" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Kamis, 08 Oktober 2015

Bingung Menyikapi Perbedaan



Bingung Menyikapi Perbedaan
Sat, 19 April 2008 01:16 - | Dibaca 2.787 kali | Bidang ushul fiqih
Assalamu'alaikum ustadz
Maaf sebelumnya, saya mau bertanya ustadz, saya mengikuti sebuah organisasi Islam di kampus, namun karena kami berasal dari latar belakang pengetahuan dan pemahaman yang agak berbeda (sebagian teman saya mengaku bermanhaj salaf sedangkan saya cenderung kepemahaman yang untuk beberapa hal moderat misal isbal dan nasyid).
Jadi setiap ada acara kami harus memperdebatkan panjang lebar yang pada akhirnya akan membuat tidak maksimalnya kami dalam bekerja (akibat perbedaan pendapat) atau acaranya tidak jadi sekalian.
Padahal menurut saya itu baik. Ustadz bagaimana saya menyikapi hal tersebut?

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Kami punya usul, kalau Anda mau terima dan menjalankannya, mungkin bisa menjadi salah satu alternatif solusi.
Dari pada tiap hari berdebat yang tidak jelas ujung dan pangkalnya, mengapa Anda dan teman-teman salafi anda itu tidak belajar ilmu syariah saja sekalian. Sebab perdebatan itu agak mengkhawatirkan. Karena bisa saja Anda semua malah tidak jadi berdakwah, yang terjadi malah 'perang saudara' antara sesama.

Mengapa tidak mendatangkan para ustadz yang ahli di bidang ilmu syariah ke kampus Anda, bukan sekedar ceramah lalu pulang, tapi bangunlah sebuah ma'had syariah.
Di dalam kurikulumnya dibahas berbagai macam persoalan yang terkait dengan hal-hal yang sering anda ikhtilafkan. Semua pendapat dibahas dan dibedah. Bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga dibedah tentang asal-usul dan dalil-dalilnya. Semua bisa kita perbandingkan secara detail.
Jadi Anda semua akan paham dan jelas, di mana sebenarnya titik perbedaan masalah yang selama ini seringkali anda ributkan.
Kalau pun misalnya tidak ada titik temunya, setidaknya masing-masing pihak sudah tahu bahwa dalam masalah itu ada khilafiyah yang tidak bisa dihindari. Dan semua jadi tahu bahwa hujjah masing-masing pendapat itu juga tidak bisa diremehkan begitu saja. Dan semua tahu bahwa menghormati sebuah hasil ijtihad itu adalah bagian dari implementasi beragama Islam.
Hindari Debat, Belajar Lebih Dalam
Karena anda semua adalah mahasiswa yang aktif di jalur dakwah, maka anda sebaiknya lebih banyak meluangkan waktu untuk belajar langsung kepada esensi agama Islam.
Ini harus menjadi skala prioritas, jangan dijadikan sampingan. Adapun mengadakah acara-acara seremoni dan sejenisnya, boleh saja dijalankan, tapi prioritas sebenarnya justru kepada diri sendiri.
Jangan sampai karena aktif dan sibuk memanaj ROHIS, kita sendiri malah tidak pernah belajar Islam secara intensif. Dan bukti bahwa kita sudah belajar agama Islam secara mendalam, sebenarnya amat sederhana. Yaitu bisakah kita berbahasa Arab? Bisakah kita membaca literatur agama Islam dari rujukan aslinya?
Kalau belum, yah berarti jelas sudah bahwa kita belum mengenal apa-apa tentang agama Islam ini. Membaca Al-Quran tidak paham, membaca Hadits juga tidak paham, apalagi membaca sekian banyak literatur keIslaman.
Kami sendiri sepakat, mendingan anda belajar bahasa arab dari pada belajar nasyid. Buat apa bikin group nasyid yang isinya memang hanya menyanyi-nyanyi saja, tapi justru literatur agama Islam malah tidak bisa menguasainya. Pertanyaannya, kita mau dakwah atau mau menghibur diri?
Kalau mau dakwah, wajib hukumnya kita menguasai ilmu syariah, dan wajib pula menguasai bahasa Arab. Tapi kalau tidak mau dakwah, maunya hanya nyanyi-nyanyi saja, silahkan bernasyid ria. Tapi jangan mengaku jadi ahli dakwah.
Tidak ada dakwah kalau kita sendiri malah buta syariah. Dan tidak ada syariah kalau kita tidak mengerti bahasanya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc