" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Rabu, 12 Oktober 2016

Hati-Hati! Posisi Duduk Seperti Inilah Yang Sangat Dibenci Oleh Allah SWT, Kenapa? Ini Alasannya!


Awas! Ternyata Duduk Seperti Ini Dimurkai Allah 


Duduk yang dimurkai sebagaimana yang disifati Nabi dengan menjadikan tangan kiri sebagai penumpu tubuh. Dewasa ini, masyarakat kebanyakan sering mengartikan bahwa Islam itu hanya mengurus masalah ibadah kepada Allah saja. Faktanya, tidak hanya menyangkut masalah hubungan kita dengan Allah (habluminallah), namun Islam juga mengurus masalah menyangkut hubungan kita dengan sesama manusia (habluminannas) dan lingkungan. Bahkan Islam itu mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari yang paling kecil hingga paling besar, dari paling sederhana hingga paling rumit bahkan dari manusia bangun tidur sampai tidur lagi. Islam menjadi satu­satunya agama sekaligus sistem yang layak dijadikan pedoman hidup. Kelengkapan cakupan aspek kehidupan Islam desebutkan secara rinci dalam Al Qur’an. Termasuk mengatur perkara duduk. Di antara bentuk duduk yang terlarang adalah sebagaimana terlihat pada gambar diatas, yaitu duduk dengan meletakkan tangan kiri di belakang dan dijadikan sandaran atau tumpuan. 

Melalui Rasulullah SAW, Allah mengabarkan Dia begitu murka dengan hamba­hamba­Nya yang duduk seperti ini. Sebagai muslim, sudah selayaknya kita menjauhi apa yang diperintahkan Rasul, termasuk menghindari duduk seperti ini. Duduk yang di murkai Bukankah ini sering kita lakukan? Terutama saat duduk di lantai saat menghadiri jamuan, saat bersantai bersama keluarga atau saat berada di dalam masjid. Al Syarid bin Al Suwaid berkata: Rasulullah SAW melintasi sedang aku duduk begini; aku letakkan tangan kiri ke belakang badanku dan bertongkat dengan tapak tanganku. Lalu Rasulullah berkata kepadaku: “Adakah engkau duduk dengan duduknya mereka yang dimurkai?!”­ Diriwayatkan oleh Ahmad, dan Abu Daud. Disahihkan oleh Al­Albani. Dalam riwayat Abu Daud yang lain pula disebutkan: “Janganlah kamu duduk seperti ini kerana ia adalah cara duduk orang­orang yang diazab.” Hadis itu dihasankan oleh al­Albani. 

Justru itu, sesiapa yang mahu duduk menyandar, maka bersandarlah pada tangan kanan, bukan kiri. Ataupun dia bersandar pada kedua­dua tangannya. Syeikh Ibnu Uthaimin berkata: Cara duduk ini adalah disifatkan oleh Nabi SAW sebagai cara duduk orang­orang yang dimurkai. Adapun meletakkan kedua­dua tangan di belakang badan dan menyandar pada salah satu daripadanya adalah tidak mengapa. Ataupun dia meletakkan tangan kanannya juga tidak mengapa. Apa yang disifatkan oleh Rasulullah sebagai cara duduk orang­orang yang dimurkai ialah menjadikan tangan kiri di belakang badan, dan menjadikan tapak tangannya di tanah dan bersandar padanya. Inilah apa yang disifatkan oleh Nabi SAW sebagai cara duduk orang­orang yang dimurkai. Beliau turut berkata: Hadis itu maknanya jelas iaitu seseorang . tidak boleh menyandar pada tangan kiri yang berada di belakang pada tanah (lantai) Syeikh ditanya: Sekiranya seseorang duduk seperti ini dengan tujuan berehat sahaja, bukan tujuan mengikut orang Yahudi, adakah dia juga berdosa? Beliau menjawab: Sekiranya dia mahukan untuk berehat, maka jadikanlah sisi kanan, lalu hilanglah tegahan. Syaikh ‘Abdul Al ‘Abbad mengatakan bahwa duduk seperti ini hukumnya haram, meski sebagian ulama lain mengatakan makruh. “Makruh dapat dimaknakan juga haram. Dan kadang makruh juga berarti makruh tanzih (tidak sampai haram). Akan tetapi dalam hadits disifati duduk semacam ini adalah duduk orang yang dimurkai, maka ini sudah jelas menunjukkan haramnya.” (Syarh Sunan Abi Daud, 28: 49) Sementara itu Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengatakan, duduk yang dimurkai sebagaimana yang disifati Nabi dengan menjadikan tangan kiri sebagai penumpu tubuh. Namun jika meletakkan kedua tangan sebagai tumpuan, atau tangan kanan saja menjadi tumpuan, maka hal itu tidak mengapa. Kenapa? Ini Alasannya! Lantas jika ada yang bertanya, dimana logikanya? Sebagian mungkin mengatakan, ini tidak masuk akal dan tidak berdasarkan ilmu pengetahuan. Allah dan Rasulullah SAW sudah memerintahkan, maka ini sudah cukup bagi seorang muslim. Adapun para ulama mengatakan jika duduk seperti ini merupakan duduknya orang ­orang yang sombong. Masihkan kita mahukan bukti lain? Jika ini perintah Allah dan Rasulnya, maka kita tidak perlu bukti lain. Ini adalah perintah dan jika tidak ditaati merupakan tanda kesombongan seorang muslim. Begitulah ajaran Islam, setiap sendi kehidupan bernafas dengan aturan yang sudah ditetapkan. Peraturan yang dibuat, bukan bermaksud memberatkan, namun pasti ada sebab positif baik dari segi sosial dan kesihatan.
Syirrid bin Suwaid Radhiallahu ‘Anhu berkata, “Rasulullah pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu baginda Nabi bersabda, “Adakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang­orang yang dimurkai?” (HR Abu Dawud, Shahih) Dari hadist tersebut dijelaskan bahwa duduk yang dimurkai adalah duduk dengan bersandar dan menjadikan tangan kirinya penahan tubuh. Sudah sepatutnya apabila Rasulullah melarang sesuatu, maka sebagai umat muslim wajib mengikuti anjuran beliau. “Orang yang dimurkai” dalam hadist diatas sebagaimana dikatakan oleh Ath Thibiy merupakan ungkapan kepada orang Yahudi. Sementara penulis Aunul Ma’bud menyatakan bahwa arti kata tersebut menjurus kepada umum baik itu yang kafir, sombong, ujub dan orang fajir atau gemar melakukan kemaksiatan. Duduk yang dimurkai berarti juga duduk yang akan mendapatkan adzab Allah sehingga sudah sepatutnya kita menjauhi duduk bersandar seperti itu. Sedangkan menurut Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, duduk bersandar seperti itu dilarang baik di dalam masjid ataupun di luar masjid. Beliau pun menjelaskan secara sederhana bahwa duduk bersandar tersebut adalah duduk dengan bersandar pada tangan kiri yang dekat pada bokong. Menurut Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Riyadhus Sholihin, hanya duduk yang bersandar pada tangan kiri sajalah yang dimurkai. Sedangkan duduk dengan bersandar pada kedua tangan di belakang ataupun menggunakan tangan kanan saja, maka tidaklah mengapa. Meski beberapa ulama menyatakan bahwa duduk seperti itu tidak haram dan hanya makruh saja, namun jika melihat konteks hadist maka sangat jelas bahwa sesuatu yang dimurkai berarti juga tidak boleh dilakukan sama sekali atau haram sebagaimana yang ditulis dalam syarah Sunan Abi Daud. Banyak yang mempertanyakan kenapa hal itu bisa diharamkan dan apa hikmahnya. 

Selaku umat muslim yang taat sudah selayaknya untuk kita sami’na wa atho’na terhadap anjuran Rasulullah tanpa perlu tahu dahulu apa hikmah yang terdapat di dalamnya. Namun jika ada yang mengatakan bahwa hal itu kok dipermasalahkan, maka berkacalah kepada firman Allah berikut. “Maka hendaklah orang­orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS An Nur 63). Dan kita sudah tahu bahwa sabda Nabi bukanlah berdasarkan kepada hawa nafsunya semata. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS An Najm 3­4) Dalam tafsir Ibnu Katsir menyatakan, “Khawatirlah dan takutlah bagi siapa saja yang menyelisihi syariat Rasul secara lahir dan batin, niscaya ia akan tertimpa fitnah berupa kekufuran, kemunafikan atau perbuatan bid’ah" (Tafsir Al Quran Al Adzim 10:281) Wallahu A’lamHukum Bersandar Pada Tangan Kiri Di Belakang Badan

Al Syarid bin Al Suwaid berkata: Rasulullah SAW melintasi sedang aku duduk begini; aku letakkan tangan kiri ke belakang badanku dan bertongkat dengan tapak tanganku. Lalu Rasulullah berkata kepadaku: “Adakah engkau duduk dengan duduknya mereka yang dimurkai?!”- Diriwayatkan oleh Ahmad, dan Abu Daud. Disahihkan oleh Al-Albani. 
Dalam riwayat Abu Daud yang lain pula disebutkan: “Janganlah kamu duduk seperti ini kerana ia adalah cara duduk orang-orang yang diazab.” Hadis itu dihasankan oleh al-Albani.
Juteru itu, sesiapa yang mahu duduk menyandar, maka bersandarlah pada tangan kanan, bukan kiri. Ataupun dia bersandar pada kedua-dua tangannya.
Syeikh Ibnu Uthaimin berkata: Cara duduk ini adalah disifatkan oleh Nabi SAW sebagai cara duduk orang-orang yang dimurkai. 
Adapun meletakkan kedua-dua tangan di belakang badan dan menyandar pada salah satu daripadanya adalah tidak mengapa. Ataupun dia meletakkan tangan kanannya juga tidak mengapa.

Apa yang disifatkan oleh Rasulullah sebagai cara duduk orang-orang yang dimurkai ialah menjadikan tangan kiri di belakang badan, dan menjadikan tapak tangannya di tanah dan bersandar padanya. Inilah apa yang disifatkan oleh Nabi SAW sebagai cara duduk orang-orang yang dimurkai. - Tamat.
Beliau turut berkata: Hadis itu maknanya jelas iaitu seseorang tidak boleh menyandar pada tangan kiri yang berada di belakang pada tanah (lantai).Syeikh ditanya: Sekiranya seseorang duduk seperti ini dengan tujuan berehat sahaja, bukan tujuan mengikut orang Yahudi, adakah dia juga berdosa? Beliau menjawab: Sekiranya dia mahukan untuk berehat, maka jadikanlah sisi kanan, lalu hilanglah tegahan. -Tamat.


Kesimpulan
Dilarang daripada duduk seperti ini di dalam solat ataupun di luar solat, sama ada dengan tujuan menyerupai orang-orang yang dimurkai daripada kalangan Yahudi, atau orang lain daripada kalangan orang-orang yang sombong, orang yang angkuh, ataupun tanpa maksud apa-apa. Nabi menyifatkan cara duduk ini sebagai cara duduk orang-orang yang dimurkai dan diazab. Lalu menjadikan pendapat yang mengatakan haram lebih kuat daripada pendapat yang mengatakan makruh.
ِArtikel Bergambar: 
Bahasa Arab : 


Bahasa Melayu: 





Duduk Bersandar yang Dimurkai



May 31, 2012Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Sifat seorang muslim adalah selalu taat dan patuh terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya. Ketika Allah melarang sesuatu, maka ia patuh. Begitu pula ketika Rasul-Nya melarang sesuatu dengan mensifati sebagai sesuatu yang dimurkai, maka seorang muslim pun mendengar dan menjauhi tindakan semacam itu. Di antara bentuk duduk yang terlarang adalah sebagaimana para pembaca lihat pada gambar di samping ini, yaitu duduk dengan meletakkan tangan kiri di belakang dan dijadikan sandaran atau tumpuan. Berikut penjelasan mengenai hadits yang melarang hal tersebut dan keterangan beberapa ulama mengenai hal ini.


عَنْ أَبِيهِ الشَّرِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ مَرَّ بِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا جَالِسٌ هَكَذَا وَقَدْ وَضَعْتُ يَدِىَ الْيُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِى وَاتَّكَأْتُ عَلَى أَلْيَةِ يَدِى فَقَالَ « أَتَقْعُدُ قِعْدَةَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ».

Syirrid bin Suwaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah pernah melintas di hadapanku sedang aku duduk seperti ini, yaitu bersandar pada tangan kiriku yang aku letakkan di belakang. Lalu baginda Nabi bersabda, “Adakah engkau duduk sebagaimana duduknya orang-orang yang dimurkai?” (HR. Abu Daud no. 4848. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Yang dimaksud dengan al maghdhub ‘alaihim adalah orang Yahudi sebagaimana kata Ath Thibiy. Penulis ‘Aunul Ma’bud berkata bahwa yang dimaksud dimurkai di sini lebih umum, baik orang kafir, orang fajir (gemar maksiat) , orang sombong, orang yang ujub dari cara duduk, jalan mereka dan semacamnya. (‘Aunul Ma’bud, 13: 135)

Dalam Iqthido’ Shirotil Mustaqim, Ibnu Taimiyah berkata, “Hadits ini berisi larangan duduk seperti yang disebutkan karena duduk seperti ini dilaknat, termasuk duduk orang yang mendapatkan adzab. Hadits ini juga bermakna agar kita menjauhi jalan orang-orang semacam itu.”
Kata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, duduk seperti ini terlarang di dalam dan di luar shalat. Bentuknya adalah duduk dengan bersandar pada tangan kiri yang dekat dengan bokong. Demikian cara duduknya dan tekstual hadits dapat dipahami bahwa duduk seperti itu adalah duduk yang terlarang. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 25: 161)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan dalam Syarh Riyadhus Sholihin, “Duduk dengan bersandar pada tangan kiri disifatkan dengan duduk orang yang dimurkai Allah. Adapun meletakkan kedua tangan di belakang badan lalu bersandar pada keduanya, maka tidaklah masalah. Juga ketika tangan kanan yang jadi sandaran, maka tidak mengapa. Yang dikatakan duduk dimurkai sebagaimana disifati nabi adalah duduk dengan menjadikan tangan kiri di belakang badan dan tangan kiri tadi diletakkan di lantai dan jadi sandaran. Inilah duduk yang dimurkai sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan.”
Sebagian ulama menyatakan bahwa duduk semacam ini dikatakan makruh (tidak haram). Namun hal ini kurang tepat. Syaikh ‘Abdul Al ‘Abbad berkata, “Makruh dapat dimaknakan juga haram. Dan kadang makruh juga berarti makruh tanzih (tidak sampai haram). Akan tetapi dalam hadits disifati duduk semacam ini adalah duduk orang yang dimurkai, maka ini sudah jelas menunjukkan haramnya.” (Syarh Sunan Abi Daud, 28: 49)

Jika ada yang bertanya, logikanya mana, kok sampai duduk seperti ini dilarang? Maka jawabnya, sudah dijelaskan bahwa duduk semacam ini adalah duduk orang yang dimurkai Allah (maghdhub ‘alaihim). Jika sudah disebutkan demikian, maka sikap kita adalah sami’na wa atho’na, kami dengar dan taat. Tidak perlu cari hikmahnya dulu atau berkata ‘why?‘ ‘why?‘, baru diamalkan. Seorang muslim pun tidak boleh sampai berkata, ah seperti itu saja kok masalah. Ingatlah, Allah Ta’ala berfirman,


فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nur: 63). Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan atas dasar hawa nafsunya yang ia utarakan. Allah Ta’ala berfirman,


وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An Najm: 3-4)




Ibnu Katsir berkata, “Khawatirlah dan takutlah bagi siapa saja yang menyelisihi syari’at Rasul secara lahir dan batin karena niscaya ia akan tertimpa fitnah berupa kekufuran, kemunafikan atau perbuatan bid’ah.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 10: 281)
Wallahu waliyyut taufiq.
Referensi: Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 149230


@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 9 Rajab 1433 H
Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!

Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:



لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.


"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."



Lathaiful Ma'arif, hlm. 19




 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :