" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Jumat, 25 September 2015

Benarkah Wanita Haid Boleh Tetap Puasa?




Benarkah Wanita Haid Boleh Tetap Puasa?
Sat, 6 September 2008 22:45 - | Dibaca 2.695 kali | Bidang puasa
Assalamu'alaikum warahmatulllahi wabarakatuh.
Ustadz, ada yang mengatakan bahwa wanita haid tetap melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan dengan alasan hadist dari 'Aisyah: nahnu nukmaru bi qadhais shaum wala nukmaru biqadhais shalah. Kata qadha diartikan dengan "melaksanakan" berdasarkan pengartian kalimat qadha pada firman Allah dalam surah al-jum'ah: fa idza qudhiyatis shalah fantasyiru fil ard. Lalu apakah pengertian itu benar adanya?
Assalamu'alaikum warahmatulllahi wabarakatuh,
Haramnya wanita yang sedang haidh berpuasa telah menjadi ijma' para ulama sejak 14 abad yang lalu. Padahal ijma' itu sedikit sekali jumlahnya. Sehingga kalau para ulama sampai pada titik ijma', berarti niai kebenarannya sudah nyaris mutlak.
Ijma' ulama sampai kepada hukum dosa bagi wanita yang secara sengaja melakukan puasa dengan niat ibadah pada hari-hari haidhnya. Artinya, berpuasa saat haidh bagi wanita bukan hanya terlarang, bahkan sampai melahirkan dosa.

Sehingga penafsiran seperti yang anda sebutkan itu dengan sendirinya telah batal. Sebab yang dimaksud dengan "qadhais shaum" di dalam hadits itu bukanlah mengerjakan puasa saat haid, melainkan mengqadha' (membayar hutang) puasa di hari lain, sementara di hari itu haram untuk dilakukan.
Dan keharaman puasa wanita yang haidh itu bukan hanya dilandaskan pada ijma' semata, melainkan juga berlandasan kepada hadits Rasulllah SAW, selain dari hadits yang anda sampaikan itu.
Bahkan hadits ini lebih tegas mengharamkan wanita yang haidh untuk shalat dan juga puasa. Tidak bisa dimain-mainkan makna dan pengertiannya sebagaimnana hadits sebelumnya.
Hadits ini juga menujukkan bahwa para wanita shahabiyah di masa Rasulllah SAW sudah mengerti dan tahu pasti bahwa wanita yang sedang haidh itu diharamkan shalat dan berpuasa. Semua tercermin dalam dialog mereka dengan Rasulullah SAW berikut ini.
Dari Abi Said Al-Khudhri ra. bahwa Nabi SAW bersabda kepada para wanita,..". Bukankah para wanita bila mendapat haidh tidak boleh shalat dan puasa?" Para wanita itu menjawab,"Benar." "Itulah yang dimaksud dengan kurangnya (pelaksanaan) agama mereka(HR. Bukhari)
Dan haramnya wanita berpuasa saat mendapat haidh juga dikuatkan lagi dalam hadits riwayat imam Muslim.
Dari Ibnu Umar ra: Para wanita melewati malam-malam tanpa boleh shalat dan mereka harus berbuka pada bulan Ramadhan. Itulah maksud kurangnya (pelaksanaan) agama mereka. (HR. Muslim)
Maka bila seorang wanita mendapat haidh, dia diharamkan untuk tetap berpuasa, dengan landasan dari hadts-hadits yang shahih dan juga dari ijma; para ulama. Tidka ada yang menyelengkan pengertian ini kecuali dia harus datang dengan dalil yang bisalebih kuat.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ahmad Sarwat, Lc