" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 19 Maret 2016

TERSERANG PENYAKIT TINGGI HATI, SEGERA OBATI DENGAN CARA INI



Pada dasarnya setiap manusia memiliki hati yang bersih dan suci. Namun, yang membuat hati itu menjadi kotor dan berubah menjadi hitam akibat ulah diri kita sendiri yang tidak mau mematuhi perintah Allah SWT. Salah penyakit yang menyerang hati ialah tinggi hati. Di mana sifat itu termasuk dalam kategori tercela, hingga membuat hati mati rasa. Oleh sebab itu, kita harus segera mengobatinya. Bagaimana caranya?


Mengobati hati dari penyakit tinggi hati bisa dilakukan dengan dua cara, yakni muhasabah (intropeksi diri) dan menyelisihi sifat tinggi hati.


Muhasabah dalam hal ini ada dua macam.


Pertama, muhasabah sebelum bertaubat. Seperti halnya,


1. Apakah perbuatan ini mampu ia lakukan?


2. Apakah melakukan perbuatan ini lebih baik baginya daripada meningglkannya?


3. Apakah perbuatan tersebut ditujukan untuk mencari ridha Allah?



4. Apakah perbuatan ini memerlukan pendukung, dan apakah ia sudah memiliki pendukung yang akan menolongnya? Jika jawabannya ‘ada’, maka laksanakan. Namun, jika jawabannya ‘tidak ada’, maka jangan mencobanya.



Kedua, muhasabah setelah berbuat. Seperti halnya,


1. Muhasabah diri atas ketaatan yang di dalamnya ia mungkin mengurangi hak-hak Allah dan tidak menjalankannya sesuai dengan yang dituntut. Di antara hak-hak Allah ialah ikhlas, saling menasihati, mengikuti tuntunan Rasul, memerhatikan petunjuk-petunjuk kebaikan, memerhatikan nikmat-nikmat Allah, serta memerhatikan sikap kelalaian sesudah itu semua.


2. Muhasabah diri atas setiap amalan yang meninggalkannya lebih baik baginya daripada mengerjakannya.


3. Muhasabah diri atas perkara-perkara mubah atau yang biasa dilakukan yang tidak dikerjakan; apakah perkara tersebut ditinggalkan karena mencari ridha Allah dan kebahagiaan negeri akhirat sehingga ia beruntung, ataukah hanya mencari keuntungan dunia sehingga ia merugi.


Jadi, hendaknya yang pertama kali kita lakukan adalah muhasabah diri atas perkara-perkara fardhu (wajib), lalu melengkapinya jika masih kurang. Setelah itu, melakukan muhasabah atas perkara-perkara yang dilarang. Jika diketahui bahwa perkara-perkara yang dilarang masih sering diterjang, hendaklah segera disusul dengan bertaubat dan beristighfar. Setelah itu, muhasabah diri atas amalan-amalan yang telah dilakukan anggota badan dan juga atas kelalaian diri.



Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :



Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!


Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:



لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.


"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."



Lathaiful Ma'arif, hlm. 19




 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :