Peta


Lihat alikhlasmusholaku.top di peta yang lebih besar
" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

Kamis, 30 Juni 2016

BAGAIMANA HUKUM SHALAT TAHIYATUL MASJID DAN SHALAT SUNNAH YANG DILAKUKAN SEBELUM SHALAT MAGHRIB





Oleh


Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz


Pertanyaan


Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz ditanya : Bagaimana hukum shalat tahiyatul masjid setelah adzan maghrib sebelum shalat –sedangkan waktu antara adzan dan iqamah sangat singkat bagaimana pula hukum shalat sunnah sebelum maghrib selain tahiyatul masjid?


Jawabannya.


Tahiyatul masjid adalah sunnah mu’akkadah untuk setiap waktu, bahkan pada waktu yang dilarang (bagi shalat yang lain) sekalipun, demikian menurut pendapat ulama yang paling shahih, karena keumuman hadits Nabi.


إذَا دَخَلَ أَحَدُ كُمُ الْمَسجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ


“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid maka janganlah duduk hingga shalat dua raka’at terlebih dahulu” [Muttafaq Alaihi]


Shalat sunnah antara adzan dan iqamah maghrib hukumnya juga sunnah, karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


صَلُّوْا قَبْلَ اْلمَغْرِبِ …. صَلُّوْا قَبْلَ اْلمَغْرِبِ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ


“Shalatlah sebelum maghrib…shalatlah sebelum maghrib”, kemudian beliau berkata yang ketiga : “Bagi siapa yang menghendaki”[HR Al-Bukhari]


Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika adzan maghrib telah dikumandangkan mereka bersegera untuk shalat dua raka’at sebelum iqamah, ketika itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat mereka dan beliau tidak melarangnya, bahkan memerintahkan seperti hadits yang disebutkan sebelumnya.


[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, Edisi Indonesia Fatawa bin Baaz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At-Tibyan – Solo]


MASUK MASJID ADZAN SEDANG DIKUMANDANGKAN, APA YANG HARUS DILAKUKAN


Pertanyaan.


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apabila seorang masuk masjid dan muadzin sedang mengumandangkan adzan, maka apakah yang harus ia lakukan ?


Jawab.


Hendaknya ia menjawab adzan, kemudian membaca do’a setelah adzan kemudian mengerjakan shalat tahiyatul masjid kecuali sebagian ulama yang mengecualikan.


Siapa yang masuk masjid dan muadzin sedang mengumandangkan adzan kedua (pada hari jum’at), maka ia shalat tahiyatul masjid untuk kemudian mendengarkan khutbah disebabkan karena mendengarkan khutbah adalah wajib sedangkan menjawab adzan bukanlah wajib, menjaga yang wajib lebih utama daripada menjaga yang tidak wajib.


[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Terbitan Pustaka Arafah]


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :




SHALAT TAHIYATUL MASJID, MASUK MASJID ADZAN DIKUMANDANGKAN APA YANG HARUS DILAKUKAN?

SHALAT TAHIYATATUL MASJID[1]

Oleh : Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam

عَنْ أبي قَتَا دَةَ بْنِ رِِبْعِيًّ اْلأنصا ريَّ رضي اللّهُ عَنْهُ قَالَ النَّبيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَمَ إذَا دَخَلَ أَحَدُ كُمُ الْمَسجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rab’y Al-Anshary Radhiyallahu anhu, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : ‘Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua raka’at”.

MAKNA HADITS

Sulaik Al-Ghathafany masuk masjid Nabawi ketika Jum’at, saat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, lalu dia langsung duduk. Beliau menyuruhnya bediri dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau menyatakan bahwa masjid-masjid itu memiliki kesucian dan kehormatan, bahwa ia memiliki hak tahiyat atas orang yang memasukinya. Caranya, dia tidak langsung duduk sebelum shalat dua rakaat.

Karena itulah beliau tidak memberi kesempatan, termasuk pula terhadap orang yang duduk itu untuk mendengarkan khutbah belaiu.

PERBEDAAN PENDAPAT DI KALANGAN ULAMA

Para ulama sering berbeda pendapat tentang pembolehan mengerjakan shalat-shalat yang memiliki sebab-sebab seperti shalat Tahiyatul Masjid, gerhana, jenazah dan qadha’ shalat yang ketinggalan pada waktu-waktu larangan shalat.

Madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali melarangnya, yang didasarkan kepada hadits-hadits pelarangannya, seperti hadits, “Tidak ada shalat sesudah Subuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat sesudah Ashar hingga matahari terbenam”. Begitu pula hadits, “Tiga waktu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang kami shalat di dalamnya”.

Sedangkan As-Syafi’i dan segolongan ulama membolehkannya tanpa hukum makruh. Ini juga merupakan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad serta merupakan pilihan pendapat Ibnu Taimiyah. Mereka berhujjah dalam hadits dalam bab ini dan lain-lainnya yang semisal seperti hadits, ‘Barangsiapa tidur hingga ketinggalan mengerjakan witir atau lupa, hendaklah mengerjakannya selagi mengingatnya’. Begitu pula hadits, ‘Sesungguhnya matahari dan rembulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Jika kalian melihatnya, maka dirikanlah shalat’.

Masing-masing di antara dalil-dalil kedua belah pihak bersifat umum dari satu sisi dan bersifat khusus dari sisi yang lain. Hanya saja pembolehan shalat-shalat yang memiliki sebab-sebab pada waktu-waktu ini merupakan pengamalan terhadap semua dalil-dalil, sehingga masing-masing di antara dalil-dalil itu dapat ditakwili sedemikian rupa. Disamping itu, pembolehan tersebut bisa memperbanyak ibadah yang memiliki sandaran kepada syarat.

Perbedaan pendapat ini sudah pernah disinggung dalam hadits Ibnu Abbas (nomor 52). Namun kami ingin memberi tambahan kejelasan yang diambilkan dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang menyebutkan bahwa dia tidak berkomentar terhadap shalat-shalat yang memiliki sebab-sebab yang didasarkan kepada beberapa dalil yang kemudian diajdikan hujjah oleh orang-orang yang melarangnya. Tapi setelah diteliti lebih lanjut bahwa dalil-dalil itu ada yang dhaif atau tidak mengarah, seperti sabda beliau. ‘Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid, janganlah dia duduk sehingga shalat dua rakaat’. Sabda beliau ini bersifat umum dan tidak ada kekhususan di dalamnya, karena itu merupakan hujjah menurut kesepakat salaf.

Telah disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh orang yang masuk masjid mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, ketika beliau sedang berkhutbah. Adapun hadits Ibnu Umar, ‘Janganlah kalian mendekatkan shalat kalian dengan terbit dan terbenamnya matahari’. Hal ini berlaku untuk shalat tatawu’ secara tak terbatas. Telah disebutkan pembolehan shalat-shalat yang memiliki sebab berdasarkan nash, seperti dua rakaat thawaf. Sebagian lagi dengan nash dan ijma’, seperti shalat jenazah setelah Ashar. Jika dilihat dari sisi pembolehan, maka tidak ada alasan kecuali keberadaan shalat itu yang memiliki sebab. Syariat telah menetapkan bahwa shalat dikerjakan sebisanya, ketika ada kekhawatiran akan habis waktunya, jika memungkinkan pelaksanaannya setelah waktunya dengan cara yang sempurna, begitu pula shalat-shalat tathawu’ yang memiliki sebab.

KESIMPULAN HADITS : 

1. Pensyariatan Tahiyatul Masjid bagi orang yang memasukinya. Shalat ini wajib menurut golongan Zhahiriyah karena berdasarkan kepada zhahir hadits. Menurut pendapat jumhur, shalat ini sunat.

2. Shalat ini disyariatkan bagi orang yang memasuki masjid kapanpun waktunya, meskipun pada waktu larangan shalat, karena keumuman hadits. Telah disebutkan dibagian atas pendapat lain tentang hal ini.

3. Sunat wudhu bagi orang yang memasuki masjid, agar dia tidak ketinggalan mengerjakan shalat yang diperintahkan ini.

4. Para ulama membatasi Masjidil Haram, bahwa tahiyatnya adalah thawaf. Tapi bagi orang yang tidak berniat thawaf atau dia kesulitan mengerjakannya, maka tidak seharusnya dia meninggalkan shalat ini, yang berarti dia shalat dua rakaat

[Disalin dari kitab Taisirul-Allam Syarh Umdatul Ahkam, Edisi Indonesia Syarah Hadits Pilihan Bukhari Muslim, Pengarang Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam, Penerbit Darul Fallah]
_______

Footnote

[1]. Di bab ini pengarang menyebutkan beberapa jenis amal shalat. Kami melihat ada baiknya jika kami memuat satu bab tersendiri dari jenis-jenis itu untuk menjelaskan maksudnya dan mengisyaratkan makna yang dikehendaki. Karena itu kami mendahulukan hadits Anas yang sujud di atas kain selimut karena udara panas, agar berdampingan dengan hadits Abu Hurairah, Jika panas menyengat, maka dinginkan shalat dan seterusnya, karena ada kesesuaian antara keduanya. Sementara pengarang memisahkan antara keduanya dengan menyebutkan dua hadits yang tidak sesuai dengan keduanya.

Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :


Bolehkah Shalat Tahiyatul Masjid Di Waktu Terlarang



Seperti kita ketahui bersama bahwa ada waktu-waktu terlarang untuk shalat. Ada 5 waktu yang dimaksudkan yaitu [1] sesudah shalat shubuh sampai matahari terbit, [2] ketika matahari terbit hingga setinggi tombak, [3] ketika matahari berada di atas kepala hingga tergelincir ke barat, [4] sesudah shalat Ashar sampai matahari menguning, dan [5] ketika matahari menguning sampai matahari tenggelam sempurna. Inilah waktu-waktu terlarang untuk shalat sebagaimana dijelaskan para ulama berlandaskan pada hadits-hadits yang shohih. Namun yang jadi pertanyaan adalah bagaimana jika kita masuk masjid pada waktu terlarang tadi, apakah kita boleh mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid? Berikut penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya.
Pertanyaan: Jika seseorang masuk masjid pada waktu terlarang untuk shalat, bolehkan dia mengerajakan shalat sunnah tahiyatul masjid?
Jawaban:
Alhamdulillah. Mengenai permasalahan ini ada dua pendapat di antara para ulama. Pendapat pertama adalah salah satu pendapat dari Imam Ahmad, juga pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Menurut mereka tidak boleh shalat sunnah tahiyatul masjid ketika itu.
Sedangkan pendapat kedua adalah pendapat Imam Asy Syafi’i. Menurut beliau rahimahullah boleh shalat sunnah tahiyatul masjid ketika waktu terlarang tersebut. Inilah pendapat yang lebih tepat. Landasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 1687)
Perintah dalam hadits ini adalah umum untuk semua waktu dan tidak diketahui adanya pengkhususan larangan dalam hadits ini. Adapun yang dimaksud dengan larangan shalat setelah terbit fajar, ketika tenggelamnya matahari, maka hadits larangan tersebut dikecualikan untuk beberapa keadaan. Di antaranya adalah ketika ingin mengqodho shalat yang terluput, atau ingin menunaikan shalat dua raka’at thawaf, …. Perlu diketahui bahwa dalil umum yang tidak ada pengkhususan (‘aam mahfuzh) lebih kita dahulukan daripada dalil umum yang ada pengkhususan (‘aam makhsush).
Walaupun shalat ketika khutbah Jum’at adalah suatu yang terlarang terlarang -sebagaimana larangan shalat dalam dua waktu terlarang tadi atau larangannya lebih ditekankan lagi-, namun telah terdapat hadits shohih di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ وَالْخَطِيبُ عَلَى الْمِنْبَرِ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid dan khotib sedang berkhutbah di mimbar, maka janganlah kalian duduk sampai kalian menunaikan shalat sunnah dua raka’at.”
Apabila dalam waktu khutbah semacam ini diperintahkan untuk melaksanakan shalat sunnah tahiyatul masjid dan ketika itu adalah waktu terlarang untuk shalat, maka untuk waktu lainnya (yaitu termasuk waktu terlarang) lebih-lebih diperbolehkan untuk  mengerjakan shalat sunnah ini.
Pendapat Imam Ahmad dalam masalah ini tidaklah menyelisihi karena terdapat hadits yang shohih mengenai masalah ini. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik dalam permasalahan ini, mereka melarang shalat tahiyatul masjid ketika waktu terlarang tersebut. Ini terjadi mungkin karena belum mendapatkan hadits shohih di atas. Wallahu a’lam.

Kesimpulannya adalah boleh kita mengerjakan shalat sunnah tahiyatul masjid pada waktu terlarang untuk shalat seperti sesudah shalat Ashar atau sesudah shalat shubuh.
Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.
Rujukan: Majmu’ Fatawa, 5/311, Asy Syamilah

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Rasulallah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!



 
 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.blogspot.com #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :



Keutamaan Shalat Sunnah di Rumah





Lebih utama mengerjakan shalat sunnah di rumah. Yang demikian itu, karena mengerjakan shalat sunnah di rumah lebih tinggi derajatnya, lebih besar pahalanya, lebih terhindar dari riya’ dan lebih sesuai dengan sunnah penutup para nabi. Banyak sekali dalil yang menerangkan hal itu, baik dari perbuatan atau pun dari perkataan beliau.

Di antaranya adalah hadist yang diriwayatkab oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahi ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Shalatlah di rumah-rumah kalian dan jangan jadikan ia sebagai kuburan!”[1]


Maknanya, kerjakanlah shalat di dalam rumah dan jangan kalian jadikan seperti kuburan yang tidak pernah dipakai untuk mengerjakan shalat. Dan yang dimaksud disini adalah shalat sunnah.[2]

Hadist di atas diperjelas oleh hadist yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu berikut ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian telah menyelesaikan shalat masjidnya, hendaklah dia menjadikan bagian dari shalatnya untuk dirumahnya. Sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan dari shalatnya untuk rumahnya.”[3]

Imam An-Nasa’i dengan sanad yang baik meriwayatkan dari Zaid binTsabit radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, shalatlah di rumah-rumah kalian. Sesungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah di rumahnya, kecuali shalat fardhu.”[4]

Bahkan ada kabar bahwa shalat sunnah di rumah lebih utama daripada shalat di masjid Nabawi! Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat salah seorang dari kalian di rumahnya lebih utama daripada shalat di masjidku ini, kecuali shalat fardhu.” [5]Al-Iraqi menyatakan bahwa sanadnya shahih.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang shalat di rumah dan shalat di masjid. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Tentang shalat di rumah dan shalat di masjid, sungguh kamu telah melihat kedekatan rumahku dengan masjid. Dan mengerjakan shalat di rumahku lebih aku sukai daripada mengerjakan shalat di masjid, kecuali shalat fardhu.”[6]

Ada juga hadist yang menerangkan bahwa shalat sunnah di rumah sama nilainya dengan mengerjakan shalat fardhu di masjid. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dengan sanad yang baik dari salah seorang sahabat bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Keutamaan shalat salah seorang dari kalian di rumahnya dibandingkian shalatnya yang dilihat oleh orang-orang seperti keutamaan shalat fardhu dibandingkan shalat sunnah.”[7]

Shuhaib meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat sunnah seseorang yang tidak dilihat oleh orang-orang menyamao 25 kali lipat shalatnya di depan banyak orang.”[8]

Imam An-Nawawi menulis, “Hanya sanya Nabi menganjurkan shalat sunnah di rumah karena dengan begitu tidak ada yang melihat, lebih terhindar dari riya’ dan lebih terjaga dari pembatal amal. Juga supaya rumah menjadi penuh berkah, turun di sana rahmat dan para malaikat, serta membuat setan lari terbirit-birit.” Selain dari itu juga supaya dia diteladani oleh keluarganya yang tidak mengerjakan shalat di masjid, dan masih banyak lagi hikmah yang hanya diketahui oleh Allah Subhana wa Ta’ala. Semua tercakup dalam hadist yang diriwayatkan imam Muslim, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan dari shalatnya untuk rumahnya.” 

Sumber: Sulitkah Shalat Subuh Tepat Waktu? oleh Samir Al-Qarny bin Muhammad
Muslim hadist no. 777 dan Al-Bukhari hadist no. 432
Catatan pinggir Shahih Muslim 1/ 538
Muslim hadist no. 778
Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam shahihnya. Demikian disebutkan di dalam At-Targhib 1/280 dan Shahih Sunan An-Nasa’i hadist no. 1508.
Shahih Jami’ Shaghir hadist no. 3814. Shahih Sunan Abu Dawud hadist no. 1044 dan Shahih At-Targhib wat Tarhib hadist no. 441
Abu Dawud dan Ibnu Majah, sanadnya baik. Al-Hafizh Bushairi di dalam Zawaidu Ibni Majah berkata, “Isnadnya shahih, para periwayatnya orang-orang yang tsiqqah.” Lihat: Al-Fath Ar-Rabbani Syarth Al-Musnad 4/192.
At-Targhib wat Tarhib, Al-Hafiz Al-Mundziri 1/280
Shahih Jami’ Ash-Shaghir hadist no. 3831.

Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!

Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:



لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.


"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."



Lathaiful Ma'arif, hlm. 19




 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :