" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 05 Desember 2015

Buah Lokal Unggul dalam Rasa dan Gizi



Meski secara tampilan buah-buahan impor lebih unggul, namun buah tropis atau buah lokal sebenarnya memiliki banyak kelebihan. Salah satunya adalah rasanya yang segar dan lebih lezat.

Buah-buahan impor memang tampak lebih menggiurkan dan menggugah selera, tetapi rasanya cenderung lebih datar. Hal tersebut juga diungkapkan Dr.Fiastuti Witjaksono, Sp.GK.

"Dibandingkan dengan buah apel atau pir, buah-buahan lokal rasanya lebih enak dan tajam," katanya dalam acara peluncuran varian Buavita Khas Nusantara di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain "menang" dalam urusan rasa, buah lokal juga memiliki gizi yang lebih baik karena tidak melalui penyimpanan lama atau pengawetan yang menurunkan kualitas. Buah impor bisa disimpan enam bulan hingga setahun, tetapi vitaminnya merosot.

Fiastuti menambahkan, cukup banyak buah lokal yang masuk dalam kategori superfruit atau buah dengan keistimewaan gizi. Misalnya saja pepaya, delima, stroberi, pepaya, atau buah naga. Buah markisa juga diketahui tinggi kandungan vitamin C-nya.

"Buah yang memiliki warna merah atau kuning kandungan antioksidannya tinggi. Selain itu buah tropis juga biasanya mengandung mineral tinggi, misalnya saja air kelapa atau sirsak," ujarnya.

Walau buah lokal memiliki kualitas yang bagus, tetapi terkadang buah-buahan ini harus dipromosikan dengan nama impor. Misalnya saja pepaya california dan pepaya hawaii yang sebenarnya merupakan varietas pepaya yang dikembangkan Institut Pertanian Bogor. Durian asal Bogor yang rasanya lebih lezat dari montong Thailang juga dinamai "montong lokal" untuk menarik minat konsumen.

Jalan untuk menjadikan buah lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri memang masih panjang. Apalagi konsumsi buah orang Indonesia tergolong masih rendah. Orang Indonesia baru mengonsumsi buah dan sayur sekitar 35 kg/kapita/tahun, sedangkan orang Jepang sudah mengonsumsi 150 kg/kapita/tahun.