" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Kamis, 15 Desember 2016

Ini Alasan Salat Zuhur & Ashar tak Bersuara Keras




Seorang teman bertanya kenapa saat salah Zuhur dan Ashar, tidak mengeraskan suara ketika membaca ayat Alquran setelah al-Fatihah. Berbeda ketika kita salat Maghrib, Isya dan Subuh.

Banyak ulama menjelaskan menjaharkan (mengeraskan) bacaan dalam salat Subuh dan dua rakaat pertama pada salat Maghrib dan Isya' adalah disunahkan. Ini berlaku bagi Imam dan munfarid (orang yang salat sendirin).

Menjaharkan bacaan ini juga berlaku pada salat Jumat, salat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), salat gerhana bulan, salat istisqa', salat Tarawih dan salat Nafilah di malam hari. Selain yang disebutkan disunahkan untuk mensirrikannya (memelankannya).

Permasalahan jahar dan siri dalam bacaan bukan persoalan fardhu atau sunah yang diharuskan untuk sujud sahwi saat menyalahinya. Tapi ia salah satu dari bentuk tatacara salat yang pelakunya diberi pahala atasnya. Sedangkan yang meninggalkannya tidak berdosa.

. . . Permasalahan jahar dan siri dalam bacaan bukan persoalan fardhu atau sunnah yang diharuskan untuk sujud sahwi saat menyalahinya. . .

Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, beliau berkata:

"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah salat bersama kami. Pada salat Zuhur dan Ashar, beliau membaca al-Fatihah dan dua surat di rakaat pertama. Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca. Adalah beliau memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dari salat Zuhur dan memendekkan pada rakaat kedua, begitu juga saat salat Subuh."

Ucapan Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, "Sesekali beliau memperdengarkan ayat yang beliau baca," menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat keterangan bolehnya menjaharkan pada salat sirr (Zuhur dan Ashar). Ini juga menunjukkan bahwa Israr (mensirrikan bacaan) tidak menjadi syarat untuk sahnya salat.

Terdapat keterangan bahwa sebab turunnya firman Allah Ta'ala:

"Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." (QS. Al-Isra': 110) saat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam masih di Mekah. Apabila beliau salat bersama para sahabatnya, beliau meninggikan suaranya saat membaca Al-Qur'an. Ketika kaum musyrikin mendengarnya, maka mereka mencaci Al-Qur'an, mencaci Zat yang menurunkannya dan orang yang menyampaikannya. Lantas Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu." Maksudnya: jangan keraskan bacaanmu sehingga orang-orang musyrik mendengarnya.

"Dan janganlah pula merendahkannya," maksudnya: dari para sahabatmu sehingga mereka tidak mendengar Al-Qur'an. "Dan carilah jalan tengah di antara kedua itu."

Terdapat dalam sebagian riwayat lain, "Maka saat sudah hijrah ke Madinah perintah tersebut telah gugur. Beliau boleh melakukan yang beliau kehendaki dari keduanya."

Dari sini menjadi jelas persoalan, menjaharkan bacaan pada salat Maghrib, Isya' dan Subuh serta memelankan bacaan pada salat Zuhur dan Ashar adalah pengamalan saat pertama disyariatkan. Yakni saat kaum muslimin tidak menjaharkan bacaan Al-Qur'an di siang hari khawatir atas celaan kaum musyrikin.


Alasan mengeraskan bacaan shalat ketika malam hari adalah Karena waktu malam adalah saat yang sunyi dan dianjurkan untuk terjaga, maka dianjurkan membaca bacaan shalat dengan keras untuk mendapatkan kenikmatan bermunajat kepada Allah Swt. Kemudian bacaan jahr disunnahkan pada rakaat pertama dan kedua karena pada saat itu orang yang shalat masih dalam keadaan bersemangat.
Sedangkan di waktu siang hari adalah saat-saat sibuk dan berkumpulnya manusia sehingga dianjurkan membaca samar sebab tidak adanya masalah yang mendesak untuk menyempurnakan munajat ketika siang hari. Sebagaimana diterangkan dalam kitab I’anah at-Thalibin:

قَوْلُهُ: (يُسَنُّ الْجَهْرُ) أَيْ وَلَوْ خَافَ الرِّيَاءَ قال ع ش وَالْحِكْمَةُ فِي الْجَهْرِ فِي مَوْضِعِهِ أَنَّهُ لَمَّا كَانَ اللَّيْلُ مَحَلَّ الْخَلْوَةِ وَيَطِيْبُ فِيْهِ السَّمْرُ شُرِعَ الْجَهْرُ فِيهِ طَلَبًا لِلَذَّةِ مُنَاجَاةِ الْعَبْدِ لِرَبِّهِ، وَخُصَّ بِالْأَوَّلَيَيْنِ لِنَشَاطِ الْمُصَلِّي فِيهِمَا وَالنَّهَارُ لِمَا كَانَ مَحَلَّ الشَّوَاغِلِ وَاْلاِخْتِلاَطِ بِالنَّاسِ طُلِبَ فِيهِ الْإِسْرَارُ لِعَدَمِ صَلَاحِيَّتِهِ لِلتَّفَرُّغِ لِلْمُنَاجَاةِ، وَأُلْحِقَ الصُّبْحُ بِالصَّلَاةِ اللَّيْلِيَّةِ لِأَنَّ وَقْتَهُ لَيْسَ مَحَلاًّ لِلشَّوَاغِلِ (إعانة الطالبين، ج 1 ص 179، دار ابن عصاصه)

Perkataan musannif, (disunnahkan mengeraskan bacaan) meskipun kuatir riya’. Imam Ali Syibramulisy berkata “Adapun hikmah mengeraskan bacaan pada tempatnya yaitu sesungguhnya ketika adanya malam itu tempat kholwat (menyepi) dan enak dibuat ngobrol, maka disyari’atkan mengeras-kan bacaan untuk mencari nikmatnya munajat seorang hamba kepada Tuhannya, dan dikhususkan pada dua rakaat pertama karena semangatnya orang yang shalat berada di dalam dua rakaat tersebut. Dan ketika siang itu tempat berbagai macam kesibukan dan berkumpul dengan manusia, maka dianjurkan membaca dengan suara lirih karena tidak adanya maslahah untuk menyempurnakan munajat, dan shalat shubuh disamakan dengan shalat malam, karena waktunya bukan tempat kesibukan”. (I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 179, Dar Ibn ‘Ashashah)
Adapun membaca secara jahar pada salat Jumat, dua hari raya, shalat Istisqa' dan selainnya adalah karena salat-salat tersebut disyariatkan di Madinah sesudah hijrah, di mana saat itu kaum muslimin memiliki kekuatan dan daulah. Wallahu A'lam. []


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :