" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Kamis, 24 September 2015

Benarkah Wanita Boleh Jadi Imam Shalat Buat Laki-laki?



Benarkah Wanita Boleh Jadi Imam Shalat Buat Laki-laki?
Tue, 6 March 2012 17:00 - | Dibaca 2.753 kali | Bidang shalat
Dalam beberapa kitab masyhur seperti al-Majmu Syarhul Muhadzab dan al-Mufashshal, nama-nama besar seperti al-Muzani, Abu Tsaur dan Ibnu Jarir at-Thabariy disebutkan sebagai ulama yang membenarkan pembolehan wanita mengimami laki-laki. Benarkah demikian?
Assalamu `alaikum wr. wb.
Pertanyaan ini cukup menarik untuk dibahas. Selama ini kita hanya dapat informasi bahwa kebanyakan ulama sepakat mengharamkan wanita menjadi imam shalat buat laki-laki. Tetapi konon katanya, ada beberapa ulama yang membolehkannya. Di antaranya adalah Al-Muzani, Abu Tsaur dan Ath-Thabari. Begitu banyak ditulis dan dikutip dari satu artikel ke artikel lain.
Sebenarnya ini hanyalah kesalahan dalam mengutip pendapat para ulama tersebut. Sesungguhnya para ulama di atas tidak pernah berpendapat bahwa seorang wanita diperbolehkan untuk menjadi imam buat laki-laki. Mereka bertiga tetap bersama dengan jumhur ulama yang telah sampai derajat ijma` bahwa tidak sah seorang wanita menjadi imam shalat bagi laki-laki. Dan tidak ada khilaf sedikit pun dalam masalah yang sudah jelas ini.

Pendapat Al-Muzani
Nama asli Al-Muzani adalah Imam Abu Ibrahim Ismail Bin Yahya Bin Ismail Bin al-Mashriy. Beliau wafat di Mesir pada tahun 260 Hijriyah. Beliau adalah pengikut mazhab as-Syafi`iyyah. Imam Syafi`i sendiri pernah berkomentar mengenai beliau: Muzani adalah penolong mazhabku.
Muhammad Sidqi Bin Ahmad Al-Burnu mengatakan bahwa syubhat mengenai al-Muzani yang (katanya) membolehkan wanita menjadi imam bagi laki-laki adalah tidak benar. Dalam kitab al-Mukhtasar, al-Muzani menuliskan sebagai berikut:
Dapat diqiyas bahwa seseorang (laki-laki) yang shalat di belakang wanita, atau di belakang orang gila, atau orang kafir, akan tetap mendapat pahala apabila orang (laki-laki) itu tidak mengetahui tentang keadaan siapa mereka (yang diikutinya sebagai imam).
Kutipan di atas di tulis oleh al-Muzani sebagai penjelasan dari kalimat Imam as-Syafi`i dalam kitabnya al-Umm yang berbunyi:
Karena sesungguhnya shalatnya seseorang yang shalat untuk dirinya sendiri tidak dapat dirusak oleh rusaknya shalat atas selain dirinya.
Maka sesungguhnya keliru besar bila ulama sekaliber Al-Muzani dikatakan membolehkan wanita mengimami laki-laki secara mutlak. Karena dalam penjelasannya di kitab al-Mukhtasar, Al-Muzani mengatakan tetap berpahala (sah) bagi orang laki-laki yang shalat di belakang wanita atau di belakang orang gila sekalipun, dengan syarat orang laki-laki itu tidak mengetahui kalau orang yang dijadikannya imam itu ternyata seorang wanita, atau ternyata orang gila. Kondisi ini mengandung unsur ketidak tahuan dan ketidak sengajaan.
Al-Muzani tetap menyatakan tidak sah pada orang laki-laki yang shalat dan bermakmum pada seorang wanita dalam keadaan ia (laki-laki) itu sengaja dan tahu bahwa imam yang ada di depannya itu adalah seorang wanita.
Pendapat Abu Tsaur
Nama asli Abu Tsaur adalah Ibrahim Bin Khalid Bin Abi Aliman al-Kalbi al-Baghdadiy. Beliau wafat pada tahum 240 Hijriyah.
Pernyataan dari Abu Tsaur yang mungkin ditafsirkan sebagai pembolehan wanita dalam mengimami laki-laki adalah pendapat beliau saat mengomentari penjelasan Al-Muzani dalam kasus yang tertulis dalam kitab Al-Umm yang ditulis Imam As-Syafi`i sebagai berikut:
Apabila seorang wanita shalat, kemudian datang untuk shalat dibelakangnya: kaum wanita dan anak-anak laki-laki, maka shalatnya para makmum wanita diberi pahala (sah) sedangkan shalatnya para makmum dari anak-anak laki-laki tidak sah.
Dalam hal ini Abu Tsaur mengomentari bahwa shalatnya para makmum yang terdiri dari anak-anak laki-laki tetap sah apabila mereka tidak tahu kalau imam yang ada didepannya adalah seorang wanita.
Maka, komentar Abu Tsaur ini tidak bisa digeneralisir pada pembolehan wanita mengimami laki-laki secara mutlak. Karena kasus diatas ada dalam kondisi makmum anak laki-laki yang tanpa sengaja dan tidak tahu kalau ia bermakmum pada seorang imam wanita.
Hal ini mirip dengan pendapat al-Muzani di poin sebelum ini.
Subki Abdul Wahhab Bin Taqiyuddin mengatakan:
Dalam beberapa hal, Abu Tsaur memang berbeda pendapat dengan jumhur fuqaha, beliau menyebutkan beberapa hal dimana beliau berbeda pendapat dengan mereka. Akan tetapi, Abu Tsaur tidak menyebutkan bahwa beliau membolehkan wanita menjadi imam bagi laki-laki.
Pendapat At-Thabariy
Nama asli Al-Imam Ath-Thabari adalah Abu Ja`far Muhammad Bin Jarir Bin Yazid at-Thabariy, wafat di Baghdad pada tahun 310 Hijiyah.
Muhammad Sidqi al-Burnu mengatakan tidak ada bukti valid yang mengatakan bahwa at-Thabariy menyatakan bolehnya wanita mengimami laki-laki, baik itu dari karya-karya tulisnya sendiri ataupun kesaksian dari ulama lain mengenai tuduhan ini.
Maka dari tulisan ini kita bisa menyimpulkan bahwa asumsi selama ini perlu dikoreksi, bahwa tidak benar ada sebagian ulama yang masih membolehkan wanita menjadi imam buat laki-laki. Yang benar adalah bahwa seluruh ulama tanpa terkecuali, tidak ada yang membolehkan wanita menjadi imam shalat buat laki-laki.
Sayangnya selama ini adalah terjadi kesalahan dalam mengutip pendapat para ulama itu, dan sayangnya kutipan-kutipan itu tidak pernah ditelusuri lagi secara lebih mendalam. Kita berkewajiban membersihkan nama baik Al-Muzani, Abu Tsaur dan At-Thabari dari daftar ulama yang membolehkan wanita menjadi imam shalat.
Dan ke depan semoga kita semua terhindar dari kesalahan fatal seperti ini. Amin.
Wassalam,
Ahmad Sarwat, Lc