" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 16 Januari 2016

Menyikapi Diri yang Gagal dan Jiwa yang Kalah oleh Hawa Nafsu



Dalam setiap muhasabah, kita akan menemukan kegagalan-kegagalan dalam menjaga kehambaan dan taqwa. Sebab kita manusia, maka kegagalan itu niscaya. Hanya orang-orang tertipu yang dalam muhasabahnya akan merasa berjaya tanpa cela. Nah, apa yang harus dilakukan pada diri yang gagal dan jiwa yang kalah oleh hawa nafsunya ini?
Imam Al-Ghazali mengusulkan mu’aqabah.
air_mata“Diri yang merasa sempurna,” demikian menurut beliau, “takkan dapat mengenali jalan menuju kebaikannya. Sebab dia memang tak merasa perlu berbenah. Diri yang bermuhasabah, juga perlu terbukti imannya jika dia merasa berbahagia dengan ketaatannya dan merasa berduka atas maksiatnya. Diri yang bermuhasabah juga seyogianya menghukum pribadinya jika berdosa, sebagai tanda sesal paling nyata, agar kelak Allah mengampuninya. Inilah mu’aqabah.”
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kau berada. Susuli setiap keburukan yang terlanjur kau lakukan dengan kebaikan supaya dapat menebusnya. Dan bergaullah pada manusia dengan akhlaq yang mulia.” (H.R. At-Tirmidzi, dan Ad-Darimi)
Bentuk paling baik mu’aqabah di lapis-lapis keberkahan, tentulah sebagaimana yang Rasulullah sabdakan pada Abu DzarrRadhiallahu ‘Anhu dalam hadits di atas. Yakni agar kita segera menyusuli keburukan dengan kebaikan.
Pada diri Sang Syahidul Mihrab ‘Umar ibn Al-Khaththab, kita menjumpai hakikat ini dalam wujudnya yang tegas. Suatu hari di pasar Madinah, Aslam menyaksikan Sang Khalifah memanggul beban berat lagi lagi kotor di pundak hingga kepalanya. “Apa ini, wahai Amirul Mukminin?” tanya Aslam.
“Tadi aku merasa kagum pada diriku sendiri,” kata ‘Umar berkaca-kaca, “lalu kuangkat beban ini ke kepala dan pundakku untuk mengingatkan diri bahwasanya aku tetaplah seorang hamba yang hina di hadapan-Nya.”
Suatu hari menjelang panen, ‘Umar ibn Al-Khaththab mengunjungi kebunnya di Madinah. Tandan-tandan telah menua, kurma-kurma sudah ranum. Sulur-sulur telah berkerut, anggur-anggur sudah manis. Sejuk dan teduh terasa di dalam kebun itudengan naungan tandan-tandan yang membentangkan hijau dedaunan.
Ketika ‘Umar keluar dari kebunnya, ternyata jama’ah shalat ‘Ashar di Masjid Rasulillah telah bubar. Betapa menyesalnya al-Faruq Radhiallahu ‘Anhu. Gara-gara terlena dalam syahdunya di kebun yang menjelang panen, dia kehilangan jama’ah shalat yang selama ini menjadi penjaga kehambaan dan penyambung ketaqwaannya. Beliau kemudian menghadap Rasulullah.
“Ya Rasulullah, aku sedekahkan kebunku ini untuk jalan Allah. Ambil dan pergunakanlah!”
“Bukankah engkau sangat menyukai kebunmu itu, wahai ‘Umar?” tanya Sang Nabi, “Mengapa kau lakukan ini?”
“Sebab ia telah melalaikanku dari shalat berjama’ah bersamamu.”
“Pertahankanlah kebunmu itu, wahai ‘Umar,” sahut Rasulullah dengan teduh, “dan sedekahkan hasilnya saja.”
“Aku dengar dan aku ta’ati, ya Rasulullah.”
Di lapis-lapis keberkahan, mu’aqabah adalah amal shalih yang menyusuli amal salah, agar jiwa kian terlecut untuk terus berketaatan. Di lapis-lapis kebekahan, mu’aqabah adalah semangat untuk kembali pada ruh kehambaan, setelah sejenak terlena oleh hawa nafsu kesenangan. Di lapis-lapis keberkahan, mu’aqabah adalah penebusan dunia atas kesalahan kita, agar di akhirat berkuranglah sesal menyiksa.


Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :



Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!


Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)



TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:



لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.


"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."



Lathaiful Ma'arif, hlm. 19




 
 
Klik untuk link ke : alikhlasmusholaku.top #Konten Islami dari berbagai sumber #Islamic content from various sources #


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :