan ‘laa hukma illa lil-Lah’ (tidak ada hukum selain hukum Allah). Mereka menganggap keputusan tidak bisa diperoleh melalui arbitrase melainkan dari Allah. Mereka mencap orang-orang yang terlibat arbitrase sebagai orang kafir karena telah melakukan ‘dosa besar’ dan karena itu layak dibunuh. Terhadap persoalan ini ‘Ali bin Abi Thalib kw mengomentari bahwa kalimat yang mereka katakan adalah : 

كَلِمَةُ حَقٍّ أرِيْدَ بِهَا الْبَاطِلُ


“Kalimat yang mengandung kebenaran tetapi ditujukan untuk maksud kebatilan “.


Sejarah masa lalu itu terus terjadi berulang-ulang hingga saat sekarang. Betapa kita menjadi terbiasa mendengar propaganda yang sebagian isinya benar, bahkan mungkin banyak yang benar, tetapi di celah-celah kebenaran terselip kebatilan-kebatilan dalam bentuk yang sangat halus yang hampir tidak terasa kecuali bila kita mengamati dan menganalisa dengan jeli dan seksama. 


Dalam mimbar fatwa sering kita mendengar ajakan untuk menghindari perbuatan syirik (kebenaran) dengan mencotohkan supaya meninggalkan ‘amaliyah yang sesungguhnya terpuji semisal ziarah kubur, tahlil dan istighotsah (kebatilan) hanya karena ambisi membesarkan kelompok dan memperbanyak pengikut. 


Dalam panggung politik kerap kita menyaksikan dengan dalih koalisi yang seharusnya dimaksudkan untuk memperkuat pemerintahan supaya roda pembangunan dapat berjalan (kebenaran), tetapi sesungguhnya hanya digunakan untuk mendapatkan kekuasaan (kebatilan). Atau sebaliknya dengan dalih oposisi yang seharusnya diarahkan sebagai kontrol penyeimbang, malah digunakan untuk menghambat penguasa dalam menjalankan tugas pemerintahan (kebatilan). 


Dalam pentas sosial budaya kita melihat banyak upaya kebatilan yang dibungkus dengan kebenaran semisal pemilihan ratu kecantikan dengan alasan mengenalkan budaya dan mengangkat harkat martabat bangsa di mata dunia (kebenaran) tetapi pada kenyataannya hanyalah kontes yang mempertontonkan keindahan tubuh dan aurat perempuan (kebatilan).


Usaha dengan menggunakan nama fasilitas kebugaran tetapi didalamnya sebenarnya adalah prostitusi terselubung (kebatilan), dan kios-kios kaki lama yang menuliskan nama menjual jamu (kebenaran) namun jamu hanya sekedar pajangan yang dijual sebenarnya minuman terlarang (kebatilan). 


Dalam dunia pendidikan, dengan argumentasi untuk meningkatkan kwalitas dan mutu pendidikan, praktisi pendidikan meminta sumbangan pendidikan (kebenaran) tetapi kemudian mengorbankan anak didik yang berprestasi yang tidak mampu membayar sumbangan (kebatilan). 


Dalam bidang pelayanan umum rasanya sudah tidak menjadi rahasia terdapat pungutan dengan alasan biaya administrasi (kebenaran) namun sesungguhnya adalah pungli dan korupsi (kebatilan). 


Pendek kata hampir pada semua lini kehidupan, telah demikian merebak baik dalam skala besar maupun dalam skala kecil, ditengarai ada upaya labsul-haq bil-bathil. Ironisnya mengatasi persoalan ini sangatlah rumit. ‘Ali bin Abi Thalib kw saja mengakui cemas dan menemui kesulitan menghadapi persoalan tersebut sebagaimana dinyatakan dalam kitab nahjul balaghah :

فَلَوْ أَنَّ اَلْبَاطِلَ خَلَصَ مِنْ مِزَاجِ اَلْحَقِّ لَمْ يَخْفَ عَلَى اَلْمُرْتَادِينَ ، وَ لَوْ أَنَّ اَلْحَقَّ خَلَصَ مِنْ لَبْسِ اَلْبَاطِلِ اِنْقَطَعَتْ عَنْهُ أَلْسُنُ اَلْمُعَانِدِينَ


Jika batil ditampilkan 100% sebagai kebatilan, tidaklah mencemaskan. Karena orang-orang yang ingin mencari kebenaran, dengan sendirinya akan menjauh karena tahu bahwa itu kebatilan. Begitupun jika yang haq (benar) ditampilkan 100% sebagai kebenaran, orang-orang akan dengan senang hati mengikuti dan para penentang tidak akan mampu mengomentari. Yang mencemaskan adalah jika kebenaran sudah dioplos dengan kebatilan. Karena akan menumbuhkan fitnah yang tak berkesudahan.

Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :