" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Kamis, 08 Oktober 2015

Bisakah Akhwat Masuk LIPIA?



Bisakah Akhwat Masuk LIPIA?
Mon, 21 April 2008 00:29 - | Dibaca 3.551 kali | Bidang wanita
Assalamu'alaikum.wr.wb
Ustadz H. Ahmad Sarwat, Lc yang saya hormati, saya seorang siswi kelas 2SMA yang sangat tertarik untuk masuk LIPIA. Saya sudah menyimak penjelasan ustadz mengenai LIPIA di forum ini, namun ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan:
1. apakah LIPIA menerima pendaftaran untuk siswiputeri juga? Jika ya, apakah untuk semua jurusan (i'dad, takmili, diploma, dan syari'ah)? Karena saya dengar tidak ada syari'ah untuk puteri?
2. jika masuk ke i'dad lughawi hafalan Qur'an yang di tes 1 atau 2 juz? Bacaan yang di acak per-ayat atau per-surat?
3. apakah peluang bagi siswi puteri untuk diterima lebih besar?
Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak pada Ustadz. Jazzakillah khoir. wassalamu'alaikum.wr.wb
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Wah, ternyata ramai juga yang pertanyaan yang masuk menanyakan tentang bagaimana kuliah di LIPIA.
Sebenarnya yang punya hak untuk menjawab pertanyaan seperti ini adalah pihak LIIPA sendiri. Bahkan sudah ada situsnya. Tapi wallahu a'lam, kenapa lembaga sehebat dan sebesar itu, situsnya tidak pernah diurus lebih serius. Jangan-jangan latah ikut-ikutan dengan ormas dan orsospol Islam besar di negeri ini, yang punya dana milyaran, tapi ngurus situs lembaga sendiri saja tidak becus.

Mohon maaf kalau ada yang tersinggung dengan pernyataan ini, kami bukan nyindir tapi 'nuduh'. Yah, nuduh untuk kebaikan kan tidak salah. Memang kenyataannya situs-situs itu tidak terurus, masa mau bohong?
Lagian, niat kami baik, siapa tahu orang-orang yang punya kebijakan dalam masalah ini tergerak hatinya untuk lebih memanfaatkan situs internet sebagai media yang 'suaaangat' penting.
LIPIA Puteri
Di masa awal pendiriannya, LIPIA hanya membuka kursus bahasa Arab saja buat para wanita. Istilahnya dulu, barnamij khairu mukatstsaf. Kalau pakai bahasa Indonesia, istilahnya program non intensif.
Banyak tokoh wanita yang kini aktif dalam pergerakan dakwah pernah kursus bahasa Arab di program ini. Kalau ketemu ibu-ibu ustadzah mengaku pernah kuliah di LIPIA di masa lalu, pastinya mereka ikut program kursus ini. Tentu program ini bukan hanya khusus wanita, juga ada kelas-kelas untuk laki-laki.
Almarhum Endang Saifudin Anshari pernah duduk di program ini, padahal beliau tinggal di Bandung sebagai ustadz besar. Tapi dengan rajinnya, seminggu dua kali beliau bolak balik Jakarta Bandung, padahal dulu belum ada jalan tol.
Rupanya setelah lama keberadaan program ini, dirasakan banyak kekurangannya. Terutama dari tingkat kehadiran yang sangat tidak disiplin. Maklumlah, umumnya yang kuliah di program ini adalah orang-orang sibuk semua. Sementara yang dipelajari bukan masalah wawasan yang bisa dibaca sambil lalu.
Yang diajarkan adalah keterampilan berbahasa. Sudah jadwalnya cuma seminggu dua kali, jarang masuk pula. Akhirnya, banyak yang terpaksa di'rumah'kan alias dropt out.
Tapi karena mayoritas pesertanya terkena kasus seperti ini, entah apakah ada alasan lain atau tidak, yang pasti di zaman Syeikh Dr. Ali Ad-Dakhilullah menjadi mudir, program ini akhirnya ditiadakan.
Sebagai gantinya, dibuka program i'dadullughawi yang intensif (barnamij mukatstsaf) khusus buat para wanita. Waktunya pagi hari sejak jam 07.00 sampai siang jam 12.00 wib. Intensif belajar 5 hari dalam seminggu, Senin hingga Jumat. Dapat bea siswa juga (mukafaah) sebagaimana mahasiswa i'dad yang laki-laki.
Persyaratannya relatif sama, namun ada kesalahan kami sewaktu menjelaskan syarat ujian masuk. Ternyata setelah diingat-ingat, tidak ada syarat hafal dua juz Al-Quran kalau mau masuk i'dad. Syarat hafal dua juz itu nanti kalau mau masuk program takmili. Sedangkan untuk masuk syariah, syaratnya hafal 3 juz.
Teknisnya pengetesannya biasa saja. Kita akan ditanya, juz mana saja yang kita hafal, pokoknya dua juz atau tiga juz. Misalnya kalau mau masuk takmili, kita bilang bahwa kita hafal juz pertama dan juz terakhir, maka kita akan dites secara acak ujung-ujung ayat di dalam kedua juz itu.
Dan biasanya loncat-loncat, dari depan ke belakang, pindah ke tengah, pindah lagi ke mana saja yang disukai oleh dosen penguji.
Ruangan Terpisah
LIPIA sangat ketat menerapkan peraturan hijab yang memisahkan antara mahasiswa dan mahasiswi.
Para mahasiswi punya ruangan kelas sendiri dengan para pengajar ustadzat juga, di mana mahasiswa tidak akan pernah diizinkan masuk ke wilayah mereka.
Terakhir kami dapat informasi dari adik kelas yang masih kuliah, sekarang dari pada dilarang-larang tidak boleh bertemu, akhirnya beberapa mahasiswa menikahi mahasiswi sekalian, sehingga mereka boleh pergi dan pulang bersama-sama.
Memang banyak mahasiswa LIPIA yang sudah menikah saat masih kuliah. Bahkan kami dulu pun ketika masih kuliah sudah menikah. Masalah biaya hidup memang sudah dijamin oleh LIPIA, meski terbilang cukup sedikit. Tapi kalau mau hidup hemat di Jakarta, banyak yang sukses juga.
Yang menarik, kalau ada mahasiswa menikah, pihak LIPIA seingat kami malah memberi sumbangan uang yang lumayan besar untuk ukuran mahasiswa perantauan. Apalagi kalau pasangannya mahasiswi juga, maka dapat sumbangannya dari dua arah.
Peluang Diterima
Peluang untuk diterima buat mahasiswi tidak lantas lebih besar, malah boleh jadi lebih kecil. Sebab semua akan kembali kepada perbandingan peminat dan kapasitas kursi.
Satu hal yang paling kami pesankan, bahwa ada banyak mahasiswa yang ikut tes di LIPIA sampai tiga bahkan empat kali berturut-turut tiap tahun. Bukan menakut-nakuti, tapi LIPIA harus membatasi jumlah mahasiswanya, karena peminatnya sangat membludak.
Tentu yang dipilih adalah mereka yang paling pintar, ukurannya bukan IP atau IPK, juga bukan nilai rata-rata. Khusus buat i'dad lughawi, ukurannya adalah apakah seorang calon mahasiswa bisa bercanda, ngobrol, ngerumpi dan ngelawak pakai bahasa Arab?
Kalau sudah bisa dan lancar, insya Allah bisa masuk. Tapi kalau bicara dalam bahasa Arab masih ah uh ah uh, tidak jelas antara bicara atau makan rujak pedas, ya siap-siap pulang kampung.
Karena itu kebanyakan calon mahasiswa ikut kursus bahasa Arab dulu, sambil melatih kemampuan berbicara. Bayangkan, tidak sedikit lulusan pesantren besar yang selama 6 tahun diwajibkan berbahasa Arab yang tidak lulus ujian masuk di LIPIA.
Karena ukurannya keterampilan berbahasa, maka perhatian kita untuk bisa diterima lebih kepada kemampuan itu. Ada 4 sisi kemampuan, yaitu:
1. Membaca (fahmul maqru')
Seorang mahasiwa harus paham apa yang dibaca dari sebuah teks tulisan atau buku. Test pertama adalah membaca dengan memahami maknanya.
2. Mendengar (fahmul masmu')
Seorang mahasiwa harus paham apa yang dia dengar, baik pembicaraan langsung, atau pun suara yang terdengar dari kaset. Salah satunya nanti mendengarkan cerita dari kaset, yang harus dijawab soal-soalnya.
3. Menulis (ta'bir tahiriri)
Seorang mahasiswa harus bisa menuliskan isi pikiran dan isi hati dengan menggunakan bahasa arab.
4. Berbicara (ta'bir syawawi)
Seorang mahasiswa harus bicara berpidato, berdebat, bercerita, bertutur, berorasi, bernegoisasi, merayu, dengan bahasa arab secara spontan, bukan hafalan. Di sini biasanya calon mahasiwa pada keok, keringat dingin keluar semua, gelagapan dan otak seolah mogok berhenti tidak mau diajak bekerja.
Kami dahulu pernah mengalaminya, sewaktu ikut tes pertama kali dan harus menjawab ini dan itu, mulut sudah terbuka lebar mau bicara, tapi suara yang keluar cuma aaaa dan eee saja. Tentu saja hasilnya gagal total. Baru tahun depan setelah berguru setahun di 'puncak gunung semeru', ujian masuk itu bisa dilewati dengan mudah.
Jadi, sekarang ini belajar bahasa Arab, bukan grammer atau nahwu sharaf, itu tidak akan dites terlalu jauh. Yang lebih penting, anda harus bisa ngewalak pakai bahasa Arab, di mana si Arab-nya itu bisa tertawa terpingkal-pingkal mendengar lawakan anda. Atau Anda bisa berkisah sedih di depan orang Arab, sampai dia bisa meneteskan air mata ikut sedih.
Nah, kalau sudah bisa sampai di situ, insya Allah anda pasti lulus masuk LIPIA.
Tapi kalau orang arabnya malah bingung mendengar suara anda, tidak paham, anda ngelawak dia tidak tertawa, anda berkisah sedih, dia malah tertawa, wah berarti masih ada yang salah.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc