" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 30 Januari 2016

Siapakah Haba'ib atau Habib Itu?


Mon 12 November 2007 00:06 | umum | 4.389 views
Pertanyaan : 
Assalamualaikum
Pak Ustadz saya mohon anda bisa memberikan penjelasan tentang gelar habib atau haba'ib.
1. Benarkah Haba'ib atau habib (Saripah = untuk wanita) itu merupakan keturunan Rasulullah seperti yang selama ini pernah saya dengar?
2. Masyarakat di daerah saya sangat mengkultuskan seorang haba'ib. Mereka menaruh hormat sekali pada orang yang bergelar haba'ib. Misalnya tidak boleh berbicara yang tidak baik, bahkan membantahpada haba'ib, nanti bisa kualat. Atau berebut mencium tangan atau memeluknya agar mendapatkan barokah.
3. Mereka juga percaya bahwa seorang habib itu telah dijamin surga oleh Allah SWT. Benarkah demikian?
Sebelumnya, saya ucapkan terimakasih atas perhatian anda. Semoga Allah memberikan rahmat dan karunia-Nya. Amin
Wassalamualaikum
Jawaban : 
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Dari semua informasi tentang habib yang anda sebutkan, yang sudah pasti salah dan batil adalah yang terakhir, yaitu kepastian bahwa setiap habib pasti masuk surga.

Kepercayaan ini batil dan sanat fatal kalau sampai dijadikan keyakinan. Karena dalam aqidah ahlusunnah wal jamaah, yang makshum dan pasti masuk surga hanya nabi dan rasul saja. Karena para nabi dan rasul mendapat wahyu dari Allah SWT serta penjagaan ilahiyah, yang akan menjadi pengonntrol apabila akan melakukan kesalahan.
Sedangkan keluarga nabi baik isteri beliau maupun anak dan menantunya tidak mendapat wahyu, maka tidak mendapatkan penjagaan ilahiyah. Maka mereka tidak makshum. Dan karena tidak makshum, maka tidak ada jaminan untuk masuk surga.
Kecuali Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang secara pribadi, bukan anak keturunannya, telah dikabarkan oleh Rasulullah SAW sebagai salah satu dari 10 orang shahabat yang dib eri kabar gembira akan masuk surga.

Menghormati Ahlul Bait
Menghormati dan memuliakan ahlul bait, memang tidak salah bahkan diperintahkan oleh Al-Quran.
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta'atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab: 33)
Namun yang menjadi masalah, siapakah yang dimaksud dengan ahlul bait? Apakah isteri-isteri nabi ataukah Ali, Fatimah, Hasan, Husein dan anak keturunannya?
Kalau kita baca ayat di atas, lafadz ayat itu ditujukan kepada isteri-isteri nabi SAW. Mereka diminta untuk menetap di dalam rumah, tidak berhias, shalat, zakat dan mentaati Allah dan Rasul-Nya.
Lalu apakah para habaib itu termasuk ahlul bait?
Ada sekian banyak versi jawaban. Ada yang membenarkan dan ada juga yang menolaknya.
Buat mereka yang membenarkan, maka para habaib dan syarifah itu kemudian diperlakukan sedemikian rupa, yang intinya ingin memberikan penghormatan. Bahkan terkadang sampai terlewat lalu mengklaim merekasebagai makshum dijamin masuk surga.
Kalau sekedar menghormati dalam arti mencium tangan dan memuliakannya dengan memberi hadiah, rasanya masih bisa ditolelir. Karena untuk budaya sebagian masyarakat tertentu, mencium tangan orang dimuliakan memang sering kita lihat. Lagian tidak ada nash yang melarang kita mencium tangan orang yang kita muliakan dan kita cintai.
Akan tetapi kalau sudah sampai mengkultuskan habaib dan syarifah, seolah-olah mereka itu tidak mungkin melakukan dosa dan pasti masuk surga, maka cara berpikir seperti ini sesat dan menyesatkan. Dan para habaib sendiri juga menentang cara berpikir seperti ini.
Habaib dan Betawi
Budaya memuliakan para habaib akan lebih terasa di kalangan betawi. Sampai bekas minum mereka pun dianggap ada keberkahkahannya. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Penyebabnya sederhana saja. Sejak dahulu orang betawi punya pola hidup yang agak berbeda dengan suku lain. Mereka sangat dekat dengan ajaran Islam dan para pengajar agama. Kebetulan di masa lalu, para pengajar agama adalah para habaib itu. Masjid Kwitang dan madrasah Jamiat Khair Tenabang adalah situs yang bisa disebut sebagai sumber pengajaran agama Islam bagi orang betawi. Dan keduanya dipimpin oleh para habaib.
Jadi ketika orang betawi mencium tangan habib bolak-balik, mereka sedang menghormati guru mereka. Karena berkat guru itulah mereka jadi kenal agama Islam. Dan ajaran menghormati guru memang sangat kuat dan lekat.
Pola pandang seperti ini sebenarnya sah-sah saja. Di mana-mana murid memang harus hormat dan memuliakan gurunya.
Yang jadi masalah adalah kesalah-kaprahan orang di zaman sekarang yang memandang semua habib pasti orang berilmu dan berhak menjadi guru. Yang benar adalah bahwa sebagian dari habaib itu memang ada yang punya ilmu agama yang luas dan mendalam, tetapi sebagian besarnya justru tidak pernah belajar agama. Mereka adalah orang bodoh yang tidak punya ilmu tapi mengandalkan kehabiban dan keawaman umat saja. Akibatnya, banyak umat yang terkecoh dengan masalah ini.
Maka bila seorang habib memang ahli dalam ilmu syariah, katakanlah doktor di bidang ilmu syariah, atau ilmu hadits, atau ilmu tafsir, punya karya yang banyak, wajar bila kita hormati beliau dan kita muliakan. Ekspresi rasa hormat pun tidak harus dengan cara-cara yang aneh, seperti minum dari gelas bekas minumnya. Atau mencium tangannya bolak-balik. Tapi hormatilah mereka sebagaimana umumnya kita menghormati para ustadz, guru dan ahli agama.
Habib di Wikipedia 
Kalau kita buka wikipedia, kita akan menemukan informasi bahwa Indonesia merupakan negeri muslim terbanyak yang terdapat habib yaitu sebanyak 2 juta, sedangkan yang masih hidup 1, 2 juta. Sementara di seluruh dunia tercatat 20 juta habib (muhibbin) yang terbagi 114 marga.

Hanya keturunan laki-laki saja yang berhak menyandang gelar habib. Organisasi yang melakukan pencatatan para habib ini adalah ar-Rabithah yang semula berpusat di Hadramaut, tempat di mana 80 keluarga habib semula berhijrah dari kota Mekah.
Sekarang ar-Rabithah telah memindahkan pusat kegiatannya di Tanah Abang, Jakarta, karena Indonesia, negara yang terbanyak memiliki para habib. Salah satu di antara pengurusnya adalah Habib Rizik Syihab, pimpinan FPI (Front Pembela Islam).
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc