" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Rabu, 04 November 2015

Sahkah Nikah Bila Suami Berbohong Tentang Statusnya yang Sudah Beristri?

Sahkah Nikah Bila Suami Berbohong Tentang Statusnya yang Sudah Beristri? 
Tue, 12 February 2008 02:52 - | Dibaca 3.005 kali | Bidang nikah

Saya punya saudara Ipar (Wanita) yang telah menikah selama 8 tahun dengan seorang Pria. Pada saat menikah (Ijab Kabul) sang Pria menyatakan bahwa dia masih Lajang (belum beristri), namun ternyata setelah 8 tahun menikah. Pria tersebut diketahui telah memiliki Isteri. Bagaimana hukumnya? Apakah nikahnya sah atau batal? Dan bagaimana solusinya secara hukum Fiqih?
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Pernikahan bisa dilihat banyak sudut pandang. Salah satunya sudut pandang hukum, yang lain misalnya sudut pandang hati, hubungan interpersonal, akhlaq, etika pergaulan dan lainnya.
Kita mulai dari sudut pandang hukum. Hukum biasanya memang sangat hitam putih, sehingga terkesan kaku dan tidak manusiawi. Tapi itulah yang namanya hukum.

Maka kalau pertanyaan anda itu berbunyi: sah apa tidak? Jawabnya tentu saja sah. Lho kok sah?
Ya, karena urusan sah atau tidak terkait dengan syarat sah dan terpenuhinya rukun nikah. Dalam pernikahan itu, bila sudah ada wali yang sah, calon suami, akad berupa ijab dan kabul serta hadirnya dua orang saksi laki-laki muslim, maka semua syarat dan rukun telah dipenuhi. Sebagian ulama menambahkan maha sebagai syarat yang harus dipenuhi.
Jadi urusan apakah si suami bohong pada isterinya bahwa ternyata dia sudah punya isteri sebelumnya, jelas tidak ada kaitannya dengan syarat sah sebuah akad nikah.
Maka pendekatannya jelas bukan dari sudut pandang hukum. Mungkin dari pendekatan akhlaq dan hubungan interpersonal. Misalnya, kalau sejak awal membangun rumah tangga, sudah tidak dilandasi dengan kejujuran, bagaimana mungkin rumah tangga itu akan bahagia dan rukun sentosa?
Dan ada jenis orang yang sekali merasa dikecewakan, akan selamanya tidak pernah bisa percaya lagi. Kalau kebetulan orang yang seperti ini yang dibohongi oleh suaminya, kita jangan berharap banyak dengan rumah tangga itu.
Jadi dari segi hukum, nikahnya tetap sah. Tinggal masalah akhlaq yang rasanya agak kurang dan perlu diperbaiki di masa mendatang.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc