" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Selasa, 08 Desember 2015

Catat, 6 Hal yang Diam-diam Bisa Memicu Serangan Jantung



Hampir setiap orang tahu bahwasanya obesitas, diabetes, dan hipertensi merupakan faktor risiko utama dari serangan jantung. Ditambah lagi kalau orang yang bersangkutan punya kebiasaan merokok dan enggan berolahraga. 

Namun tak banyak yang tahu bahwa serangan jantung dapat dipicu oleh hal lain. Dan menurut pakar, sepertiga kasus gangguan jantung disebabkan oleh hal-hal terduga ini. Apa saja faktor 'tersembunyi' yang dimaksud? Simak paparannya seperti dikutip dari Huffington Post, Selasa (10/3/2015) berikut ini.

1. Kemarahan yang tiba-tiba dan meledak-ledak


Dari hasil studi terbaru yang dilakukan terhadap 313 orang yang pernah mengalami serangan jantung, peneliti dari Sydney menemukan serangan jantung 8,5 kali lebih sering terjadi dua jam setelah seseorang tiba-tiba marah secara meledak-ledak dan intens.

Menurut, dua peneliti utama Dr Thomas Buckley (Sydney Nursing School) dan Prof Geoffrey Tofler (University of Sydney), responden yang mengatakan intensitas kemarahannya di atas 5 (dari skala 7 poin) mengakui bahwa mereka merasa merasa 'geram' dan 'hilang kendali' dua jam sebelum serangan jantung.

Untungnya Dr Buckley dan Prof Tofler mengatakan serangan jantung yang dipicu oleh kemarahan sangat jarang terjadi. "Kalaupun benar terjadi karena marah-marah, biasanya mereka juga memiliki sedikitnya satu faktor risiko yang sudah kronis seperti diabetes atau kebiasaan mrokok, dan pernah terkena serangan lebih dari sekali sebelumnya," ungkap Dr Buckley.

Solusi: Perokok dan/atau orang-orang yang memiliki tekanan darah maupun kolesterol yang tinggi harus mencari strategi khusus untuk mengendalikan emosi mereka, seperti menghindari pemicu kemarahan, mengetahui perubahan tubuh saat kemarahan memuncak, dan mempelajari teknik mengelola kemarahan semisal relaksasi.


2. Cemas akut

Dari penelitian yang sama juga terungkap, satu episode cemas akut akan menambah risiko serangan jantung hingga 9,5 kali, dua jam setelah episode tersebut berlangsung.

"Penyebabnya hampir sama, karena kemarahan yang meledak-ledak atau kecemasan biasanya didorong oleh peningkatan detak jantung, tekanan darah, penyempitan pembuluh darah, yang pada dasarnya dapat memicu serangan jantung," terang Dr Buckley.

Solusi: "Mereka harus menghindari berbagai hal yang bisa memicu kemarahan atau kecemasan. Di sisi lain mereka juga harus mencari cara untuk mengurangi tingkat stres, gunakan distraksi, relaksasi, kenali apa yang menyebabkan kemarahan Anda muncul, lalu kendalikan pikiran Anda," timpal Prof Tofler.


3. Aktivitas fisik yang jarang dilakukan

Di Amerika, 11.500 kasus cedera terjadi dalam kurun 1990-2006 hanya karena menyekop salju. Dan yang paling serius ternyata berkaitan dengan kesehatan jantung. Mengapa begitu?

"Kombinasi antara udara dingin yang bisa mempersempit pembuluh darah dan aktivitas fisik yang berat dan jarang dilakukan seperti menyekop salju akan mematikan, terutama bagi mereka yang memang jantungnya lemah, atau memiliki faktor risiko jantung lainnya seperti pernah serangan sebelumnya dan merokok," ungkap peneliti.

Solusi: American Heart Association menyarankan agar ketika menyekop salju, usahakan untuk sering mengambil jeda dan memakai sekop yang kecil agar salju yang harus diangkat tidak begitu banyak. Dan pastikan tidak makan dalam porsi besar sebelumnya.


4. Hubungan seksual

Pada orang-orang tertentu, hubungan seks juga dapat memicu serangan jantung, misalnya pada pria di atas 50-60 tahun. Menurut hasil penelitian empat studi, pria pada usia ini berisiko mengalami serangan jantung 2,7 kali lebih besar saat bercinta.

Hanya saja peneliti memastikan angka kasus serangan jantung akibat seks sangatlah kecil, atau kurang dari satu persen. "Sebagian karena seks biasanya hanya bertahan selama beberapa menit saja. Apalagi kalau orang yang bersangkutan sudah memiliki gejala jantung koroner, maka saat orgasme yang biasanya hanya 10-15 detik dan tekanan darah mereka naik, serangan bisa saja terjadi," terang peneliti.

Solusi: Untuk meminimalisir risikonya, orang-orang dengan risiko ini sebaiknya memeriksakan kondisi jantung mereka sebelum bercinta. Atau jika tidak, menambah rutinitas olahraga.