" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Senin, 02 November 2015

Haramkah Keluar Rumah untuk Bekerja Pada Masa Iddah?



Haramkah Keluar Rumah untuk Bekerja Pada Masa Iddah? 
Thu, 28 February 2008 22:15 - | Dibaca 2.614 kali | Bidang nikah

Assalamualaikum wr. wb.
Jika seorang isteri sedang dalam masa iddah karena suami meninggal, bolehkah ia keluar rumah untuk bekerja? (isteri berstatus sebagai karyawan dan tidak oleh cuti lebih lama) bagaimana hukumnya jika ia keluar rumh untuk mengurus keperluan administrasi kematian suaminya? Haramkah keluarnya isteri tersebut? Mohon disertakan dalilnya.
Wassalam
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Seorang yang meninggal dunia dan meninggalkan isteri, maka bagi isterinya ada masa 'iddah selama 4 bulan 10 hari. Terhitung sejak hariwafatnya sang suami tercinta ke alam baka menemui Tuhannya.
Ketetapan masa 'iddah yang merupakan masa berkabung ini telah disebutkan di dalam Al-Quran Al-Kariem dan telah menjadi ijma' seluruh kaum muslimin sepanjang 14 abad ini.
Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri menangguhkan dirinya empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.(QS. Al-Baqarah: 234)
Maka atas ayat ini, para ulama telah sepakat bahwa seorang janda tidak boleh keluar rumah selama masa waktu itu. Juga tidak boleh bepergian, berdandan atau pun memakai wewangian. Bahkan sekedar menerima lamaran pun tidak diperkenankan.

Bagaimana Dengan Nafqah?
Para ulama mengatakan bahwa nafkah seorang janda yang ditinggal mati suaminya harus ditanggung oleh baitulmal muslimin. Seandainya tidak ada pihak keluarga yang menjadi penanggung nafkahnya.
Namun para ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah memberikan sedikit kelonggaran bagi wanita tersebut, seandainya tidak ada pihak yang menanggung nafkah dan belum ada baitulmal.
Kelonggaran itu adalah untuk memberi kesempatan kepada mereka untuk keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah hanya di siang hari saja. Sedangkan malam hari mereka wajib masuk rumah, karena tidak lazimnya wanita bekerja di malam hari, terutama di masa 'iddah.
Apa yang dikecualikan a oleh mazhab Al-Hanafiyah ini sebenarnya merupakan tindakan darurat, dengan satu dari dua pilihan. Apakah mau terus hidup dengan bekerja ke luar rumah atau tidak keluar rumah karena larangan 'iddah lalu mati kelaparan menyusul suaminya.
Maka seandainya seorang isteri masih punya keluarga, misalnya anak-anak, atau kakak, adik, keponakan, paman, bibi dan teman-teman, mereka inilah yang harus turun tangan memberikan bantuan. Agar kesedihannya ditinggal mati suami bisa terobati.
Rasulullah SAW sangat punya kepedulian terhadap para armalah, yaitu para wanita yang telah ditinggal mati suaminya. Dan salah satunya bisa kita lakukan dengan membantu mereka menguruskan segala santunan, dana kematian dan segala yang berhubungan dengan nafkah mereka.
Membantu para wanita yang telah ditinggal mati suaminya adalah sebuah perbuatan sangat mulia. Salah satunya dengan cara memberi mereka hak cuti 'iddah yang berupa libur panjang selama 4 bulan 10 hari. Ini harus diperjuangkan oleh Bapak-bapak kita yang mulia di DPR. Semua perusahaan harus tahu bahwa ada ketentuan syariat Islam dalam masalah ini.
Dan hal itu bisa terjadi pula dengan tiba-tiba atas diri isteri kita juga, seandainya Allah SWT berkehendak untuk segera memanggil kita menghadapnya.
Maka muliakanlah para janda dan sayangilah anak yatim, semoga Allah memuliakan dan menyayangi kita, Amien.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc