" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Jumat, 15 Januari 2016

Perjalanan Nur Muhammad Yang Agung








Dan sesungguhnya manakala Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS, Nur itu pun diletakan pada tanah liat asal kejadian Nabi Adam AS. Dan ketika Nabi Adam AS telah tercipta,maka Nur itu pun di letakkan dalam punggung Nabi Adam AS, sehingga para malaikat sujud dan berbaris rapi dibelakang Nabi Adam AS untuk menghanturkan salam kepada Nur Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Kemudian Allah SWT menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuk kiri Nabi Adam AS, dan menganugrahinya kecantikan luar biasa melebihi kecantikan 70 bidadari. Dan saat Nabi Adam AS terbangun dari tidurnya, beliau AS sangat terkejut saat melihat Siti Hawa dan beliau AS hendak menyentuhnya. Tetapi ketika beliau AS hendak menyentuh,terdengar seruan “Wahai Nabi Adam AS,Engkau tidak diperbolehkan menyentuhnya sebelum Engkau membayar maharnya”, maka beliau pun bertanya “apa maharnya?”. Kemudian dijawab “maharnya adalah Engkau mengucapkan shalawat sebanyak 3 kali kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW”. Setelah mengucapkan shalawat sebanyak 3 kali kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, maka dipersilahkan kepada mereka (Nabi Adam AS dan Siti Hawa) untuk bersenang – senang di surga yang sangat indah. Maka sejak itulah Nabi Adam AS dan Siti Hawa senantiasa melihat Asma Nabi Muhammad SAW terukir indah dimana – mana senantiasa berdampingan dengan Asma Allah SWT. Di setiap tempat di surga, di kamar – kamar surga, di leher – leher bidadari, di daun – daun pohon thuba, di daun – daun sidratil muntaha dan di setiap dahi para malaikat tertuliskan La ilaha ilallah Muhammadur Rasulullah.


Kemudian akibat gangguan iblis kepada mereka, maka Allah SWT menurunkan keduanya di muka bumi ini. Mereka merasakan kesedihan dan penyesalan yang luar biasa. Berulang kali Nabi Adam AS memohon ampunan kepada Allah SWT, namun belum ada jawaban dan tidak diperdulikan sama sekali. Hingga akhirnya Nabi Adam AS teringat kemuliaan dan keagungan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW di sisi Allah SWT. Sehingga timbullah harapan beliau untuk memohon ampunan kepada Allah SWT dengan berwasilah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Dan berkat kemuliaan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW di sisi-Nya, maka Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Adam AS dan menerima taubatnya. Sebagaimana diriwayatkan dari Sayyidina Umar bin Khathab RA, bahwa Baginda Nabi Besar Muhammad SAW bersabda; “Manakala Nabi Adam AS bermunajat kepada Allah SWT memohon ampunan dengan berwasilah kepada Baginda Nabi Besar Muhammad Beliau berkata; Ya Allah, demi kemuliaan/keagungan derajat Baginda Nabi Besar Muhammad SAW di sisi-Mu limpahkanlah ampunan-Mu kepadaku. Maka Allah SWT berfirman; Hai Adam, bagaimana Engkau bisa mengenal Nabi Muhammad SAW padahal Aku belum menciptakannya? Nabi Adam AS menjawab; Ya Allah, sesungguhnya tatkala Engkau menciptakanku dan memberiku nyawa, aku lihat di sekitar arasy dikelilingi kalimat La ilaha ilallah Muhammadur Rasulullah. Aku yakin bahwa sesungguhnya Engkau tidak akan mendampingkan Asma-Mu kecuali kepada makhluk yang paling Engkau cintai. Maka Allah SWT berfirman; Kamu benar wahai Adam. Sesungguhnya dia(Nabi Muhammad SAW) adalah makhluk yang paling Aku cintai, dan karena kamu telah memohon ampunan kepada-Ku dengan berwasilah kepadanya, maka Aku kabulkan permohonanmu. Dan kalau bukan karena dia(Nabi Muhammad SAW) maka Aku tidak akan menciptakan kamu.”


Dan sesungguhnya para malaikat senantiasa berbaris rapi dibelakang punggung Nabi Adam AS. Lantas beliau bertanya kepada Allah SWT; “Ya Allah, kenapa para malaikat berbaris rapi di belakangku?”. Kemudian Allah SWT menjawab; “Hai Adam, ketahuilah olehmu, bahwa para malaikat-Ku senantiasa berdiri di belakangmu untuk memandang Nur kekasih-Ku Nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad SAW”. Maka Nabi Adam AS memohon kepada Allah SWT untuk dapat melihat Nur tersebut, dan Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Adam AS tersebut. Dan setelah melihat keagungan Nur Baginda Nabi Besar Muhammad SAW maka bertambahlah kecintaan dan rasa bangga Nabi Adam AS kepada Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Dan Beliau AS sangat menjaga kemuliaan dan keagungan Nur tersebut. Seeing setiap Beliau hendak berhubungan dengan istrinya (Siti Hawa) maka Beliau selalu bersuci terlebih dahulu dan memakai wewangian, dan Beliau memerintahkan Siti Hawa untuk melakukan hal yang sama dengan berkata “Hai istriku, bersucilah dan pakailah wewangian sesungguhnya sudah dekat saatnya, Nur Nabi Muhammad SAW yang berada dalam diriku akan berpindah dalam dirimu”. Sehingga berkat Nur Agung tersebut Siti Hawa bertambah kecantikannya setiap hari. Sejak saat itulah Nabi Adam AS tidak berani berhubungan dengan Siti Hawa demi menjaga kesucian dan memuliakan Nur Baginda Nabi Besar Muhammad SAW yang berada dalam diri Siti Hawa.


Tidak lama kemudian Siti Hawa melahirkan anak Laki-laki dan diberi nama “Sheth” dan Nur tersebut telah berpindah dalam diri Nabi Sheth AS. Dan setelah Nabi Sheth AS dewasa, maka Nabi Adam AS memanggil putranya (Nabi Sheth AS) dan memberikan wasiat/amanat kepadanya. “Wahai anakku (Nabi Sheth AS) sesungguhnya Allah SWT telah mangambil perjanjian kepadamu untuk senantiasa menjaga Nur Agung Nabi Besar Muhammad SAW, janganlah engkau letakkan kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya ”. 

Maka Nabi Sheth AS menjaga teguh amanat tersebut dengan menikahi seorang wanita yang paling suci saat itu yang bernama Baidlo. Dan setelah dianugerahi putra maka Beliau (Nabi Sheth AS) memberikan wasiat kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya. Sehingga Nur Agung itu pun sampai kepada Nabi Idris AS, dan Beliau juga melakukan hal yang sama, Beliau (Nabi Idris AS) mewasiatkan kepada putranya agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya. Hingga sampailah Nur Agung tersebut kepada Nabi Nuh AS. Begitu pula Nabi Nuh AS, Beliau juga melakukan hal yang sama. Beliau berwasiat kepada putra Beliau yaitu Sayyidina Syam untuk menjaga Nur tersebut, dan jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya. Dan Sayyidina Syam juga mewasiatkan kepada putranya hal yang sama. Hingga sampailah silsilah mata rantai Nur Agung Baginda Nabi Besar Muhammad SAW kepada Nabi Ibrahim AS. Dan Nabi Ibrahim AS memberikan wasiat kepada putranya yaitu Nabi Ismail AS agar jangan meletakkan Nur Agung tersebut kecuali pada wanita yang paling suci dan mulia nasabnya. Maka wasiat tersebut senantiasa terpelihara secara berkesinambungan melalui tulang sulbi yang suci yaitu tulang sulbi para Nabi dan Rasul. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits yang tercantum dalam kitab maulid Ad-Diba’i karya Al-Arif billah Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman bin Ali Ad-Diba’i RA“Qala shallallahu ‘alaihi wa sallama, fa-ahbathaniyallahu ‘azza wa jalla ilal ardhi fi zhahri Adama wa hamalaniy fis safinati fi shulbi Nuhin wa ja’alaniy fi shulbi khalili Ibrahima hina qudzifa bihi fin nar wa lam yazalillahu ‘azza wa jalla yunaqqiluniy minal ashlabith thahirati ilal arhamiz zakiyyatil fakhirati hatta akhrajaniyallahu min baini abawayya wa huma lam yaltaqiya ‘ala sifahin qath-thu” yang artinya “Baginda Nabi Besar Nabi Besar Muhammad SAW bersabda; lalu Allah Azza wa jalla menurunkan Nur itu ke bumi melalui punggung Nabi Nabi Adam AS, dan Allah membawaku ke dalam kapal dalam tulang sulbi Nabi Nuh AS, dan menjadikan Aku dalam tulang sulbi sang kekasih, Nabi Ibrahim AS, ketika ia dilemparkan ke dalam api. Tak henti – hentinya Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung, memindahkanku dari rangkaian tulang sulbi yang suci, kepada rahim yang suci dan megah, hingga akhirnya Allah melahirkan Aku melalui kedua orang tuaku yang belum pernah bertemu.”


Dan sampailah perjalanan Nur Agung tersebut kepada Sayyidina Adnan, dari Sayyidina Adnan ke Sayyidina Ma’ad, dari Sayyidina Ma’ad ke Sayyidina Nizar, dari Sayyidina Nizar ke putranya yaitu Sayyidina Mudlor, dari Sayyidina Mudlor ke Sayyidina Hasyim. Dan sampailah Nur Agung Nabi Besar Muhammad SAW kepada Sayyidina Abdul Muthalib. Dan Sayyidina Abdul Muthalib menikahi seorang wanita yang paling suci pada saat itu yaitu Sayyidatina Fatimah binti Amr, maka lahirlah Sayyidina Abdullah ayahanda Baginda Nabi Besar Muhammad SAW. dan Sayyidina Abdullah menikah dengan seorang wanita yang paling suci pada saat itu yaitu Sayyidatuna Aminah binti Wahab. Sehingga lahirlah Junjungan kita, Nabi akhir zaman, Pemimpin para Nabi dan Rasul, Baginda Nabi Besar Muhammad SAW

Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :