" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Kamis, 22 Oktober 2015

Antara Minuman Bersoda Dan Risiko Diabetes



Minuman bersoda yang ditambahkan pemanis buatan menambah resiko diabetes jenis 2 untuk kaum hawa dari pada minuman bersoda dengan gula umum. Begitu terungkap beberapa waktu lalu dari riset di Prancis. Hal semacam itu berlawanan dengan pemikiran konvensional bahwasanya resiko diabetes lebih tinggi pada minuman-minuman memiliki label ‘light’ dari pada minuman berpemanis yang ‘regular'.

Pada suatu riset bertaraf besar dalam waktu panjang, lebih dari 66.000 wanita Prancis di tanya sekitar rutinitas makan mereka, serta kesehatan mereka lalu dimonitor selama lebih dari 14 tahun dari 1993 sampai 2007. Wanita-wanita itu sudah berumur paruh baya atau lansia saat terlibat dalam riset itu – kelahiran 1925 hingga 1950.

Minuman bersoda yang di beri pemanis gula pada awalnya sudah dihubungkan dengan penambahan resiko diabetes, namun tidak banyak yang di ketahui perihal minuman bersoda yang di beri pemanis buatan – yang kerap di promosikan selaku pengganti yang lebih sehat.

Kaum peneliti yang di pimpin oleh Francoise Clavel-Chapelon serta Guy Fagherassi menggali tumpukan data untuk mendapatkan prevalensi diabetes diantara kaum wanita yang minum ke-2 tipe minuman bersoda itu, serta mereka yang cuma minum juice buah tidak diberi pemanis.

Dibanding kaum peminum pula, wanita yang minum ke-2 tipe minuman bersoda mempunyai kejadian diabetes yang lebih tinggi.

Penambahan resiko yang berlangsung sebesar sepertiga buat mereka yang minum sampai 359 ml minuman bersoda perminggu, serta lebih dari 2 x lipat pada mereka yang minum sampai 603ml per minggu.

Kaum peminum soda ‘light’ juga mempunyai resiko diabetes yang semakin besar dibanding mereka yang minum soda ‘regular’ : 15 % lebih tinggi untuk konsumsi 500ml per minggu, serta 59 % lebih tinggi untuk konsumsi 1,5 liter per minggu.

Riset itu temukan tiada penambahan diabetes pada wanita yang cuma minum 100 % juice buah, dibanding mereka yang tak konsumsi itu.

Kaum peneliti mencatat bahwasanya wanita yang minum soda ‘light’ condong minum minuman itu semakin banyak – rata-rata 2,8 gelas per minggu, sedang wanita yang minum soda ‘regular’ cuma 1, 6 gelas.

Hasil riset itu dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition teranyar. Walau sekian, kaum peneliti mengaku bahwasanya studi itu mempunyai beberapa batasan. Info konsumsi minuman tak diperbaharui sepanjang masa follow-up, serta rutinitas makan bisa beralih dari saat ke saat. Kita tak bisa menyimpulkan bahwasanya aspek-faktor kecuali minuman berpemanis buatan bertanggungjawab untuk asosiasi dengan diabetes.

Riset itu memanglah mempertimbangkan umur serta kegemukan kaum wanita, namun tak mencatat selalu rutinitas makan mereka sepanjang masa riset. Kaum peneliti pula menggarisbawahi, beberapa orang yang tergolong obes awal mulanya lebih barangkali minum minuman berpemanis buatan dibanding mereka yang bertubuh kurus.

Guy mengemukakan pada wartawan bahwasanya tak cukup bukti untuk “menganjurkan orang menghentikan konsumsi satu tipe minuman atau tipe minuman yang lain’ – serta mendorong diadakannya riset selanjutnya untuk menunjukkan jalinan sebab-akibatnya.

Hasil riset mencantumkan studi pada mulanya yang tunjukkan bahwasanya aspartam – pemanis buatan yang dari lama paling banyak dipakai – mempunyai efek yang serupa sukrosa dalam pemanis umum untuk glukosa darah serta kandungan insulin.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 347 juta orang di penjuru dunia mempunyai diabetes, penyakit kritis yang berlangsung saat pancreas tidak dapat menghasilkan insulin yang cukup untuk mengontrol glukosa, atau saat badan tidak dapat memakainya dengan cara efektif.

Diabetes jenis 2, tidak seperti jenis 1 yang bisa berlangsung dari anak-anak serta memerlukan terapi insulin, umumnya nampak disebabkan berat badan yang terlalu berlebih serta ketidakaktifan fisik. Bersamaan perjalanan saat, penyakit itu bisa mengakibatkan kerusakan jantung, pembuluh darah, mata, ginjal serta saraf – menambah resiko penyakit jantung, tidak berhasil ginjal, stroke serta kebutaan.