" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Kamis, 11 Februari 2016

Cara Lengkap Menyelenggarakan Jenazah Sesuai Sunnah






Seiring perkembangan zaman, banyak tata cara penyelenggaraan mayit, mulai dari sekaratul maut hingga menziarahi kuburan, berbenturan dengan Syari'at Agama Islam yang diajarkan oleh Rasulallah. Seperti dalam memandkan mayit, menguburkan, hingga melakukan ta'ziah ke rumah duka, kini sudah berubah total.

Seperti apa sebenarnya tata cara menyelenggarakan jenazah, mulai dari mendampingi dari sekaratul maut hingga menziarahi kuburan sesuai yang diajarkan Nabi kita? Berikut redaksi memuat cara lengkap penyelenggaraan jenazah yang sesuai dengan sunnah.

Dimulai dari sakit: "Orang yang sakit wajib menerima ketentuan Allah Ta'ala dan bersabar terhadap takdirnya serta berbaik sangka kepada Rob-nya,karena itu lebih baik baginya". (HR. Muslim, Al-Baihaqi: Ahkamul janaiz: 11)

"Sepantasnya dia berada diantara rasa takut dan harap, takut atas siksa Allah atas dosa-dosanya dan mengharap rahmat Allah Ta'ala". (HR.Tirmidzi: Ahkamul Janaiz: 11).

Bagaimanapun parah sakitnya maka tidak boleh mengharap kematian, jika dia terpaksa maka hendaklah dia mengucapkan do'a: "Ya Allah hidupkanlah aku jika memang baik bagiku, dan matikanlah aku jika memang itu baik bagiku". (HR. Bhukhori-Muslim)

"Jika dia memiliki tanggungan-tanggungan maka hendaklah dia segera menunaikan kepada pemilik-pemiliknya". (HR. Bukhori dan Al-Baihaqi)

"Jika tidak maka hendaklah dia mewasiatkan hal tersebut kepada orang lain". (HR. Bukhori)

Dalam Hadits lain: "Dianjurkan untuk segera membuat wasiat". (HR. Bukhori-Muslim)

Sebelum Kematian (Saat Sakaratul Maut)

Jika sakaratul maut mendatangi seseorang, maka orang-orang yang ada di sisinya wajib melakukan hal-hal berikut:

1. Hendaknya mereka mengajari syahadat "laa ilaaha illallah" (mentalqinkannya). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tuntunkalah (talkinkan) orang yang hendak meninggal diantara kalian "laa ilaaha illallah" (HR.Muslim).

Ini dilakukan agar orang ini mengakhiri hidupnya dengan mengucapkan "laa ilaaha illallah".

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Barang siapa yang akhir perkataannya (mengucapkan) "laa ilaaha illallah", Dia masuk surga" (HR. Abu Dawud; Shahih Abu Dawud; 2673)

2. Hendaklah mendo'akan kebaikan untuknya dan tidak berkata-kata di dekatnya kecuali kebaikan". (HR. Muslim-Baihaqi).

"Adapun membacakan surat yasin dan menghadapkan wajah orang yang hendak meninggal ke arah kiblat, maka haditsnya tidak shahih dan tidak boleh diamalkan". (Ahkamul janaiz: 20).

Seorang muslim tidak mengapa menghadiri orang kafir yang akan meninggal untuk menawarkan Islam kepadanya dengan harapan dia masuk Islam di akhir hidupnya.

Sebagaimana seperti hadits riwayat Bukhori: "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah menjenguk seorang anak yahudi yang akan meninggal kemudian baliau shallallahu 'alaihi wasallam menawarkan Islam kepadanya dan akhirnya anak tersebut masuk Islam" (HR, Bhukhori).

Saat Setelah Kematian

Jika seseorang telah meninggal dan ruh telah keluar maka orang yang hadir wajib melakukan hal-hal berikut:

1. Memejamkan kedua mata jenazah (HR. Muslim). Ketika beliau Shalallahu 'Alaihi wa Sallam menemui Abu Salamah yang terbelalak matanya, lalu beliau pejamkan kedua mata Abu Salamah seraya berkata: "Sesungguhnya jika ruh itu telah dicabut, maka pandangan akan mengikutinya" (HR. Muslim).

2. Mendo'akan kebaikan untuknya. (HR. Muslim).

3. Menutupi seluruh tubuhnya dengan kain (HR. Bukhori-Muslim) jika dia bukan orang yang sedang melakukan ihrom, haji, maupun umroh. Namun "Bagi orang yang malakukan ihrom, maka kepala dan wajahnya tidak ditutupi". (HR. Bukhori-Muslim).

4. Jika telah yakin akan wafatnya, "Bersegera mengurus dan mengeluarkannya untuk segera dikuburkan". (HR. Bukhori-Muslim).

5. Menguburkannya di daerah tempat dia meninggal. (HR. Ahmad: Ahkamul Janiaz:25). Tidak boleh memindahkan ke tempat lain karena hal ini bertentangan dengan perintah menyegerakan pengurusan jenazah. (Ahkamul Janaiz: 24).

6. Hendaknya sebagian mereka (yang masih hidup) membayarkan hutang-hutangnya yang diambil dari hartanya, walaupun menghabiskan seluruhnya. (HR. Ahmad-Ibnu Majah). Jika dia tidak mampu, maka Negara yang membayar hutang-hutangnya (Ahkamul janaiz: 25). Orang-orang yang hadir juga boleh menanggung hutang-hutangnya, sebagaimana sahabat Abu Qotadah pernah menanggung hutang sahabat lain yang telah meninggal. (HR. Hakim-Baihaqi: Ahkaml Janaiz: 27).

Yang Boleh Dilakukan Oleh Kerabat dan Pelayat

Mereka boleh membuka wajah mayat dan menciumnya, serta boleh menangisinya (selama 3 hari) dengan tanpa meratap. (HR. Bukhori).

Dan menangisi mayat (tanpa meratap) hanya diperbolehkan 3 hari, tidak boleh lebih. (HR. Abu Dawud, Nasa'i: Shahih Sunan Nasa'i 3/329).

Ketika kabar kematian sampai kepada karib kerabat, mereka wajib melakukan dua hal:

1. Wajib bersabar dan menerima takdir dan ketentuan Allah Ta'ala. (Al-Baqoroh: 155-156). Sabar itu hanyalah pada hentakan yang pertama. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya kesabaran itu ada pada hentakan (goncangan) yang pertama" (HR. Bukhori, Muslim).

Maksudnya: "Sabar yang diganjar pahala adanya keteguhan hati ketika ada hal-hal yang menyedihkan datang dan inilah sabar yang terpuji yaitu sabar yang langsung mengiringi datangnya masalah." (Fathul Baari, Kitab Janaiz, Bab Ziarah Kubur).

Dan bagi "seorang wanita yang ditinggal mati oleh dua (atau lebih) anaknya dan dia bersabar, maka hal itu akan melindunginya dari api neraka." (HR. Bukhori, Muslim).

2. Istirja' yaitu mengucapkan "Innalillahi wainnailaihi roji'un" (Al-Baqoroh: 156), kemudian disunnahkan untuk berdo'a: "Ya Allah berikanlah aku pahala atas musibah ini dan gantikanlah bagiku dengan yang lebih baik". (HR. Muslim).

Dan do'a ini pernah dibaca oleh Ummu Salamah rodhiyallahu 'anha tatkala suaminya (Abu Salamah) wafat, kemudian Allah Ta'ala mengabulkan do'a beliau dengan menjadikan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam sebagai suami beliau.(HR. Muslim).

Yang Tidak Boleh (Haram) Dilakukan Pada Saat Kematian

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam telah mengharamkan beberapa perkara jika ada seseorang yang telah meninggal dunia, namun disayangkan sekali sebagian orang masih tetap melakukannya. Maka oleh sebab itu wajib mengetahuinya untuk menghindarinya.

Hal-hal yang diharamkan itu adalah:

1. Meratap (Niyahah), yaitu lebih dari sekedar menagis. Misalnya berteriak-teriak, menampar wajah, merobok baju dan lainnya. Dan meratap adalah dosa besar yang diancam oleh beliau Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam: "Wanita yang meratap, jika tidak bertobat sebelum kematiannya, akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan memakai pakaian dari cairan ter (aspal) dan gaun dari kudis" (HR. Muslim).

Termasuk niyahah adalah menyebut jasa-jasa kebaikan mayat dengan penuh kesedihan dan penyesalan. (Syarah Masail Jahiliyah: 243-Masalah: 40)

Demikian juga menampar-nampar pipi dan merobek-robek baju. (HR. Bukhori, Muslim). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah bersabda: "Bukan termasuk golongan kami yang menampar-nampar pipi, merobek-robek baju, dan berteriak dengan teriakan jahiliyah." (HR. Bukhori, Muslim).

2. Mengurai rambut, yaitu mengacak-ngacak rambut dan membentangkannya. (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 43). Demikian pula mencukur rambut karena musibah. (HR. Bukhori, Muslim).

Abu Musa Al-Asy'ari Rodhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Sesungguhnya Rasululloh berlepas diri dari ash-sholiqoh (menangis menjerit-jerit), al-haliqoh (mencukur ramut), asy-syaqqoh (merobek-robek bajunya)" (HR. Bukhori, Muslim).

Adapun meminta orang-orang untuk mengirimkan bacaan Al-Fatihah kepada mayat, maka ini merupakan perkara bid'ah atau mengada-ada dalam agama Islam, dan hal ini dilarang, karena tidak ada contohnya dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabat Rodhiyallahu 'anhum.

Memberitakan Kematian

Boleh memberitakan kematian jika tidak menyerupai cara jahiliyah. Dan terkadang hukumnya wajib jika tidak ada di dekatnya orang-orang yang melaksanakan hak mayat berupa memandikan, mengkafani, menyolatkan, dan semacamnya. (Ahkamul Janaiz: 45).

Orang yang memberitakan kematian boleh meminta orang-orang untuk meminta ampun bagi mayat. (HR. Ahmad).

Tanda-tanda Husnul Khotimah

Telah shahih dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa beliau menyebutkan dari tanda-tanda nyata yang dijadikan petunjuk sebagai husnul khotimah bagi seseorang -semoga Allah menjadikan kita sebagai seseorang yang mati dalam keadaan husnul khotimah-. Maka siapa saja yang mati dengan salah satu dari tanda-tanda berikut ini, hal itu merupakan kabar gembira baginya.

Tanda-tanda husnul khotimah yaitu:

1. Mengucapkan "Laa ilaha illallah" ketika akan meninggal. (HR. Bukhori, Ahmad, Ibnu Majah).
2. Mati dengan keringat di dahi. (HR. Ahmad, An-Nasa'i, Hakim).
3. Mati pada malam Jum'at atau siangnya. (HR. Ahmad, Tirmidzi).
4. Mati syahid atau terbunuh di medan perang. (HR. Ahmad, Tirmidzi).
5. Mati di jalan Allah. (HR. Muslim, Ahmad).
6. Mati karena penyakit radang selaput dada. (HR. Ahmad, Abu Dawud).
7. Mati karena wabah penyakit tho'un. (HR. Bukhori, Ahmad).
8. Mati karena sakit perut. (HR. Muslim, Ahmad).
9. Mati karena tenggelam. (HR. Bukhori, Muslim).
10. Mati karena keruntuhan. (HR. Bukhori, Muslim).
11. Kematian wanita dalam kehamilannya dengan sebab anaknya. (HR. Ahmad, Ad-Darimi).
12. Mati karena penyakit TBC. (HR. Thobroni).
13. Mati dalam membela agama atau nyawa. (HR. Ahmad, Abu Dawud).
14. Mati dalam membela harta yang akan dirampas. (HR. Bukhori, Muslim).
15. Mati dalam keadaan berjaga di jalan Allah Ta'ala. (HR. Muslim, An-Nasa'i).
16. Mati tatkala beramal shalih. (HR. Ahmad).
17. Mati karena terbakar. (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i) (Ahkamul Janaiz: 48-59).

Pujian Terhadap Jenazah

Pujian kebaikan terhadap mayat dari kalangan kaum muslimin, paling sedikit 2 orang diantara tetangganya dari kalangan orang shalih dan berilmu akan menyebabkan surga baginya. (Ahkamul Janaiz: 60).

Dari Anas bin Malik:

"Pada suatu ketika lewatlah jenazah seorang muslim di depan para sahabat lalu mereka memuji sambil menyebut kebaikan-kebaikannya, lantas Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "wajib", kemudian lewatlah jenazah yang lain, maka para sahabat mencelanya sambil menyebutkan keburukan-keburukannya. Lantas Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "wajib" Lantas Umar bin Khotob mengatakan: "Ya Rasulullah, apa maksud ucapan 'wajib'?. Lalu Beliau-pun bersabda: "Jenazah pertama yang kalian sebut kebaikanya maka baginya surga, dan jenazah kedua yang kalian sebut keburukan maka baginya neraka, kalian adalah saksi Allah di muka bumi.

Jika kematian seseorang bersamaan dengan gerhana matahari atau bulan, hal itu TIDAK menunjukan apapun juga. Keyakinan bahwa hal itu menunjukan keagungan orang yang mati, termasuk khurofat jahiliyyah yang batil. (Ahkamul Janaiz: 63).

Memandikan Jenazah

Dalam memandikan mayat, perhatikan hal-hal berikut ini:

1. Memulai tempat-tempat kanan dan tempat-tempat wudhu. (Ahkamul Janaiz: 65). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Mulailah dari bagian-bagian sebelah kanannya dan anggota-anggota badan yang biasa dibasuh anggota wudhu." (HR. Bukhori, Muslim).

2. Memandikannya (sebanyak) 3, 5 atau 7 kali atau lebih dari itu sesuai dengan yang diperlukan dan dengan bilangan yang ganjil. (Ahkamul Janaiz: 64). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Mandikanlah tiga kali, lima kali, tujuh kali, atau lebih dari itu jika kalian memandang perlu." (HR. Bukhori, Muslim).

3. Sebagian air (pemandian) dicampur dengan daun sidr/bidara, atau yang bisa menggantikannya dalam membersihkan (SABUN atau SHAMPO dapat digunakan sebagai pengganti daun sidr)." (Ahkamul Janaiz: 64). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "(Mandikanlah) dengan air dan (dicampur) daun bidara." (HR. Bukhori, Muslim).

4. Pintalan rambut dibuka (untuk wanita) dan rambut dicuci dengan baik. "(HR. Bukhori, Muslim).

5. Menyisir rambut. (HR. Bukhori, Muslim).

6. Rambut wanita dipintal menjadi 3 dan diletakan di belakang (kepalanya). (HR. Bukhori, Muslim: Ahkamul Janaiz: 65).

7. Memandikan dengan secarik kain, atau semacamnya (seperti kaus tangan, lap, atau semisalnya di bawah kain penutup badannya setelah pakaiannya dilepaskan. (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 66). Kain penutup laki-laki mulai dari bagian pusar sampai lutut. Adapun untuk wanita mulai dari bagian dada, pusar, sampai lutut. Jika suami memandikan istri atau istri memandikan suami, maka tidak perlu menggunakan kain penutup karena tidak ada batasan aurat bagi mereka berdua.

8. Akhir pemandian dicampur sesuatu yang wangi seperti kamper (kapur barus), dan ini yang terbaik. (Ahkamul Janaiz: 65). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Dan jadikanlah siraman terakhir dengan air yang dicampur kapur barus atau sedikit dari kapur barus". (HR. Bukhuri, Muslim). "...kecuali orang yang meninggal ketika ihrom maka tidak boleh diberi wewangian." (HR. Bukhori, Muslim: Ahkamul Janaiz: 66).

9. Laki-laki dimandikan oleh laki-laki dan wanita dimandikan oleh wanita. (Ahkamul Janaiz: 65). "....terkecuali suami istri keduanya boleh saling memandikan karena tidak ada dalil yang melarangnya, bahkan hal tersebut dijelaskan dalam sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. (Ahkamul Janaiz: 67).

10. Yang memandikan hendaknya yang paling tahu tentang sunnah memandikan, apalagi dari keluarga atau kerabatnya. (Ahkamul Janaiz: 68).

11. Orang yang memandikan akan mendapatkan pahala yang besar dengan 2 syarat: Pertama: Dia menutupi cacat (mayat) dan tidak menceritakan perkara yang dibencinya yang dia lihat ketika memandikan mayat. (HR. Hakim, Baihaqi). Kedua: Hal itu dia lakukan ikhlas karena Allah Ta'ala, tidak mencari balasan dan terima kasih, atau perkara-perkara duniawi lainnya. (Ahkamul Janaiz: 69).

12. Bagi orang yang memandikan mayat disunnahkan untuk mandi. (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 71), akan tetapi tidak diwajibkan.

13. Tidak disyari'atkan memandikan (jenazah) orang yang mati syahid (HR. Bukhori), walaupun saat itu diketahui dia berada dalam keadaan junub.

14. Kaum laki-laki ataupun wanita boleh memandikan anak laki-laki ataupun perempuan yang berusia dibawah 7 tahun sebab tidak ada batasan aurat bagi mereka. (Sholat Jenazah: Syaikh Jibrin: 12).

15. Apabila seorang laki-laki wafat diantara kaum wanita (tanpa ada seorang lelaki muslim diantara mereka), atau sebaliknya, jika seorang wanita wafat diantara kaum pria maka jenazahnya tidak perlu dimandikan, cukup ditayamumkan. (Sholat Jenazah, Syaikh Al-Jibrin: 12-13).

16. Janin yang gugur, bila telah mencapai usia 4 bulan dalam kandungan maka, jenazahnya dimandikan, disholatkan dan diberi nama baginya. (Sholat Jenazah, Syaikh Al-Jibrin: 24). Ini berdasarkan hadits riwayat Muslim yang menerangkan bahwasannya bayi yang berusia 4 bulan (120 hari) dalam kandungan ibunya, maka ruh manusia akan ditiupkan. Adapun sebelum 4 bulan maka ia hanyalah sekerat daging, boleh dikuburkan dimana saja tanpa harus dimandikan dan disholatkan. (Sholat Jenazah, Syaikh Al-Jibrin: 25-26).

17. Jika terdapat halangan untuk memandikan jenazah, misalnya tidak ada air atau kondisi jenazah sudah tercabik-cabik atau gosong, maka cukup ditayamumkan saja. (Sholat Jenazah, Syaikh Al-Jibrin: 26). Yaitu salah seorang diantara hadirin menepuk tanah dengan kedua tangannya lalu mengusapkannya pada wajah dan kedua punggung telapak tangan si mayat.

Tata Cara Memandikan Jenazah

Inilah tata cara memandikaan jenazah yang telah diajarkan oleh Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam:

1. Mewudhukan jenazah tersebut sebagaimana biasanya kita berwudhu untuk mengerjakan sholat yaitu: Membaca BASMALAH. Mencuci kedua telapak tangan si mayat sebanyak tiga kali, Kemudian membersihkan mulut dan hidungnya sebanyak tiga kali, Membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, Mencuci tangan kanan dan kirinya sampai siku sebanyak tiga kali, Mengusap kepalanya dimulai dari pangkal depan kepala sampai kebelakang, kemudian mengembalikannya ke depan, serta mengusap kedua telinganya. Lalu mencuci kaki kanan dan kaki kirinya sebanyak tiga kali,

2. Menyiramkan air yang dicampur perasan daun bidara atau yang menggantikan daun bidara, seperti sabun, sampo, dan yang lainnya. Kita menyiramkan kepala si mayat dengan air tersebut sambil membasuh dengan busanya.

3. Membasuh kedua sisi tubuh simayat dimulai: Membasuh bagian kanan tubuh si mayat dimulai dari pundak sampai telapak kaki kanan dengan membalikan tubuhnya ke sebelah kiri, Membasuh bagian kiri tubuh si mayat dimulai dari pundak sampai telapak kaki kiri dengan membalikan tubuhnya kekanan, ini adalah pembasuhan sebanyak sekali, Kemudian kita mengulangi pembasuhan sekali lagi dengan alas dan aurat mayat harus tetap tertutup, Jika kita hendak menjadikan pembasuhan sebanyak tiga kali maka pada siraman terakhir kita siramkan air kapur barus. Pada siraman ketiga ini kita siramkan kepala si mayat dengan air kapur barus, kewajahnya, kemudian kita membasuh bagian tubuh sebelah kanan si mayat dari pundak sampai telapak kaki kanan dengan membalikan tubuhnya kesebelah kiri, Kemudian membasuh bagian tubuh sebelah kiri si mayat dari pundak sampai ke telapak kaki kiri dengan membalikan tubuhnya kesebelah kanan dengan catatan aurat mayat harus tetap tertutup.

4. Setelah itu tubuh si mayat dikeringkan dengan handuk, kemudian rambutnya (untuk wanita) dikepang menjadi tiga dan diletakan dibelakang tubuhnya. Setelah selesai memandikan mayat, maka wajib mengkafaninya.

Mengkafani Mayat

Kafan atau harganya (uang kafan) wajib diambil dari harta si mayat walaupun menghabiskannya. (HR. Bukhori, Muslim: Ahkamul Janaiz: 86).

Sebaiknya kafan itu menutupi seluruh badannya. (HR. Muslim: Ahkamul Janaiz: 88).

Jika tidak mudah mendapatkan kafan yang menutupi seluruh badannya, maka kepala dan badannya yang panjang ditutupi dengan kain kafan dan badannya yang masih terbuka ditutup dengan idzkhir (sejenis rumput yang bau harumnya) atau rumput jerami lainnya. (HR. Bukhori, Muslim: Ahkamul Janaiz: 78).

Disukai dalam kafan beberapa perkara: Disukai kain kafan berwarna putih. (Ahkamul Janaiz: 82). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Pakaikanlah pakaian kalian yang putih, karena ia sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah (mayat) dengannya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi: Ahkamul Janaiz: 82).

Hendaknya kain kafan terdiri dari tiga lapis kain. (HR. Bukhori, Muslim: Ahkamul Janaiz: 82). Salah satu dari tiga kain tersebut adalah kain yang bergaris. (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 83). "Jika salah seorang dari kalian wafat dan berkemampuan hendaklah ia dikafani dengan kain yang bergaris". (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 83).

Jika tidak memungkinkan, maka tidak mengapa memakai kain putih semua (tanpa kain bergaris).

4. Tidak boleh berlebihan dalam kafan dan melebihkannya di atas tiga lembar, karena hal ini menyelisihi kafan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dan termaasuk menyi-nyiakan harta. (Ahkamul Janaiz: 84).

Kafan wanita sama dengan kafan laki-laki, karena tidak ada dalil shahih yang membedakannya.

Berkaitan dengan tata cara mengkafani, baik itu tata cara membungkus jenazah dengan kafan ataupun tata cara mengikat kain kafan, maka tidak ada dalil yang mengkhususkan tata cara pelaksanaannya. Selama seluruh tubuh mayat tertutupi oleh kain kafan dengan baik, insya Allah itu sudah cukup. Wallahu a'lam.

Sholat Jenazah

Menyolatkan Jenazah kaum Muslimin hukumnya FARDHU KIFAYAH. (Ahkamul Janaiz: 103, Al-Wajiz: 166). Dua orang yang boleh disholatkan akan tetapi hukumnya tidak wajib:

1. Anak kecil yang belum baligh.

Sebagaimana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam tidak menyolatkan Ibrohim (anak beliau) yang meninggal pada usia 18 bulan. (HR. Ahmad, Abu Dawud). Demikian juga bayi yang keguguran, adapun jika gugur dalam umur sebelum 4 bulan, maka tidak disyari'atkan untuk disholatkan.

2. Orang yang mati Syahid.

Sebagaimana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dan para Sahabat Rodhiyallahu 'Anhum tidak menyolatkan para Syuhada yang gugur di perang Uhud. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi).

Dan juga tidak disyari'atkan untuk menyolatkan kaum Muslimin yang:

1. Terbunuh di dalam Had.

2. Durhaka, terjerumus dalam kemaksiatan dan hal-hal yang haram.

3. Berhutang dan tidak meninggalakan harta untuk membayar hutangnya.

4. Belum disholatkan padahal sudah dikubur, maka boleh menyolatkan dikuburnya.

5. Meninggal di daerah yang tidak ada kaum Muslimin di sana yang menyolatkannya, maka kaum Muslimin di tempat lain menyolatkan dengan sholat Ghoib. Dan sholat Ghoib ini hanya dilakukan apabila orang yang meninggal atau mayat berada di suatu tempat yang dia belum disholatkan oleh kaum Muslimin yang lainnya. Adapun jika dia telah disholatkan, maka tidak perlu diadakan sholat Ghoib. (Ahkamul Janaiz: 106-115).

Haram menyolatkan, memohonkan ampun, memohonkan rahmat untuk orang kafir dan munafik. (Ahkamul Janaiz: 120).

"Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo'akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rosul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At-Taubah: 84).

Berjama'ah dalam sholat jenazah hukumnya WAJIB sebagaimana kewajiban dalam sholat-sholat wajib. (Ahkamul Janaiz: 205)

Jika kaum Muslimin menyolatkan sendiri-sendiri (tidak berjama'ah) maka kewajiban menyolatkan gugur akan tetapi mereka berdosa karena meninggalkan berjama'ah, wallahu a'lam. (Ahkamul Janaiz: 125).

Terjadinya jama'ah paling sedikit 3 orang, jika jama'ah semakin banyak maka semakin baik. (Ahkamul Janaiz: 126). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidaklah seorang muslim meninggal, lalu ia disholatkan oleh 40 orang yang tidak berbuat syirik kepada Allah dengan suatu apapun, melainkan pasti Allah kabulkan syafaat mereka untuknya," (HR. Muslim).

Makmum disukai berbaris dibelakang imam menjadi 3 shof atau lebih. (Ahkamul Janaiz: 127)

Sebagaimana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim meninggal lalu disholatkan oleh tiga shof kaum muslimin, melainkan pasti (Allah) kabulkan. (HR. Tirmidzi)

Jika makmum hanya satu orang laki-laki maka dia tidak berdiri sejajar dengan imam, akan tetapi berdiri dibelakang imam. (HR. Hakim). Penguasa atau wakilnya lebih berhak menjadi imam sholat jenazah. (Ahkamul Janaiz: 128)

Jika tidak ada maka yang paling berhak adalah orang yang paling banyak hafalan Al-Qur'annya. (Ahkamul Janaiz: 131).

Jika kita menyolatkan banyak jenazah laki-laki dan wanita, maka mayat laki-laki (walaupun kecil) ditempatkan di dekat imam dan mayat wanita mendekati kiblat. (HR. Nasa'i, Baihaqi, Ahkamul Janaiz: 132). Boleh juga menyolatkannya sendiri-sendiri, dan ini adalah asalnya. (Ahkamul Janaiz: 133).

Imam berdiri di belakang kepala mayat laki-laki. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi: Ahkamul Janaiz : 139) dan ditengah (mayat) wanita. (HR Bukhori, Muslim).

Mengucapkan takbir 4 kali (inilah pendapat yang paling kuat). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam menyolatkan jenazah, maka beliau bertakbir 4 kali dan melakukan salam sekali. (HR. Hakim: Ahkamul Janaiz: 163).

Boleh juga bertakbir 5 kali (HR. Muslim), 6 kali, 7 kali (HR. Thohawi) atau 9 kali (HR. Thohawi), (Ahkamul Janaiz: 142-145).

Disyari'atkan mengangkat kedua tangan hanya pada takbir pertama saja. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Dari Ibnu 'Abbas : Bahwasnnya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya pada takbir pertama dalam sholat jenazah, lalu tidak mengulanginya (pada takbir selanjutnya." (HR. Daruquthni: Ahkamul Janaiz: 167).

Boleh juga mengangkat kedua tangan pada setiap takbir, sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu 'Umar rodhiyallahu 'anhu. (HR. Al-Baihaqi). Setelah takbir, kemudian meletakan tangan kanan di atas tangan kiri dan meletakan di dada. (HR. Bukhori).

Takbir yang pertama:
Membaca Al-Fatihah dan surat lain. (HR. Bukhori, Abu Dawud) "Berkata Abu Tholhah: "aku pernah menyolatkan jenazah di belakang Ibnu 'Abbas. Beliau membaca Al-Fatihah dan surat". (HR. Bukhori, Abu Dawud).

Bacaan dalam sholat jenazah adalah sir atau pelan-pelan/tidak dikeraskan. (HR. Nasa'i)

Takbir yang kedua:
Membaca sholawat kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. (HR. Baihaqi).

Takbir yang lainnya:
Mengikhlaskan do'a kepada Allah untuk jenazah. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah). Hendaknya berdo'a dalam sholat jenazah dengan do'a-do'a yang ditutunkan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam.

Setelah itu mengucapkan salam dua kali, (1) ke kanan dan (1) ke kiri. (HR. Baihaqi). Atau boleh mencukupkan hanya satu salam saja. (HR. Hakim). "Bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam menyolatkan jenazah. Maka beliau bertakbir, empat kali dan melakukan salam sekali." (HR. Hakim: Ahkamul Janaiz: 16). Salam diucapkan dengan pelan baik imam maupun makmum. (HR. Baihaqi).

Tidak boleh sholat jenazah pada waktu-waktu yang terlarang, yaitu tatkala matahari terbit, pada tengah hari, dan ketika matahari akan tenggelam (kecuali karena darurat).

Sebagaimana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Dari 'Uqbah bin 'Amir berkata: Tiga waktu yang Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam melarang kami untuk sholat atau mengubur mayat, yaitu: Ketika terbit matahari sampai meninggi, ketika matahari di tengah-tengah langit sampai tergelincir, dan ketika matahari akan terbenam sampai terbenam. (HR. Muslim).

Memikul dan Mengikuti Jenazah

Wajib memikul mayat dan mengikutinya, hal ini termasuk hak mayat muslim atas kaum muslimin lainnya. (HR. Bukhori, Muslim).

Mengikuti mayat ada dua derajat:
1. Mengikutinya di keluarganya sampai menyolatkannya.
2. Mengikutinya di keluarganya sampai selesai penguburannya dan inilah yang lebih utama.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Barang siapa menyolatkan jenazah namun tidak mengiringinya, maka baginya pahala satu qiroth. Jika ia sampai mengiringinya, baginya dua qiroth. Dikatakan: apa itu qiroth? Qiroth itu yang paling kecil seperti gunung uhud. (HR. Muslim).

Mengikuti Jenazah hanya diperuntukan untuk laki-laki, tidak untuk wanita. Berdasarkan larangan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam: "Berkata Ummu 'Athiyyah rodhiyallahu 'anha: "Kami para wanita dilarang mengiringi jenazah, namun (larangan itu) tidak ditegaskan atas kami." (HR. Bukhori, Muslim).

Larangan di Atas Sifatnya Tanziih (Tidak Sampai Kepada Haram)

Jenazah tidak boleh diikuti dengan apa-apa yang menyelisihi syari'at seperti menagis dengan keras dan mengikutinya dengan kemenyan. (Ahkamul Janaiz: 91). "...termasuk juga ucapan-ucapan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dalam mengiringi jenazah.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak boleh jenazah diiringi dengan suara atau api." (HR. Abu Dawud). Adapun yang diperintahkan adalah diam, tidak berbicara, berpikir serta merenung, terhadap apa yang dilihatnya. Wajib berjalan cepat membawa mayat akan tetapi tidak sampai berlari-lari kecil. (Ahkamul Janaiz: 93).

Boleh berjalan di depan mayat, di belakangnya (ini yang paling utama) atau di sebelah kanannya, atau di sebelah kirinya. (Ahkamul Janaiz: 94-96). Adapun yang paling utama berjalan di belakang mayat, karena Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Dan ikutilah jenazah..." (Al-Wajiz: 173).

Boleh berkendaraan ketika kembali dari penguburan dan tidak makruh. (Ahkamul Janaiz: 97). Adapun membawa jenazah dengan kereta atau mobil yang dikhususkan untuk jenazah dan para pelayat mengantarkannya dengan mobil-mobil, maka ini tidak disyari'atkan. (Ahkamul Janaiz: 99-100).

Karena hal itu merupakan kebiasaan orang-orang kafir dan menghalangi tujuan mengiringi jenazah dan memikulnya yaitu mengingatkan manusia akan akhirat, apalagi hal itu akan menyedikitkan orang yang mengiringi dan mengharapkan pahala dari mengiringi jenazah.

Berdiri untuk (menghormati) jenazah sudah dihapus hukumnya (dimansukh) maka tidak dilakukan. (Ahkamul Janaiz: 100).

Disunnahkan bagi orang yang telah memikul jenazah untuk berwudhu, (akan tetapi tidak diwajibkan. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).

Mengubur Jenazah

Wajib mengubur mayat walaupun orang kafir. (Ahkamul Janaiz: 167)

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam ketika paman beliau (Abu Tholib) meninggal: "Pergilah dan kuburkan ia..." (HR. An-Nasa'i: Ahkamul Janaiz: 169)

Mayat muslim tidak boleh dikuburkan dengan mayat orang kafir, dan mayat orang kafir tidak boleh dikubur dengan mayat muslim. (Ahkamul Janaiz: 172).

Menurut Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam, mengubur mayat adalah di pekuburan umum. (Ahkamul Janaiz: 173) Kecuali para Syuhada, mereka dikubur di tempat meninggalnya dan tidak boleh dipindahkan di pekuburan.

Adapun Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam beliau dikubur di kamarnya (bukan di pekuburan umum), maka ini merupakan kekhususan bagi beliau. (Ahkamul Janaiz: 174).

Tidak boleh mengubur jenazah pada waktu-waktu yang terlarang: Tatkala matahari terbit, pada tengah hari dan tatkala matahari akan terbenam. (HR. Muslim). Juga tidak boleh di waktu malam kecuali karena terpaksa. (HR. Muslim). Sebagaimana Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah menguburkan mayat pada waktu malam dengan diterangi lampu. (HR. Tirmidzi: Ahkamul Janaiz: 180).

Wajib hukumnya untuk mendalamkan kubur, meluaskannya dan membaguskannya (galiannya). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Galilah, luaskan dan baguskanlah. (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 182).

Diperbolehkan dua hal dalam kubur, yaitu lahad dan syaq. (Ahkamul Janaiz: 182)

Namun yang pertama (lahad) lebih utama. (Ahkamul Janaiz: 182)

Tidak mengapa dalam satu kubur dikuburkan dua mayat atau lebih ketika dalam keadaan darurat dan didahulukan mayat yang lebih utama.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam untuk para Syuhada Uhud karena banyaknya mereka: "Kuburkanlah dua atau tiga orang di satu kubur, dan dahulukanlah yang paling banyak hafalan Qur'annya". (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 182).

Adapun yang menurunkan mayat adalah laki-laki meskipun mayatnya adalah wanita. (Ahkamul Janaiz: 186).

Wali-wali mayat (keluarga/kerabat) lebih berhak untuk menurunkan mayat. (Ahkamul Janaiz: 186).

Sebagaimana Firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang memiliki hubungan darah satu sama lain lebih berhaq (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah dari pada orang-orang Mukmin dan Muhajirin" (Al-Ahzab: 6).

Suami boleh mengurusi sendiri penguburan istrinya. (HR. Ibnu Majah: Ahkamul Janaiz: 67).

Disyaratkan bagi orang yang menurunkan mayat ke dalam kubur, pada malam harinya tidak menggauli istrinya (bersetubuh dengan istrinya). (HR. Bukhori).

Hal ini sebagaimana tatkala pemakaman anak perempuan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam, maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada Abu Tholhah rodhiyallahu 'anhu untuk turun ke kubur, atau menguburkannya karena beliau (Abu Tholhah) tidak mempergauli istrinya semalam sebelum pemakaman.

Sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam memasukan jenazah adalah dari kaki kubur (arah kaki). Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam: "Al-Harits mewsiatkan agar ia disholatkan oleh 'Abdullah bin Zaid, maka Abdulloh bin Zaid-pun mensholatkannya lalu memasukannya ke dalam kubur dari arah kaki kubur seraya berkata: "ini termasuk sunnah". (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 190).

Mayat dibaringkan di atas lambung kanannya dan wajahnya dihadapkan ke qiblat. (Ahkamul Janaiz: 193).

Orang yang meletakan mayat ke dalam kubur mengucapkan: "Dengan nama Allah dan di atas sunnah Rosulullah" (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 193).

Disunnahkan bagi orang yang menghadiri penguburan untuk menaburkan tanah sebanyak tiga kali dengan kedua tangannya.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam pernah menyolatkan jenazah, kemudian tatkala selesai penguburannya, beliau menaburkan tanah sebanyak tiga kali ke kuburnya. (HR. Ibnu Majah: Ahkamul Janaiz: 193).

Setelah penguburan, disunnahkan melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Menaikan kubur dari tanah dengan tinggi satu jengkal (tidak diratakan dengan tanah). (HR. Baihaqi: Ahkamul janaiz: 195).
2. Memberinya tanda dengan batu, atau yang semisalnya agar dapat dikenali. (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 197).
3. Berdiri di sekitar kubur dan mendo'akan kemantapan bagi mayat dan memohonkan ampunan serta memerintahkan orang-orang untuk melakukan (hal serupa). (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 197).

Adapun Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam ketika selesai menguburkan mayat dan berkata: "Mintakanlah ampun untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan baginya, karena ia sekarang sedang dimintai pertanggung jawaban". (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 198).

Adapun mengucapkan Laa ilaaha illallah atau perkataan-perkataan lainnya yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam tatkala penguburan, maka hal ini adalah BID'AH. Dan ini masuk dalam perkataan Abdulloh bin 'Umar rodhiyallahu 'anhumaa tatkala berkata: "Setiap bid'ah itu sesat walau dipandang baik oleh manusia...!

Maka dari itu, wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk menjauhi perkara-perkara (bid'ah) yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam.

Selama penguburan, boleh duduk-duduk di sekitar kubur dengan maksud untuk mengingat kematian dan apa-apa yang terjadi setelah kematian. (Ahkamul Janaiz: 198).

Ta'ziyah

Takziyah artinya menghibur dan menyabarkan. Disyaratkan takziyah kepada keluarga mayat, yaitu dengan mendorongnya untuk sabar dan menyebutkan janji pahala kesabaran serta mendo'akan kebaikan untuk mayat. (Ahkamul Janaiz: 65).

Dalam takziyah disyari'atkan mengucapkan: "Sesungguhnya milik Allah-lah apa yang diambilNya, juga apa yang diberiNya, dan segala sesuatu di sisiNya menurut batas waktu yang ditentukan", ...perintahkanlah ia untuk bersabar dan mengharap pahala. (HR. Bukhori, Muslim).

Disyariatkan juga untuk bertakziyah dengan mengucapkan perkataan yang baik yang ditujukan untuk menghibur dan membesarkan hati keluarga mayat selama hal tersebut tidak menyelisihi syari'at, seperti perkataan "semoga hidupmu kekal di muka bumi ini", padahal di dunia ini tidak ada yang kekal. Ini sudah jelas menyelisihi firman Allah Ta'ala: "Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan". (Ar-Rahman: 26-27).

Takziah tidak mesti dilakukan pada waktu dan tempat tertentu, namun bisa dilaksanakan kapan dan di mana saja tatkala bertemu dengan orang yang tertimpa musibah, baik itu di jalan, di tempat umum, maupun di tempat lainnya, selama musibah tersebut masih terasakan olehnya, karena hakikat ta'ziyah itu sendiri yaitu menghibur dan membesarkan hati orang yang ditimpa musibah.

Ta'ziyah tidak dibatasi dengan tiga hari, bahkan kapan saja seorang muslim melihat adanya faidah di dalam ta'ziyah tersebut, maka hendaklah ia melakukannya. (Masalah Jenazah: 66).

Dalam ta'ziyah, hendaklah dijauhi dua perkara, walaupun kebanyakan manusia pada saat ini banyak melakukannya. (Ahkamul Janaiz: 210).

1. Burkumpul-kumpul untuk melakukan ta'ziyah di tempat khusus, seperti di rumah, perkuburan, atau masjid.

2. Keluarga mayat membuatkan makanan untuk menjamu orang-orang yang datang untuk berta'ziyah.

Kedua hal tersebut dilarang, bahkan termasuk ke dalam niyahah, sebagaimana yang dituturkan oleh sahabat Jarir bin 'Abdilloh Al-Bajali rodhiyallahu 'anhu beliau mengatakan: "Kami (para sahabat Nabi) menganggap berkumpul-kumpul di tempat keluarga mayat, dan membuat jamuan setelah penguburan mayat termasuk niyahah (meratap)....! (HR. Ibnu Majah: Ahkamul Janaiz: 210).

Oleh karena itu, tidak sangsi lagi. Bahwa peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari 1000 hari, ini semua termasuk bid'ah yang harus dijauhkan oleh setiap muslim dan muslimah.

Yang sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam adalah, kerabat dan tetangga membuatkan makanan yang mengenyangkan untuk keluarga mayat. (Ahkamul Janaiz: 221).

Sebagaimana datangnya kabar gugurnya Ja'far maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Sediakanlah makanan bagi keluarga Ja'far, karena telah datang pada mereka perkara atau sesuatu yang menyibukkan mereka". (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 211). 

Yang Bermanfaat Bagi Jenazah

Ada beberapa hal yang bisa bermanfaat bagi si mayat setelah meninggalnya:

1. Do'a seorang muslim untuk mayat. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo'a: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam heti kami terhadap orang-orang yang beriman: Ya Rabb kami, Sesungguhnya engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang" (Al-Hasyr: 10).

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Do'a seorang muslim kepada saudaranya yang tidak ada di hadapannya, mustajab (terkabul). Di sisi kepalanya ada malaikat yang berdo'a disetiap dia mendo'akan saudaranya dengan kebaikan maka berkatalah malaikat itu: Aamiin dan bagimu semisalnya". (HR. Muslim).

2. Wali mayat menunaikan puasa nadzarnya. (Ahkamul Janaiz: 213). Sebagaimana sebuah hadits yang berbunyi: Sa'ad bin 'Ubadah meminta fatwa kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam: "Sesunnguhnya ibuku meninggal sedang ia punya nadzar (bagaimana)" Nabi bersabda: "Tunaikanlah nadzar ibumu". (HR. Bukhori, Muslim).

3. Membayarkan hutang sang mayat oleh siapa saja, baik wali mayat atau selainnya. (Ahkamul Janaiz: 216).

4. Amal-amal shalih yang dilakukan oleh anaknya yang shalih. (Ahkamul Janaiz: 216). Dan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersaabda: "Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan seseorang adalah hasil usahanya sendiri, dan anaknya termasuk hasil usahanya". (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 216)

5. Apa yang ditinggalkannya dari hal-hal yang baik dan shodaqoh jariyah. (Ahkamul Janaiz: 223). Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam: "Jika seseorang manusia mati, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal: dari shodaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak yang sholih yang mendo'akannya". (HR. Muslim).

Ziarah Kubur

"Aku dulu pernah melarang kalian dari berziarah kubur, tetapi kini berziarahlah! Karena ada pelajaran di dalamnya, namun jangan ucapkan apa-apa yang membuat Allah murka". (HR. Hakim Ahkamul Janaiz: 228).

Disyari'atkan berziarah kubur dengan tujuan mengambil pelajaran dan mengingatkan akhirat, namun disana tidak boleh mengucapkan perkataan yang dapat mendatangkan murka Allah Ta'ala, seperti berdo'a kepada orang yang di kubur, Istighotsah kepada penghuni kubur bukan kepada Allah, memuji-muji penghuni kubur, dan menetapkan kepastian baginya dengan masuk surga atau memastikannya dengan masuk surga dan semua yang semisalnya seperti perkataan "SYAHID FULAN" oleh karena itu Imam Bhukhori membuat bab khusus dalam kitab shahihnya dengan bab "TIDAK BOLEH DIKATAKAN SI FULAN SYAHID".

Seperti laki-laki, wanita juga disunnahkan untuk ziyarah kubur. (Ahkamul Janaiz: 229). Dengan syarat: Menjauhi Ikhtilat (bercanpur baur dengan laki-laki yang bukan mahromnya). Menjauhi meratap. Menjauhi Tabarruj (menampakkan perhiasan dan aurotnya. Dan kemungkaran-kemungkaran nyata lainnya yang banyak memenuhi kuburan-kuburan saat ini.

Akan tetapi wanita tidak boleh memperbanyak ziarah kubur dan bolak-balik ke kuburan, karena hal tersebut dapat membawa kaum wanita kepada penyelisihan syari'at. (Ahkamul Janaiz: 235).

Boleh menziyarahi kubur orang kafir dengan maksud mengambil pelajaran dan nasihat saja. (Ahamul Janaiz: 235). Maksud ziyarah kubur ada dua:

1. Mengambil manfaat dan mengingat kematian dan orang-orang yang telah mati dan bahwa tempat kembali mereka mungkin ke surga atau ke neraka.

2. Memberi manfaat kepada penghuni kubur dan berbuat baik kepadanya dengan mengucapkan salam dan mendo'akannya. (Ahkamul Janaiz: 339)

Ucapan salam kepada penghuni kubur: "Semoga keselamatan atas kalian wahai penghuni kubur dari kalangan mukminin dan muslimin, dan kami insya Allah menyusul kalian, kami mohon kepada Allah bagi kami dan kalian agar dianugrahi keselamatan". (HR. Muslim).

Boleh mengangkat kedua tangan saat mendo'akan penghuni kubur. (Ahkamul Janaiz: 246). Akan tetapi tidak boleh menghadap kubur, namun harus menghadap kiblat tatkala berdo'a.

Tidak boleh berjalan diantara kubur kaum muslimin dengan memakai sandal (akan tetapi hendaklah dia melepas kedua sandal tersebut). (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 252).

Jika menziarahi kubur orang kafir, maka tidak boleh mengucapkan salam dan mendo'akannya akan tetapi memberitakan dengan neraka. (Ahkamul Janaiz: 251). Tidak disyari'atkan meletakkan tanaman wewangian atau bunga di atas kubur karena itu bukanlah perbuatan salaf, seandainya perbuatan ini baik niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya. (Ahkamul Janaiz: 259).

PERINGATAN !!!

MENDO'AKAN PENGHUNI KUBUR SEWAKTU ZIARAH KUBUR ADALAH DENGAN MEMOHONKAN AMPUNAN SERTA KESELAMATAN BAGI PENGHUNI KUBUR. DAN BUKAN BERDO'A UNTUK MEMINTA-MINTA KEPADA PENGHUNI KUBUR, KARENA HAL INI MERUPAKAN SYIRIK BESAR YANG DAPAT MERUSAK KEISLAMAN SESEORANG, NA'UDZUBILLAHI MIN DZALIK.

Yang haram dilakukan di kuburan:

Ada beberapa hal yang diharamkan di kuburan:

1. Menyembelih binatang di kuburan. (Ahkamul Janaiz: 259). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak ada penyembelihan (di kuburan) dalam Islam". (Hr. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 228).

2. Haram mengecat kubur dengan kapur atau yang semisalnya. (Ahkamul Janaiz: 260)

3. Diharamkan untuk duduk di atas kubur. (Ahkamul Janaiz: 260).

4. Diharamkan membangun (di atas) kubur. (Ahkamul Janaiz: 260).

5. Dilarang meninggikan kubur lebih dari satu jengkal dengan tanah dari luar. (Ahkamul Janaiz: 260).

6. Diharamkan menulisi kubur. (Ahkamul Janaiz: 260). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam melarang menyemen/mengapur kubur, duduk di atasnya, membangunnya, menambahnya atau menulisnya. (HR. Abu Dawud: Ahkamul Janaiz: 260).

Sebagian 'Ulama memperbolehkan menulis sekedar namanya saja, sebagai tanda agar kubur dapat dikenali (namun jika tanpanya suatu kubur dapat dikenali, maka itu lebih utama untuk dilakukan). (Fatawa Ta'ziyah Syaikh Al-Utsaimin)

7. Diharamkan sholat dekat kubur, baik menghadap kubur, ataupun tidak. (Ahkamul Janaiz: 269-270). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah kalian sholat menghadap kubur". (HR. Muslim). Dan juga: "Bumi semuanya adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi". (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 228).

Adapun bagi kaum muslimin yang belum mensholatkan jenazah, dan dia ingin mensholatkannya padahal jenazah sudah dikubur, maka boleh mensholatkan dikuburan, sebagaimana hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam (dengan tata cara sebagaimana biasa mensholati jenazah baik lelaki maupun perempuan). (HR. Bukhori, Muslim).

8. Haram membangun masjid di atas kuburan. (Ahkamul Janaiz: 275). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashroni, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid". (HR. Bukhori-Muslim).

9. Haram menjadikan kuburan sebagai 'Ied, yaitu sebagai tempat berkumpul dan tempat yang didatangi pada waktu-waktu tertentu (untuk beribadah). (Ahkamul Janaiz: 280). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai 'Ied". (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 280).

10. Diharamakan bersafar menuju kubur. (Ahkamul Janaiz: 280). Bila seseorang berangkat haji dan mengunjungi Masjid Nabawi yang di dalamnya terdapat kuburan Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dan dua sahabatnya, maka hendaknya menjadikan tujuan utama adalah mengunjungi Masjid Nabawi, bukan untuk berziarah ke makam Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. (Al-Wajiz: 267). Karena Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam melarang untuk bersusah payah menempuh perjalanan dalam rangka ibadah kecuali ke tiga masjid. Beliau Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak boleh bersusah payah menempuh perjalanan (dalam rangka ibadah) melainkan ketiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul, dan masjid Al-Aqsha". (HR. Bukhori-Muslim).

11. Menyalahkan lampu di dekat kubur atau menerangi kubur. (Ahkamul Janaiz: 294). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Setiap Bid'ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka". (HR. Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah).

12. Haram memecahkan tulang mayat seorang muslim. (HR. Abu Dawud; Ahkamul Janaiz: 295).

Demikian semoga bermanfaat dan kita bisa meneladani Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dalam setiap kegiatan kita sehari-hari, apalagi dalam pelaksanaan ibadah seperti penyelenggaraan jenazah ini. 
_________
Daftar referensi:
- Ahkaamul Janaaiz wa Bida'uhaa, Al-Imam Albany rahiimahullahu ta'ala, Maktabah Al-Ma'aarif, Riyadh 1412 H.
- Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah Wal Kitaabil 'Aziz, Asy-Syaikh 'Abdul 'Azhim Badawi hafidzohullahu ta'ala.
- Syarhu Masaail Jahiliyyah, Asy-Syaikh Sholih Fauzan hafidzohullahu ta'ala.
- Bimbingan Praktis Penyelenggaraan Jenazah, Asy-Syakh 'Abdurrahman Al-Ghoits hafidzohullahu ta'ala, At-Tibyan.
- Sholat Jenazah, Asy-Asyaikh 'Abdullah Al-Jibrin hafidzohullah ta'ala, At-Tibyan.
- Ringkasan Hukum-Hukum Lengkap Masalah Jenazah, Asy-Syaikh 'Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari hafidzohullah ta'ala, Pustaka Imam Bukhori.
- Fatwa-Fatwa Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin tentang Ta'ziyah, Asy-Syaikh Fadh 'Abdurrahman Asy-Syamiry hafidohullahu ta'ala, Darul Qolam.

Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :