" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Rabu, 07 Oktober 2015

Bolehkah Kita Menuduh Malaysia Maling?


Bolehkah Kita Menuduh Malaysia Maling?
Mon, 28 April 2008 03:18 - | Dibaca 2.510 kali | Bidang negara
Assalamualaikum.wr. wb.
Pak Ustadz, dari yang saya tahu Malaysia tidak pernah mengklaim budaya Indonesia milik mereka. Di sana budaya Indonesia digunakan oleh orang-orang keturunan Indonesia sendiri, sama halnya budaya Cina di Indonesiayangdigunakan oleh etnis Cina.
Melayu di Malaysia, 90%-nya berasal dari kepulauan Indonesia. Penduduk Melayu asli hanya di Brunei, Kelantan dan Terengganu saja. Sebagai contoh Melaka dibuka oleh Parameswara dari Palembang. Sultan Johor, dan Selangor berketurunan Bugis. Sultan Perak berketurunan Aceh.
Orang-orang Minangkabau dari Sumatera, Indonesia sudah bermukim di Negeri Sembilan sejak abad ke-15. Pada abad ke-18 orang-orang Jawa dikirim oleh penjajah Belanda ke Malaya dan Borneo Utara untuk membuka hutan menjadi perkebunan kelapa sawit.
Maksud daripada Suku Melayu di Malaysia adalah seluruh penduduk pribumi di dunia Melayu (Nusantara), di antaranya suku Aceh, Arab, Banjar, Batak, Bawean, Bugis, Cham, Jambi, Jawa, Minang dan lainnya.
Pertanyaan saya bagaimana pendapat Ustadz dan Pandangan Islam mengenai:
  1. Pantaskah Malaysia disebut Maling?
  2. Apa bedanya kawan saya (Warga negara Malaysia)yangberdarah Jawa-Minang dengan leluhurnya di Indonesia?
  3. Adakah pihak asingyangturut campur memanaskan hubungan Indonesia-Malaysia?
  4. Apakah Indonesia negara maling, teriak maling?
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Dalam pandangan kami, kalau kita berpikir lebih dalam dan lebih luas, tidak berpikir picik dan sempit, sebenarnya seluruh manusia ini di depan Allah SWT sama saja. Tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih buruk, kecuali semua ditentukan hanya pada ketaqwaannya.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat: 13)
Sementara mayoritas warga negara Malaysia dan Indonesia sama-sama menyembah Allah SWT, sama-sama mengaku bernabi kepada Muhammad SAW, sama-sama berlandaskan kitabullah dan sunnah rasul-Nya. Dan sama-sama mayoritas muslim.

Apalagi kedua negara itu sama-sama mengalami penjajahan oleh para kolonialis. Jadi keduanya sama-sama bernasib jeblok. Kenapa ketika keduanya merdeka, mengapa keduanya harus saling bermusuhan, saling caci dan saling ganyang?
Jadi dalam pandangan kami, idealnya memang tidak perlu ada Indonesia dan Malaysia yang berdiri sendiri-sendiri.
Jangan marah dan komentar dulu. Memang apa yang kami sebutkan ini sekilas dianggap tidak nasionalis, tidak mengerti sejarah, tidak tahu jasa perjuangan para faunding father dari masing-masing negara.
Namanya sekedar cetusan, boleh disetujui dan boleh tidak. Tapi yang jelas toh baik Malaysia dan Indonesia, keduanya punya banyak sekali kesamaan. Kedua rakyatnya sama-sama tinggal di suatu wilayah yang sama, punya dasar aqidah yang sama, bahkan punya ras dan etnis yang sama.
Ekstrimnya, kalau ternyata keduanya berdiri sendiri-sendiri, penyebabnya hanya satu, yaitu penjajahan. Ya, penjajahan telah membuat bangsa Indonesia dan Malaysia harus selalu hidup bertetangga dengan saling curiga.
Dahulu Malaysia dijajah Inggris dan Indonesia dijajah Belanda. Hanya karena dijajah oleh dua pihak yang berbeda, kemudian bangsa Melayu harus terpecah-pecah menjadi nation dengan pemahaman kebangsaan yang sempit.
Dan tanpa sadar apa sebabnya, nyatanya sedikit-sedikit hubungan kedua negara tegang. Kalau bukan pemerintahnya yang saling sindir, yang lebih sering justru rakyat dari kedua negara.
Seolah selalu ada bom waktu yang kapan pun siap meledak. Kemarin urusan sengketa perbatasan, sehinngga ada perebutan pulau Sipadan dan Ligitan. Tidak lama kemudian, urusan bajak membajak lagu daerah. Belum selesai masalah itu, muncul urusan TKI di Malaysia yang bikin tegang kedua pimpinan negara.
Ciri Semua Negara Bertetangga Yang Pernah Terjajah
Apa yang dialami oleh Malaysia dan Indonesia, kalau kita perhatikan, ternyata juga dialami oleh banyak negara Islam lainnya.
Mesir dan Sudan, dua negara yang bertetangga, selalu saja dirundung keributan yang sewaktu-waktu, tanpa ada angin tanpa ada hujan, tiba-tiba ribut tidak jelas ujung pangkalnya.
Yang menarik, keduanya negara dengan penduduk mayoritas muslim. Bahkan mereka hidup dari sungai Nil yang sama. Kok bisa-bisanya keduanya berantem kayak anak kecil.
Ternyata Iran dan Iraq juga mengalami kendalam yang sama. Meski keduanya bertetangga, perang Iran Iraq telah membuat keduanya menjadi negara lemah, miskin, korban perang jadi-jadian yang tidak pernah ketahuan dengan pasti, apa sesungguhnya yang membuat mereka harus perang.
Dan yang lebih aneh, ketika perang antar kedua negara itu akhirnya berhenti, juga semakin tidak jelas apa yang membuatnya berhenti.
Kembali ke Masa Pra Kolonialis
Dan munculnya ratusan negara yang mayoritas berpenduduk muslim, baik di wilayah Asia, Afrika bahkan Eropa, pada hakikatnya adalah sebuah kecelakaan sejarah.
Sebab ketika dahulu Rasulullah SAW membebaskan negeri-negeri itu, semua bergabung jadi satu wilayah kedaulatan. Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab telah membebaskan Romawi, Persia dan Mesir, ketiganya adalah imperium raksasa di zamannya. Dan semuanya akhirnya bergabung menjadi daulah Islamiyah yang satu, kokoh, besar, dan adidaya.
Ketika Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad menembus Spanyol dan mengIslamkan rakyatnya, maka secara otomatis negeri itu menjadi bagian dari khilafah Islamiyah yang besar.
Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih di tahun 1453 membebaskan Konstantinopel dengan pasukan yang sangat dahsyat, otomatis negeri itu menjadi bagian utuh dari khilafah Islamiyah. Bahkan kota itu menjadi ibukota peradaban Islam selama beratus tahun kemudian.
Sejarah dunia Islam adalah satu daulah yang besar, berdaulat, berkuasa dan mencakup seluruh negeri yang berpenduduk muslim.
Kolonialis Memecah Umat Islam Menjadi Nation Kecil Tak Berdaya
Saat Allah SWT mentaqdirkan umat Islam mengalami kemunduran, bentuknya adalah penajajah. Negeri Islam dipotong-potong ibarat kue dan dibagi-bagi sebagai jatah jajahan dari negara kecil-kecil di Eropa.
Eropa yang dulunya hanya wilayah sepi penuh rawa dan kotor, kemudian menjadi maju dan akhirnya malah menjajah negeri muslim yang sebelumnya merupakan adidaya dunia.
Keadaan kemudian berbalik 180 derajat. Para budak itu kemudian menjadi penguasa dunia. Sementara para penguasa dunia itu turun derajat jadi budak hina, yang bahkan tidak pernah menjadi pemiliki kekayaan negerinya sendiri.
Para kolonialis adalah pihak yang paling bertanggung-jawab dalam masalah ini.
Umat Islam Satu Agama Satu Negara
Idealnya umat Islam di seluruh dunia ini berada dalam satu negara, walau pun mungkin saja tetap ada otonomi daerah. Namun dengan keberadaan di bawah satu pimpinan tertinggi, umat Islam akan semaki kuat. Tidak ada lagi pihak-pihak yang akan menganggap umat Islam lemah seperti sekarang ini.
Bentuknya boleh republik, federasi, persemakmuran atau apa saja, terserah gimana ngaturnya. Tapi yang penting umat Islam jangan sampai dipecah berkeping-keping seperti sekarang ini.
Kami jadi teringat lantunan syi'ir indah yang pernah diajarkan sejak masa SMP oleh almarhum guru kami, Ustadz Rahmat Abdullah. Saat itu beliau mengajar kami bahasa Arab. Kami diminta menghafalkan bait-bait syi'ir yang indah, yang akhirnya kami ketahui merupakan bait karya Iqbal, penyair muslim Pakistan:
Wahai saudaraku di India dan di Maghrib
Aku bagian dari dirimu, engkau bagian dari diriku
Jangan tanyakan anasirku, jangan tanyakan nasabku
Sesungguhnya Islam adalah ayah dan ibuku
Persaudaran, kami dengannya berta'alluf
Alangkah indahnya jika seluruh muslim di dunia bisa berta'alluf, menyatu, bersatu, saling bela, saling tolong dan tidak menganggap saudaranya yang ada di negeri lain, terutama di negeri tetangganya sebagai musuh yang harus dibenci.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc