" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Minggu, 04 Oktober 2015

Benarkah PKS Dapat Dana dari AS?



Benarkah PKS Dapat Dana dari AS?
Tue, 13 May 2008 01:49 - | Dibaca 3.173 kali | Bidang negara
Assalamu 'alaikm Wr Wb.
Ust Ahmad yang dirahmati Allah SWT, ada satu pertanyaan yang mengganjal diri saya. Apakah benar Partai Keadilan Sejahtera mendapatkan dananya dari Amerika Serikat. naudzubillah min dzalik. hal ini mungkin mustahil,
Namun saya dapat info ini bukan dari orang sembarangan. Beliau adalah ketua DPC Jaktim salah satu Parpol Islam di Indonesia. Bagaimana tanggapan ustadz.
Terima kasih.
Wassalam wr wb
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Nampaknya Anda sedikit salah alamat kalau menanyakan masalah ini kepada kami. Tentu saja jawabannya adalah bahwa kami tidak tahu. Selain itu kalau pun tahu, tentu saja kami juga bukan orang yang tepat untuk memberikan jawaban atau pun komentar.
Tentu pak Tifatul Sembiring-lah orang yang tepat Anda tanyakan. Dan memang beliau itulah yang berhak untuk menjawab masalah yang terkait dengan partai itu.
Tapi fenomena ini memang agak menarik, sebab bukan baru pertama kali ini kami menerima pertanyaan yang salah alamat seperti ini. Seolah-olah kami adalah juru bicara sebuah partai,wabil-khusus Partai Keadilan Sejahtera. Semoga ke depan, kami tidak ditanyakan hal-hal yang bukan wewenang dan urusan kami.

Tabayyun
Sekedar sebuah pengingat, bahwa setiap informasi yang kita dapat dari suatu sumber, tentu wajib dilakukan tabayyun. Pelajaran dari kisah haditsul-ifki di masa Rasulullah SAW terlalu berharga untuk kita lewatkan.
Namun yang namanya manusia, memang tempatnya lupa dan kesalahan. Bahkan dahulu para shahabat Nabi SAW yang agung dan mulia itu tidak luput dari fitnah seperti ini.
Banyak dari mereka yang akhirnya ikut menggunjingkan Aisyah radiyallahu 'anha. Sebab memang ada pihak-pihak yang punya hati yang susah kalau melihat Nabi SAW bahagia, dan bahagia kalau melihat Nabi SAW susah.
Mereka adalah kaum munafikin dengan gembongnya adalah Abudllah bin Ubay bin Salul. Awalnya, si Abdullah ini dulu adalah seorang yang sangat dihormati di Madinah. Dan dia berambisi untuk menjadi pemimpin di kota itu.
Tapi harapannya pupus manakala Rasulullah SAW dan para shahabat berhijrah dan mengambil-alih kekuasaan secara bulat. Tentu atas keinginan mayoritas penduduk Madinah juga.
Maka si tokoh munafiq satu ini kemudian kerjanya membikin onar, issue tidak jelas, gossip, dan berbagai makar lainnya, hingga puncaknya adalah menuduh Aisyah, ibunda mukminin sebagai wanita yang melakukan perseligkuhan dengan Shafwan radhiyallahu 'anhu.
Api fitnah telah dikobarkan, bahan bakarnya adalah ngerumpi dan berbagai majelis fitnah yang dihidup-hidupkan oleh gerombolan kaum munafikin Madinah. Dan meledaklah kegegeran di zaman itu, sebuah kejadian yang tidak pernah diduga sebelumnya. Sebuah drama kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW yang hanya wahyu dari langit saja yang dapat memadamkannya.
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.(QS. An-Nur: 11)
Barulah setelah turun ayat ini, kobaran api curiga dan fitnah menjadi padam dengan sendirinya. Mereka akhirnya sadar bahwa menggunjingkan orang lain, sementara mereka tidak pernah lihat faktanya adalah perbuatan yang haram dan dilaknat Allah.
Pelajaran dari langit yang teramat berharga dan sampai hari ini kita masih membacanya.
Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar."(QS. An-Nur: 16)
Syariah Islam Butuh Bukti Bukan Sensasi
Ketika dulu kami kuliah dan belajar syariah Islam, satu pelajaran yang paling menarik adalah tentang bagaimana sebuah kesimpulan hukum itu didapat.
Ternyata para ulama sangat ketat dalam masalah hukum ini. Sesuatu tidak boleh diberi status hukum tertentu, kecuali telah jelas dasar-dasarnya. Harus ada dalil, bukti dan saksi. Selama tidak ada dali, bukti dan saksi, maka hukumnya tidak bisa berubah.
Sebagai contoh, seorang tidak bisa disebut pezina manakala belum ada bukti yang pasti bahwa dia berzina. Selain itu juga harus ada saksi yang memenuhi syarat atas perbuatan zinanya itu.
Selama seorang baru dituduh zina, maka dia bukanlah pezina yang harus dirajam. Bahkan sebaliknya, orang yang menuduh itu harus mendatangkan 4 orang saksi. Bila tidak bisa, justru yang menuduh itulah yang harus dicambuk 80 kali. Sebab tuduhan (qadzaf) itu juga merupakan jarimah (kriminal).
Ayat-ayat sebelum haditsul-ifki di dalam surat An-Nur telah menjelaskan bagaimana hukuman buat orang yang menuduh tanpa dasar dan bukti atau saksi yang kuat.
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.(QS. An-Nuur: 4)
Tentu kita tidak mau menjadi orang fasik sebagaimana diancamkan oleh ayat ini. Maka untuk pastinya, silahkan kita lakukan tabayyun kepada ahlinya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc