" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 30 Mei 2015

Teknologi militer zaman khalifah yang hebat


Teknologi militer zaman khalifah yang hebat Selama awal pemerintahan Islam, jihad sebagai metode dasar penyebaran dakwah Islam telah menjadi bagian penting dari upaya membangun kekuatan Daulah Islam. Jihad adalah perang di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah. 

Oleh sebab itu diperlukan persiapan baik logistik, formasi perang, strategi, komandan dan pasukan serta persenjataan. Persenjataan membutuhkan adanya industri. Kewajiban ini dipahami menurut dalâlah iltizam atau kaidah mâ lâ yatimmu al-wajib illâ bihi fahuwa wajib (suatu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan adanya sesuatu maka sesuatu itu menjadi wajib hukumya). Jadi, membangun industri militer / perang wajib hukumnya berdasarkan mafhum dari dalil tersebut.







                                                               Manjaniq (swing-beam) 


Manjaniq pertama kali digunakan oleh kaum Muslim pada peristiwa pengepungan Bani Thaif. Adalah Salman Al-Farisi -seorang Persia yang masuk Islam di masa Rasulullah SAW- orang pertama yang memperkenalkan senjata ini atas perintah Nabi Saw. Manjaniq merupakan mesin balok osilator yang dioperasikan oleh orang-orang yang menarik tali pada satu sisi balok sehingga ujung yang lain akan berayun sangat kuat dan menembakkan peluru dari tali yang menempel pada ujungnya. 

[1] manjaniq sebenarnya telah dikenal sebelum masa penaklukan Islam. Bangsa Avar pernah menggunakannya saat penyerbuan Tesalonika di tahun 597 M. Bahkan mesin pelontar ini terpercaya dibuat pertama kali oleh Cina antara abad ke-5 dan ke-3 SM, dan sampai ke Eropa sekitar 500 M 

[2]. Lalu pada masa pemerintahan Islam, Salman mengusulkannya kepada Nabi Saw sebagai senjata perang, seperti yang diriwayatkan dalam Sirah al-Halabiyah. "Hingga pada hari pecahnya dinding benteng Thaif," demikian Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam kitab Sirah-nya, "Sekelompok sahabat Rasulullah Saw masuk ke dalam bawah dababah 

[3], lalu mereka berusaha masuk ke dalam dinding benteng Thaif agar mereka bisa membakar pintu benteng. Bani Tsaqif lalu melemparkan potongan-potongan besi yag telah dipanaskan dengan api sehingga membakar dababah yang ada dibawahnya, kemudian Bani Tsaqif melempar mereka dengan anak panah sehingga beberapa orang gugur. "

[4]Atas usulan Salman ini, Nabi Saw langsung mengangkatnya sebagai mudir 

[5 ] untuk mengelola industri militer dan membuat manjaniq untuk memperkokoh kekuatan pasukan artileri yang dipersiapkan untuk terjun ke medan tempur.




Pedang Damaskus (Sword of Damascus) 

Dihiasi dengan ornamen garis bergelombang, berkeluk, ringan, dan mampu menembusi baju besi, menjadikan pedang damaskus salah satu senjata perang paling bersejarah. Pedang ini diperkenalkan di Damaskus pada abad ke-12 M.

[6] Eropah lalu coba menghasilkan yang serupa dengannya, namun hingga masa ini masih belum mampu meniru 100%. Malah dengan teknologi metalurgi/logam sekalipun belum dapat membuat tandingan yang memiliki ketajaman yang sama dengan Pedang Damaskus ini. Pedang yang pernah mengentarkan Pasukan Salib ini, memiliki seperti lapisan kaca di permukaannya. Sutera akan terbelah bila jatuh di atasnya. Pedang lain pun akan menemui nasib yang sama jika beradu dengannya. Tidak ada yang menyangka, bahawa ilmuwan Muslim telah menerapkan teknologi nano sejak seribu tahun yang lalu.




Selama ratusan tahun, tidak ada yang mengetahui rahasia kehebatan pedang tanpa tandingan ini.John D. Verhoeven -seorang profesor metalurgi modern dari Iowa State University- yang berkolaborasi dengan Alfred H. Pendray, seorang tukang besi dari Florida, yang telah mencoba membuat pedang ini selama bertahun-tahun. Dari penerapan nanoteknologi bahan impurities (non-besi dan non -carbon) dalam adonan baja yang membentuk pola mirip aliran air yang dikenal dengan Multi Walled Carbon Nano Tube 

[7], barulah diketahui rahasia di balik kehebatan pedang damaskus ini.





Teknologi Pembuatan Peluru/Mesiu (Gunpowder) 

Tidak hanya mampu dalam seni membuat pedang, kaum Muslim juga mampu mengembangkan teknologi pembuatan peluru/mesiu. Walaupun senjatanya serbuk peluru/mesiu pertama kali ditemui di China yang digunakan sebagai alat pembakaran pada abad 9 M, dua abad sebelumnya seorang ahli kimia Muslim Khalid bin yazzid telah mengenali lebih dulu potassium nitrat (KNO3), bahan utama pembuat peluru,mesiu.[8] Eropah baru mengenali peluru/mesiu setelah dibawa oleh pasukan Mongol pada tahun 1240 M.

[9] Dan selanjutnya dikembangkan menjadi bahan peledak, contohnya untuk mendorong peluru, kemudian seabad setelahnya disempurnakan menjadi senjata api. Jauh sebelum Eropah mengembangkan teknologi pembuatan peluru/mesiu, ilmuwan-ilmuwan Muslim telah lebih dulu mencubanya. Banyak ilmuwan Muslim yang menguasai teknik pemurnian potassium, satu teknik yang tidak diketahui oleh orang-orang China. Jabir Ibnu Hayyan (wafat tahun 815 M), Abu Bakar Al-Razi (wafat tahun 932), dan Hasan Al-Rammah adalah ilmuwan-ilmuwan Muslim yang telah menguasai teknik ini dan telah dijelaskan di dalam karya-karya mereka. Teknik pemurnian ini dilakukan agar potassium boleh digunakan sebagai bahan peledak.



Pemurnian potassium ini pernah diklaim Barat sebagai temuan Roger Bacon. Namun klaim ini dipatahkan sendiri oleh ilmuwan Barat lainnya yaitu Partington. Hasan Al-Rammah telah menjelaskan proses ini secara rinci di dalam karyanya Al-Furusiyyah wa Al-Manasib Al-Harbiyyah. Penguasaan Al-Rammah atas penggunaan bubuk amunisi / mesiu sangat luar biasa. Ia telah berhasil menulis sebanyak 107 rumus atau deskripsi penggunaan amunisi / mesiu. 

22 deskripsi di antaranya dibuat khusus untuk membuat roket. Selama Perang Salib meletus tahun 1249 M, Raja louis IX dan para pasukannya pernah merasakan kehebatan moncong meriam dan roket kaum Muslim. Betapa hebatnya nampak peluru meriam yang ditembakkan pasukan Muslim, membuat Raja Louis IX putus asa dan akhirnya ditaklukkan. Peristiwa itu diakui sendiri oleh Jean de Joinville, salah seorang perwira tentara Perang Salib. The Mohammed s Greats Gun  Inilah salah satu senjata paling fenomena yang digunakan dalam perang paling menakjubkan sepanjang sejarah. The Mohammed s Greats Gun, itulah sebutan senjata yang dibuat pada tahun 1942 ini. Meriam ini dibuat sebagai jawaban atas keinginan Muhammad al-Fatih untuk menembus benteng pertahanan Kostantinopel.





"Aku dapat membuat meriam tembaga dengan kapasitas seperti yang Anda inginkan," kata Orban -seorang ahli insinyur yang diundang Al-Fatih ke Adrianopel-, "Aku telah mengamati secara detail tembok di Konstantinopel. Aku tidak hanya akan memecahkan tembok itu dengan senjataku. Bahkan, tembok Babilonia pun akan hancur karenanya. "







{10} Tentu saja hal ini disambut gembira oleh Muhammad Al-Fatih. Impian untuk mewujudkan bisyarah Rasulullah Saw (tentang takluknya Kontantiopel) sudah di depan mata. Maka dijalankanlah proyek tersebut. Dan senjata terbesar di dunia yang pernah ada waktu akhirnya berada dalam genggaman Muhammad Al-Fatih. Memiliki panjang 8,2 meter, diameter 76 cm, dengan berat 18,2 ton, meriam ini mampu melontarkan bola besi padat berdiameter 70 cm dengan berat 680 kg sejauh 1,6 km. Militer Hebat, Negara pun Kuat  "Tim Utsmaniyah sangat cepat gerakannya , "kata Bertrand de Broquiere -seorang pengembara asal Perancis-," Seratus pasukan Kristen akan jauh lebih kacau dari sepuluh ribu pasukan Utsmaniyah. 

Tatkala gendang perang telah ditabuh, maka dengan segera mereka akan bergerak, mereka tidak akan berhenti melangkah ke arah dikeluarkan. Mereka adalah tim yang terlatih. Dalam semalam mereka mampu melakukan tiga kali perjalanan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya orang-orang Kristen. "

[11] Kaum Muslim memang telah berhasil membangun angkatan bersenjata yang kuat dan tim yang terlatih. Meskipun tidak dapat dikatakan bahwa militer sebagai satu-satunya faktor penentu kemenangan di medan perang, tetapi ia merupakan salah satu sebab di antara alasan yang menyebabkan kemenangan. 

Maka tidak heran jika Rasul Saw sangat memperhatikan strategi perang, kekuatan tim, dan persenjataan di setiap peperangan. Dan seterusnya juga menjadi perhatian para Khalifah pada masa berikutnya. Di masa Abbasiyah, sebagaimana yang dikatakan oleh Philip K. Hitti, "tentara kaum Muslim terdiri dari pasukan infanteri (harbiyah) yang bersenjatakan tombak, pedang dan perisai, tim panah (ramiyah) dan kavaleri (fursan) yang mengenakan pelindung kepala dan dada, serta bersenjatakan tombak dan kapak. Tiap tim pemanah membawa pelontar nafa (naffathun), mengenakan pakaian anti api dan melemparkan bahan mudah terbakar ke tim musuh. "

[12] Ibn Shabir al-Manjaniqi, seorang arsitek terkenal pada masa an-Nashir (1180 - 1225 ), telah menulis sebuah buku tentang teknik dan seni perang. 

Pada saat itu juga, para arsitek telah membangun mesin pengepung, seperti katapul, pelontar, dan pendobrak. 

[13] Tidak hanya hebat di darat, tentara kaum Muslim pun hebat di laut. Mu'awiyah adalah khalifah pertama yang meluncurkan jihad melalui lautan. Kemudian pada masa Khalifah Abdul Malik, industri peralatan maritim untuk pertama kalinya dibangun di Tunisia. 

"Dari sana, penaklukan atas Sisilia dilaksanakan," demikian Ibnu Khaldun menceritakan dalam Muqaddimah-nya, "Dan pada saat itu pula ditaklukkan Qusharrat. Setelah itu di bawah Bani Ubaidi dan Bani Umayyah, armada Ifriqiyah dan Andalusia terus-menerus bergantian menaklukkan kota demi kota. "[14]" Selama masa pemerintahan Daulah Islamiyah, "kata Ibnu Khaldun," kaum Muslim menaklukkan seluruh sisi lautan.Kekuasaan dan dominasi mereka semakin luas. Bangsa Kristen tidak dapat berbuat apa-apa terhadap armada kaum Muslim, di mana pun di laut Tengah. 

Sepanjang waktu, kaum Muslim mengarungi gelombang untuk menguasai semua semenanjung yang lintas di pantai Laut Tengah, seperti Mayorca, Minorca, Ibiza, Sardinia, Sisilia, Pantelleria, Malta, Crete, Cypus, dan semua bagian Mediterranean Romawi dan Franka. "

[15] Penaklukan dan penyebaran Islam yang begitu massif bukanlah semata-mata karena militer yang kuat, tetapi faktor utama semua itu adalah ideologi Islam.Motivasinya pun bukan lantaran memburu ghanimah (harta rampasan perang) atau sumber daya alam. 

Semua wilayah yang akan ditaklukkan sama di mata kaum Muslim, baik kaya maupun miskin.Seperti Afrika Utara yang tidak punya kekayaan apa pun, kaum Muslim dengan penuh keyakinan masuk ke sana dan menyebarkan Islam. Sungguh, suatu saat nanti musuh-musuh Islam akan terperanjat menyaksikan kekuatan kaum Muslim bangkit kembali. Mereka akan menggenggam Timur dan Barat sebagaimana orang-orang sebelum mereka. Islam akan masuk sedemikian cepat ke dalam setiap rumah dengan segenap kemuliaannya. 

"Sungguh hal agama ini," demikian Rasul Saw mensabdakan dalam riwayat Imam Ahmad, "akan sampai ke seluruh dunia sebagaimana sampainya malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun, baik di tengah penduduk kota atau di tengah desa, kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan yang dimuliakan dan kehinaan yang dihinakan; kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran. "

[16] Wallahu a'lam bi ash-showwab.


Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :