" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Jumat, 01 Juli 2016

Kesalahan Saat Ucapkan Selamat Idul Fitri





Lebaran tinggal menghitung hari. Umat Islam akan meninggalkan Ramadan dan memasuki hari yang suci. Satu hal yang menjadi ciri khas pada hari raya ini adalah sesama Muslim saling bersalaman dan mengucapkan selamat idul fitri.

Ucapan tersebut berbunyi Minal Aidin Wal Faizin. Makna kalimat ini seolah-olah permohonan maaf lahir dan batin kepada siapa saja ditemui. Rangkaian kata ini begitu familiar dan populer di kalangan masyarakat.

Namun, tidak ada yang pasti tentang kebenaran kalimat ini. Bahkan di negeri Arab sendiri, tidak ada yang mengucapkannya. Rasulullah SAW juga tidak pernah mengucapkannya ketika Idul Fitri. Lantas bagaimana ucapan yang benarnya?

Momentum Hari Raya Idul Fitri dianggap menjadi waktu yang paling tepat untuk saling bermaaf-maafan kepada keluarga, tetangga dan kerabat lainnya. Biasanya pada hari tersebut, yang muda akan mengunjungi yang tua, untuk memohon maaf dan memaafkan.

Dalam bermaaf-maafan tersebut biasanya orang sering mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia, maka kalimat ini memiliki arti “Termasuk orang yang kembali (merayakan hari raya Ied) dan orang-orang yang menang.”.

Bagi masyarakat Indonesia, kalimat ini sudah begitu melekat. Lihat saja bagaimana televisi, iklan di media, atau ucapan dari pejabat di televisi yang mengucapkan kalimat itu. Ternyata Nabi Muhammad SAW justru tidak pernah mengucapkan kalimat ini ketika Idul Fitri.

Namun bukan berarti Nabi tidak pernah mengucapkannya pada hari lain. Beliau mengucapkan kalimat tersebut hanya pada saat menyambut bala tentara yang pulang dari medan perang yang sesungguhnya. Misalnya perang Badar, Thabut dan perang lainnya.

Jubair bin Nufair: “Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bila bertemu pada hari raya, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya : Taqabbalallahu minnaa wa minka (Semoga Allah menerima dari kami dan darimu)”. Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari [2/446] Dalam 'Al Mahamiliyat' dengan Isnad yang Hasan

Muhammad bin Ziyad berkata: “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan selainnya dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka bila kembali dari shalat Ied berkata sebagiannya kepada sebagian yang lain : 'Taqabbalallahu minnaa wa minka” (Ibnu Qudamah dalam “Al-Mughni” (2/259)
Sementara itu, Imam Ahmad menyatakan bahwa ini adalah “Isnad hadits Abu Umamah yang Jayyid/Bagus.

Beliau menambahkan : “Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan selamat bukanlah sunnah yang diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya maka baginya ada contoh dan siapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh, wallahu a’lam.” [Al Jauharun Naqi 3/320. Suyuthi dalam 'Al-Hawi: (1/81) : Isnadnya hasan]

Namun, tentu akan sangat sulit mengubah kebiasaan yang sudah turun temurun ini. Jika hanya untuk mendoakan, kalimat Minal Aidin Wal Faizin sah-sah saja. Namun, jika bertujuan mengikuti apa yang sudah diajarkan Nabi, maka kalimat ini tergolong Bid’ah. Karena sejatinya, Nabi tidak pernah mengajarkan demikian. Wallahu a’lam bish-shawab.

Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :



Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!


Rasulallah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:



لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.


"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."



Lathaiful Ma'arif, hlm. 19




 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :