" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Kamis, 05 November 2015

Shalat Ghoib untuk Isteri Ustad Hidayat NW

Shalat Ghoib untuk Isteri Ustad Hidayat NW 
Tue, 22 January 2008 04:11 - | Dibaca 2.811 kali | Bidang shalat


Assalamu 'alaikum wr. wb.
Ysh ustad H. Ahmad Sarwat, Lc
Sering kita temui, sebelum shalat Jumat pengurus masjid mengajak kita untuk shalat ghoib (setelah shalat Jumat) atas permintaan salah seorang jamaah yag keluarganya meninggal di kota lain.
Namun saya pernah membaca bahwa shalat ghoib hanyalah untuk orang yang meninggal di negeri yang jauh, dengan mengacu hadits ttg shalat ghoib Rasul SAW untuk raja Najasy.
Sampai di mana batasan negeri yang jauh itu? Apakah negeri di mana tidak ada org Islam? Hampir semua negeri sekarang ini ada orang Islam dan insyaallah sudah dishalatkan.
Apakah benar shalat ghoib hanya untuk raja Najasy saja?
Jazakallah khair,
Wassalam wr. wb.
Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Kalau kita lihat dan teliti kitab-kitab fiqih yang muktamad, kita mendapatkan kenyataan bahwa memang para fuqaha berbeda pendapat dalam masalah shalat ghaib.
Bahwa para fuqaha terbagi menjadi dua pendapat dalam masalah shalat ghaib:
1. Pendapat Yang Mendukung Shalat Ghaib
Para fuaha dari kalangan Asy-Syafi`iyah dan Al-Hanabilah berpendapat bahwa shalat ghaib untuk jenazah itu ada masyru`iyahnya dan merupakan shalat sunnah yang dianjurkan. Meski jenazahnya tidak berada di hadapan kita seperti di luar negeri.
Dasarnya adalah praktek shalt ghaib Rasulullah SAW kepada jenazah raja Habasyah, An-Najasyi.
Dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW menshalatkan An-Najasyi dan bertakbir 4 kali. (HR Muttafaqun 'alaih)

Mazhab pun membolehkan shalat ghaib untuk jenazah yang jaraknya tidak terlalu jauh, sehingga posisi jenazah tidak harus berada di luar negeri. Biasanya, mereka menggunakan jarak batas minimal safar, yaitu sejauh minimal sejauh 16 farsakh, atau setara dengan 89 km.
Mazhab ini juga membolehkan posisi jenazah tidak searah dengan arah kiblat, asalkan shalatnya tetap menghadapkiblat. Maka dalam pandangan mazhab ini, orang-orang yang tinggal di kota-kota yang ada di sebelah barat Kota Yogyakarta tetap dibenarkan menshalati jenazah almarhumah.
Bahkan fuqaha kalangan Al-Hanabilah membolehkan untuk shalat jenazah secara ghaib hingga rentang waktu sebulan setelah dimakamkannya jenazah itu.
2. Pendapat Yang Menolak Pensyariatan Shalat Ghaib
Mereka adalah para ulama dari kalangan Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah. Dalam pandangan mereka, syariat Islam tidak menetapkan adanya ibadahshalat ghaib.
Sedangkan praktek Rasulullah SAW yang dahulu pernah menshalatkan jenazah Raja Habasyah, Najasyi, menurut mereka adalah sebuah pengecualian atau sifatnyalughawiyah. Kalau pun dikerjakan, hukumnya adalah makruh.
Jadi mereka bukan mengingkari kenyataan bahwa Rasulullah SAW melakukan shalat ghaib, hanya saja menurut pandangan mereka, perbuatan itu merupakan kekhususan peristiwa yang hanya berlaku pada satu momen itu saja.
Buktinya, tidak pernah ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa beliau pernah melakukan shalat ghaib selain hanya untuk An-Najasyi. Padahal begitu banyak shahabat nabi SAW yang meninggal dunia yang tidak tinggal di Madinah.
Dalam logika mereka, kalau seandainya memang benar ada pensyariatan shalat bhaib itu, seharusnya Nabi SAW tidak hanya melakukan hanya dalam satu kasus itu saja.
Untuk lebih jelasnya bagaimana perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha itu, silahkan rujuk kitab-kitab berikut ini:
  • Ad-dur Al-Mukhtar jilid 41 halaman 813.
  • Al-Qawanin Al-Fiqhiyah halaman 94
  • Asy-Syarhu As-Shaghir jilid halaman 571
  • Al-Majmu` Syarah Muhazzab jilid 5 halaman 209
  • Al-Muhazzab jilid 1 halaman 134
  • Mughni Al-Muhtaj jilid 1 halaman 345
  • Al-Mughni jilid 2halaman 512
  • Kasysyaf Al-Qanna` jilid 2 halaman 126.
Wallahu a`lam bishshawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc