" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Kamis, 08 Oktober 2015

Ahmad Heriyawan, Ustadz yang Jadi Gubernur



Ahmad Heriyawan, Ustadz yang Jadi Gubernur
Tue, 15 April 2008 00:38 - | Dibaca 2.682 kali | Bidang negara
Assalaamu'alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuhu
Ustadz yang saya hormati, alhamdulillah, di tengah berlanjutnya (entah sampai kapan?) polemik demokrasi di kalangan umat Islam, pasangan calon dari parpol Islam yang lahir dari kawah reformasi, "berhasil" meraih kemenangan di salah satu pilkada terbesar di Indonesia. Melihatpemaparan Ustadz tentang lembaga pendidikan yang jadi almamater salah satu calon, optimisme saya semakin tumbuh bahwa memang kapabilitas beliau "jaminan mutu."
Banyak sementara ini (dalam waktu singkat begiut quick count diumumkan) analisis yang dikemukakan pengamat sampai orang awam. Bagaimana analisis/apresiasi Ustadz terhadap (sebab2) kemenangan kombinasi Ustadz-Artis itu serta pelajaranyangbisa diambil?
Bagaimana sebenarnya tuntunan Islam dalam menyikapi teraihnya kemenangan kepemimpinan? Apakah dengan hamdalah atau istighfar? Apa sujud syukur atau tangis? Ataukah lebih dari sekedar itu?
Bagaimana juga tuntunan Islam terkait peran rakyat sebagai yang dipimpin? Apa sajakah peran signifikan yang bisa dilakukan untuk perubahan setelah mencoblos di bilik suara?
Terus, apakah bisa jadi, terkait tingginya golput, itu merupakan bukti keberhasilan dakwah HT dan Salafy?
Terakhir, semoga Ustadz senantiasa bertulushati memberi taushiyah langsung kepada sang Uztadz Gubernur kelak, kan sekalian juga jadi arena praktikum nyata kuliah-kuliah Politik Islamdi kampus...(afwan, bukan bermaksud lancang).
Jazakumulah khayran katsiira...
Wassalaamu'alaykum warrahmatullaahi wabarakaatuhu.
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Al-Ustadz Ahmad Heriyawan, Lc, sang peserta PILKADA JABAR yang disebut-sebut akan menjadi Gubernur Jawa Barat memang lulusan dari LIPIA. Kami secara pribadi memang mengenal beliau, bukan semata-mata karena satu almamater, tetapi memang beliau teman kami dalam berdakwah, sejak tahun 90-an.
Bahkan beliau yang asal Sukabumi pernah mengajak kami ziarah ke kampung halamannya, bertemu dengan keluarga dan murid-murid beliau. Kami berdakwah bersama dan mabit bersama. Meski beliau telah lulus terlebih dahulu, karena memang beda angkatan kuliah cukup jauh.
Yang kami kenal dari pribadi beliau adalah bahwa beliau orang baik, lulus LIPIA dengan nilai yang juga memuaskan. Pemahaman syariah beliausangat baik, tentunya beliau sangat fasih berbahasa Arab dan melek literatur kitab gundul, selain itu beliau juga seorang pembelajar yang cepat.
Jarang-jarang ada lulusan LIPIA yang bisa dengan cepat belajar bidang kehidupan lainnya. Dan ketika beliau terpilih menjadi anggota DPRD DKI, tentu sebuah loncatan yang cukup besar, karena ilmu yang beliau terima secara formal dari bangku kuliah tentu saja tidak pernah mengajarkan dinamika kehidupan seorang wakil rakyat.

Diskursus: Dakwah Inside atau Outside?
Yang kami pahami dari apa yang sedang diupayakan oleh beliau dan teman-teman adalah memperjuangkan tegaknya nilai agama Islam lewat jalur internal kekuasaan. Ini yang kami sebut kemudiandengan teori 'dakwah inside'.
Pada dasarnya tidak ada yang menampik pentingnya umat Islam berjuang di wilayah ini. Dan tentunya akan jauh lebih efektif ketimbang sekedar berjuang dari luar (Ouside), yang jangkauannya hanya sekedar menghimbau kepada penguasa, atau sekedar mengkritik, memberi masukan, atau sekedar bersorak sorai, ibarat penonton sepak bola.
Kadang-kadang tepuk tangan para suporter di pinggir lapangan memang dibutuhkan, untuk memberi masukan dan semangat. Akan tetapi pada akhirnya, permainan akan sangat tergantung dari para pemain yang ada di lapangan.
Perjuangan umat Islam sejak dulu masih sebatas penonton yang bersorak sorai dari pinggir lapangan. Aspirasi mereka paling jauh hanya dititipkan kepada orang-orang yang mereka kenal sepintas, tanpa punya visi dan idealisme yang jelas. Maklumnya, kancah politik memang diisilebih banyakoleh kalangan oportunis yang sekedar mengejar keuntungan sesaat.
Maka teori dakwah sebagian teman-teman kita itu adalah masuk langsung ke kancah politik praktis. Atau istilahnya 'mengambil alih' lapangan dari yang tadinya hanya sekedar menjadi penonton di pinggir garis lapangan. Logikanya sederhana saja, yaitu masuk ke dalam, ambil alih dan perbaiki dari dalam. Jauh lebih sederhana dari pada bikin negara baru yang tentunya merupakan makar dan subversi.
Dakwah Outside
Namun jugaharus diakui bahwa teori seperti ini masih seringkali diperdebatkan oleh banyak kalangan. Sebagian kalangan muslim ada yang apatis, seperti yang anda sebutkan, yaitu Hizbut Tahrir, Salafi atau kalangan lainnya. Sikap apatis mereka ini mungkin bisa diterangkan begini: rumah ini sudah sangat rusak dan hanya barang rongsokan, dari pada diperbaiki yang akan membutuhkan resourses besar, mendingan dirobohkan sekalian, lalu dibikin lagi dari awal bangunan baru.
Mereka ini kita sebut sebagai aliran atau mazhab Outside.
Fenomenanya, banyak dari mereka yang tidak mau ikut pilkada atau pemilu, karena mereka menganggap bahwa pekerjaan memperbaiki rumah rongsok akan sia-sia saja.
Tentu semua itu adalah pilihan, atau kalau dalam istilah fiqih yang akrab di telinga kita, semua itu adalah ijtihad. Yah, namanya ijtihad, bisa benar dan bisa salah. Tentu masing-masing mazhab punya hujjah dan argumentasi. Dan tidak layak buat kita untuk mencaci maki pihak yang punya ijtihad berbeda dengan ijtihad kita sendiri.
Apalagi kita tahu bahwa masing-masing ijtihad itu punya konsep, hujjah, metodologi dan juga pendukung. Tentu akan menjadi lucu kalau kita malah berantem dan bermusuhan dengan sesama muslim, hanya lantaran ijtihadnya berbeda. Kalau dalam ilmu fiqih ibadah kita bisa bertoleransi, lalu kenapa dalam fiqih politik kita agak gamang untuk bertoleransi.
Pro Kontra
Terus terang ketika Al-Akh Heriawan mulai nampak unggul dalam Quick Count kemarin, kami sempat ngobrol lewat chating dengan beberapa pihak yang selama ini boleh dibilang agak mewakili kalangan yang ijtihadnya berbeda.
Komentar mereka beragam, ada yang bilang bahwa kemenangan HADE itu hanya karena faktor Dede Yusuf yang seorang aktor, yang lain bilang bahwa itu hanya sebuah fenomena anomali saja, yang lain bilang itu istidroj, entah maksudnya apa. Dan yang lainnya lagi bilang bahwa 'kemenangan' itu karena faktor 'lucky', lantaran para mesin kampanye pesaingnya kurang tenaga.
Tentu kami bisa memaklumi komentar-komentar seperti ini, karena wajar saja mereka bilang begitu, sebab secara ijtihad, mereka memang tidak mendukung hasil ijitihad Al-Akh Heriyawan dan teman-temannya.
Tapi kemenangan mereka sebenarnya memang boleh dibilangcukup mengejutkan. Yang merasa terkejutbukan hanya di kalangan 'seberang jalan', tapi juga di kalangan 'rumah sendiri'. Awalnya memang banyak yang merasa miris atau malah sangat pesimis, tapi ketika hasil malah menang, diskusi jadi semakin hangat.
Jalan Tengah
Kalau melihat dua sisi pendakatan yang berbeda dari sesama para aktifias dakwah, rasanya kita perlu sebuah jalan tengah. Jalan tengah ini bukan plin-plan, tetapi justru tidak fatalis. Tidak secara ekstrim menolak satu pendapat dan juga tidak secara sepenuhnya mendukung satu pendapat.
Setidaknyamenurut anggapan kami yang terbaik adalah kita mencari jalan tengah. Bentuknya mendukung yang sekiranya memang perlu didukung dan menahan apa yang sekiranya perlu ditahan. Tidak ekstrim dan pasrah bongkokan.
Kita harus menghormati setiap ijtihad yang berkembang, tanpa harus bersikap negatif atas apa yang sekiranya berbeda. Dengan beberapa tekad kuat di dalam dada yang harus kita tanam, antara lain:
1. Menghindari Berbantah-bantahan Dengan Sesama Duat
Kalau kita kita tidak berhenti dari berdebat dan berbantah-bantahan dari tema inside dan outside ini, maka lama kelamaan kita sendiri yang akan perang saudara. Bukannya berjuang menegakkan dakwah, kita malah jadi pembangkang nilai agama kita sendiri.
Dahulu para shahabat nabi juga pernah berbantah-bantahan seperti ini. Bukan karena niat mereka buruk, tapi karena sudut pandang mereka tidak jadi satu. Maka dari langit turuntaujih rabbani:
Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfa: 46)
Jangan sampai kita malah berakhlaq yahudi, dengan asyiksaling berbantahan sendiri dengan sesama pejuang dakwah. Sementara Al-Quran menceritakan bagaimana dahulu Bani Israel berbantah-bantahan sesama mereka, yaitu pada saat genting di mana mereka harus menghadapi kekuatan Fir'aun.
Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan. (QS. Thaha: 62)
2. Berhenti Dari Saling Mencela
Berbantah-bantahan di atas kalau tidak segera dihentikan, biasanya akan menjalar menjadi saling caci, saling cela, saling maki dan saling menghina.
Akan sangat disayangkan kalau majelis-majelis taklim yang awalnya digunakan untuk mempelajari ilmu Allah dan sunnah Rasul-Nya, kadang ganti channel menjadi kajian untuk menjelek-jelekkan tokoh yang dianggapnya berseberangan ijtihad politik.
Majelis yang seharusnya didengar di dalamnya firmanAllah, jangan sampaiberubah jadi majelis untuk mendengarkan perkataan manusia, lengkap dengan hawa nafsunya.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.(QS. Al-Hujurat: 11)
3. Hindari Prasangka Buruk
Terkadang sikap yang sangat ekstrim lahir dari prasangka buruk antar sesama pejuang dakwah. Yang satu menuduh temannya salah, yang dituduh tidak terima, balas menuduh saudaranya salah.
Yang satu menuduh bahwa dakwah lewat jalur politik hanya sekedar kedok belaka, padahal sebenarnya semata-mata hanya kepentingan duniawi, bergelimang dengan harta, pamer kemewahan, mengikuti hawa nafsu, baik nafsu kekuasaan atau nafsu 'kawin lagi'.
Yang dituduh tidak terima, lalu bereaksi dengan segala improvisasi yang sekiranya memuaskan rasa ketersinggungannya. Dan ganti menuduh bahwa para penuduhnya adalah 'barisan tua' yang sakit hati karena tidak punya potensi.
Pendeknya, prasangka buruk itu memang ajaib, sekali satu pihak melontarkannya, maka akan langsung meletup menyambar-nyambar ke sana kemari, persis bensin dilempari puntung rokok.
Padahal kita masih aktif membaca Al-Quran, dan salah satunya yang masih terngiang saat kami menuliskan tulisan ini menjelang adzan shubuh adalah firman Allah berikut ini:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)
Sebagai muslim, kami agak merinding kalau mendengar ayat ini, sebab permisalan yang Allah SWT gambarkan memang sadis sekali. Ketika kita berburuk sangka kepada saudara kita, lalu menggunjingkannya, atau mencari-cari titik kelemahannya, kita dikatakan seperti sedang memakan daging saudara kita itu. Benar-benar kanibal akhlaq seorang muslim ketika melakukannya.
Pesan Buat 'calon' Gubernur
Kami memang agak lama tidak bertemu langsung dengan Al-Akh Ahmad Heriyawan, mungkin karena kesibukan masing-masing. Tapi lepas dari kami ikut mazhab yang mana, apakah inside atau outside, namun sebagai muslim, beliau adalah saudara kami.
Kalau seandainya jabatan Gubernur Jawa Barat itu memang jadi dibebankan ke pundaknya, tentu saja kami yakin beliau tidak akan menyebutnya sebagai kenikmatan. Kami yakin beliau akan menyebutnya amanat, beban, taklif, dan tentunya sebuah pertaruhan besar.
Bagaimana tidak, beliau akan bekerja under preassure. Dan tekanan itubukan saja dari kalangan 'seberang jalan', tetapi juga dari dalam 'rumah sendiri'. Maka beliau sekarang ini ibarat orang berjalan di atas titian rambut dibelah tujuh.
Maka sebagai muslim, ada beberapa tips yang mungkin beliau akan bisa mempertimbangkannya. Misalnya:
1. Pola Hidup Sederhana
Beliau lahir dari kalangan orang biasa, bukan orang yang kaya raya. Jadi kalau sekedar berpola hidup sederhana, merakyat, dan dekat dengan kalangan bawah, tentu bukan masalah besar.
Kami masih ingat ketika dahulu sama-sama makan di warteg karena kelaparan. Jadi kalau sekarang sering-sering makan di warung makan rakyat, dengan lauk seadanya, pasti bukan hal yang sulit.
Cerita tentang Said bin Amir, Gubernur Himsh di masa khilafah Umar bin Al-Khattab, yang hanya punya satu baju, pasti pernah beliau baca. Karena kisah itu ada di buku Al-Arabiyyah lin Nasyiin jilid 5. Sebuah kitab pelajaran bahasa Arab yang menjadi pegangan semua mahasiswa LIPIA di masa itu.
Kenapa kami mulai dari gaya hidup sederahana?
Karena boleh jadi janji beliau untuk mensejahterakan rakyat tidak kesampaian, karena ruwetnya birokrasi yang sudah jadi mafia tersendiri. Pada saat rakyat kelaparan, maka kalau pak Gubernurnya juga ikut kelaparan, rakyat pun akan memaklumi.
Tapi kalau rakyat kelaparan, sementara mereka lihat pak Gubernur lagi asyik makan-makan dengan kolega di restoran mewah di Bandung, itu namanya mushibah kubro.
Maka sesekali bikin sensasi tidak mengapa, kan? Misalnya, beliau menerima tamu bukan di kantor Gubernur, tapi di tengah rumah-rumah kumuh rakyat Jawa Barat, atau di tengah timbunan sampah yang menggunung dan pernah memakan korban di Bandung. Di sanalah seharusnya pak Gubernur berkantor, yaitu di tengah problem yang sebenarnya.
Jangan kalah dengan Ahmadinejat yang konon rumahnya berdinding bata tanpa plesteran. Dan tidak perlu ke Iran untuk sekedar mencari tokoh pujaan, wong di negeri sendiri juga ada. Bisa bahasa sunda lagi.
2. Perang Lawan Mafioso Membangun SDM
Sudah bukan rahasia lagi bahwa pusat penyamun di negeri ini bukan di daerah kumuh, tapi justru adanya di pusat pemerintahan. Perampok, penjahat, kriminalis, penodong, penjarah dan penipu tidak berkumpul di dalam penjara, tapi mereka justru berada di pusat-pusat kekuasaan.
Jadi Al-Akh Heriayawan dan Dede Yusuf akan dikelilingi oleh para gembong mafioso, yang berpengalaman puluhan tahun, bahkan turun temurun. Kalau perlu dengan hasil penjarahan mereka selama ini, Jawab Barat bisa dibeli.
Pilihannya ada tiga: ikut bergabung jadi bagian integral dari gabungan para mafia itu, atau perang habis-habisan sampai tetes darah penghabisan, atau main mata dan setengah-setengah.
Kita belum tahu apa jurus yang akan dipakai, dan mana pilihan yang akan disepakati. Seharusnya sih pilihan kedua, yaitu perang habis-habisan sampai tetes darah penghabisan melawat para mafia. Pecat dan bubarkan gerombolan mafioso birokrasi itu dan siapkan penjara. Potong sampai ke akar-akarnya, biar tidak tumbuh lagi.
Tapi karena tingkat dukungan yang mereka punya tidak maksimal, boleh jadi semua kebijakan dan itikad baik mereka 'diveto' oleh teman-temannya para mafia. Nah, ini berarti tantangan tersendiri. Pilih perang Bubat atau main mata.
3. Membangun SDM
Tapi satu hal yang perlu dipikirkan segara adalah membangun SDM secara khusus untuk menjadi pegawai pemda Jawa Barat ke depan. Para mafioso tidak akan berkutik kalau para pegawai pemdanya bukan orang, tapi 'malaikat', setidaknya 'setengah malaikat'.
Sehebat-hebatnya dan seustadz-ustadznya sang Gubernur, kalau pegawai pemdanya masih 'orang', pasti akan berputar-putar dan jalan di tempat. Prinsipnya, ganti dulu pegawai pemda dengan bukan orang, tapi 'malaikat'.
Dari mana bisa didapat malaikat di abad 21 ini? Dari langit?
Tidak, wujud pisiknya tetap manusia, tapi hatinya yang malaikat. Dan orang-orang jujur dan baik serta bermoral masih ada di penghujung kiamat ini.
Carilah mereka, sejak dari masih bibitnya. Kuliahkan mereka di sebuah kampus khusus untuk mencetak bibit unggul dakwah, yang secara khusus nantinya akan menjadi pegawai pemda.
Idealnya kampus mereka berisi mahasiswa unggulan dengan IPK tertinggi se Jawa Barat, diajar oleh para doktor ahli syariah, para huffadz (penghafal Quran), para muhaddits (ahli hadits), para pakar ahli hukum tata negara, dan beragam ilmu lain yang diperlukan. Tentunya materi akhlaq, moral, kejujuran, kesederhanaan, kepedulian kepada rakyat miskin menjadi 'mata kuliah' MKDU. Menyebutnya gampang, pokoknya yang tidak ada di IPDN.
Diharapkan nantinya akan lahir PNS-PNS yang 'setengah malaikat', yang tidak doyan duit tapi doyan pahala.
Yang mentalnya digodok seperti Umar bin Al-Khattab dan para gubernurnya. Yang terobsesi untuk punya 'baju satu kering di badan'. Yang tidak mempan sogokan karena isterinya pun tidak doyan belanja. Yang akan mematikan lampu kalau bicara urusan di luar kepentingan negara, karena minyak lampu itu dibiayai negara.
Yakinlah bahwa kampus seperti ini bisa diciptakan, asalkan punya tekat kuat. Tidak boleh ada orang jadi pegawai Pemda kecuali telah lulus dari kampus ini. Dan tidak ada yang lulus kecuali telah menjadi 'setengah malaikat'.
Pegawai negeri biasa jelas tidak bisa diandalkan, apalagi hanya dengan cara diseleksi lewat psikotest yang buku jawabannya dijual bebas di toko buku. Sama sekali tidak ada jaminan moral dan jiwa kepemimpinan. Sejak sebelum masuk jadi PNS sudah berhutang duit banyak untuk menyogok, dan ketika sudah jadi PNS maka misi utamanya adalah bayar hutang plus keuntungan. Bejat dan bejat sangat.
4. Segera Bayar Hutang Secara Cash
Kalau tidak salah biaya kampanye pilkada sampai 12 milyar, setidaknya itu yang dikemukakan ke muka pers. Pertanyaannya, uang sedege itu pasti ada taruhannya plus 'harapan'.
Logikanya, sangat tidak mungkin ada pihak yang mau membiayai dana sebesar itu kalau bukan ada apa-apanya di belakang. Maka saran kami, segera saja bayar uang itu secepatnya, agar si investornya tidak minta ini dan itu.
Sebabyang berbahaya justru tagihan minta ini dan minta itu dari para investor. Inilah yang membuat penguasa sekarang sangat gamang ketika bertindak, karena 'terjerat' hutang kepada para pedagang. Banyak rejim penguasa tidak berani bertindak tegas kepada para pedagang, karenaberhutang budi kepada para pedagang yang dengan 'tidak ikhlas' telah memodali biaya kampanye.
Tentu kompensasi adalah harapan para pedagang, dan itu akan sangat mengganggu kinerja penguasa. Jadi saran kami, bayarkan secepatnya hutang kepada para pedagang mereka, dan setelah itu pecat mereka semua secepatnya.
Biar tidak mengganggu stabilitas kebijakan dalam kepemimpinan ke depan. Biar tidak ada lagi 'main mata' dengan para pengusaha nakal dan liar itu.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc