" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Rabu, 07 Oktober 2015

Ambil Keuntungan Dalam Transaksi


Tue, 29 April 2008 23:07 - | Dibaca 2.298 kali | Bidang muamalat
Assallamu'alaikum,
Pak Ustadz, saya bekerja di perusahaan swasta posisi sebagai Purchasing jika saya bertransaksi dengan supplier misal harga dari supplier Rp1000 kemudian kita tawar akhirnya harga menjadi Rp900
Kemudian Rp100 nya saya ambil sebagai komisi saya tetapi perusahaan saya tidak tau. tahunya harganya Rp1000 jika demikian bagaimana menurut syariah Islam tentang haram/ halal.
Jika hal, tersebut emang tidak boleh, Semoga Alloh mengampuni dosa-dosa saya selama ini, Amin ya robbal 'allamin.
Wassalam
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
Sebenarnya masalah anda cuma satu saja, yaitu anda menjadi orang yang dipercaya oleh perusahaan untuk melakukan pembelian, namun anda tidak terbuka dalam masalah harga.
Padahal atas semua jerih payah yang telah anda lakukan itu, perusahaan sudah memberikan anda jatah gaji. Dan semua tenaga anda sudah dipenuhi oleh perusahaan.

Maka logikanya, sebagai orang yang diberi kepercayaan untuk membelajakan uang oleh suatu pihak, alangkah indahnya bila kepercayaan itu dibalas dengan kejujuran dari pihak anda.
Sebab di zaman sekarang ini yang penuh dengan tipu daya, mencari orang jujur memang langka, kalau tidak mau dibilang tidak ada lagi. Dan kami maklum kalau kejadian seperti ini juga menimpa diri anda.
Bukan apa-apa, karena hampir semua orang saat ini melakukannya. Dan pandangan masyarakat nyaris ikut membenarkannya. Malah kalau bagian purchasing seperti anda tidak dapat uang komisi dari klien, kok rasanya ada yang aneh.
Pandangan Hukum
Secara hukum syariah, tindakan anda itu bisa saja dibenarkan, seandainya ada beberapa syarat yang terpenuhi.
Misalnya perusahaan memberikan peluang anda merangkap menjadi simsar. Hal ini juga pernah terjadi di masa Rasulullah SAW.
Dari Urwah Al-Bariqi bahwa Nabi SAW memberinya uang satu dinar untuk membeli hewan qurban atau kambing. Namun dengan uang itu dia berhasil membeli dua ekor kambing. Yang satu kemudian dijualnya dengan harga 1 dinar. Sehingga beliau kembali kepada Rasulullah SAW dengan seekor kambing dan uang 1 dinar. Maka Rasulullah SAW mendoakanya dengan keberkahan dalam jual belinya. Memang bahkan seandainya dia menjual abu (tanah), pastilah dia dapat untung. (HR Khamsah kecuali An-Nasa'i).
Dalam banyak syarah hadits, para ulama menyebutkan bahwa uang 1 dinar itu menjadi hak si Urwah. Karena memang dia yang telah berjasa dengan segala kemampuannya menjalankan uang itu hingga mendapat keuntungan. Dan di sisi lain, Rasulullah SAW pun tidak dirugikan sedikit pun.
Namun satu hal yang perlu diketahui, bahwa Urwah tetap melaksanakan open managemen kepada Rasulullah SAW sebagai pemilik modal, atau sebagai pihak yang punya uang.
Berbeda dengan apa yang kebanyakan orang lakukan sekarang ini, boleh jadi perusahaan tidak tahu menahu uangnya diapakan. Tetapi memang menjadi dilematis, karena biasanya kalau pun karyawannya mampu membeli barang dengan harga yang lumayan bersaing, justru di karyawan tersebut tidak dapat apa-apa.
Jadi pada akhirnya terjadi konflik kepentingan, antara perusahaan dengan para employe-nya. Di satu sisi perusahaan menunut para karyawan berlaku jujur, tapi terkadang perusahaan pun tidak mau tahu dan tidak bisa menghargai jasa dan kemampuan karyawannya.
Sehingga pada akhirnya, siapa cepat siapa dapat. Siapa menipu siapa, siapa menyikat haknya siapa.
Kunci dari masalah ini adalah justru dari pihak manajemen sendiri. Kalau kultur kejujuran sudah ditanamkan dan diberi contoh langsung oleh atasan kepada bawahan, maka sudah bisa dipastikan bahwa bawahan akan menjadi jujur.
Tapi kalau atasannya sama tidak jujurnya, jangan diharap bawahannya akan jujur juga.
Selain itu, sering munculnya tindakan kurang jujur oleh karyawan diakibatkan kurang adilnya perusahaan kepada karyawan. Sehingga hubungan yang dibangun adalah bagaimana caranya 'nyikat' duit perusahaan.
Kalau kita lihat bagamana Urwah bermuamalah dengan Rasulullah SAW pada hadits di atas, maka kita bisa lihat bahwa hubungan bisnis antara keduanya berlangsung dengan harmonis, jujur dan saling percaya. Kultur itulah yang sekarang ini tidak kita miliki. Sayang sekali memang.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc