" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Selasa, 03 November 2015

Keshahihan Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim

Keshahihan Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim 
Thu, 21 February 2008 04:47 - | Dibaca 3.262 kali | Bidang hadits

Assalaamu'alaikum Wr.Wb
  1. Apakah semua Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori & Muslim bisa kita pegang keshohihannya..?" tanpa perlu mengeceknya kembali..?
  2. Bukankah ada Shohihul Isnad Wa dhoiful matni..?
Ust. kali ini saya benar-benar butuh jawabannya, jadi.., saya berharap Ust. mau menjawabnya.
Jazakumullahu khoiron karsiro...Wa billahi taufik wal hidayah wassalaamu'alaikum wr. wb.
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Sebelumnya perlu diketahui bahwa selain hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Ash-Shahih, Al-Imam Al-Bukhari ternyata juga banyak meriwayatkan hadits. Yang beliau jamin keshahihannya adalah yang ada di dalam kitab Ash-Shahih saja, sedangkan yang tidak terdapat di dalamnya, beliau sendiri belum menjamin keshahihannya.
Namun sudah menjadi kesepakatan para ulama hadits, bahwa bila suatu hadits disebutkan telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari, berarti yang dimaksud adalah hadits yang terdapat di dalam kitab Ash-Shahih. Sedangkan yang tidak terdapat di dalam kitab itu, lazimnya harus disebutkan bahwa Al-Bukhari meriwayatkannya di dalam kitab lain.
Jadi mudahnya, kalau suatu hadits memang terdapat di dalam kedua kitab itu, maka sudah dijamin 100% keshahihannya.
Siapa yang tidak kenal dengan Al-Imam Bukhari dan Muslim? Keduanya adalah icon agama Islam yang telah memastikan keaslian agama Islam. Dan kitab Shahih Bukhari adalah kitab tershahih kedua setelah Al-Quran. Dan yang ketiga adalah Shahih Muslim.
Keshahihan Bukan Satu-satunya Ukuran

Namun setiap nash hadits yang shaih tidak lantas berarti sudah menjadi hukum dan keputusan final. Sebab masih ada sekian masalah yang perlu diselesaikan.
1. Berbedaan Makna Lafadz 
Misal yang pertama adalah perbedaan makna dalam lafadz hadits shahih. Haditsnya sih shahih, namun secara makna, ternyata lafadznya punya berbedaan makna. Maka sisi perbedaan makna ini masih akan menimbulkan perbedaan pendapat, setidaknya akan ada beberapa versi pendapat yang berbeda.
2. Masalah Nasakh dan Mansukh 
Yang kedua, boleh jadi ada hadits-hadits yang shahih, tapi belum tentu semuanya bisa diterima sebagai dalil hukum. Karena ada masalah nasakh dan mansukh.
Maka hadits shahih yang keluar belakangan adalah yang diberlaku sedangkan yang lebih dulu tidak berlaku.
Di antara contohnya adalah dua hadits berikut ini tentang wajibnya berwudhu bila kita makan makanan yang dimasak. Dalilnya adalah:
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Harus wudhu' bila makan makanan yang dimasak api." (HR Muslim kitabul haidh bab wudhu dari makanan yang dimasak dengan api)
Hadits ini tegas sekali mewajibkan kita berwudhu' bila makan makanan yang dimasak dengan menggunakan api. Dalam levelnya jelas shahih, karena diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.
Namun di dalam kitab yang sama, ternyata kita juga menemukan dalil yang sama-sama shahih, tetapi justru isinya tidak mengharuskan wudhu' bila makan makanan yang dimasak api.
Dari Amru bin Umayyah Ad-Dhamiri radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW telah memotong paha kambing yang dimakannya, kemudian langsung shalat tanpa berwudhu' lagi.(HR Muslim kitab haidh bab nasakh wudhu' karena makan makanan yang dimasak api).
Maka kesimpulannya, meski kita punya hadits yang shahih, belum tentu bisa langsung digunakan, karena boleh jadi ternyata hadits itu sudah dinasakh oleh dalil yang lain.
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu bahwa akhir dari dua perkara Rasululah SAW adalah meninggalkan wudhu' setelah makan makanan yang dimasak dengan api. (HR Abu Daud kitabutthaharah)
3. Al-'Aam dan Al-Khaash 
Juga ada masalah 'aam dan khaash, di mana kalau ada dua dalil yang bertentangan, padahal sama-sama shahih, harus dicari penjelasan mana yang merupakan dalil umum dan mana yang merupakan dalil khusus.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc