" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Senin, 02 November 2015

Menikahi Wanita yang Sedang Koma Karena Sakit...



Menikahi Wanita yang Sedang Koma Karena Sakit.... 
Mon, 3 March 2008 23:03 - | Dibaca 2.648 kali | Bidang nikah

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Seperti yang saya lihat di film Ayat-ayat Cinta, ada adegan si lelaki menikahi wanita yang sedang tergeletak tak sadarkan diri karena sakit parah (koma). Apakah sah nikahnya? Karena si wanita pasti tidak sadar bahwa dia sedang dinikahkan dan meskipun mungkin mencintai tapi belum tentu dia mau menikah dengan lelaki tersebut.
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Sebagaimana kita ketahui bahwa akad nikah dalam syariah Islam adalah akad yang terjadi antara seorang ayah dengan laki-laki yang anak menjadi menantunya.
Sang Ayah mengucapkan ijab, yaitu lafadz yang intinya beliau menikahkan si calon menantu dengan anak gadisnya. Dan si calon menantu akan mengucapkan lafadz qabul, yang intinya adalahpersetujuan atas ijab tersebut.
Kalau ijab dan qabul itu terjadi dan disaksikan oleh minimal dua orang laki-laki yang muslim, baligh, aqil, merdeka, dan adil, maka akan nikah itu sah.
Lalu bagaimana dengan si gadis? Tidak adakah peranan yang dimilikinya? Tidakkah si gadis itu harus dimintai persetujuanya?
Dalam hukum seorang gadis dengan ayah kandungnya, kita mengenal istilah wali mujbir, yaitu wali yang punya hak sepenuhnya atas diri seorang gadis. Dari sekian deret orang yang berwenang menjadi wali, yang posisinya sampai berhak 'memaksa' hanyalah ayah dan kakek (ayahnya ayah).

Dan kewenangan wali mujbir memang sampai bisa menikahkan si anak gadis, dengan atau tanpa persetujuanya. Setidaknya, akad yang dilakukan oleh seorang wali mujbir itu hukumnya sah.
Namun lepas dari hukum sah atau tidaknya, tentu saja seorang ayah yang melakukan perbuatan pemaksaan terhadap anak gadisnya, dia juga akan ditanya di sisi Allah atas kesewenangan dan kezhalimannya.
Jadi mohon dibedakan dulu antara kewenangan dan kesewenang-wenangan. Keduanya mungkin saja terjadi. Kewenangan adalah hak dalam hukum, namun kesenang-wenangan adalah tindakan yang zhalim.
Sebagai ilustrasi, secara ketentuan almamater, seorang dosen punya kewenangan untuk memberi nilai secara subjektf kepada mahasiswanya. Dia bisa memberi A atau E, semua adalah kewenangan dosen. Bahkan pak Rektor pun tidak hak untuk mencampuri hak atau kewenangan ini.
Namun di sisi lain, bila seorang mahasiswa diberi nilai E oleh seorang dosen secara zhalim, padahal mahasiswa itu berhak dapat A, maka kita katakan bahwa dosen ini telah berlaku sewenang-wenang.
Tapi apakah bisa diubah kewenangannya? Tentu tetap tidak bisa, kecuali bila dosen itu sendiri yang mengubah keputusannya.
Demikian juga dengan kewenangan seorang wali mujbir, dia berhak menikahkan anak gadisnya dengan atas persetujuan atau tidak sama sekali. Juga berhak menikahkannya dengan sepengetahuan anak gadisnya atau tidak sama sekali.
Lalu solusi apa yang paling tepat?
Sederhana saja, seorang anak gadis seharusnya sangat dekat dengan ayahnya. Sehingga sang ayah tidak perlu menggunakan hak preogratifnya dalam hal menikahkan anak gadis itu. Biarkanlah anak gadis menjadi sangat dekat dengan ayahnya, sehingga apa pun yang diinginkan oleh si gadis, ayahnya akan memenuhinya, termasuk dalam hal memilih calon suami.
Maka bagi seorang wanita muslimah yang aktifis, perlu diingat bahwa semua aktifitas Anda menjadi seorang kader atau aktifis, akan menjadi sia-sia dan tidak ada gunanya, manakala anda tidak mampu mengambil hati ayah kandung. Sebab biar bagaimana pun, hak dan wewenang ayah kandung itu mutlak dibenarkan dalam syariah Islam.
Kalau seorang wanita datang dengan calon suami ideal pilihannya, tapi sang ayah masih menggeleng, jelas sudah siapa yang menang. Yang menang tentu saja ayah, meski si gadis telah didukung oleh 1.000 ustadz atau ustadzah kondang sekalipun.
Kembali kepada wanita yang sedang koma lalu dinikahkan oleh ayah kandungnya, maka hukumnya sah. Karena persetujuan seorang pengantin wanita tidak termasuk di dalam syarat sah sebuah akad nikah.
Menikahi Wanita Kristen
Mungkin setelah itu anda akan bertanya lagi, bagaimana hukumnya menikahi wanita yang saat dinikahi agamanya masih kristen? Dan bagaimana pula status walinya, apakah si ayah yang masih kristen itu juga bisa menjadi wali dalam akad nikah? Bukankah syarat seorang wali harus beragama Islam?
Jawaban atas pernyataan itu adalah bahwa seorang laki-laki muslim memang dibenarkan menikahi wanita ahli kitab. Dan hal itu ditetapkan lewat ayat Al-Quran, sunnah nabawiyah dan juga amal (praktek) para shahabat nabi SAW.
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka. wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.(QS. Al-Maidah: 5)
Dan khusus dalammasalah syarat wali nikah yang harus muslim, maka khusus dalam kasus seorang wanita ahli kitab yang dinikahi seorang laki-laki muslim, bila ayahnya masih yahudi atau nasrani, memang dibenarkan untuk menjadi wali.
Ini merupakan sebuah pengecualian yang bersifat kasuistik, tidak bisa digeneralisir ke dalam kasus lainnya. Karena itu syarat keIslaman seorang wali hanya berlaku manakala gadis yang dinikahi itu muslimah, kalau gadis itu ahli ktiab, maka walinya boleh ahli kitab juga.
Siapakah Ahli Kitab?
Setiap membahas 'ahli kitab', biasanya selalu muncul diskusi dan pertanyaan baru, siapakah yang dimaksud ahli kitab?
Memang kita akui ada sebagian kalangan yang mengataka bahwa ahli kitab itu tidak ada lagi pada hari ini. Alasannya, Injil yang mereka pakai bukan lagi Injil yang asli.
Demikian juga dengan aqidah mereka, sudah banyak yang menyimpang. Misalnya paham trinitas yang dibawa oleh Paulus. Sehingga buat sebagian kalangan, wanita kristen di hari ini tidak termasuk ahli kitab yang halal dinikahi.
Kami menjawab masalah ini dengan sebuah analogi. Kalau dikatakan bahwa agama Kristen hari ini tidak termasuk ahli kitab, lantaran Injil mereka sudah tidak asli lagi, bukankah Injil di masa Nabi Muhammad SAW pun sudah dipalsukan? Bahkan sejak awal memang tidak ada Injil yang asli, bukan? Karena Injil tidak pernah ditulis dan dijaga sebagaimana umat Islam menjaga Al-Quran.
Namun di masa Rasulullah SAW, para shahabat menikahi wanita ahli kitab. Tidak peduli dan tidak ada kaitannya dengan kepalsuan Injil mereka. Mereka tetap dikatakan ahli kitab dan statusnya kafir, justru lantaran mereka telah memalsukan Injil.
Demikian juga, kalau dikatakan bahwa agama Kristen sekarang ini tidak layak digolongkan sebagai ahli kitab karena telah berpaham trinitas, bukankah di masa Rasulullah SAW mereka pun telah menyembah nabi Isa dan punya tiga tuhan?
Lalu apa bedanya Kritsten hari ini dengan Kristen di masa Nabi? Sama-sama telah keluar dari aqidah dan syariah yang dibawa oleh Nabi Isa.
Maka menurut hemat kami, meski tetap menghormati segala perbedaan, wanita Kristen pada hari ini tetap saja kita perlakukan sebagai ahli kitab, sebagaimana dahulu Rasulullah SAW memperlakukannya. Mereka tidak kita sebut sebagai watsaniyyin(penyembah berhala). Maka sembelihan mereka halal dan wanita mereka halal pula untuk dinikahi.
Tapi tentu saja semua itu hanya merupakan tataran hukum dasar terkait denga nhitam putihnya hukum. Sedangkandalam prakteknya, tentu saja masih ada seribu pertimbangan lainnya untuk tidak menikahi wanita Kristen menjadi isteri.
Dan karena pertimbangan lain itupula mengapa dahulu Umar bin Al-Khattab pernah meminta aparatnya yang terlanjur menikahi wanita ahli kitab untuk segera menceraikannya.
Ternyata selain pertimbangan syariah secara hitam putih, masih ada beberapa pertimbangan lainnya, misalnya faktor gejolak sosial dari para wanita muslimah, di mana mereka akan merasa 'ditinggalkan' kalau melihat laki-laki muslim berbondong-bondong menikahi wanita yahudi dan kristen.
Lagian, kisah seorang mahasiswa Indonesia menikahi wanita Kristen Koptik Mesir kan cuma ada di novel dan film, kenyataaannya sih tidak pernah. Alih-alih menikahi wanita Kristen Koptik, menikahi wanita Mesir yang muslimah saja nggak ada yang berani. Padahal muslimah Mesir itu dijamin halalan thayyiban.
Salah seorang teman yang kuliah di Mesir menjawab, "Wah ustadz, bukan masalah halalnya, tapi kalau kami menikahi muslimah Mesir, bingung nanti ngasih makannyapakai apa?" Yang lain menimpali, "Buat kami cukuplah menikahi mahasiswi asal Indonesia saja, biar bisa sama-sama makan sambel terasi dan semur jengkol", tambahnya sambil terkekeh-kekeh. Wealah...
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu, 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat. Lc