" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 17 Oktober 2015

Wali Hakim Wanita



Wali Hakim Wanita
Tue, 18 March 2008 00:32 - | Dibaca 2.322 kali | Bidang nikah
Membaca penjelasan dari pak ustadz, bahwa wali hakim adalah presiden/pemimpin suatu negara, dan bila beliau berhalangan maka bisa digantikan oleh bawahanya sampai ke tingkat KUA.
Yang saya tanyakan, bisakah melaksanakan pernikahan dengan menggunakan wali hakim pada suatu negara yang pemimpinya adalah seorang perempuan? Dan bagaimanakah dengan anak perempuan hasil ZINA yang hendak menikah, sedangkan dia tidak punya wali?
Terimakasih atas jawabanya

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Kalau pertanyaannya bisa ata tidak bisa, maka jawabnya tentu saja tidak bisa. Karena seorang wali dalam sebuah akad nikah harus laki-laki. Jadi kalau sampai seorang hakim (penguasa tertinggi) di suatu negara adalah seorang perempuan, tentu saja tidak sah untuk jadi wali.

Karena itulah para ulama sedunia sejak zaman Rasulullah SAW telah sepakat mengharamkan wanita menjadi pemimpin tertinggi di suatu negara.
Mereka mungkin berbeda pendapat tentang wanita yang memegang jabatan tinggi di suatu negara, sebagaian membolehkan dan sebagian tetap menghramkan. Akan tetapi kalau sudah sampai titik al-wilayah al-uzdhma (pemimpin tertinggi), mereka sepakat mengharamkannya.
Bukan apa-apa, karena salah satunya akan membuat wanita yang tidak punya wali malah jadi tidak bisa menikah, lantaran penguasa tertingginya justru seorang wanita. Dan hal itu telah ditegaskan dalam banyak dalil, seperti hadits berikut ini.
'Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (pemerintahan/kekuasaan) mereka kepada seorang wanita." (HR Bukhari, lihat Fathul Baari karya Ibnu Hajar Al-Asqalany, hadits nomor 4425 dan 7099).

Dalil Sejarah Islam
Juga telah dibuktikan dalam sejarah 14 abad perjalanan umat, yang tidak pernah sekali pun seorang wanita menjabat sebagai khalifah. Mungkin kita sering menemukan tokoh wanita, seperi ibunda Aisyah radhiyallahu 'anha, atau seperti Rabi'ah Al-Adawiyah dan seterusnya. Tapi mereka tidak pernah menjabat jabatan tertinggi di suatu negara.
Apalagi seorang khalifah bukan hanya memimpin negara, tetapi juga memimpin shalat dan menjadi khatib pada setiap Shalat Jumat dan Shalat Ied. Bagaimana mungkin bila jabatan itu dijabat oleh seorang wanita.
Islam punya cara tersendiri untuk menghormati wanita, tapi yang jelas bukan untuk jabatan wilayah udzma. Dan dalam pandangan Islam, menjadikan seorang wanita sebagai pemimpin tertinggi justru merupakan pelecehan kepada sifat dan karakter seorang wanita.
Namun aqidah kafir dari barat yang tidak pernah mengakui kemanusiaan manusia, telah berhasil menyihir pandangan banyak orang, sehingga mereka memandang wanita itu harus sama dengan laki-laki dalam segalanya, termasuk dalam urusan politik. Sampai-sampai harus diberi hak juga untuk menjadi kepala negara.
Berdalil Dengan Ratu Balqis
Seringkali kali para pendukung presiden wanita berdalildengan kisah kepemimpinan Ratu Balqis. Mereka bilang Islam membolehkan pemimpin wanita, karena ada kisah Ratu Balqis yang menjadi Ratu di sebuah negara, dan kisah itu terdapat dalam Al-Quran.
Sayangnya, banyak juga orang yang terkecoh dengan argumentasi seperti ini, lalu ikut-ikuan mendukung pendapat yang aneh bin ajaib ini.
Kita akan menjawab dengan jawaban yang sederhana saja. Kisah Ratu Saba' itu memang ada di dalam Al-Quran. Tapi ingat, tidak semua kisah di dalam Al-Quran itu berarti boleh dicontoh dan tidak semuanya kisah teladan buat kita.
Bukankah kisah Fir'aun dan Namrudz pun juga ada di dalamnya? Apakah kita boleh jadi Fir'aun dan Namrudz? Dalam Al-Quran juga ada kisah pembangkangan bangsa Yahudi, lalu apakah kita boleh menjadikan pembangkangan yahudi itu sebagai suri tauladan?
Kisah Ratu Balqis itu jelas sekali merupakan contoh kisah orang kafir yang memimpin suatu negara. Meski akhirnya masuk Islam, tapi yang jelas pada saat menjadi pemimpin di negerinya, Balqis masih kafir. Maka jelas kisah negeri Saba' yang dipimpin oleh Balqis itu bukan kisah yang boleh ditiru, meski ada disebutkan di dalam Al-Quran.
Dan ketika akhirnya Balqis masuk Islam, beliau menyatakan tunduk dan berserah diri kepada nabi Sulaiman. Bahkan dia menjadi isteri nabi Sulaiman, dalam salah satu versi. Ini menunjukkan bahwa setelah masuk Islam, Balqis bukan lagi seorang penguasa tertinggi di negerinya.
Seharusnya kisah ini harus dipahami secara lebih utuh, bukan sepotong-sepotong sehingga bisa mengacaukan.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc