" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

BINTANG 5

luar biasa rating 5 bintang, terima kasih banyak

Dikirim oleh alikhlasmusholaku.blogspot.com pada 5 April 2016

Sabtu, 30 Mei 2015

Kisah Nyata tujuh kali menunaikan haji, tujuh kali tidak nampak Ka'bah

Ya ALLAH..., Ya RAHMAN.....,Ya RAHIM 
Muliakanlah orang yang membaca dan membagikan status ini 
Entengkanlah kakinya untuk melangkah ke masjid 
Lapangkanlah hatinya 
Bahagiakanlah keluarganya 
Luaskan rezekinya seluas lautan 
Mudahkan segala urusannya 
Kabulkan cita-citanya 
Jauhkan dari segala Musibah 
Jauhkan dari segala Penyakit,Fitnah,
Prasangka Keji,Berkata Kasar dan Mungkar. 
Dan dekatkanlah jodohnya untuk orang yang 
membaca dan membagikan status ini. 
Aamiin ya Rabbal'alamin

I REALLY LIKE THIS LINK


Bagikan lewat WHATSAPP yuk !!!!!!!



Image result for Kisah tujuh kali menunaikan haji, tujuh kali tidak nampak Ka'bah



Kisah ini terjadi bukan di Malaysia, namun bisa menjadi iktibar bagi kita sebagai umat Islam. 

Bacalah ....... Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Ibunya senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai seorang Islam yang berkemampuan, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Setelah segala persiapan dilakukan, mereka akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi kesehatan mereka baik dan tidak ada tanda-tanda akan sakit. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam.

"Labaik Allahuma Labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah".

Hasan mendekati ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu, lihatlah Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi Hasan tidak menunjukkan reaksi, ia terdiam. 

Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya. Hasan sekali lagi berbisik kepada ibunya. Ia heran melihat raut wajah ibunya. Wajah ibunya seperti kebingungan.Ibunya sendiri tak tahu mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapa kali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang ada hanyalah kegelapan.

Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Sebelum itu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Setiap kali menunaikan haji, Hasan bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmat. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugerah-Nya, dengan menatap Ka'bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kembali membawa ibunya menunaikan haji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi.

Ibunya kembali dibutakan di depan Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan simbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka'bah. Hasan tidak berpatah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya. Anehnya, ibunya tetap juga tak dapat melihat Ka'bah. Setiap kali berada di Masjidil Haram, yang ada di matanya hanyalah gelap dan gelap.

Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri ibunya. Kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji. Hasan tidak dapat memahami, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka'bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya ada membuat kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu? Segala pertanyaan berkecamuk dalam kepalanya.

Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya. Tidak berapa lama kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Terlepas dari kesusahan, Hasan akhirnya bertemu dengan ulama yang dimaksud. Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar ibu Hasan menghubunginya, ia akan berbicara langsung dengan ibu Hasan. anak yang berbakti ini pun pulang.

Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntunglah, ibunya memenuhi permintaan Hasan. Ibunya pun menelepon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta ibu Hasan tenang, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Dia diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.

"Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah kecil," kata ulama itu pada ibu Hasan. Ibu Hasan terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya.Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari ibu Hasan. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Ibu Hasan menghubungi ulama tersebut.

"Ustaz, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit," cerita ibu Hasan akhirnya.

"Oh, bagus ... ..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia," potong ulama itu.

"Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram," ungkapnya terus terang.

Ulama itu terperanjat. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.

"Disana ...." Sambung ibu Hasan, "Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua orang suka dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan bayaran uang, saya mengganti bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka. "Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan ibu Hasan.

"Astagfirullah ......" sanggup wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.

Apakah ibu Hasan tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan sah perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak bisa dinikahi.

"Cuma itu yang saya lakukan," ucap ibu Hasan tanpa merasa bersalah.

"Cuma itu? tanya ulama terkejut.

"Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang sangat besar, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan!". ucap ulama dengan nada tinggi.

"Apa lagi yang Anda kerjakan?" Tanya ulama itu lagi sedikit kesal.

"Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati."

"Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama.

"Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir."

"Maksudnya?". tanya ulama tidak mengerti.

"Setiap kali ingin menyiksa orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala alat sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus harus ditanam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak memasukkan di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati. "

"Pernah sekali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang sihir seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. "

Entah mengapa benda-benda itu seperti terjebak, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi naik marah, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya.Cuma itu dosa yang saya lakukan. "

Mendengar percakapan ibu Hasan yang tidak merasa bersalah dan tanpa rasa berdosa, ulama itu berteriak marah.

"Cuma itu yang kamu lakukan? Masya Allah .... !!! Saya tidak dapat menbantu Anda. Saya angkat tangan ".

Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan ibu Hasan. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu keras, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata,

"Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang akan mengampuni dosa Anda." Bumi menolaknya.

Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari ibu Hasan. Akhirnya ia berusaha dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap ibu Hasan telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa ibu Hasan, sehingga rahmat Allah datang kepadanya. Karena lama tidak mendapat kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan yang tinggal di mesir. Kebetulan yang menjawab telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar ibu Hasan, ternyata berita sedih yang diterima ulama itu.

"Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad," ujar Hasan.

Ulama itu terkejut mendengar berita tersebut.

"Bagaimana ibumu meninggal, Hasan?". tanya ulama itu.

Hasanpun akhirnya bercerita: Setelah menelpon ulama itu, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia.

Apa yang mengejutkan adalah peristiwa pemakaman jenazah ibu Hasan. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah dengan izin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu berulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat.

Peristiwa itu terjadi begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah terkait dengan perbuatan si mayat. Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan harapan karena pekerjaan mereka tidak berhasil. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah tandus.

Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak sanggup meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin.Hasan termenung di kuburan seorang diri. Dengan izin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian lokal orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang terkulai ke depan. Pria itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,

"Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!". kata orang itu. Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Harap-harap ingin menggali lubang untuk kemudian menguburkan ibunya.

"Aku minta supaya kau jangan menengok ke belakang, sampai tiba di rumahmu," pesan pria itu.Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan tempat penguburan. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terasa keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan jenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menoleh ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa hairanya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.

Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa ketika anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan izin Allah akan hilang. Benar kata ulama itu, tidak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.



Kunjungi website kami klik tautan - link di bawah ini :



alikhlasmusholaku.top & alikhlasmusholaku.blogspot.com

YA ALLAH JAUHKANLAH KAMI SEMUA DARI SIKSA KUBUR, HARAMKANLAH NERAKA ATAS JASADKU, KEDUA ORANGTUAKU, DAN SEMUA ORANG YG MENGUCAP "AAMIIN" DIKOMENTAR..
.
Sudah baca Like, komen Aamiin, lalu BAGIKAN dengan Ikhlas!




Rasulullah SAW bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)





TETAPLAH MEMBERI NASEHAT, WALAUPUN ENGKAU SENDIRI BANYAK KEKURANGAN


✍🏻 Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbaly rahimahullah berkata:

لو لم يعظ إلا معصوم من الزلل، لم يعظ الناس بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم أحد، لأنه لا عصمة لأحد بعده.

"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasehati orang lain selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam, karena tidak ada yang ma'shum selain beliau."

Lathaiful Ma'arif, hlm. 19





Bagikan dengan cara klik tombol Facebook, twitter, Goggle+, Pinterest, Blogger, Email dibawah ini  :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar