" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 03 Oktober 2015

Apa yang Dibaca Imam Ketika Diam Sebentar Setelah Membaca Fatihah?



Apa yang Dibaca Imam Ketika Diam Sebentar Setelah Membaca Fatihah?
Thu, 22 May 2008 23:36 - | Dibaca 3.413 kali | Bidang shalat
Assalamu'alaikum Warahmatullahiwabarakatuh
Yth. ustadz H. Ahmad Sarwat, LC
Sesuai dengan jawaban bapak atas pertanyaan sdr. Rudy bebarapa waktu yang lalu tentang "Makmum Diam Saja di Belakang Imam atau Ikut Membaca" pada pendapat mazhab Imam Syafi'i.
Nampaknya itu adalah yang disebutkan oleh kalangan Asy-Syafi`iyah bahwa makmum membaca Al-Fatihah sendiri setelah selesai mendengarkan imam membaca al-fatihah, merupakan penggabungan (jam`) dari beragam dalil itu.
Pertanyaan saya, ketika iman dan makmum selesai membaca Amin setelah Alfatihah, makmum akan membaca fatihahnya, apa yang dibaca imam ketika diam sebentar sementara makmum membaca al-fatihah?
Terima kasih
Wassalamu'alaikum wawarahmatullahiwabarakatuh
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pertanyaan anda sangat menarik, karena biasanya orang-orang bertanya apa yang dibaca makmum setelah lafadz Amien selesai dibaca. Tapi yang Anda tanyakan justru apa yang dibaca oleh imam.
Tentu saja ketika imam memberikan kesempatan kepada makmum untuk membaca surat Al-Fatihah sendiri-sendiri adalah tidak membaca apa-apa. Karena dirinya kan sudah membaca surat Al-Fatihah, yang tadi didengarkan oleh para makmum.

Maka ketika para makmum setelah itu membaca sendiri-sendiri surat Al-Fatihah, dalam pandangan kami, imam tidak perlu membaca apa-apa. Dia bisa sedikit beristirahat setelah selesai membaca surat Al-Fatihah dan ikut membaca amien bersama para makmum.
Jeda sebentar seperti itu tentu tidak merusak shalat, karena jeda itu tidak termasuk salah satu hal yang membatalkan shalat. Sementara kita pun sudah tahu apa saja perbuatan yang termasuk membatalkan shalat.
Maka pada kesempatan itu, menurut pandangan kami, imam bisa beristirahat sejenak sebelum meneruskan membaca surat atau ayat Al-Quran yang lainnya.
Namun kami ingatkan bahwa ini adalah salah satu bentuk nalar dari sebagian ulama saja, tidak semua ulama sependapat dengan apa yang dipahami ini. Jadi jangan dikira nanti bahwa yang paling benar dan satu-satunya kebenaran hanya yang seperti ini.
Janganlah kita meniru pola-pola yang kurang santun yang terkadang membuat sebagian saudara kita terjebak. Dikiranya, yang namanya tata cara shalat itu harus satu warna saja. Dan kebenaran itu dianggapnya hanya satu-satunya di dunia ini. Sampai tega-teganya menuduh siapa yang punya tata cara shalat yang tidak sama dengan pendapat dirinya, dianggapnya sesat dan salah.
Cara memahami syariah Islam yang seperti itu adalah bid'ah yang fatal. Sebab para salafunashshalih tidak pernah mengajarkan sikap sok benar sendiri, sampai menuduh orang lain yang pendapatnya tidak sama sebagai musuh agama dan kemunkaran.
Kalau anda merasa cocok dengan nalar dari para ulama syafi'iyyin, silahkan saja saja lakukan. Toh, seorang Al-Imam Asy-Syafi'i memang punya kapasitas dan otoritas untuk bisa berijtihad. Bahkan beliau telah mencapai derajat mujtahid mutlak. Layak dan wajar bila kita yang bodoh dan awam ini berittiba' dan memegang pendapat beliau.
Namun bukan berarti kebenaran hanya ada di dalam mazhab As-Syafi'i saja, sambil kita menyalahkan pendapat yang lain. Tentu tidak demikian. Kebenaran mungkin juga dimiliki oleh mazhab lainnya. Toh, mazhab lainnya itu juga didirikan oleh para mujtahid mutlak juga. Mereka juga punya kapasitas dan otoritas dalam berijtihad, dan layak pula diittiba'i.
Semua syarat dalam berijtihad tentu saja sudah terpenuhi dalam mazhab-mazhab itu. Sebagai awam yang baca tulisan arab pun tidak becus, masak sih merasa diri lebih pandai dari para mujtahid itu?
Bahkan meski seseorang sudah bisa bahasa Arab sekalipun, tidak lantas dia jadi mujtahid, kan? Sebab syarat menjadi mujtahid tidak sesederhana membalikkan telapak tangan.
Maka sebagai bukan mujtahid, tentu kita harus berittiba' kepada para mujtahid. Bahkan kalau berijtihad sendiri, karena sok bergaya biar dibilang orang berilmu, boleh jadi malah tambah keliru.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc