" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Selasa, 03 November 2015

Ayam POP Restoran Padang Direndam Alkohol?



Ayam POP Restoran Padang Direndam Alkohol? 
Mon, 18 February 2008 00:58 - | Dibaca 2.836 kali | Bidang kuliner

Assalamu'alaikum
Ma'af Pak Ustad saya ingin menanggapi jawaban ustad terhadap pertanyaan masakan/amakan yang yang dicampur dengan khamar.
Betul Ustad untuk masakan Jepang biasanya makanan tersebut dicampur dengan bahan yang dibuat dari Sake (minuman khas jepang yang berasal dari permentasi biji-bijian/beras).
Selain masakan jepang, masakan Chinese food juga sama memakai arak merah (ang ciu) yang dibuat dari fermentasi beras ketan. Pedagang sering menjualnya sebagai penyedap makanan dibotol dengan nama lain (takut menyebut arak karena takut tidak laku)
Selain itu masakan barat juga suka mencampur masakannya dengan anggur (wine) yang dibuat dari permentasi perasaan anggur.
Selain itu saat ini ada juga masakan asli dalam negeri yang dimasak dengan merendam terlebih dahulu dengan arak agar "empuk" katanya. Yang mengkhawatirkan yang menjualnya itu adalah restoran padang di mana kita tahu padang punya selogan "adat bersendi sara. sara bersendi kitabullah." mungkin tidak semua tapi jelas itu punya potensi merusak. makanan yang saya maksud adalah ayam pop.
Semuanya beranggapan apabila dimasak, maka alkohol yang terkandung di dalamnya akan menguap. jadi tidak ada sisanya. sedang ada hukum "apabila yang halal tercampur dengan yang haram, maka yang menang adalah yang haram"
Kemudian bila ada makanan/minuman yang namanya menyerupai dengan "arak/khamar" tapi tidak memabukan hanya sebutan saja. ini juga punya potensi berbahaya yaitu masyarakat akan terbiasa dengan hal tersebut hingga akhirnya menjadi biasapula denganyang asli (khamar) memabukan. contoh bintang zero nya bir bintang, rum essence (perisa yang memiliki rasa seperti rum).
Demikian tanggapan saya buat ustad kerena saya "seperti" membaca kurang tegas ustad menjawab pertanyaan "Halalkah Arak yang Dipakai Dalam Makanan?" Mohon ma'af pak ustad atas kebodohan saya. Saya menulis ini karena sering kali jawaban ustad dipakai sebagai "hujah" beberapa dimilis. Terima kasih
Wassalamu'alaikum
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Kami tidak tahu kalau ada di antara jajaran restoran padang yang melakukan tindakan merendam ayam di dalam alkohol sebelum dimasak, seperti yang anda katakan.
Sebagai muslim, tentu saja kalau mendengar informasi semacam ini, bukan dengan cara menyebar-luaskan, karena sifatnya masih berupa gossip dan issue.
Kewajiban seorang muslim apabila mendengar 'kabar angin' dan 'kabar burung' adalah melakukan tabayyun. Hukumnya justru wajib, karena Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Quran tentang kewajiban tabayyun ini.
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. Al-Hujurat: 6)

Kepastian Hukum
Dalam sistem syariat Islam, ada kaidah-kaidah yang perlu kita pahami. Misalnya kaidah berikut ini:
Hukum asal segala sesuatu adalah boleh.
Kaidah ini mengajarkan kepada kita bahwa selain urusan ritual, maka apapun di dunia ini hukum asalnya boleh, termasuk masalah makanan. Prinsipnya, semua makanan itu hukumnya boleh. Atau tepatnya, semua benda di dunia ini pada dasarnya boleh dimakan, kecuali bila ada larangan dari Allah.
Termasuk jugaayam POP di restora Padang, hukum dasarnya adalah halal, boleh dimakan. Kecuali bila ada kepastian bahwa ayam itu dicampur atau dibumbui khamar yang memabukkan.
Namun untuk mengharamkan ayam POP itu, kita harus punya bukti otentik berupa fakta yang jelas, kesaksian atau pun pembuktian yang sampai ke derajat yakin. Bila hanya sekedar dugaan atau kecurigaan, secara hukum kita tidak dibenarkan untuk mengubah ayam POP itu menjadi haram.
Karena kita mengenal kaidah fiqhiyah yang amat terkenal seperti berikut ini:
Hukum yang didasarkan pada sesuatu yang yakin tidak bisa berubah berdasarankeragu-raguan.
Apa yang dengar itu baru sekedar 'kata orang', orang mengistilahkan sekedar 'qala wa qila', belum memenuhi standar keyakinan. Maka anda belum berhak untuk menjatuhkan vonis keharamannya. Juga tidak berhak menyebarkan informasi yang malah nantinya akan meresahkan masyarakat.
Yang Harus Dilakukan
Sekedar saran, yang perlu dilakukan oleh kita semua saat menerima informasi seperti itu, bukanlah kemudian membuat sensasi, tetapi justru melakukan penelitian secara sah.
Informasi awal seharusnya bukan untuk konsumsi publik, tetapi untuk para ulama, ustadz dan para peneliti yang resmi. Berdasarkan temuan awal dan kecurigaan, team ini bergerak melakukan tabayyun ke tempat-tempat yang diisukan.
Lalu dilakukan wawancara dan juga penelitian secara ilmiyah. Kalau ternyata benar memang ada tindakan merendam ayam POP itu dengan alkohol, tentu pemilik restoran itu akan diingatkan, agar jangan lagi mengulanginya.
Kalau ternyata memang benar mereka merendam ayam POP di dalam alkohol, dan mereka tetap bersikeras tetap melakukannya, padahal sudah diperingatkan bahwa hal itu haram, maka silahkan diumumkan di media bahwa ayam POP di restoran padang itu haram hukumnya.
Pada saat itulah kita sudah berhak bahkan berkewajiban untuk menyebarkan informasi keharaman makan di restoran tersebut.
Bagaimana bila mereka berdusta? Mengaku tidak menggunakan alkohol tapi ternyata diam-diam tetap pakai? Apakah tetap haram atau tidak?
Dalam hal ini kita punya ketetapan dalam syariah Islam yang berbunyi:
Kita menyimpulkan hukum berdasarkan apa yang dzahir (kelihatan) sedangkan apa yang di balik itu menjadi urusan Allah.
Maka kita tidak akan dituntut oleh Allah atas apa-apa yang sudah di luar pengetahuan kita. Apa yang kita ketahui secara resmi adalah bahwa pengusaha restoran itu sudah menegaskan bahwa mereka tidak menggunakan alkohol. Dan pengakuan itu sudah sah. Itulah yang dzahir.
Seandainya dia orang yang culas dan penipu, lalu diam-diam tetap saja mencampur dengan alkohol, maka dosanya bukan pada kita tetapi pada dirinya.
Kaidah: Bila Haram dan Halal Bercampur Yang Menang Yang Haram?
Kaidah di atas ada benarnya tapi ada tempat dan syarat yang harus terpenuhi. Dan kaidah itu menjadi tidak berlaku manakala syaratnya tidak terpenuhi.
Misalnya, kalau dikatakan antara air dan najis bercampur maka air itu jadi najis, bagiamana bila air itu berupa air di laut dan najis itu adalah sampah limbah rumah tangga? Apakah seluruh air laut di dunia ini otomatis harus 'kalah' dengan najis limbah rumah tangga? Tentu tidak, bukan?
Sebab dari segi jumlah, yang najis itu jauh lebih sedikit dari yang halal. Karena itulah institusi sekelas Majelis Ulama Indonesia (MUI) masih membolehkan kadar Alkohol sampai 2% dalam obat-obatan. Entah apa alasannya, barangkali karena kadar Alkohol 2% itu dianggap sangat sedikit dan tidak memabukkan.
Istihalah
Selain itu di dalam fiqih Islam khusus tentang bab Khamar, kita mengenal istihalah, yaitu proses berubahnya khamar menjadi cuka.
Di masa lalu, khamar dibuat dari perasan buah anggur, kurma atau buah lainnya. Perasan itu tentu saja masih halal diminum, sebab perasan itu belum lagi menjadi khamar, karena belum punya efek memabukkan. Perasan itu dinamakan 'ashir, atau bahasa terjemahannya: juice.
Lalu 'ashir itu diberi ragi agar terjadi fermentasi, sehingga menjadi seperti tape, rasanya akan berubah. Itu pun belum menjadi khamar, Satu proses lagi, maka jadilah perasan itu khamar, karena kalau diminum sudah memberi efek mabuk (iskar). Dan minuman itu dinamakan khamar.
Tapi nanti khamar itu akan mengalami proses lainnya menjadi cuka. Dalam kitab fiqih sering disebut dengan: takhallal khamru, khamar yang telah berubah menjadi cuka. Hukumnya halal karena pada hakikatnya sudah bukan lagi berwujud khamar, melainkan berwujud cuka. Kalau diminum, sama sekali tidak mengakibatkan mabuk, tapi asam rasanya. Namanya saja cuka.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc