" SELAMAT DATANG DI ALIKHLASMUSHOLAKU.TOP, FORUM BELAJAR, BERBAGI & SOLUSI TENTANG ISLAM "

Komentar Facebooker

alikhlasmusholaku.blogspot.com ini bagus utk dibaca menambah pengetahuan tentang adab islam

Dikirim oleh Wasriful Wahizar Koto pada 5 Agustus 2015

Jumat, 30 April 2010

MENCINTAIMU DALAM DIAM (CERBUNG ISLAMI)


















MENCINTAIMU KARNA ALLAH - ANA UHIBBUKA FILLAH

Saat pertama ku mengenalmu
Ku rasa sesuatu yang berbeda
Ku ingin mendekatimu
Tapi ku takut kau menjauh

Semakin lama rasa ini terpendam
Semakin aku ingin mendekatimu
Dari kejauhan ku melihatmu
Ku berharap kau pun merasakan

Iman dan takwamu yang meluluhkan
Rasa ini menjadi cinta
Kekasih idaman yang ku harapkan
Semoga cinta ini menjadi nyata

Ana Uhibbuka Fillah
Ku mencintaimu karena Allah
Jika dia yang terbaik untukku
Dekatkanlah hati kami ya Allah

Ana Uhibbuka Fillah
Ku mencintaimu karena Allah
Jika dia yang terbaik untukku
Dekatkanlah hati kami ya Allah

Semakin lama rasa ini terpendam
Semakin aku ingin mendekatimu
Dari kejauhan ku melihatmu
Ku berharap kau pun merasakan
Iman dan takwamu yang meluluhkan
Rasa ini menjadi cinta
Kekasih idaman yang ku harapkan
Semoga cinta ini menjadi nyata

Ana Uhibbuka Fillah
Ku mencintaimu karena Allah
Jika dia yang terbaik untukku
Dekatkanlah hati kami ya Allah

Ana Uhibbuka Fillah
Ku mencintaimu karena Allah
Jika dia yang terbaik untukku
Dekatkanlah hati kami ya Allah

Ana Uhibbuka Fillah (Ana Uhibbuka Fillah)
Jika dia yang terbaik untukku
Dekatkanlah hati kami ya Allah
Dekatkanlah hati kami ya Allah


PROLOG

Berawal dari toko buku yang membuat Humairah Az-Zahra menahan malu.Sejak pertemuan itulah ia bertemu Muhammad Ali Ibrahim yang ternyata Seniornya dikampus. Sosoknya yang taat agama membuat Zahra mengaguminya dalam diam. Rasa yang semakin dalam membuat Zahra berharap Ali lah yang menjadi imamnya kelak, menggapai surga bersama. Zahra ingin menjadi seperti layaknya Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang mencintai Sayyidina Ali dalam diam, yang Allah persatukan cintanya dan berakhir indah.

"Maka nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan" (QS. AR-RAHMAN:13)

1. Mencintaimu dalam diam

Humairah Az-Zahra seorang gadis berjilbab lebar yang memutuskan hijrah sejak memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia tidak ingin hidupnya terus berlumuran dosa sampai sekarang masih mempertahankan keistiqomahanya. Gadis di balik jendela yang berumur 19 tahun ini sedang menikmati rintikan hujan atas ciptaan-Nya. Gadis yang ingin menggapai cita-citanya sebagai seorang perawat di universitas yang ada di jakarta yang baru menginjak semester ke 5,sungguh ia bersyukur mendapatkan beasiswa tanpa membebankan orang tuanya. 

"barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga" (HR. Muslim) 

"Tuntutlah ilmu walaupun di Negeri China karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena ridha terhadap ilmu yang di tuntutnya (HR. Ibnu Abdi Al-bar) 

Suara handphone membuyarkan lamunannya, Zahra langsung menekan nomor Syifa sahabat satu universitas nya sekaligus bersahabat sejak SMA dulu yang sampai sekarang masih bersama semoga persahabatan ini tidak hanya di dunia tapi sampai di jannah kelak (Aamiin). Terdengar suara khas dibalik pintu, tak jarang orang sering menutupi telinganya mendengar suaranya. Walaupun begitu Zahra sudah terbiasa mendengar suara sahabatnya itu ketika berbicara. 

"Assalamualaikum "salam syifa. 

"Waalaikumsalam"jawab zahra. 

"Zahra besok kamu ada acara nggak"ucap syifa. 

"emm kebetulan nggakada,emang kenapa?"tanya zahra. 

"hehe besok anterin aku ke toko buku ya..yaya..ya.. " 

"Ya udah kebetulan aku juga mau beli buku" 

"Oke nanti pagi jam 9 aku ke kost kamu, Assalamualikum"salam syifa 

"Waalaikumsalam"jawab zahra. 

Setelah panggilanya terputus Zahra menaruh benda pipih itu diatas meja. Setelah itu segera mengambil air wudhu dan membaringkan tubuhnya yang sedikit lelah. 

***

2.Mencintaimu Dalam Diam


Zahra membuka matanya di sepertiga malam untuk menunaikan shalat malamnya, ia memang selalu rutin dalam menjalankanya sebab di waktu ini lah doa yang kita panjatkan akan terkabulkan. Zahra beranjak dari tempat tidur,langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu dan menunaikan shalat tahajud di lanjutkan bermunajat kepada Rabb-Nya.



Setelah itu ia tidak tidur kembali melainkan membaca Al-Quran sambil menunggu adzan subuh tiba.



Allahuakbar...Allahuakbar...



Zahra melaksanakan shalat dengan khusyuk.



"ya Allah ampunilah dosaku ini, dosa yang mungkin pernah menyakiti hati orang lain atas lisanku, dosaku yang tidak terhitung seberapa banyaknya, ampunilah diri ini ya Rabb. Aku mungkin tidak pantas di surgamu namun aku pun tak ingin berada di nerakamu. Bimbinglah aku memperbaiki diri ini dan mudahkanlah langkah ini menuju kebaikanmu ya Rabb"

Aamiin ya rabbal alamin



"Demi Allah,seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi boleh berbicara sebentar lalu menceritakan pengalaman sakaratul mautnya pada kalian, Niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut & mulai menangisi diri kalian sendiri"

{Imam ghozali mengutip atsar al-hasan}



Tidak terasa air mata mengalir begitu saja di pipi Zahra kala mengingat dosa yang ia pernah lakukan. Zahra mengahapus air matanya dan membenarkan sajadah selepas berdoa dan langsung mengganti pakaian karena hari ini Zahra sudah berjanji akan menemani Syifa.



Tok.. Tok...Tok...



Zahra menyambar tas yang digantungkan dikamarnya lalu segera membukakan pintu dan terlihatlah syifa.



"Assalamualaikum Zahra"salam Syifa sambil memeluk erat tubuh Zahra.



"Waalaikumsalam Syifa lepas nafas Zahra sesek"jawab zahra



"Hehe maaf yaa abisnya aku kangen banget sama kamu"cengir Syifa.



"Subhanallah syifa kita baru libur hari ini loh"ucap Zahra.



"ish emang aku gak boleh gitu kangen sama sahabatku ini"Syifa memanyunkan bibirnya karena kesal.



"iya ya udah deh aku minta maaf sekarang kita berangkat aja yuk nanti keburu ke siangan"ucap Zahra



"Lets go"jawab syifa girang.



Zahra pun memasuki taksi yang sudah di pesan oleh syifa dan langsung menuju ke tempat tujuan mereka.Tidak terasa setelah menempuh waktu 30 menit sampailah mereka di toko buku.



"Pak ini uang nya"ucap Zahra memberikan uang kepada pak supir.



"Terima kasih mba"jawabnya.

"sama-sama, Assalamualaikum"salam Zahra.

"Waalaikumsalam"

Zahra dan Syifa berjalan memasuki toko buku,menelusuri rak dengan berbagai macam buku yang tersusun rapi. Mereka langsung mencari buku yang diinginkan.

"Ra aku kesana dulu ya mau cari bukunya"tunjuk Syifa pada rak lain.

"Oh iya"jawab Zahra.

Zahra terus mencari buku yang diinginkan setelah cukup lama mencari buku akhirnya ia temukan berada pada rak paling atas. Zahra menggapai buku itu tapi nihil ia tidak bisa mengambilnya karena badanya yang tidak terlalu tinggi. Ia terus meloncat-loncat berharap bisa menggapai buku itu.

Tanpa di sadari seorang pria yang berada di samping nya manahan tawa melihat tingkah
Zahra. Ia pun yang merasa mendengar seseorang yang sedang menahan tawa membalikan badanya ke arah samping dan...

Deg..

Seorang lelaki bertubuh tinggi,hidung mancung,bulu mata lentik serta berkulit putih sedang menahan tawanya karena tingkahnya, pipi Zahra langsung memanas seperti tomat rebus karena menahan malunya pada lelaki didekatnya. Zahra langsung membalikan tubuhnya membelakangi lelaki tersebut

Tap...Tap...Tap...

Zahra mendengar suara langkah kaki sedang mengarah padanya.

"Ya allah semoga saja buka dia zahra maluu "batin zahra

Ekhem...

Suara seorang lelaki yang kini tepat dibelakangnya,
Zahra masih saja diam tidak berani membalikan badanya. Sungguh saat ini ia sangat malu.

Ekhem...

Lelaki itu mengulang kembali kodenya mengisyaratkan gadis didepannya membalikan badan. Dengan terpaksa Zahra membalikan badanya dan benar saja lelaki itulah yang menghampirinya. Ia langsung menundukan pandanganya ketika berhadapan dengan lelaki yang bukan mahram.

Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menundukan pandanganya"
(QS.An-Nuur:31)

"Maaf mba ini bukunya"lelaki itu kembali berucap dan memperlihatkan buku yang ingin Zahra ambil. Sedangkan Zahra sedetik terdiam memberanikan dirinya mengambil buku itu.

"Terima kasih mas, saya permisi dulu Assalamualaikum"
salam Zahra segera berlalu pergi tanpa menatap lelaki di depanya. Ia tidak bisa berlama-lama berada di sini manahan malunya.

"Waalaikumsalam,sama-sama"jawabnya 

Zahra melihat Syifa yang masih sibuk memilih buku seraya menghampirinya.

"Fa kamu udah belum cari bukunya"ucap Zahra.

"Udah nih"jawab syifa memperlihatkan buku yang didapat.

"Ya udah kita langsung pulang aja" ajak Zahra langsung menarik tangan Syifa menuju kasir.

"eh tunggu Zahra" Zahra sontak langsung menghentikan langkahnya seraya melihat Syifa.

"Itu pipi kok merah gitu ciee" ucap Syifa.

Tanpa Zahra mengatakan alasanya Syifa sudah sangat hapal bila sahabatnya itu ketika pipinya merona merah pasti sedang menahan malu.

Sedangkan Zahra sontak langsung memegang pipinya sangat malu. Ia sudah pastikan Syifa mengetahui pipinya merona merah walau dirinya tidak memberi tahu alasanya.

"eum eng...enggak kok"jawab Zahra terbata jujur saat ini ia sangat malu ke dua kalinya, pertama sama lelaki itu sekarang sahabatnya sendiri. Syifa masih saja belum berhenti tertawa membuat Zahra kesal.

"ish ayuk ah Syifa"kesal Zahra seraya berjalan lebih dulu.

"Eh tungguin aku"jawab syifa.



***

3.Mencintaimu Dalam Diam


Gadis dengan pipi merona merah
'Muhammad Ali Ibrahim'
____________

Didalam kamar yang bernuansa warna putih seorang lelaki yang bernama Muhammad Ali Ibrahim mahasiswa yang berumur 22 tahun yang mengambil jurusan kedokteran di Universitas terkenal diJakarta. Waktu yang amat dinanti bagi para Mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjananya, begitu pun dirinya dalam hitungan beberapa bulan lagi ia akan wisuda. Dikampusnya banyak kaum hawa yang mengaguminya karena ketampananya serta kepintaranya, tidak hanya itu banyak wanita di kampusnya menyatakan cinta padanya secara terang-terangan. Meskipun begitu Ali selalu tidak menanggapinya karena ia tahu batasan seorang wanita yang bukan mahram dan juga tidak ingin terjerumus zina melalui pacaran. 

"Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk"(QS.AL-ISRA:32)

Ia memiliki keluarga yang taat agama sejak kecil sudah diajarkan tentang ilmu agama. Abinya bernama Irsyhad dan uminya bernama Aisyah. Orang tuanya memiliki Pesantren di Aceh yang sudah berjalan 5 tahun. Ali juga memiliki seorang adik perempuan bernama Adiba yang menginjak kelas 3 SMP. Sekarang ia sedang membersihkan diri untuk menunaikan kewajibanya sebagai seorang muslim.

Tok.. Tok.. Tok..

"Bang kamu udah bangun belum shalat subuh, abi tunggu di luar tuh"teriak umi Aisyah mengetuk pintu kamar anak sulungnya.

"Iya mi abang udah bangun"jawab Ali.

Ceklek

Terlihatlah Ali yang sudah rapi dengan baju koko berwarna putih dan peci di atas kepalanya yang manambah kadar ketampananya itu.

"Subhanallah anak umi ganteng banget "ucap umi tersenyum melihat putranya.

"Makasih mi ya udah abang samperin abi dulu Assalamualaikum" salam Ali mencium punggung tangan uminya,pergi ke masjid untuk shalat berjamaah.

"Waalaikumsalam"jawab Umi.

***

"Assalamualaikum"salam dua lelaki bermata teduh seraya memasuki rumahnya. Umi langsung mencium punggung tangan suaminya diikuti Ali yang mencium punggung tangan Uminya.

"Waalaikumsalam,kita sarapan dulu yuk"jawab umi mempersilahkan untuk sarapan. Mereka langsung menikmati makanan diatas meja. Hanya terdengar dentingan sendok.

"Bang nggak pergi ke kampus hari ini?" tanya umi setelah semua selesai makan.

"Hari ini libur mi,Ali mau minta izin ke toko buku buat selesain skripsi"

"Iya umi izinin tapi jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya"nasihat Umi.

"Iya mi"salam Ali.
Setelah itu beranjak dari duduknya pergi ke kamarnya yang berada dilantai atas untuk mengganti bajunya.

***

Ali memarkirkan mobilnya diparkiran dengan rapi setelah sampai ditempat tujuanya. Kemudian turun dari mobil,berjalan memasuki toko buku. Lalu mulai mencari buku yang tersusun rapi dirak. Bola matanya menangkap gadis berjilbab lebar dengan balutan gamis navy dengan jilbab yang senada di samping nya. Ia tertegun melihat sosok gadis yang menjaga baik auratnya.

"Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu'min:"hendaklah mereka mengulurkan jilbanya keseluruh tubuh mereka."(QS.Al-Ahzab:59)

Namun lamunannya buyar ketika gadis itu meloncat loncat kesusahan menggapai buku yang berada di rak paling atas. Ali menahan tawanya melihat gadis itu yang sampai sekarang belum bisa mengambilnya.

Deg..

Gadis itu menengok sekilas ke arahnya dan langsung membalikan badan. Ali berniat membantunya seraya melangkahkan kakinya menuju gadis itu setelah sebelumnya mengambil buku yang gadis itu mau mengambilnya.

Ekhem

Ali yang menyadari gadis di depanya diam saja tanpa membalikan badanya berucap sekali lagi.

Ekhem

Dan gadis itu membalikan badanya sejenak dan langsung menundukan kepalanya. Ali melihat wajahnya sekilas yang cantik natural tanpa make up dengan pipi yang merona merah. Ia bisa menebak gadis itu sedang menahan malu.

Astaghfirullah zina mata li batin Ali.

"Maaf mba ini bukunya"Ali menyodorkan buku itu.

"Terima kasih mas saya permisi dulu Assalamualaikum "salam gadis itu berlalu pergi.

"Waalaikumsalam"jawab Ali menggelengkan kepala.

Ali pergi dari tempat itu lalu langsung membayar buku dikasir. Kemudian berjalan keluar menuju parkiran dan menghidupkan mesin mobilnya.

Sampai didepan rumah Ali mengucap salam seraya masuk ke dalam rumah. Entah mengapa setelah melihat tingkah gadis itu ia tersenyum sendiri. Umi yang melihat kelakuan aneh Ali yang baru saja pulang,menatap bingung.

"Abang kenapa senyum-senyum sendiri?"tanya Adiba yang memang menyadari abangnya itu terus saja tersenyum.

"Eh eng...engga kok"jawab Ali gagap.

"Masa sih aku gak percaya"balas adiba dengan mata yang menyipit melihat tingah aneh Ali.

"Iya adik abang"jawab Ali gemas mencubit pipi chubby adiknya.

"Ish bang sakit tau"ucap adiba memanyunkan bibirnya.

"Iya iya abang minta maaf"balas Ali.

"Tapi ada syarat nya"ucap Adiba.

"Apa?"tanya Ali.

"Abang beliin aku gamis besok"

"Oke besok kita ke sana"

"Yeay makasih bang"girang Adiba.

"Sama-sama"ali mengelus rambut adiba yang tertutup jilbab.

Ali membuka pintu kamarnya seraya menaruh buku itu diatas meja. Kemudian memasuki kamar mandi membersihkan badanya. Setelah itu ia mulai mengerjakan skripsinya sambil dimeja belajar dengan secangkir susu coklat panas.

Ali memijat kepalanya yang terasa pusing, waktu menunjukan sebentar lagi shalat asar. Ia pun langsung mandi setelah itu pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Ali memang selalu rutin shalat berjamaah dimasjid bersama Abinya. Tidak jarang juga Abinya mengisi ceramah selepas shalat.

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wa Sallam Bersabda:

"Barang siapa yang bersuci dirumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah(yaitu Masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan,maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainya akan meninggikan derajatnya"
(HR.Muslim no.1553)


4.Mencintaimu Dalam Diam

Orang bodoh adalah yang terlalu yakin akan kelebihan dirinya, dan orang cerdas adalah yang lebih melihat kekurangan dirinya
[Abu Hamid Al Ghazzali]
_

_____________

Mentari pagi mulai menaiki sinarnya membuat Zahra melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 9. Ia sudah siap dengan gamis biru muda yang sama dengan jilbabnya, hari ini Zahra akan pergi ke kampus. Zahra menunggu angkot dipinggir jalan,tidak mau membuang waktu ia langsung naik setelah tidak lama angkot datang. Untuk mengurangi rasa kebosananya karena sedikit macet, Zahra membaca novel dibeli kemarin bersama syifa. Zahra berlarut dalam membacanya kemudian ia tutup ketika sudah sampai di depan kampus.

Zahra masuk ke dalam kelasnya tidak lama kemudian dosen yang mengajar dikelasnya masuk. Semua memperhatikan dosenya yang mulai memberi materi.

Kelas Zahra sudah bubar sepuluh menit yang lalu. Kini ia sedang diperpustakaan untuk membaca buku. Kemudian duduk dimeja bagian paling pojok perpustakaan.

Sedangkan ada seorang lelaki yang tampak bingung harus duduk dimana karena meja yang lain sudah penuh. Tinggal satu meja yang kosong dibagian paling pojok perpustakaan tepatnya disana ada seorang gadis berjilbab lebar yang sedang fokus membaca buku ditanganya.

"Assalamualaikum"
Zahra yang mendengar salam seseorang yang berada di dekatnya pun menoleh siapa yang berbicara padanya.

"Waalaikumsalam"balas Zahra.

"Afwan,kamu wanita yang di toko buku itu kan?"tanya lelaki tersebut.

Zahra melihat sekilas lelaki yang berdiri di sampingnya dan benar saja lelaki itu yang kemarin bertemu denganya.

"Na'am"balas Zahra menundukan pandangan. Ia teringat kembali waktu itu yang menahan malunya pada lelaki tersebut.

"Boleh saya duduk di sini,soalnya kursi yang lain sudah penuh"tunjuk lelaki itu pada bangku di sebelah Zahra yang memang masih kosong.

"Tafadhol"singkat Zahra.

Lelaki itu menggeser kursi di samping Zahra agar sedikit menjauh, dia tau batasan seorang wanita dan pria yang bukan mahram.

"Perkenalkan nama saya Muhammad Ali Ibrahim"Ali memperkenalkan dirinya menangkupkan tanganya di depan dada.

"Humairah Az-Zahra"balas Zahra melakukan hal sama.

"Nama yang indah"batin Ali.

"Ternyata kamu kuliah di sini juga?"tanya Ali memecahkan keheningan sesaat di antara mereka.

"Iyaa"jawab Zahra.

Mereka pun kembali dengan kesibukan masing-masing. Ah jangan tanyakan Zahra sedari tadi dirinya berusaha fokus dan tidak grogi berdekatan dengan lelaki yang ia temui kemarin. Apalagi mengingat betapa malunya saat itu. Ah sudahlah.

Hening..

"Assalamualaikum, Zahra"

Seorang wanita datang memecahkan keheningan di antara mereka. Zahra yang sudah hapal dengan suara itu tanpa menengok pun ia sudah tahu. Ya siapa lagi kalau bukan Syifa. Zahra menghembuskan nafasnya pelan setidaknya dirinya sedikit tidak grogi karena adanya Syifa.

"Waalaikumsalam"ucap Zahra dan Ali yang menjawab dengan suara pelan namun bisa didengar oleh Syifa.

Syifa langsung duduk di samping Zahra matanya kembali melihat lelaki yang menjawab salamnya pelan. Syifa yang merasa penasaran menyenggol pergelangan tangan Zahra membuat sang empu menengok. Syifa menatap Zahra seolah bertanya siapa?.

"Eumm Zahra saya pamit dulu, Assalamualaikum"salam Ali.

"Iya Waalaikumsalam"balas Zahra gugup.

"Ra cowok tadi siapa?"tanya Syifa penasaran.

Zahra yang masih diam tanpa membalas pertanyaan syifa membuat syifa kesal.

"Ih Zahraaa"teriak Syifa.

Zahra yang tersadar dari lamunanya tersentak mendengar teriakan syifa.

"eh iy... iya tadi kamu ngomong apa? "tanya balik Zahra membuat syifa semakin kesal.

"Sabarrr syifaaa sabarrr" batin syifa.

Syifa menghembuskan nafasnya bersabar dengan kelakuan Zahra yang sering melamun.
Entah kenapa Zahra mimikirkan Ali dan kenapa pula detak jantungnya berdetak begitu cepat saat bertemu denganya.

"Cowok yang tadi itu siapa?" ulang syifa yang kedua kalinya.

"Oh itu, dia namanya Ali"jawab Zahra.

"Kok kamu bisa kenal dia?"tanya Syifa.

"Aku kenal dia waktu pas kemarin kita ke toko buku,aku mau mengambil buku yang berada di rak atas tapi aku gak bisa karena terlalu tinggi. Kebetulan dia juga berada di samping aku terus dia membantuku"jelas Zahra.
Namun pipinya kembali memanas mengingat kejadian kemarin.

"Oh jadi itu yang membuat pipi kamu merah gitu kemarin"ucap Syifa tertawa memainkan pipi Zahra yang sudah kembali memerah.

"Enggak kok"elak Zahra.

"nggak apa nggak"selidik Syifa.

"Ih apaan sih Fa,aku mau ke kelas dulu"balas zahra hendak pergi bisa-bisa pipinya semakin memerah. 

"eh tunggu Zahra kamu kok ninggalin aku sih"Syifa langsung berlari mengikuti Zahra yang sudah semakin jauh.

***

Mereka sedang mengisi perutnya yang lapar dikantin yang sudah penuh oleh para Mahasiswa yang sama halnya sedang menyantap makanan.Setelah beberapa menit yang lalu dosen mengakhiri materi yang cukup menguras otak.

"Ra, nanti sore ke mall yuk"ucap Syifa setelah mereka sudah menghabiskan makananya.

"Ngapain?"jawab Zahra polos.

"Aku mau beli baju sama nonton"ucap Syifa.

"kamu aja deh Fa"jawab Zahra.

Bukanya Zahra tidak ingin hanya saja sedang menghemat pengeluaran, Zahra bertekad akan hidup mandiri agar meringankan beban orang tuanya. Zahra memang terlahir dari keluarga sederhana abi dan uminya berada di Aceh.
Meskipun demikian Zahra selalu mensyukuri atas pemberian Allah.

"Ayolah Ra, sekali ini saja"ucap Syifa menampilkan mata puppy eyes.

"Ya udah aku antar kamu"jawab Zahra.

"Makasih Zahra" Syifa langsung memeluk Zahra.

"Sama-sama"jawab Zahra.

***

Terlihat dua insan sahabat yang sedang menelusuri mall yang sangat luas. Sedari tadi Zahra terus mengikuti Syifa yang tak kunjung menemukan baju yang ia sukai, bayangkan saja sudah hampir 1 jam Zahra bolak-balik dan itu membuat Zahra sedikit lelah.

"Ra, kamu duduk di situ aja deh pasti kamu lelah kan"tunjuk syifa pada bangku yang berada di belakang mereka. Zahra menganggukan kepala dan langsung duduk setidaknya ini bisa meringankan pegalnya.



5.Mencintaimu Dalam Diam


Ali berjalan dilorong kampus, banyak pasang mata melihatnya tanpa berkedip. Ia tidak heran melihat itu,tetap berjalan ke kelasnya. Ali memang banyak diidolakan dikampus ini karena ketampanan yang dimilikinya ditambah lagi kecerdasaanya membuat siapapun wanita  berharap bisa menjadi seseorang yang dicintai Ali.
"Aaa kak Ali ganteng banget sih"ucap seorang gadis yang terpesona melihatnya.



"Udah ganteng,sholeh,pinter lagi ah laki-laki idaman"



Ali mendengar itu semua, tapi tetap berjalan tidak menanggapi. Dirinya tidak ingin memberi harapan pada banyak wanita yang menyukainya terlebih lagi ia  masih ingin fokus pada pendidikanya.



Ali masuk ke dalam kelasnya,beberapa menit lagi dosen yang mengajar dikelasnya akan masuk. Sambil menunggu ia membaca lagi buku untuk menambah ilmu pengetahuanya. Beberapa para Mahasiswa mengisi kebosanan dengan bermain handphone,ada juga yang sama sepertinya.

"Assalamualaikum"salam dosen memasuki kelas. Ali menutup bukunya menaruhnya diatas meja.
"Waalaikumsalam"jawab semua kompak.
"Baik kita mulai materi kali ini"ucap dosen. Semua kembali fokus pada materi yang dijelaskan didepan.
Ali berjalan menuju parkiran setelah kelasnya telah selesai. Kemudian masuk kedalam mobil tidak lupa memakai seatbelt.
Kota Jakarta terkenal dengan kemacetanya, ia mengendari mobil dengan pelan menunggu kendaraan didepanya bergerak.



Setelah menumpuh berjalan yang memakan waktu cukup lama. Ali memarkirkan mobilnya digarasi rumah dengan rapi. Kemudian mengucap salam ketika masuk ke dalam rumah. Terlihat Adiba sedang menonton Film yang ditanyangkan ditelevisi. 

"Dek umi mana?"tanya Ali.
"Umi masih ada pengajian bang"jawab Adiba.
"Oh ya udah kalau gitu abang ke kamar dulu"ucap Ali.
"Iya bang"jawab Adiba.
Ali membuka pintu kamarnya lalu menggantungkan tasnya ditempatnya. Kemudian ia pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Tidak membutuhkan waktu lama ia telah selesai mandi dengan pakain santainya. Kemudian kembali menyelesaikan skripsinya dimeja belajar sambil menunggu adzan magrib.



***



Ali duduk dibalkon kamarnya sambil menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya. Ditemani petikan gitar yang mengisi kesunyiaan malamnya. Ali jadi teringat kembali pada Zahra yang kemarin menahan malunya,membuat pipinya merona merah. Ia tersenyum sendiri mengingat itu, gadis lucu,gadis anggun dengan balutan jilbab panjangnya dan gadis yang selalu menundukan pandanganya.

Ali memengang gamis yang sempat dibeli kemarin. Kini otaknya kembali berfikir bagaimana dirinya bisa menyerahkan gamis itu kepada Zahra. Apa ia harus meminta bantuan pada Adiba?.
Ali membuang jauh fikiran itu bisa-bisa adiknya akan berfikir aneh tentangnya ditambah pertanyaan yang bukan-bukan. Apalagi Ali tipe lelaki yang penutup kepada perempuan.
Entah dorongan dari mana Ali membeli gamis itu. Fikirnya ini hanya sebagai permintaan terima kasih karena sudah membantu Adiba. Saat itu ia  bisa melihat Zahra memegang gamis itu dan sepertinya sangat menyukainya.
Merasa angin malam semakin dingin. Ali beranjak dari duduknya berniat untuk tidur karena malam sudah hampir larut. Sebelum tidur mengambil air wudhu terlebih dahulu setelah itu mematikan lampu dan terlelap menuju alam mimpi.
***



Ali terbangun dari tidur lelapnya seakan alarm membangunkanya. Tapi tidak dirinya sudah biasa bangun dini hari untuk menunaikan shalat disepertiga malam. Ia beranjak dari tempat tidur, pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu. Setelah itu menggelar sajadah lalu menjalankan shalat dengan khusyuk. Kemudian melanjutkan bermunajat kepada Rabb-Nya.

Selepas shalat dirinya tidak kembali tidur melainkan membaca Al-Quran sambil menunggu adzan subuh tiba. Setiap kali membaca ayat suci Al-Quran hatinya merasa lebih tenang. Itulah yang selalu diajarkan orang tuanya ketika hati kita merasa gelisah, bacalah Al-Quran agar hati kita selalu tenang dan tentam dalam menjalani hidup.
Allahuakbar...Allahuakbar...



Adzan subuh telah berkumandang, Ali melipat sajadahnya untuk segera pergi ke masjid melaksanakan shalat berjamaah. Ia menghampiri abinya yang sudah menunggu didepan rumah kemudian berjalan bersama.



Dua lelaki bermata teduh itu memasuki rumah tidak lupa mengucap salam. Terlihat Uminya dan Adiba sedang menyiapkan sarapan dimeja makan.

"Sarapannya udah siap ayo kita makan"ajak umi.
Meraka mengangguk lalu duduk dimeja makan. Ali memimpin doa sebelum makan,setelah itu mulai memasukan makanan kedalam mulut. Mereka makan hanya terdengar dentingan sendok.



Setelah sarapan selesai Ali pamit ke kamar untuk bersiap-siap pergi ke kampus, begitu pun Adiba. Setelah memasukkan barang-barang ke dalam tas,tak lupa pula memastikan jika tidak ada yang tertinggal. Kemudian ia mengambil kunci mobil dilaci lalu menutup pintu kamar.

"Bi,Mi kami berangkat dulu"ucap Ali kepada orang tuanya.
"Hati-hati bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut"nasihat Umi.
"Iya mi"jawab Ali.



"Assalamualaikum"salam Ali dan Adiba.

"Waalaikumsalam"jawab mereka.
Ali mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata. Adiba yang sedari tadi nampak fokus membaca novel ditanganya. Setelah sampai Ali menepikan mobilnya didepan gerbang sekolah Adiba.



"Belajar yang rajin ya dek"nasihat Ali.

"Siap bang"jawab Adiba mengangkat tangan kanannya menjadi hormat.



"Assalamualaikum"salam Adiba.



"Waalaikumsalam"jawab Ali.

Ia kembali menjalankan mobilnya menuju kampus


6.Mencintaimu Dalam Diam

Aku yang mengagumimu dalam diam
-Humairah Az-Zahra-
___________



Pagi yang cerah awal semua orang beraktivitas, Zahra yang sama hal nya memulai paginya dengan pergi ke kampus. Ditanganya terdapat tumpukan buku yang membuatnya sedikit kesusahan, dengan cepat ia berjalan menuju kelasnya.



Brak



Zahra meruntuki dirinya Lagi-lagi ia tidak hati-hati dalam berjalan alhasil menabrak seseorang.



"Aduh maaf maaf aku nggak sengaja"ucap Zahra membereskan buku-buku yang berserakan dilantai lantas orang itu pun membantunya.

"Iya nggak apa-apa"jawabnya.



Zahra mendongakan kepalanya berniat melihat siapa orang itu.

"Kak Ali"ucap Zahra terkejut.
"Ini"jawab Ali memberikan buku itu pada Zahra. Ia menerimanya dengan perasaan gugup.
"Maaf kak aku ngggak sengaja"ucap Zahra.
"Nggak apa-apa"jawab Ali tersenyum.



"Duh kenapa aku deg-degan lagi sih"batin Zahra.



"Ka-kalau gitu aku permisi dulu. Assalamualaikum"salam Zahra berlalu pergi dari hadapan Ali. Sungguh pipinya sekarang sudah memerah bak kepiting rebus.

"Eh tunggu-"
Tadinya Ali ingin memberikan gamis itu padanya tetapi Zahra lebih dulu pergi. Ali berjalan kembali sepertinya tadi bukan waktu yang tepat.
Zahra mengatur nafasnya yang memburu saat masuk ke dalam kelas lalu duduk dikursinya. Syifa yang melihat pun mengernyit heran, apa Zahra habis berolahraga? fikir Syifa.
"Assalamualaikum"salam Zahra.
"Waalaikumsalam"jawab Syifa.
"Ra kamu kenapa sih, sampai keringetan gitu"ucap Syifa.
"Ah nggak apa-apa"jawab Zahra yang sudah menormalkan nafasnya.
"Assalamualaikum Zahra,Syifa"ucap seorang lelaki tiba-tiba.
"Waalaikumsalam"jawab mereka.
"Bisa nggak sih nggak usah teriak-teriak"kesal Syifa memutar bola matanya malas.
Lelaki itu bernama Yogi teman yang nyebelin menurut Syifa. Tidak jarang mereka sering berantem dengan hal-hal yang kecil. Zahra sudah biasa mendengar keributan antara keduanya.
"Bodo amat"jawab Yogi asal.
"Ish masih pagi udah ngajak ribut"kesal Syifa.
"Emang begitu kan?"tanya balik Yogi membuat Syifa semakin kesal.
"Udah deh mending lo sekarang diem, gua lagi males diajak ribut"kesal Syifa.
"Udah-udah kok kalian pada ribut sih, Yogi mendingan duduk di kursi kamu aja deh bentar lagi pak Doni masuk"ucap Zahra merelai keduanya.



"Tuh dengerin"ucap Syifa tersenyum menang.



"Biarin gue tetap mau duduk di sini"jawab Yogi tak mau kalah.



"Ish lo ya jadi cowok itu ngalah dikit kek sama cewek"ucap Syifa kesal.



"Suka-suka gue dong"jawab Yogi.

"Pergi gak"



"Gak"



"Pergiii"



"Gakk"



"Ih pergii!!"



"Ada apa ini ribut-ribut! "ujar pak Doni tiba-tiba memasuki kelas.

"Eng-enggak pak"jawab syifa gagap.



Fara. Gadis pintar nan cantik bersama dengan Zahra, teman karibnya. Mereka bersama memulai hal baru dengan bermain Hadroh. Awalnya mereka kurang tertarik dengan Hadroh...

Yogi pun kembali duduk dikursinya seraya tersenyum jahil kepada Syifa apalagi terkena marah sama dosen yang terkenal killer.
"Kita mulai materi kali ini, perhatikan pelajaran saya kalau tidak saya hukum!!"ancam pak Doni.
Pak Doni mulai memberi materi,para Mahasiswa mulai menyimak apa yang dijelaskan didepan. Tapi lain hal nya dengan Syifa masih saja kesal akibat Yogi dirinya mendapat omelan dari dosen killer.
"Ish awas aja ya lo!!! "
Ucap syifa menghentakan kakinya dengan keras dan itu sukses membuat pak dosenya membalikan badan.
"Kamu syifaa! Sekarang jelaskan yang saya bicarakan tadi!! "geram pak Doni.
Syifa sontak menutup mulutnya dan tersadar dari kelakuanya barusan.
"Kamu tidak mendengar saya!!! "
Syifa mati kutu tidak tahu harus menjawab apa, pasalnya ia tidak memperhatikan dosenya itu ketika menjelaskan.
"Kamu tidak bisa menjawab kan!! selesai jam pelajaran kamu menghadap saya!!!"
Syifa hanya pasrah mendapat hukuman dari pak Doni. Syifa melihat ke arah Yogi yang sedang menahan tawa membuat dirinya semakin kesal.
"Sampai disini dulu materi kali ini Assalamualaikum "salam pak Doni berlalu pergi.
"Waalaikumsalam"jawab semua kompak.
***
Sebelum pulang Zahra menyempatkan shalat terlebih dahulu dimushola. Ia tidak ingin menunda panggilan Rabb-Nya. Zahra mengambil air wudhu setelah itu melaksanakan shalat dengan khusyuk dilanjutkan bermunajat pada Rabb-Nya.
Setelah selesai Zahra melipat mukenanya lalu berjalan keluar mushola berniat pulang. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan seorang lelaki dibalik tirai pembatas.
Terdengar lelaki itu telah selesai membaca Al-Quran. Zahra melangkahkan kakinya kembali keluar mushola. Saat tanpa sengaja bertepatan dengan Ali yang juga sedang berjalan keluar. Zahra dengan cepat menundukan pandanganya saat sekilas melihat Ali yang masih basah dengan air wudhu dirambutnya.
"Assalamualaikum Zahra"salam Ali.
"Waalaikumsalam"jawab Zahra.
"Subhanallah teduh sekali wajahnya sehabis berwudhu.
Astaghfirullah sadar Zahra sadar"batin Zahra.
"Eum bisa bicara sebentar?"tanya Ali.
Zahra mengangguk.
Ali mengambil tasnya kemudian mengambil sesuatu. Zahra yang melihatnya pun bingung.
"Ini gamis buat kamu sebagai tanda ucapan terima kasih karena kamu sudah mau membantu Adiba kemarin"ucap Ali memberikan gamis itu pada Zahra.
"Aku ikhlas kok kak,jadi nggak usah"tolak Zahra.
"Tidak apa Zahra,jangan menolak ambilah"ucap Ali.
"Eum makasih kak"jawab Zahra.
"Sama-sama,kamu mau pulang?"tanya Ali.
"Iya kak"jawab Zahra.
"Ya udah kalau gitu saya pamit dulu, Assalamualaikum"salam Ali seraya memakai tasnya.
"Waalaikumsalam"jawab Zahra.
Zahra menormalkan kembali detak jantungnya yang memompa dengan cepat. Lalu ia memegang pipinya yang sudah pasti merona merah lagi. Ah semoga saja Ali tidak melihat ini. Beberapa menit kemudian datanglah Syifa yang menyadarkan dirinya yang sesaat terdiam mematung.
"Assalamualaikum"salam Syifa.
"Waalaikumsalam"Jawab Zahra.
"Maaf ya Ra nunggu lama"ucap Syifa.
Syifa tadi sedang menemui dosen killer, seperti apa yang dibilang dikelas tadi dirinya akan mendapatkan hukuman. Saat ini Syifa masih kesal akibat Yogi dirinya mendapatkan hukuman.
"Ya udah yuk pulang"ajak Zahra.
Syifa mengangguk.
Mereka menunggu dihalte bus dekat kampus. Awan putih seketika menjadi mendung pertanda sebentar lagi akan turun hujan.Tidak lama kemudian bus datang,mereka segera naik.



***

  
7.Mencintaimu Dalam Diam



Diluar sana hujan deras masih turun tidak ada pertanda akan berhenti. Biasanya kalau malam seperti ini diisi dengan candaan bersama orang tuanya ,ditambah dengan kerecehan adik semata wayangnya. Kota Aceh tempat kelahiranya dimana ia bermain bersama teman kecilnya dengan permainan tradisional yang mereka buat. Ah rasanya mengingat itu membuat Zahra sangat rindu masa-masa itu.

Akhirnya Zahra menelfon orang tuanya ingin mengetahui kabar mereka disana.
"Assalamualaikum umii, zahra kangennn "salam Zahra



"Waalaikumsalam, umi juga kangen"jawab Umi.



"Umi,Abi,Vino baik-baik saja kan?"tanya Zahra



"Alhamdulillah kami semuanya baik, kamu bagaimana nak di sana?"



"Zahra juga baik mi"



"Jaga baik-baik diri kamu disana, jangan lupa makan, dan juga sertakan Allah dalam setiap langkahmu"



"Iya mi Zahra akan selalu ingat pesan umi"



"Udah dulu ya nak abi kamu manggil umi tuh"



"Iya mi salam untuk Abi dan juga Vino"



"Iya Umi salamkam ya sudah Assalamualaikum"salam umi.



"Waalaikumsalam"jawab Zahra.



Zahra menaruh benda pipih itu diatas meja. Ia teringat gamis yang Ali berikan tadi dikempus. Kemudian mengambil gamis itu yang masih didalam tas.

"Inikan gamis yang aku pegang kemarin,apa kak Ali melihat aku memegang gamis ini. Ah Zahra jangan su'udzon dulu, mungkin hanya kebetulan"ucap Zahra bermonolog.
Zahra menaruh gamis itu dilemari. Tidak lama kemudian adzan Isya berkumandang lantas Zahra pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu kemudian menggelar sajadah,melaksanakan shalat dengan khusyuk.



"Ya Allah jika memang aku harus jatuh cinta,maka jatuh cintakanlah aku pada seseorang yang memang sanggup menuntunku hingga mengejar Ridho-Mu dan tegarkanlah hatiku jika dikala takdir-Mu tidak sesuai dengan harapanku. Aamiin Ya Rabbal Alamin"



Zahra melipat mukenanya setelah itu mulai mengerjakan tugas dari dosennya yang menumpuk sambil mendengarkan murotal Al-Quran dari hadphonenya.





***



8.Mencintaimu Dalam Diam


Allah adalah sebaik-baiknya pengharapan
__________



Saat ini Zahra sedang membaca buku dikelasnya bersama Syifa dipagi hari. Satu persatu para mahasiswi mulai mengisi kelas, dilanjutkan kesibukan masing-masing sambil menunggu dosen masuk.

"Assalamualaikum,good morning everyone"teriak yogi memasuki kelas.
Yogi memang terkenal dikelas karena kejahilanya, apalagi saat dirinya ribut dengan Syifa,itu menjadi hiburan dikelasnya. Ada-ada saja mereka. Kini ia melihat wajah Syifa yang sepertinya sedang menahan kekesalanya.
"Waalaikumsalam"jawab keduanya.
"Sana pergii lo"ucap Syifa kesal.



"Masih pagi udah marah aja, lagi pms neng"jawab Yogi tak mau kalah dan itu sukses membuat Syifa semakin kesal dibuatnya.

"Ish nggak kemarin nggak sekarang ngeselin bangett si lo! gara-gara lo kemarin! gue dapat hukuman dari pak Doni!,masih nggak inget??? "geram syifa meluapkan semua unek-uneknya.
"Masa sih"elak Yogi.
"Bodo amat"ketus Syifa.
"Udah-udah kalian kalau ketemu pasti ribut, Yogi sekarang mending kamu minta maaf deh sama Syifa"ucap Zahra melerai.
"Iya deh gue minta maaf Syifa"ucap Yogi lembut.
Syifa terdiam.
"Tuhkan giliran minta maaf di cuekin"ucap Yogi.
"Iya iya gue maafin"jawab Syifa.
"Assalamualaikum,selamat pagi semuanya"salam pak Dosen yang baru saja memasuki kelas. Semua membenarkan posisi duduknya.



"Waalaikumsalam"jawab semua serempak. Semua mahasiswa mendengarkan apa yang sedang dijelaskan didepan.

Sepuluh menit yang lalu Kelas Zahra telah selesai. Adzan asar berkumandang, Zahra segera pergi ke mushola lalu mengambil air wudhu. Tak lama kemudian suara Iqomah terdengar setelah itu Zahra shalat dengan khusyuk.



Setelah bermunajat kepada Rabb-Nya dilanjutkan membaca Al-Quran berwarna pink kesayanganya. Zahra memang selalu membawanya kamana pun pergi karena itu pemberian Abinya,selalu mengingat pesan abinya sewaktu masih kecil.



"Zahra Al-Quran sebagai pedoman hidup umat manusia,bawalah Al-Quran ini kemana pun kamu pergi dan jangan lupa membacanya ya nak"nasihat Abi.



"Sesungguhnya orang-orang yang di beri pengetahuan sebelumnya apabila Al-Quran di bacakan kepada mereka niscaya mereka tersungkur atas muka sambil bersujud"

(QS. Al-Isra:107)



Lagi-lagi ia mendengar suara lelaki yang sedang membaca Al-Quran dibalik tirai pembatas.



"Subhanallah"batin Zahra.

Zahra melihat jam dipergelangan tanganya,kemudian segera bergegas pergi pulang. Zahra menunggu dihalte bus seorang diri sebab tadi Syifa sudah dijemput.
Sekitar jam 5 sore Zahra sudah sampai di kostnya,kemudian langsung membersihkan badanya dikamar mandi. Sekitar 15 menit ia sudah selesai dan melaksanakan shalat magrib.



Seperti biasa setiap malam ia disibukkan oleh tugas dari dosenya.



Ting...



Terdengar suara pesan masuk lewat aplikasi ponselnya. Tidak ada nama dalam daftar kontaknya,merasa penasaran ia pun membukanya yang ternyata dari Adiba.



"Assalamualaikum kak Zahra "salam Adiba.



Jemari-jemari tangan Zahra mulai mengetik membalas pesan Adiba.

"Waalaikumsalam"Jawab Zahra.



"Kak Zahra besok ada acara Nggak?"tanya Adiba.



"Kebetulan besok kakak libur"jawab Zahra.



"Besok main ke rumah Adiba yuk kak, Zahra kangen sama kakak hehe"



"Ya allah bagaimana ini pasti aku bertemu ali" Batin Zahra.



Ya iyalah Zahra kan emang rumah ali eh ralat rumah orang tuanya-author>.<



Akhirnya cukup lama Zahra bergulat dalam pikiranya. Ia pun langsung membalasnya.

"Iya besok kakak ke rumah kamu"jawab Zahra.



"Ok kak besok aku jemput,Assalamualaikum"salam Adiba.



"Waalaikumsalam"Jawa Zahra.



Kemudian Zahra menaruh benda pipih itu diatas meja setelah sebelumnya menyimpan nomor Adiba. Lalu ia melanjutkan acara menulisnya yang sempat tertunda.

Jam sudah menunjukan pukul 22:30 tetapi ia masih berkutat dalam mengerjakan tugasnya. Semakin lama mata Zahra rasanya sangat berat sekali.
Zahra terbangun dari tidurnya,dirinya baru saja menyadari tertidur diatas maja belajarnya. Zahra berjalan ke kamar mandi,mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud. Zahra ingin curhat semua isi hatinya kepada Rabb-Nya.Karena sebaik baiknya tempat curhat adalah Allah.



"Ya allah aku mengakui mencintainya dalam diam, pertemuan yang membuat ku kagum akan sosok dirinya yang taat Agama. Lelaki yang selalu menghargai seorang perempuan juga menundukan pandanganya. Lelaki itu bernama Muhammad Ali Ibrahim.  Jika ia memang jodoh hamba dekatkanlah hati ini pada ikatan suci,tapi jika dia bukan jodoh hamba hilangkanlah rasa ini"

Aamiin Ya Rabbal Alamin.



Zahra menceritakan semua isi hatinya yang terpendam selama ini yang selalu mengagumi Ali dalam diam. Ia menyadari rasa kagumnya saat pertama kali bertemu dengan Ali. Sejak mengetahui dia adalah seniornya dikampus,entah mengapa ia merasa senang karena bisa bertemu lagi denganya.

Tetapi bukan hanya Zahra yang juga mencintai Ali, banyak kaum hawa dikampusnya yang juga sama sepertinya. Ia tidak tahu apakah harapanya akan terwujud atau tidak. Saat ini dirinya hanya berharap pada sang pemilik hati itu sendiri.



"Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap".

(QS.Al-Insyirah 94:Ayat 8)

***



9.Mencintaimu Dalam Diam


Aku memilih mencintaimu dalam diam.Kerena dalam diam tak ada penolakan
____________1

Pagi ini Zahra sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah Adiba seperti janjinya kemarin. Zahra sudah siap dengan gamis pink pemberian Ali beberapa hari lalu.  Terdengar suara ketukan pintu yang sangat jelas. Kemudian membuka pintu dan terlihat Adiba yang sangat cantik berpakaian gamis berwarna hijau dengan jilbab senada.

"Assalamualaikum,aaaaa aku kangen kak"salam Adiba langsung menghambur kepelukan Zahra.

"Waalaikumsalam"jawab Zahra membalas pelukan Adiba.

"Kakak udah siap?"tanya Adiba yang sudah melepaskan pelukanya.


"Udah"jawab Zahra.

"Ya udah ayo kak"ajak Adiba masuk ke dalam mobil.
Zahra duduk dikursi penumpang bersama Adiba. Setelah melewati jalanan Jakarta yang macet sampailah mereka ditempat tujuanya. Rumah yang bernuansa putih ditambah tanaman bunga warna-warni yang tersusun dengan rapi membuatnya enak dipandang.
"Ternyata ini rumah orang tua kak Ali"batin Zahra.

"Ayo kak masuk"ajak Adiba.

"Eh i...Iya"jawab Zahra gagap.
Saat ini Zahra merasa sangat gugup apalagi dirinya akan bertemu Ali. Pertama kali melangkahkan kakinya memasuki rumahnya, membuat jantung Zahra tiba-tiba berdetak dua kali lipat.
"Assalamualaikum"salam keduanya.
"Waalaikumsalam"Jawab Aisyah yang baru saja menaruh kue di meja makan lalu berjalan menghampiri mereka.
"Umi ini kenalin kak Zahra"Ucap Adiba memperkenalkan Zahra.

"Assalamualaikum tante"Ucap Zahra mencium punggung tangan Aisyah.


"Waalaikumsalam, subhanallah kamu cantik sekali nak Zahra"

Ucap Aisyah.

"Makasih tante"jawab Zahra malu.

"Tidak usah panggil tante,umi saja"ucap Aisyah tersenyum.
"Iya U-mi"jawab Zahra.
"Oh iya, umi buat kue sini kamu harus cobain"
Zahra hanya mengangguk mengikuti Aisyah ke dapur. Sepertinya Adiba mewariskan sifat Uminya yang mudah sekali akrab dengan orang yang baru saja dikenal.
"Sekarang kamu makan"ucap Aisyah. Zahra memasukan kue buatan  Aisyah ke dalam mulutnya.

"Gimana rasanya?"tanya Aisyah.

"Eum enak Umi"jawab Zahra.
"Adiba juga mau mi"ucap Adiba.

"Ini sayang"jawab Aisyah.

"Oh iya kamu kok baru kenalin Zahra ke umi sih"ucap Aisyah kepada Adiba.
"Baru juga ketemu beberapa hari yang lalu mi"jawab Adiba seadanya.
"Oh ya?"ucap Aisyah nampak tertarik.

"Jadi gini mi pas Adiba ke mall sama bang Ali terus ketemu sama kak Zahra,ya walaupun nggak sengaja hehe"jawab Adiba.

"Iya mi pas itu Zahra nggak sengaja menabrak Adiba karena Zahra jalannya nggak hati-hati"ucap Zahra menunduk.
"Ah nggak apa-apa nak Zahra lupakan saja"jawab Aisyah tersenyum.
"Assalamualaikum"salam seseorang tiba-tiba yang baru saja menuruni tangga. Zahra menunduk,dirinya sangat hapal sekali suara itu. Ya,dia adalah Ali. Seseorang yang ia kagumi dalam diam.
"YaaRobb ... aku serahkan semua ini pada-Mu. Maka, cukupilah hati dan Iman hamba dengan Rahmat-Mu." --Lubna nurul wafa--
"Percayalah atas nama cinta, janj...
"Waalaikumsalam"jawab semuanya.
Detak jantung Zahra memompa lebih cepat ketika melihat Ali yang sudah duduk di samping Adiba dimeja makan. Terlebih lagi dirinya berhadapan dengan Ali,saat ini dirinya sangat gugup.
"Oh iya mi, kak Zahra ini satu kampus loh sama abang"ujar Adiba bermaksud menggoda abangnya.
"Beneran bang?"Jawab Aisyah yang nampak tertarik dengan cerita Adiba.
"Iya mi"ucap Ali dibalas anggukan oleh Aisyah.
"Kamu tinggal di mana nak Zahra?" tanya Aisyah.
"Zahra tinggal di kost dekat kampus mi"jawab Zahra.

Setelah percakapan itu dua gadis tersebut sedang duduk ditaman,sesekali Zahra diajak berfoto dengan Adiba. Mereka menghabiskan waktunya dengan candaan. Sedangkan Ali berada dikamarnya karena disibukkan skripsinya. Setidaknya itu tidak membuat jantung Zahra berdetak dua kali lipat seperti tadi dan pipi yang merona merah kini telah hilang. Tapi ia tidak bisa menjamin ketika bertemu denganya lagi.

Zahra melihat jam dipergelangan tanganya menunjukan pukul 05:00. Setelah itu Zahra bersama Adiba menghampiri Aisyah.
"Eum...umi kayaknya ini udah sore Zahra-"

"Kamu mau pulang nak"potong Aisyah.

"iya umi"jawab Zahra.
"Ya sudah biar Ali antar kamu pulang,tenang saja nanti Adiba ikut"ucap Aisyah tersenyum.
"Nggak usah umi,nanti merepotkan"jawab Zahra tidak enak hati.

"Sama sekali nggak merepotkan,hari juga sudah hampir gelap tidak baik kamu pulang sendirian"nasihat Aisyah.

"Iyaa"cicit Zahra malu.

"Bang kamu antar Zahra pulang ya nanti adik kamu ikut"ucap Aisyah sedikit berteriak karena Ali saat ini sedang ada didapur yang tempatnya tidak jauh dari mereka, lalu Ali mengambil kunci mobil.

"Iya mi"jawab Ali.
"Zahra pamit pulang umi"ucap Zahra.

"Hati-hati ya nak"jawab Aisyah.


"Iya umi, Assalamualaikum "

salam Zahra mencium punggung tangan Aisyah.

"Waalaikumsalam"jawab Aisyah.

Zahra masuk ke dalam mobil,mobil melaju meninggalkan perkarangan rumah.Zahra semakin gugup ini sudah kedua kalinya berada satu mobil dengan Ali. Zahra melirik Adiba yang saat ini sudah tertidur pulas dibangku depan,mungkin Adiba sedikit kelelahan. Tinggal tersisa Ali dan dirinya yang berada dalam situasi kecangguangan.


"kenapa lama sekali sampainya"batin Zahra.

"Ekhem,Zahra"ucap Ali tiba-tiba yang masih melihat ke depan.

"I-iya kak"jawab Zahra gugup.


"Terima kasih sudah memakainya"ucap Ali tersenyum,tanpa terlihat oleh Zahra.

"Iya kak"jawab Zahra malu.
Setelah itu Zahra mengalihkan pandanganya ke luar kaca jendela mobil untuk menyembunyikan rona merah dipipinya. Tidak lama kemudian mereka telah sampai didepan kost Zahra.
"Terima kasih kak"ucap Zahra.

"Sama-sama"jawab Ali.


"Hati-hati di jalan,salam juga buat Adiba"ucap Zahra sambil kembali melihat Adiba yang masih setia dengan tidurnya.


"Assalamualaikum "Salam Zahra.

"Waalaikumsalam"jawab Ali.
Zahra segera masuk ke dalam kostnya lalu menatap dirinya dicermin sembari mengusap-usap pipinya.
***

Malam berganti dengan cerahnya sinar mentari dengan udara yang sejuk,banyak orang kembali dengan kegiatanya masing-masing,ada pula yang sibuk dengan buku yang menumpuk ditangannya membuat siapapun yang melihatnya merasa jengah. Saat ini dirinya dan Syifa sedang berada dikantin.

"Ra kamu mau pesan apa?"tanya Syifa.

"Aku nasi goreng sama teh manis aja Fa"jawab Zahra.


"Oke tunggu bentar ya"ucap Syifa.


Zahra mengangguk.


Bertepatan perginya Syifa untuk memesan makanan. Terlihatlah Ali dengan tampang Cool nya sedang berjalan bersama sahabatnya. Tidak sedikit Mahasiswi memandangnya tanpa berkedip, menurut mereka dua lelaki itu sangatlah tampan,bisa dibilang sebelas, dua belas. Kemudian mereka duduk dimeja yang tidak terlalu jauh dari tempat Zahra. Lebih tepatnya Ali posisi duduknya membelakangi Zahra,setidaknya dirinya tidak disadari keberadaanya oleh Ali.


"Li lo taukan Farah yang satu jurusan sama kita?"tanya sahabat Ali.


"Hemm"gumam Ali.

"Kayaknya dia suka deh sama lo"ucapnya.

"Tau dari siapa?"tanya Ali.


"Keliatan banget cara dia tatap lo setiap harinya,masa lo nggak sadar sih"

Ali yang mendengarnya tampak biasa saja,sudah biasa melihat itu.


"Terus gue harus apa? pacarin dia gitu? lo tau kan pacaran itu haram"


"Iya iya gue tau pak ustad. Lo juga ganteng yaa pastilah banyak mahasiswi yang suka sama lo"


"Bukanya lo juga?"tanya balik Ali.


Mereka memang banyak diidolakan kaum hawa dikampus kerena kepintaran,ketampanan ditambah mereka juga sholeh. Banyak mahasiswi yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hati mereka. Tetapi mereka tidak menanggapi dan juga tahu bahwa pacaran itu hukumnya haram. Ketika perbuatan zina dianggap biasa oleh banyak orang, tetapi mereka tidak mau termasuk orang-orang tersebut.


"Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk"

(QS. Al-Isra/17:32)

Zahra yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Ali dan sahabatnya. Entah mengapa  Zahra merasa cemburu mendengar itu semua, bukankah ini sudah resikonya mencintai dalam diam yang hanya Allah dan dirinya lah yang tahu.Mungkin bukan hanya Zahra yang berharap namanya bisa bersanding dengan Ali terlebih lagi banyak mahasiswi yang cinta padanya. Apakah harapanya akan terwujud jika suatu saat kelak imamnya adalah Ali?


"Jika memang memendam rasa kepadamu begitu sulit dan menyakitkan,tapi mengapa hatiku enggan melupakanmu hingga detik ini"ucap Zahra dalam hati.


"Zahra"ucap Syifa melambaikan tangannya didepan wajah Zahra.


"Eh udah dateng makananya"jawab Zahra tersadar dari lamunanya.

"kebiasaan deh kamu suka ngelamun terus, mikirin apa sih. Coba sini cerita"ucap Syifa antusias.

"Nggak kok aku gak mikirin apa-apa"elak Zahra.

Syifa masih saja menatap lekat Zahra. Menurutnya Zahra tampak tidak seperti biasanya apalagi akhir-akhir ini Zahra lebih sering melamun. Entah apa yang dipikirkan Zahra sekarang,pikir Syifa.
"Udah ah makan kasian tuh makanananya diliatin terus"ucap Zahra mengalihkan pembicaraan.

***

10.Mencintaimu Dalam Diam


1 bulan kemudian.

Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi hidup Ali.Dimana ia akan melepas bangku perkuliahan sebagai mahasiswa dan beralih menjadi seorang Dokter yang diimpikan sejak kecil.Ali tak hentinya berucap syukur pada Rabb-Nya betapa beruntungnya bisa menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi menggapai cita-citanya, sedangkan banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisinya sekarang.

Ali melihat pantulan dirinya dicermin dengan memakai pakaian wisudanya tidak lupa  pula menyisir rambutnya agar terlihat rapi. Kemudian ia segera pergi ke kampus seorang diri,orang tua Ali akan menyusul kerena ada sedikit keperluan.

Panggung yang dihias sangat cantik, tak lupa pula kursi yang sudah ditata rapi yang akan menyambut kedatangan calon penerus masa depan yang berhasil menyelesaikan skripsinya. Satu persatu terlihatlah para mahasiswa yang berdatangan dengan orang tuanya,sedih dan bahagia mengisi momen yang sangat di nanti ini.

"Ya Allah Zahra itu kak Ali kan? "ucap Syifa terkejut.

Zahra mengikuti arah pandang Syifa yang memang benar Ali bersama taman-temanya sedang duduk menunggu acara akan di mulai.

"Subhanallah Zahra kak Ali ganteng banget hari ini"ucap Syifa tak lepas memandang meraka dari jauh.

"Jaga pandangan Fa"tegur Zahra.
"Astaghfirullah maaf maaf"jawab Syifa tersadar.
Zahra memang tak mengelak bahwa Ali sangatlah berbeda hari ini,terlebih lagi pakaian yang dikenakannya menambah kadar ketampananya.Seketika senyum Zahra pudar melihat banyak fansnya dikampus yang menghampiri Ali untuk berfoto denganya. Zahra tidak bisa berbuat apapun, mau mencegah? Memang siapa dirinya bagi Ali?
Cek... Cek...

"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"ucap pembawa acara.

"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh"jawab semuanya serempak.
"Baiklah acara yang kita tunggu-tunggu akan segera dimulai"ucapnya.

"Pertama tama marilah kita panjatkan puji syukur khadirat Allah SWT karena kita bisa berkumpul di hari yang bahagia ini. saya ucapkan selamat bagi para mahasiswa yang sudah berhasil menggapai cita-citanya, membanggakan kedua orang tua kalian atas perjuangan kalian di bangku perkuliahan ini. Baiklah mungkin kalian tidak sabar mananti siapa yang lulus dengan nilai tertinggi di tahun ini, saya akan membacakan siapa mahasiswa tersebut"

"Nilai tertinggi di dapatkan oleh... "ucap pak Dosen menggantungkan kalimatnya, membuat semuanya semakin penasaran. Semua para Mahasiswa nampak berdoa agar dirinya bisa mendapatkan nilai tertinggi tersebut.

"Dia adalah... Muhammad Ali Ibrahim"Lanjut pak Dosen.
Prok... Prok...

"Wow nggak salah gue mengidolakan kak Ali, udah ganteng, pinter lagi!!"ucap salah satu mahasiswi.

Banyak para mahasiswa yang memberikan selamat dan hadiah kenangan untuk Ali. Ia pun menerimanya tidak lupa berterima kasih sembari tersenyum manis yang siapapun yang melihat terpesona olehnya.
"Baru kali ini gue liat kak Ali senyum semanis itu! "umpat salah satu Mahsiswi.

Entah mengapa hati Zahra merasa sesak mendengar itu semua, bukankah itu kalimat pujian untuk Ali yang siapa saja berhak mengucapkanya. Ah entah lah intinya ia harus pergi dari tempat ini.

"Kak Zahra!"langkah Zahra terhenti ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Ia membalikan badan berniat melihat siapa orang yang memanggilnya dan ternyata orang itu adalah Adiba yang saat ini juga sedang bersama Ali.
"Kak Zahra sini"ajak Adiba setengah berteriak sambil melambaikan tanganya. Mau tak mau Zahra berjalan menuju mereka.
"Assalamualaikum"salam Zahra.

"Waalaikumsalam"Jawab mereka.

"Eum selamat kak Ali,semoga ilmunya bermanfaat"ucap Zahra menundukan pandangan.
"Aamiin,terima kasih Zahra"

"Iya kak"jawab Zahra.

"Kakak apa kabar?"tanya Adiba.

"Alhamdulillah baik"jawab Zahra tersenyum.
"Kak foto dulu yuk sama kak Ali juga, biar ada kenangan hehe"ajak Adiba.

"Eum-"


"Ayolah kak"

Akhirnya Zahra mengangguk walau dengan perasaan sangat gugup. Mereka menghadap ke arah kemera seraya tersenyum manis. Ini juga adalah kali pertama dirinya bisa berfoto bersama Ali. Nama lelaki yang selalu Zahra bicarakan dengan Rabb-Nya.

"Kalau begitu aku pamit pulang dulu"ucap Zahra sesudah berfoto.
"Yah kok cepat banget si kak"jawab Adiba mengerucutkan bibirnya.
"Maaf Adiba soalnya kakak ada kerjaan sore"jawab Zahra seadanya,karena memang sehabis ini dirinya ada kerjaan sore. Beberapa hari lalu ia mencari kerjaan dengan waktu sehabis pulang kampus. Setidaknya itu bisa membayar kostnya dalam beberapa bulan ini.
"Kamu pulang sendiri?"tanya Ali.

"Iya kak lagian dekat kok tinggal jalan kaki"jawab Zahra.

"Nanti kakak capek lagi"ucap Adiba.

"Nggak kok kakak udah biasa, sekalian olahraga juga"jawab Zahra seraya memberikan senyuman.


"Beneran kak"ucap adiba memastikan.


"Iya,salam juga buat umi"ucap Zahra.

"Oke kak"jawab Adiba.

"Assalamualaikum "salam Zahra.

"Waalaikumsalam"jawab mereka.


***

11.Mencintaimu Dalam Diam


Haruskah aku menjadi Fatimah Azzahra yang mencintai sayyidina Ali dalam diam atau menjadi Siti Khadijah bahkan melamar Rasulullah terlebih dahulu

Angin yang cukup kencang membuat jilbab Zahra sedikit berantakan tetapi nampaknya dirinya tidak sedikit pun menyadari hal itu. Zahra terus saja melamun di pinggiran pantai, entah mengapa otaknya tiba-tiba memikirkan Ali. Sudah seminggu setelah perpisahan Ali, ia tidak lagi bertemu dengannya.

Aku tidak mengerti bagaimana perasaan ini bisa hadir dalam hatiku.perasaan ini terkadang membuatku bahagia bisa memandangmu dari jauh. Mungkin awal pertemuan itulah rasa ini muncul,yang membuatku kagum akan sosokmu. Sejak saat itulah aku memilihmu menjadi tempat di hatiku.

Dalam diam aku mengagumimu dan memahami segala tentangmu. Walau terkadang dalam diamku ada rasa sakit dalam hatiku.

Kau membuatku merasa ragu dan takut atas rasa yang ku miliki.Aku akui kau mempunyai pesona yang siapa saja ingin mendapatkan cintamu, begitu juga hal nya diriku yang tidak bisa berpaling darimu. Tapi apakah pantas diriku yang mungkin masih jauh dari kata shalihah yang bisa mendapatkan imam sepertimu dan meraih surganya bersama?

Aku tak tahu,apakah aku bisa bertahan memendam perasaan ini layaknya Fatimah kepada sayyidina Ali ataukah menjadi Siti Khadijah datang padamu untuk menyatakan rasa.

Itulah tulisan tangan Zahra dibuku Diary nya, yang didalamnya terdapat tulisan perasaanya pada Ali. Zahra menutup bukunya,mencoba menghilangkan zina fikiran itu.

"Astagfirullah, ya Allah maafkan hamba karena sudah memikirkan seseorang yang tidak halal bagi hamba"lirih Zahra.

Zahra tersadar dari lamunanya lalu mulai menatap keindahan pantai didepannya yang sedari tadi diabaikan.

"Hiks...hiks... " samar-samar Zahra mendengar tangis seorang anak kecil. Ia melihat ke sekelilingnya, matanya menangkap anak kecil yang perkiraanya berumur 7 tahun yang sedang menangis ketakutan seorang diri. Zahra beranjak dari duduknya berniat menghampiri anak tersebut.

"Hai adek cantik ini namanya siapa,kok nangis?"tanya Zahra menyamai tinggi anak kecil itu, mencoba menenangkanya.

"Hiks... namaku Tiara kak aku tersesat dan nggak tau kakak aku di mana hiks..hiks... "jawab Tiara sesegukan.

"Ya udah sekarang kakak bantu cari kakak kamu ya"ucap Zahra.

"Iya kak hiks... "

Zahra mulai mencari ke segela arah, setelah tadi Tiara memberitahu bagaimana ciri-ciri kakaknya.

"Tiara... "Teriak seorang lelaki menghampiri mereka dengan raut wajah khawatir.

"Kakak hiks... "Tiara langsung berhambur memeluk kakaknya. Zahra tersenyum, akhirnya bisa menemukan mereka.

"Ya Allah kamu dari mana saja,kakak khawatir"ucapnya.

"Hiks...tadi Tiara mau ambil bola tiara yang jatuh jauh kak,tapi Tiara nggak inget lagi jalan dimana tadi hiks... "jelas Tiara.

"Maafin kakak ya udah ninggalin Tiara"ucapnya.

"Ini salah Tiara kak karena udah nggak nurut apa kata kakak hiks... "jawab Tiara.

"Udah jangan nangis lagi yaa nanti cantiknya hilang loh"ucapnya sembari menghapus air mata adiknya.

"Kak ini kakak yang udah bantu Tiara tadi"ucap Tiara memperkenalkan Zahra.

"Terima kasih sudah menolong adik saya"ucapnya.

"Sama-sama, kalau gitu saya permisi dulu"jawab Zahra.

"Sekali lagi terima kasih"jawabnya.

Zahra mengangguk.

"Assalamualaikum"salam Zahra.

"Waalaikumsalam"jawab mereka.

***

Dimalam dengan jam yang menunjukan pukul 21:19,Zahra masih saja fokus menggerakan tanganya dilaptop kecilnya. Ia harus menyelesaikan tugas dari dosenya dan di kumpul hari esok. Terlebih lagi setelah ini harus print tugasnya,ia menutup laptopnya segera bergegas ke tempat fotokopi,dirinya tidak mau pulang larut malam.

Tepat pukul 10:15 malam,Zahra masih saja berjalan menuju kostnya. Tadi Ia harus menunggu banyak antrian yang juga sama sepertinya dan alhasil harus pulang terlalu malam. Zahra menghentikan langkahnya melihat sekumpulan preman yang sedang duduk di depan ruko. Dengan mengucap Bismillah Zahra semakin mempercepat laju jalannya ketika saat melewati para preman tersebut.

"Ya Allah hanya kepadamulah hamba meminta perlindungan" batin Zahra.

"Nang cantik mau ke mana?"tanya preman itu, Zahra tidak menghiraukan tetap berjalan secepat mungkin. Tetapi langkahnya dihadang oleh preman tersebut.

"Maaf mas saya mau lewat"jawab Zahra.

Zahra mencoba menerobosnya tetapi mereka semakin tidak mau memberi jalan. Dirinya semakin takut apalagi disini sangatlah sepi.

"Jangan buru-buru dululah cantik,mari kita bermain" ucap salah satu temanya.

Zahra semakin takut ketika preman itu memegang pergelangan tanganya. Air mata sudah mengalir deras begitu saja dipipi mulus Zahra.

"Tolong lepasin!"teriak Zahra mencoba melepaskan cekalan erat dipergelangan tanganya.

"Tolong!!!"teriak Zahra sekali lagi.

"Disini tidak ada orang,kau mau kemana cantik"ucap preman itu dengan tatapan menggoda.

"Ya Allah tolong hamba"batin Zahra.

"Lepasin!!!"

Zahra tidak bisa melepas tanganya dari genggaman mereka,tapi apalah daya tenaganya semakin melemah, tidak terlalu kuat mengalahkan mereka. Zahra menahan sakit dipergelangan tanganya yang sudah memerah.

"Tolong..hiks.. hiks... " Zahra berteriak sekali lagi meminta pertolongan.

Bugh...

Seorang lelaki datang melempar pukulan kepada mereka. Zahra bersyukur Allah telah mengabulkan doanya.

"Lepaskan dia!"ucap lelaki itu.

Preman itu mengusap darah yang mengalir disudut bibirnya seraya tersenyum sinis.

"Wahh wahh ada pangeran malam rupanya"ucap mereka.

"Saya bilang lepaskan dia!"

"Ck kalau gue nggak mau lepasin dia mau apa lo hah!!"sungut mereka.

Bugh...

"Berani ya lo!!"ucap preman.

Bugh...

Mereka bergantian memberi pukulan kembali pada lelaki itu. Terjadilah perkelahian yang cukup hebat antara satu lawan lima. Darah segar sudah mengalir di wajah lelaki yang menolong dirinya. Sedangkan Zahra mencoba berteriak walau dengan suara sesegukan.

"Tolong!! "teriak Zahra dengan sisa tenaga yang ia punya,berharap ada warga yang datang membantu mereka. Tidak lama kemudian Allah mengabulkan doa Zahra,sekumpulan warga mulai berdatangan. Preman tersebut langsung pergi.

"Terima kasih pak"ucap lelaki itu kepada warga.

"Sama-sama"jawab mereka kemudian pergi.

"Kamu nggak apa-apa?"tanya lelaki itu.
Zahra mendongakan kepalanya ke atas yang sedari tadi terduduk lemas. Ia melihat darah yang mengalir disudut bibir lelaki itu dan tanganya.

"Aku takut hiks..."

"Sekarang sudah aman sebaiknya kamu saya antar pulang"ucapnya.

Zahra menurut mengikuti lelaki itu lalu memasuki mobil. Ia mengarahkan jalan menuju kostnya, tidak lama kemudian mobil berhenti tepat didepan kost Zahra karena jaraknya yang tidak cukup jauh.

"Terima kasih"ucap Zahra yang sudah lebih tenang.

"Sama-sama,kamu juga sudah menolong adik saya tadi siang,oh ya perkenalkan nama saya Raihan"ucap Raihan menangkupkan kedua tanganya.

"Zahra"jawab Zahra.

"Tanganmu berdarah"lanjut Zahra.

"Tidak apa nanti saya obati,ya sudah saya permisi, lain kali hati-hati disana memang terkenal banyak preman"ucap Raihan.

Zahra menganggukan kepala mendengarkan nasihat Raihan.

"Assalamualaikum"salam Raihan.

"Waalaikumsalam"jawab Zahra.

Zahra membuka pintu kostnya kemudian mengambil kotak P3K untuk mengobati luka dipergelangan tanganya. Ia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya luka Raihan yang sudah menolongnya,semoga saja Allah memberikan kesembuhan padanya.


12.Mencintaimu Dalam Diam



Seorang laki-laki berbadan tinggi itu tengah berada di dalam ruanganya. Perkenalkan namanya adalah Raihan Aditya Hermansyah seorang CEO perusahaan terkenal di Jakarta. Ia mulai melanjutkan perkembangan perusahaan ayahnya setelah beberapa bulan yang lalu telah wisuda mengambil jurusan manajemen. Saat ini ia sedang menggerakan tanganya di atas leptop,seperti biasanya.

Tok... tok...



"Masuk"ucap Raihan.



"Permisi pak, ini ada berkas yang harus di tanda tangani"ucapnya.

Raihan yang masih menatap layar laptop mengalihkan pandangan melihat sekretarisnya.Raihan mengambil map berwarna biru itu lalu menanda tangani setelah sudah membaca isinya.



"Ini"singkat Raihan.



"Terima kasih pak, saya permisi"

Raihan mengangguk dan mulai mengerjakan kembali apa yang sudah menjadi tugasnya.

Ceklek...

Raihan menoleh saat mendengar suara pintu terbuka tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Ia manatap jengah melihat orang tersebut yang langsung saja masuk.
"Lain kali ketuk pintu dulu"tegur Raihan malas.

"Maaf Han udah kebiasaan hehe"jawabnya.

Namanya adalah Rizky sahabat Raihan sejak SMA. Wajar saja Rizky berlaku seperti itu karena sudah mengenal lama sahabatnya. Raihan pun tidak mempermasalahkanya,toh sudah masuk juga.

"Kenapa muka lo ada coretan kayak gitu?"tanya Rizky.
"Ini gue semalam nolongin cewek dari preman"jawab Raihan.
Raihan memang mengucapkan kata lo-gue kepada teman terdekatanya saja, selebihnya kepada orang lain memakai kata saya dan juga bersikap datar.
"Kok bisa?"tanya Rizky polos.

"Ya bisa lah"jawab Raihan malas.
"Ck maksud gue kok lo ada di situ?"tanya Rizky.
"Kebetulan gue lewat"jawab Raihan seadanya.
saat malam itu ia sedang berbelanja keperluan sedikit di minimarket, setelah itu berjalan ke luar namun tiba-tiba langkahnya berhenti ketika melihat seorang gadis di arah yang sedikit jauh sedang di ganggu preman. Tidak mau terjadi sesuatu padanya, kemudian ia segera pergi ke sana. 
"Oh"jawab Rizky ber-oh ria.

"Bagaimana perkembangan bisnis lo?"tanya Raihan.

"Rumah makan?"tanya balik Rizky.
"Ya iyalah,emang apa lagi"jawab Raihan.
"Hehe Alhamdulillah udah makin ramai"

Sahabatnya itu memiliki rumah makan yang sudah berjalan satu tahun, tepatnya setelah wisuda. Tak jarang juga Raihan mengunjunginya walau hanya sekedar bertemu dengan sahabatnya itu.
"Makan yuk han,gua leper nih"ajak Rizky.

"Nggak lah lo aja, gue masih banyak kerjaan"jawab Raihan yang masih memandangi layar laptopnya.
"Yah lo mah nggak seru, ya udah lah gue mending balik,Assalamualaikum"salam Rizky.
"Waalaikumsalam"Raihan menggelengkan kepala melihat tingkah laku sahabatnya.

Fikiranya kembali berputar pada kejadian semalam, di mana dirinya menolong gadis yang bernama Zahra, bibirnya membentuk garis lurus kala mengingat Zahra yang menjalankan dengan baik kewajiban tentang menutup aurat. Entah mengapa saat melihat Zahra ada desiran aneh dihatinya,padahal baru pertama kali bertemu. Apa ia mengagumi gadis itu?.

Sedangkan di tempat lain, Zahra sedang duduk bersandar di bawah pohon,sambil membaca buku di tanganya. Fikiranya kembali teringat pada kejadian malam itu, jujur saja Zahra masih trauma. Badanya pun masih sedikit lemas. Tetapi ia beryukur kerena Allah telah mengabulkan doanya dengan mengirimkan Raihan untuk membantunya.

"Assalamualaikum,Zahra"salam Syifa.

"Waalaikumsalam"jawab Zahra.

"Ra muka kamu kok pucat gitu, apa kamu sakit?"tanya Syifa seraya menempelkan tanganya di kening Zahra.
"Cuma sedikit lemas aja,Fa"jawab Zahra tersenyum.
"Kenapa kamu nggak istirahat di kost aja Ra"ucap Syifa dengan raut wajah khawatir.
"Aku masih kuat kok, lagian aku mau ngumpulin tugas. Ya udah yuk ke kelas"ajak Zahra.
Zahra berdiri dari duduknya,badanya sedikit linglung merasakan sakit di kepalanya. Ia berusaha menguatkan tubuhnya namun tiba-tiba pandangannya semakin gelap. Dan dalam hitungan detik dirinya pingsan.
"Astagfirullah,Zahra"panik Syifa dengan cepat langsung menerima tubuh Zahra yang pingsan.

Matanya menangkap teman sekelasnya,tepatnya teman ributnya.

"Yogi!"teriak Syifa.

Yogi yang sedang berjalan pun menoleh ketika ada seseorang memanggil namanya, matanya tertuju pada Syifa yang menopang tubuh Zahra yang pingsan. Yogi terkejut dengan cepat berjalan menuju mereka.
"Fa lo apain, Zahra?"tanya Yogi polos yang tak kalah panik.

"Ini bukan waktu yang tepat untuk ribut,Zahra pingsan. Lo bantuin gue cari teman cewek buat bantu bawa Zahra"saran Syifa.
Yogi pun segera berlari menemui mahasiswi lain yang tidak jauh dari mereka.
***

Zahra membuka matanya perlahan seraya memegangi kepalanya yang masih sedikit sakit. Ia melihat Syifa di sampingnya yang nampak bernafas lega ketika melihat dirinya sudah sadar.
"Aku kenapa bisa di sini,Fa?"tanya Zahra.
"Kamu pingsan tadi,Ra"jawab Syifa.
Zahra membulatkan matanya saat melihat jam dinding di ruangan ini yang menunjukan arah jarum jam yang berarti kelasnya sudah selasai dari tadi.

"Astagbfirullah,aku gak masuk kelas"ucap Zahra panik.
"Tenang Ra tadi aku udah izinin kamu sakit"jawab Syifa.

"Makasih Fa"jawab Zahra.
"Sama-sama Ra, sekarang kita pulang ya"
Zahra mengangguk mengikuti saran Syifa, lagian tidak ada kelas lagi setelah ini.

"Tapi aku mau shalat asar dulu"ucap Zahra.
"Ya udah,aku temenin"jawab Syifa seraya menuntun Zahra turun. Kemudian mereka berjalan pergi ke Mushola.

"Ra aku tunggu di sini ya, soalnya aku lagi nggak shalat"ucap Syifa ketika mereka sudah sampai di depan mushola.

"Iya Fa"jawab Zahra.
"Kamu kuat kan Ra jalanya?"tanya Syifa. Zahra memberi senyuman meyakini sahabatnya itu agar tidak khawatir.
Zahra mengambil wudhu setelah itu melaksanakan shalat dengan berusaha khusyuk. Setelah selesai shalat lalu Zahra bermunajat kepada Rabb-Nya agar di berikan kesehatan. Kemudian Zahra membuka mukena menaruhnya kembali ke tempat semula, setelah itu berjalan ke luar menghampiri Syifa yang sedang duduk di kursi panjang dekat mushola sambil memainkan benda pipih di tanganya.
"Assalamualaikum"salam Zahra.
"Waalaikumsalam"jawab Syifa.

"Ayo Fa"ajak Zahra dan disetujui oleh Syifa.
Mereka menunggu di halte bus dekat kampus,tidak lama kemudian bus datang. Tak mau membuang waktu mereka pun langsung naik. Sekitar menempuh perjalanan 20 menit sampailah mereke di depan kost.

"Ra,cepat sembuh ya"ucap Syifa seraya menghambur ke pelukan sahabatnya. Tadi di kampus ia sangat khawatir melihat Zahra tiba-tiba pingsan. Terlebih lagi sahabatnya itu pingsan cukup lama.

"Makasih banyak ya,Fa"jawab Zahra membalas pelukan sahabatnya.
"Ya udah kamu istirahat"ucap Syifa melepas pelukanya.
Zahra mengangguk. Kemudian mereka masuk ke dalam kamar yang tentunya bersebelahan. Zahra menaruh tasnya,kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badanya.



***



13.Mencitaimu Dalam Diam



Serendah apapun pekerjaanmu dimata manusia akan tetapi jika halal maka Allah akan Ridho dari pada pekerjaan bergengsi tetapi bergelimang dosa maka dia murka



"Bekerja mencari yang halal itu suatu kewajiban sesudah kewajiban beribadah "(HR. thabrani dan Baihaqi)

_______________

Zahra kembali pada rutinitas seperti biasa sebagai seorang mahasiswi. Sekarang ia sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampus, setelah memastikan barang yang akan di bawa tidak tertinggal kamudian memakai tasnya lalu menutup pintu kamarnya.
Terlihatlah Syifa yang baru saja keluar dari kostnya seraya tersenyum melihat sahabatnya yang sudah membaik.
"Assalamualaikum"salam Syifa.
"Waalaikumsalam"jawab Zahra.
"Alhamdulillah kamu udah sehat, tau nggak kemarin itu aku khawatir banget ngelihat kamu tiba-tiba pingsan"jelas Syifa.
"Hehe maaf deh"jawab Zahra nyengir.
"Sekarang kita langsung berangkat aja,nanti keburu telat lagi"ucap Syifa dan di setujui oleh Zahra.
Mereka telah sampai di gedung tinggi yang disebut universitas itu. Kini mereka sedang berjalan di lorong kampus dengan tumpukan buku tebal ditanganya yang dengan melihatnya saja merasa jengah.

Meraka telah sampai di kelasnya,manaruh tasnya di meja. Kemudian mereka membaca buku sambil menunggu dosen masuk ke kelasnya.
Tiba-tiba seseorang mendatangi mereka dengan senyum merekah di pagi hari. Sedangkan Syifa hanya menatap malas, tidak berniat berbicara. Ya,siapa lagi kalau bukan teman keributanya.
"Assalamualaikum"salam Yogi tersenyum.
"Waalaikumsalam"jawab mereka.
"Kamu udah sehat,Ra?"tanya Yogi kepada Zahra.
"Alhamdulillah"jawab Zahra.
"Makasih udah bantuin aku kemarin"ucap Zahra.
"Sama-sama"jawab Yogi.
Sedangkan Syifa hanya menyimak saja tetap tidak teralihkan melihat buku di tanganya. Yogi yang melihat pun bersikap acuh, hari ini dirinya tidak berniat mengganggu temannya itu yang sedang fokus membaca. Kemudian Yogi duduk di kursinya.
"Eh lihat deh"ucap salah satu mahasiswi berbicara pada temanya yang duduk di belakang mereka.
"Ada apa sih"jawab temanya.
"Ini loh liat deh kak Ali makin cool aja"jelasnya memperlihatkan foto melalui ponselnya. Ya mungkin sedang membuka aplikasi instagram.
"Aaa iya bener"jawabnya.

Zahra bisa mendengar percakapan itu, seketika fikiranya teringat pada lelaki yang digaguminya selama ini. Sampai saat ini ia tidak lagi bertemu denganya lagi. Pernah beberapa hari lalu Adiba menghubunginya walau sekedar hanya menanyakan kabar satu sama lain dan pada saat itu dirinya bisa mendengar suara Ali mungkin saja Adiba sedang duduk di dekatnya. Entah mengapa dirinya bahagia walau hanya mendengar suaranya saja lewat ponsel.
Astaghfirullah...

Berulang kali Zahra berucap istighfar dalam hatinya karena sudah memikirkan seseorang yang tidak halal baginya. Zahra berharap kepada Rabb-Nya semoga hatinya selalu di jaga dari rasa kecewa.

Sebuah kisah cinta dengan dua pria yang mencintai satu seorang wanita,
dengan berbagai drama dalam menyatukan insan yang saling mencintai
"Ra"ucap Syifa menepuk pundaknya, spontan Zahra pun terkejut.

"Eh Iya"jawab Zahra tersadar dari lamunanya.
"Kamu kenapa dari tadi melamun aja?"tanya Syifa.

"Nggak apa-apa kok"jawab Zahra.

Tidak lama kemudian dosen yang mengajar di kelas mereka pun masuk. Zahra berusaha untuk fokus pada fikiranya agar tidak lagi memikirkan Ali.
"Baiklah sampai di sini dulu materi kali ini, jangan lupa kerjakan tugas yang saya berikan. Assalamualaikum"ucap pak Dosen.
"Waalaikumsalam"jawab semua kompak.
"Alhamdulillah"ucap Zahra.

"Kalian mau ke kantin?"tanya Yogi tiba-tiba menghampiri mereka.
"Iya kenapa emangnya"jawab Syifa malas.
"Ya udah gue duluan,Assalamualaikum"salam Yogi tersenyum manis.

"Waalaikumsalam"jawab mereka.
"Tumben banget tuh mahluk nggak ngajak ribut"heran Syifa.

"Ya bagus dong"jawab Zahra.
"Tapi aneh aja,Ra"ucap Syifa.
"Lagian aku mau nanya deh sama kamu,kenapa sih kamu sering ribut sama Yogi,kayaknya kalau ketemu dia kesel banget"tanya Zahra.
"Emang orangnya ngeselin Ra, bikin mood jadi ilang"jawab Syifa.
"Awas loh nanti kamu suka"ucap Zahra terkekeh.
"Nggak akan"jawab Syifa cepat. Sedangkan Zahra hanya tertawa melihatnya.
"Ya udah ayo ke kantin"ajak Syifa.

Zahra mengangguk.
Mereka berjalan ke kantin lalu mencari tempat yang masih kosong dan berada di seberang pojok sana. Setelah itu mereka memesan makanan,tak lama kemudian makanan sudah dateng.
***

Sekarang Zahra tengah memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas. Setelah beberapa menit yang lalu dosen mengakhiri materi hari ini.
"Fa,aku pulang duluan ya"ucap Zahra seraya memakai tasnya.
"Loh nggak bareng,aku"jawab Syifa.
"Maaf Fa,habis ini aku ada kerjaan"ucap Zahra.
"Ya udah deh, kamu hati-hati"ucap Syifa.

"Makasih Fa,Assalamualaikum"salam Zahra.
"Waalaikumsalam"jawab Syifa.
Zahra segera pergi ke luar kampus. Ia bekerja di rumah makan yang tidak jauh dari kampusnya maka dari itu hanya berjalan kaki untuk sampai di sana. Setiap harinya selalu ramai dipadati oleh para mahasiswa dikampusnya,dirinya sama sekali tidak malu ketika banyak yang melihatnya berkerja. Menurutnya,kenapa harus malu ketika pekerjaan itu masih
"Wahai umat manusia,bertakwalah engkau kepada Allah,dan tempulah jalan yang baik dalam mencari rezeki, kerena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya,walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah,dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram."(HR. Ibnu Majah no. 2144 di katakan shahih oleh syaikh Al Albani)

14.Mencintaimu Dalam Diam

Mencintai dalam diam.tanpa perlu takut kehilangan.Karena Allah telah menyiapkan yang terbaik bagi hambanya yang sabar dalam mencintai
____________

Karena Allah telah menyiapkan yang terbaik bagi hambanya yang sabar dalam mencintai____________




Masyaallah

Kata itu yang selalu aku ucapkan melihat rumah Allah yang sungguh megah.bagiku rumah Allah lah yang membuatku selalu tenang dalam menjani hidup ketika kesulitan melanda hidupku.setiap aku bersedih tempat inilah yang menjadi saksi tangisku menceritakan
seluruh kegundahan dalam hatiku

Sudah lama sekali aku tak berkunjung melaksanakan shalat disalah satu masjid megah dijakarta kerena akhir-akhir ini aku sibuk dengan kuliahku dan Alhamdulillah waktu luang tiba akhirnya aku memutuskan pergi kesini
Dimasjid ini ramai sekali orang yang beribadah dan juga anak kecil yang sudah memakai jilbab
Allahummaf tahlii abwaaba rohmatik

Aku memasuki masjid setelah membaca doa, membasahkan wajahku dengan air wudhu.

Selesai shalat aku melanjutkan membaca Al-Quran dan berdzikir
Cukup lama aku termenung akan dosa yang pernah ku perbuat.betapa baiknya Allah memberi nikmat kepada kita yang terkadang kita selalu saja tidak bersyukur dengan apa yang Allah berikan dan bahkan kita lalai dalam menjalankan perintahnya

Sungguh Allah maha baik

Aku melipat mukena, membenarkan jilbabku yang sedikit berantakan

Aku terduduk diteras masjid menikmati hembusan angin yang masuk setiap inci tubuhku

Untukmu calon imamku...
Lelaki yang Allah tuliskan
diLauhul Mahfuz

Namamu yang selalu ku selipakan dalam setiap doaku dan aku diam diam merindukanmu tiap waktu. Aku wanita biasa yang masih jauh dari kata baik, maka dari itu izinkan aku memperbaiki diri ini agar kelak aku bisa menjadi makmum yang baik untukmu dan semoga saat ini kau juga sedang memperbaiki akhlakmu memperdalam ilmu agama

Aku tak meminta rupa yang rupawan kerena akupun bukan wanita yang elok rupa. Bagiku, cukuplah kau menjadi imam yang mampu menuntunku hingga ke surga-Nya, kerena surga begitu dekat bila bersamamu

Maafkan aku kerena sudah mencintaimu dalam diam yang berharap kaulah yang menjadi pelengkap imanku, membimbing aku menjadi wanita shalihah.

Aku ingin menjadi layaknya Fatimah Az-Zahra yang mencintai Ali dalam diam yang Allah persatukan dengan berakhir indah
Kini kupasrahkan rasaku pada sang pemilik rasa,menunggumu hingga kau menjabat tangan Abiku dalam ikatan suci

Aku kira itu hanya mimpi, mimpi yang akan membuatku tersenyum setelah terbangun, tetapi sungguh, aku benar-benar keliru, bukan kebahagiaan yang aku dapatkan melainkan ke...
Itulah yang aku tuliskan dibuku diary yang didalamnya tertuang perasaanku pada Ali
Rasanya setiap kali aku mencurahkan kisah cintaku dibuku ini beban hatiku merasa lebih tenang
Aku tak menyalahkan rasa yang tumbuh semakin dalam dihatiku,kerena cinta adalah fitrah manusia yang setiap insan didunia memilikinya.Rasa cinta ini yang terkadang membuat manusia merasa bahagia.Akan tetapi rasa ini juga terkadang membuat goresan luka.cinta sejati tentunya hanya milik Allah SWT.
kalau boleh jujur saat ini aku merindukanya ya Allah
Aku memakai sepatu,melihat jam tangan yang melingkar ditanganku menunjukan pukul 5 sore waktu dimana sinar matahari mulai gelap
Aku berjalan sambil menunduk tidak memperhatikan jalan dan alhasil aku menubruk badan seseorang
"Astagfirullah,dia seorang pria"batinku
"aduh afwan akhi ana tidak sengaja"ucapku meminta maaf sambil menunduk, aku tak berani menatap pria didepanku
"iya tidak apa Zahra"jawab pria itu
"loh kok dia tau namaku"ucapku dalam hati
Aku mendongakan kepala melihat siapa pria itu
Deg..
"Ya Allah Kak Ali"jeritku dalam hati
Apakah ini mimpi? Kak Ali ada didepanku? Oh Allah jika ini mimpi tolong bangunkan aku dari tidurku, tapi jika ini bukan mimpi tetaplah seperti ini
"Zahra"ucap Ali melambaikan tanganya didepan wajahku
Astagfirullah
Ternyata benar didepanku Ali. ya Allah boleh tidak aku merasa senang saat ini?
"i... Iya kak Ali"ucapku terbata
"Kamu habis shalat"ucapnya tersenyum
Senyuman itu yang selalu kutunggu setelah sekian lama
"iya kak"cicitku
"udah lama gak ketemu, apa kabar?"tanya Ali
Ya Allah Ali menanyakan kabarku? bagaikan aku merasa di atas kepalaku ada bunga- bunga yang sedang berterbangan
"aku baik kak"jawabku
"bagaimana dengan kuliahmu "
"Alhamdulillah,sebentar lagi wisuda kak"
"kak Ali baru pulang dari rumah sakit? "lanjutku
Sungguh ia sangat tampan terlebih lagi jas dokter yang berada ditanganya
"iya, selesai dari rumah sakit langsung shalat asar disini"jawabnya
Aku menganggukan kepalaku bingung harus berbicara apa lagi
"kamu dari tadi disini?, ini udah sore loh"ujar Ali.
sepertinya Ali menyadari sikapku yang diam sesaat
"iya kak aku sengaja ingin menenangkan pikiranku disini"
"Termasuk memikirkanmu Ali" batin Zahra
"Kamu naik apa kesini?"
"aku naik angkot kak"
"mau sekalian bareng?"tanyanya menawarkan tumpangan padaku. Rasanya tidak mungkin aku menerima ajakan Ali,ini sudah sore, rumah Ali pun jauh dari sini, apalagi kulihat wajah Ali yang sepertinya lelah aku tak mau menambah rasa lelahnya karena mengantarkanku
"tidak usah kak, didepan juga ada angkot"
"ya udah tapi kamu hati-hati dijalan apalagi ini udah mulai gelap"
Apa Ali khawatir denganku?
"iya kak,kakak juga bawa mobilnya hati-hati"ucapku tersenyum
"ya sudah kalau gitu aku pergi dulu, Assalamualaikum"salam Ali
"Waalaikumsalam"jawabku
Ya Allah hari ini aku sangat senang, kau mempertemukan ku lagi dengan Ali setelah sekian lama aku merindukanya.
Mempertemukanku dirumahmu ini, dia yang selalu melaksanakan perintahmu setiap waktu
"setidaknya aku tau bagaimana rasanya menahan rindu dalam diam, menunggu pertemuan yang kini hadir didepanku" ucapku memandangi Ali perlahan memasuki mobil


Yeay akhirnya Zahra dan Ali bertemu kembali😊
Pernah gak kalian bayangkan bertemu seseorang yang kalian cintai dirumah Allah?😂5
Hiasi pagi ini dengan membaca shalawat, semoga hidup kita penuh keberkahan

"sesungguhnya Allah dan malaikat malaikatnya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman,bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya"
(QS.Al-Ahzab:56)

...

15.Mencintaimu Dalam Diam


tok...tok... tok...

"masuk"ucap Ali

Terlihatlah seorang wanita berbaju serba putih menghampiri Ali

"Maaf dok menganggu, saya mau menyampaikan bahwa dokter Andika tidak bisa hadir dan sebentar lagi ada jadwal operasi, beliau mengatakan apa dokter bisa menggantikanya"ucap suster

"baiklah saya akan menggantiknya"ucap Ali,ini sudah tugas Ali menolong pasiennya

"terima kasih dok, saya permisi"

Ali memakai jas dokternya lalu pergi memasuki ruang operasi.Ali memakai masker dengan baju operasi berwarna hijau
Lampu menyala,satu persatu suster memberikan alat medis kepada Ali. dengan telaten Ali berusaha menyembuhkan pasien yang terbaring lemah.keringat sudah bercucuran didahi Ali,dengan sekuat tenaga Ali berjuang keras mempertahankan satu nyawa dihadapanya
Tiga jam berlalu Ali masih saja berada dalam ruang operasi.

Ali melepas sarung tangan putih dan bernafas lega karena sudah berhasil menyelamatkan pasienya.Ali membuka pintu,terdengar suara lampu hijau menyala tanda operasi telah selesai

Ali melepas masker yang sudah basah oleh keringatnya

"dokk bagaimana keadaan anak saya?"tanya wanita yang seumuran uminya,menghampiri Ali dengan air mata yang sudah mengalir dipipinya

Ali memberikan senyuman"tenang bu, operasi berjalan lancar,anak ibu selamat"ucap Ali menenangkan
"Alhamdulillah,makasih dok"ucap ibu itu bersyukur

"berterima kasihlah pada Allah karena Allahlah yang menyembuhkan anak ibu"

"kalau gitu saya permisi"sambung Ali

Ali tersenyum bisa mengembalikan tangis keluarga pasien menjadi tangis bahagia

Bagaimanapun Ali tidak mau menyombongkan diri. dirinya bisa seperti sekarang karena Allah telah mengabulkan impianya sebagai dokter

Setelah menyelesaikan kuliah Ali langsung bekerja dirumah sakit yang cukup jauh dari rumah orang tuanya. Ali disini sudah memiliki rumah sendiri hasil menjadi dokter.Sering sekali ali tidak pulang ke rumah orang tuanya kerena jadwal yang terlalu padat

Ali membuka knop pintu ruangannya membuka jas dokter menaruhnya dikursi.Ali pergi ke kamar mandi membasuh wajahnya agar terlihat segar kembali. Lalu ia mendudukan badanya memejamkan mata sejenak mengumpulkan kembali tenaganya

Ali membuka matanya setelah cukup lama ia menidurkan tubuhnya yang sedikit lelah. Ali beranjak mengambil kunci mobil ingin pulang karena setelah operasi tadi tidak ada lagi jadwal pasien

Ali berjalan menuju parkiran tak jarang pasang mata memandanginya terus menerus, tak mau membuang waktu banyak Ali masuk dalam mobil meninggalkan perkarangan rumah sakit

Macetnya jalan itu sudah biasa dikota jakarta.Ali melambatkan mobilnya menunggu mobil yang didepanya bergerak

Suara adzan asar berkumandang Ali menepikan mobilnya memasuki masjid yang kebetulan ia berada sekarang.
Ali turun dari mobil menuju tempat wudhu melipat sebagian kaos panjangnya

Suara iqomah terdengar,Ali merapatkan barisan dan melaksanakan shalat berjamaah

Jamaah mulai berhamburan keluar mengosongkan staf laki-laki setelah shalat selesai.Tapi tidak dengan Ali. Ali berdiri mengambil Al-Quran yang berada dirak dan mulai membacanya

Satu surah telah Ali baca.Ali menutup bacaanya menaruhnya kembali ketempat semula dan membalikan badan berjalan keluar masjid

Ali mengucap salam ketika sampai rumah
"Assalamualaikum"salam Ali

"Waalaikumsalam den"jawab mbok Inem
Mbok Inem adalah pembantu dirumah Ali. Ali hanya memperkejakan mbok Inem membersihkan rumah sampai sore saja, selebihnya Ali mempersihlakan mbok kembali ke rumahnya yang bertetangga dengan Ali

"den kerjaan mbok udah selesai, mbok pamit pulang dulu"ucap mbok Inem dengan logat jawa yang khas

"iya mbok,terima kasih"jawab Ali

Ali menaiki tangga kerena letak kamarnya berada diatas.Ali menaruh tas medisnya dimeja.membersihkan dirinya yang terasa lengket

Secangkir teh hangat menemani Ali yang berada dibalkon kamarnya memainkan gitar seorang diri dirumah yang sangat luas

Ali jadi teringat kejadian tadi sore, ia tidak menyangka bertemu zahra walau kejadianya membuat zahra meminta maaf pada ali kerana sudah tidak sengaja menubruk ali dan pipinya yang selalu memerah menahan malu seperti pertama kali ia bertemu denganya

Setelah acara wisuda Ali,ia tak lagi tahu menau tentang Zahra sebab Ali langsung bekerja dan tak sempat memberitahunya. Ali berfikir mungkin Adiba memberitahu karena Adiba mempunyai nomor Zahra,apalagi Adiba sangat akrab sekali dengan Zahra

Ali belum bisa menyimpulkan bahwa ia cinta Zahra atau tidak.Ali bingung dengan perasaanya semenjak ia masih kuliah.Ali tidak ingin bila nanti menyakiti Zahra atas perasaanya

Hawa malam yang semakin dingin,Ali beranjak dari duduknya manaruh gitar yang menemani kesunyianya,mengambil air wudhu.menidurkan badanya dikasur menutup matanya menuju dunia mimpi

...



16.Mencintaimu Dalam Diam

Usaha tidak menghianati hasil.waktu dimana manjadi mahasiswa baru berbuah manis mendapatkan gelar sarjana keperawatan.
Ah rasanya lega sekali bisa melewati semester dimana membuatku merasa deg-degkan.senang bercampur sedih telah kurasakan dan Alhamdulillah berkat karunia Allah, aku mendapatkan nilai IPK tertinggi.

"Zahra bisa tolong antarkan hasil laboratorium ini ke dokter Ali?"tanya suster
Ali? Apakah itu Muhammad Ali Ibrahim? Apa Ali dirumah sakit ini?
Suara suster menyadariku dari lamunan "eh iya, sini sus"

"Dewi saja,kita sama kok"ucap Dewi seraya memberikanya padaku

"Iya"

"terima kasih Zahra"ucap Dewi langsung pergi

"eh tunggu...,yah aku lupa lagi nanya dimana ruangan dokter Ali,sebaiknya aku tanya yang lain aja"

Aku mendekati suster yang berada tidak jauh dariku

"emm maaf aku mau nanya ruangan dokter Ali itu dimana ya"ucapku
"Kamu baru kerja disini? "tanyanya

Aku mengangguk"kenalin aku Raina"ucap Raina menjulurkan tangan

"Zahra"

"Mari aku antar"Raina langsung berdiri mengantarkanku

"Rumah kamu dimana? "tanya Raina

"Aku ngekost,enggak jauh dari sini"jawabku

"Wah berarti kita satu kost dong,nanti mampir ya ke kamarku"

Aku mengangguk"Gak usah malu,biasa aja sama aku mah hehe"ujar Raina
"ini udah sampai"lanjut Raina

Aku tersenyum"Makasih"

"Sama sama,jangan sungkan. Kalau kamu mau nanya sesuatu lagi, tanya aja"

"iya,kalau gitu aku masuk dulu"

Aku mengetuk pintu mengucapkan salam
"Masuk"

Suara itu mirip...
Ah tidak mungkin,itu hanya halusinasiku saja

Aku memasuki ruangan dokter Ali.langkahku terhenti melihat seorang yang ku kenal selama ini
Ali? apakah itu benar Ali?
Mata kami bertemu sesaat, aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain

"loh Zahra? Apa benar itu kamu? "tanya Ali yang menyadariku mematung didepan pintu

Kenapa Ali cepat sekali mengenaliku?
Kini aku sudah berada didepan Ali.detak jantungku sudah memompa dengan cepat dan ditambah lagi aku merasa sangat gugup.

"Iya dok"jawabku

"Kamu kapan wisuda?"tanya Ali

"Alhamdulillah,seminggu yang lalu"

Ali menganggukan kepala"kamu baru hari ini bekerja"

"iya dok"

"wah gak nyangka ya kamu dirumah sakit ini"

Aku mengangguk"oh ya ini dari suster Dewi"

Ali langsung membuka kertas putih yang berisi penyakit pasienya

"terima kasih"

"sama sama, lagian ini sudah jadi tugas saya dok.Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

*****
Jam makan siang telah tiba. Aku menyantap makan siang dikantin khusus dokter dan perawat

Mataku tertuju pada Ali yang sedang memesan makanan,lalu ia duduk dimeja yang berjauhan ditempatku berada sekarang

Baru saja Ali mendaratkan tubuhnya,pasang matang mulai memandanginya.Ah,kenapa aku lupa bahwa Ali memiliki wajah yang sangat tampan?

Samar samar aku mendengar bicara seorang suster yang memuji Ali
"Jangan didengerin itu udah biasa"ucap Raina

Ya, aku memang tidak sendiri,aku bersama Raina.Raina mungkin mendengarnya sama sepertiku

"memangnya kenapa dengan dokter Ali?"tanyaku

Padahal aku sudah tau jawabanya apa

"ya kamu bisa lihat sendiri, dokter Ali itu tampan, banyak suster disini yang menyukainya"

Aku hanya ber'oh'saja. kalimat itu sepertinya sudah kebal ditelingaku

"dan kamu harus tau, dokter safa sekarang lagi dekat dengan dokter Ali, apalagi mereka satu dokter ahli bedah"

"Dokter safa?"tanyaku
Aku memang belum tahu banyak nama dokter dirumah sakit ini

"nanti juga kamu kenal"jawab Raina

"Apa dokter Safa cinta sama dokter Ali"

"aku juga gak tau. Tapi aku denger-denger sih dokter Safa perhatian banget sama dokter Ali"

*****
Aku menelusuri koridor rumah sakit.perkataan Raina tadi masih terngiang dipikiranku. Apa benar dokter Safa mencintai Ali?

Oh Allah, sungguh rasa ini membuatku merasa bingung, jika harus diulang aku tidak ingin mengenalnya yang membuatku menaruh perasaan padanya

Aku meruntuki diriku, Lagi-lagi aku melakukan kesalahan kerena telah lalai dalam berjalan

"Aduh maaf dok saya tidak sengaja"ucapku meminta maaf karena sudah menyenggol bahunya

"iya tidak apa, sepertinya kamu suster baru ya disini"ucapnya

"iya dok"jawabku

"aku safa"

Ternyata ini dokter Safa,dia cantik sekali.hidung mancung perpaduan kulit putih diwajahnya, mata indah dengan bulu mata yang lentik,ditambah lesung pipi yang menambah kesan sempurna diwajahnya.2
Astagfirullah, apa yang aku pikirkan, kenapa aku membandingkan diriku denganya, bukankah ia juga sama sepertiku hanya wanita biasa. apa karena aku terlalu mencintai Ali? Ya Allah, maafkan Aku cinta ini terkadang membuatku salah menilaimu

*****
Jam pulang telah tiba.Aku menunggu dihalte bis bersama Raina.sambil menunggu bis datang aku membaca novel mengurangi rasa kebosananku dan oh ya jangan lupakan Raina,sesekali ia tersenyum melihat foto dilayar handphonenya.katanya sih oppa-oppa korea

Bis telah datang aku langsung masuk dan duduk dibagian pojok kaca jendela.yah, aku memang lebih suka melihat pemandangan.aku membaca kembali novelku.
"Ra,kamu mau masuk dulu gak ke kamarku"tanya Raina ketika kami sudah sampai.yang ternyata kamarku dan Raina bersebelahan

"Lain kali aja deh Na, aku juga belum shalat Magrib"

"ya udah aku masuk duluan"

"iya"

Aku membersihkan diriku dan mengambil air wudhu melaksanakan Shalat magrib yang sempat tertunda

...

17.Mencintaimu Dalam Diam

Raihan POV

Raihan baru saja memarkirkan mobilnya menghampiri Rizky

"Wih tumben lo kesini"ucap Rizky

"Gak boleh gitu gue kesini"jawab Raihan malas

"santai dong bro,kenapa sih"tanya Rizky

"gak papa, gue cuma mau kesini aja"bohong Raihan

Padahal ia kesini hanya ingin mengetahui kabar Zahra. Mata Raihan mulai mencari keberadaan Zahra, tapi nihil Raihan tidak juga menemukanya

Kemana Zahra?

Rizky yang mengetahui gerak gerik Raihan mengetahui maksud sahabatnya kesini

"lo nyariin Zahra?"sepertinya pertanyaan Rizky mewakili perasaan Raihan saat ini
"Zahra gak kerja disini lagi"lanjut Rizky

"Lo pecat Zahra"sontak mata Raihan menatap tajam Rizky

Pletak

"aw,kok lo jitak pala gue sih"Raihan mengusap keningnya

"lagian lo seudzon aja sama gue. Mana mungkin gue pecat Zahra"

"Terus kenapa? "

Raihan semakin penasaran,ada apa dengan Zahra?

"Zahra minggu lalu wisuda sarjana keperawatan"

"terus"

"ya dia kerja dirumah sakit lah"

Polos sekali sahabatnya itu pikir Rizky

"lo tau dimana alamat rumah sakitnya"

Rizky mengedikkan bahunya"gue gak tau"

"kok lo gak nanya sih"sungut Raihan

Ah, kalau sudah begini, bagaimana ia bisa bertemu Zahra?

"tunggu tunggu lo khawatir banget sih,apa lo suka sama Zahra"selidik Rizky

Skakmat

"gu... gue-"Raihan menggantungkan ucapanya

"haha tuhkan bener, akhirnya lo cerita juga sama gue"

Lihat sekarang sahabatnya itu malah tertawa dengan puasnya

"iya iya gue ngaku"

"lo udah move on dari Angel"celetuk Rizky

Mendengar nama Angel membuat Raihan terdiam.Angel adalah cinta pertama Raihan sejak SMA.gadis berambut panjang sebahu yang selalu menolongnya dari buliyan temannya.semakin hari membuat hati Raihan jatuh cinta pada kakak kelasnya itu

Hati Raihan hancur mengetahui orang yang sangat dicintainya dengan tega menghianati cintanya dan hanya mengincar hartanya saja

Kejadian itu membuat Raihan sangat terluka.Raihan sadar Allah telah menegurnya bahwa ia telah melakukan maksiat yang sudah jelas haram, Allah sangat murka bagi hambanya yang berbuat zina melalui pacaran

Raihan mengangguk"terus sekarang lo udah buka hati buat cewek lain"ucap Rizky

"iya, Zahra itu beda dia enggak seperti Angel"

"terus sekarang lo mau ngapain"

"ya gue juga gak tau,gue takut Zahra udah cinta sama cowok lain"

Rizky mengelus pundak Raihan"tenang han kalau jodoh mah gak kemana"

"oke balik lagi ke awal, Zahra gak kasih tau lo gitu rumah sakitnya dimana"

"enggak, dia pamit aja sama gue, terus katanya dia juga mau pulang kampung, ya mungkin sekarang dia udah balik"

Raihan mengembuskan nafasnya
"ya udah gue pulang dulu"pamit Raihan

Rizky terkekeh"jadi ceritanya galau nih"

Raihan menatap malas
"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

Raihan beranjak keluar memasuki mobil

Raihan masih berdiam diri, tidak menjalankan mobilnya.Raihan berfikir bagaimana ia bisa bertemu Zahra?

Seketika Raihan ingat pernah mengantarkan Zahra pulang. Kenapa ia tidak berfikir sampai kesitu?

Sontak Raihan langsung menginjak gas dan melajukan mobilnya

Tidak membutuhkan waktu lama Raihan telah sampai dikost Zahra.Raihan mengetuk pintu mengucap salam, tapi tak jua ada yang membalas salamnya.

"Mas nyariin siapa? "tanya wanita paruh baya,sepertinya pemilik kost

"Zahra kemana ya bu"jawab Ali

"oh neng Zahra udah gak disini lagi mas"

"kalau boleh tau dia tinggal dimana ya bu"

"kalau itu saya juga kurang tau "

"terima kasih bu Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

Akankah Zahra membalas cinta Raihan? Sedangkan ia mencintai Ali?

...

18.Mencintaimu Dalam Diam

Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, maka hilanglah cintaku padamu
-Imam An Nawawi-


Aku memakai kaos kaki tak lupa pula tas kecil yang selalu kubawa walau sekedar hanya berisi handphone,dompet dan Al-Quran kecil berwarna pink.aku tak perlu membawa mukena 

karena dimushola rumah sakit sudah disediakan

Aku memoleskan wajahku dengan bedak bayi dan sedikit liptin agar tidak terlihat pucat

Setelah mengecek kembali perlengkapan yang kubawa.aku mengunci kamarku, mengetuk pintu Raina yang masih tertutup Rapat. Aku dan Raina berangkat bersama karena memang 

kami syift pagi

"Assalamualaikum Na"salamku

Raina membukakan pintu
"Waalaikumsalam, masuk dulu Ra"balas Raina mempersilahkanku untuk masuk

Aku memasuki kamar Raina. terdapat banyak sekali poster BTS ataupun band korea lainya.Aku tersenyum sepertinya Raina fans berat korea?
"hehe maaf Ra, kamarku memang gini"ucap Raina
"gak papa kok"

"nah udah selesai,ayo berangkat"

*****
Aku menelusuri koridor rumah sakit setelah tadi melihat keadaan pasien yang sudah membaik

Langkahku terhenti bertepatan didepan ruangan Ali. Pintu ruangan yang sedikit terbuka membuatku dengan jelas melihat apa yang sedang dilakukan Ali

Ruangan yang bernuansa putih itu, Ali bersujud diatas sajadahnya mengahadap sang ilahi

Aku semakin kagum denganya, dikesibukanya sebagai dokter ia masih menyempatkan shalat dhuha dengan Khusyuk. Masyaallah

Rambutnya yang basah dengan air wudhu membuatku mengalihkan pandangan sesaat. Sungguh setan sangat senang mencoba menggodaku agar aku terus memandangi kaum adam satu 

ini Astagfirullah
Terdengar Ali mengucap salam cepat-cepat aku pergi dari sini sebelum Ali mengetahui keberadaanku

Sore yang mulai gelap,rintik hujan mulai membasahi bumi.Disinilah diriku terduduk dihalte bis seorang diri. karena ada urusan yang lain Raina pulang lebih dulu

Allahumma Shoyyiban Naafi'an

Aku menikmati butir-butir hujan yang jatuh membasahi
wajahku,melakukan kebiasaanku ketika turun hujan. Aku suka hujan. karena apa?
Hujan terkadang mengerti akan setiap kesedihan yang kualami.menghiburku bahwa kesedihan hanyalah sesaat.kesedihan itu akan tergantikan dengan kebahagiaan
Hujan semakin deras membuat bajuku sedikit basah.udara yang semakin dingin membuatku mengeratkan tanganku memeluk tubuhku sendiri

Aku semakin cemas karena tidak ada juga bis yang datang apalagi ini semakin gelap.
Melihat mobil putih yang berhenti didepanku,membuatku mengernyit heran.sang pemilik mobil membuka kaca
"zahra ayo masuk"ternyata pemilik mobil itu adalah Ali

Ali tak sendiri ia bersama dokter Safa. Oh allah kenapa hatiku merasa sakit melihat itu?
"ayo Zahra masuk saja hujan semakin deras"ucap Safa

"gak papa?"tanyaku tak enak hati

"iya ayo masuk,baju kamu semakin basah"balas Ali cepat

Aku mengangguk,membuka pintu belakang karena didepan sudah ada dokter Safa

Ali melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan rata-rata

"Zahra kamu tinggal dimana? "tanya Ali

"aku ngekost gak jauh dari rumah sakit, paling sekitar setengah jam"balas Zahra

Tebakan Ali benar tidak mungkin Zahra masih tinggal dikost dekat kampus karena jarak rumah sakit sangatlah jauh
"Sepertinya kalian sudah lama bertemu"tanya Safa
"Zahra itu juniorku dikampus dulu"jawab Ali

"iya dok"timpalku

Aku mengerti apa yang dirasakan dokter Safa saat ini mengenaiku dengan Ali. Sepertinya memang benar dokter Safa mencintai Ali?
"keberuntungan banget kalian kerja dirumah sakit yang sama,pasti kalian sering bertemu"ucap Safa

"tidak dok, aku bertemu dengan kak Ali baru kemarin, eh maksudnya dokter Ali"jawabku kikuk atas perkataanku sendiri

"kak saja Zahra ini diluar rumah sakit"ujar Ali

Aku mengangguk,mengalihkan pandanganku kembali ke luar kaca mobil. Melihat orang lain yang sama sepertiku tadi sedang menunggu kendaraan umum

"berhenti didepan kak"ucupku

Ali menepikan mobilnya didepan gang kost Zahra

"terima kasih kak Ali dokter Safa"ucapku
"Sama-sama"

"Assalamualaikum"salamku

"Waalaikumsalam"

*****

Nampaknya hujan tidak menampakan tanda-tanda akan berhenti. Badanku yang sudah menggigil akibat tadi kehujanan, aku mengambil selimut, menidurkan tubuhku dikasur

Bagi orang lain waktu ini sangatlah tepat untuk mudah terlelap.tapi tidak denganku, aku tidak bisa tidur walau beberapa kali memejamkan mataku

Berulang kali aku memutar balik badanku kekanan dan kiri mencari posisi yang nyaman.tapi usahaku tidak juga membuahkan hasil, akhirnya aku mengambil handphoneku membuka 

aplikasi istagram yang sudah lama tak kubuka
Kubuka vidio ceramah,aku memanglah masih cetek dalam ilmu agama, sebab dari itu aku ingin belajar mendalami apa saja yang diperintahkan Allah ataupun larangannya.tak jarang juga 

jika aku memiliki uang lebih untuk membeli buku atau mengikuti kajian.aku menyimak ajaran yang diberikan sampai habis

Kini, jariku beralih ke foto muslimah atau pun kartun yang kucari dipenelusuran,sesekali kutekan 2 kali pada layar sehingga menghasilkan tanda suka

Tanda titik merah muncul dipemberitahuanku langsung saja kubuka,terdapat akun adiba yang baru saja mengunggah satu foto bersama temanya.beralih pada foto lainya, adiba bersama 

Ali merayakan hari kelulusanya dan tak lupa adiba juga men-tag nama akun Ali

Entah dari mana aku mendapat keberanian membuka profil istagram Ali.diakunya terdapat beberapa ali mengunggah fotonya mengenakan jas dokter kebangganya

Aku terseyum, pada salah satu foto yang menarik perhatianku,Ali dengan tampang stay cool nya berada disebuah masjid dengan posisi badan menyamping, tersenyum manis menghadap 

ke kamera.sungguh senyuman yang membuat siapa saja terpesona olehnya

Jemariku semakin menelusuri foto Ali,sampai terhenti disalah satu foto Ali bersama rekan sesama dokter dan disampingnya seorang perempuan.ya, siapa lagi kalau bukan dokter 

Safa.Rasanya Ali begitu cocok dengan dokter Safa dibandingkan dengan diriku.Aku tidak tau apakah rasa cintaku akan terbalaskan atau tidak?

19.Mencintaimu Dalam Diam


Ali POV

Memakai kaos rumahan yang santai, Ali menyeruput secangkir teh hangat dimalam yang sangat dingin sambil menonton acara yang ditayangkan televisi

Hari ini banyak sekali pasien dan jadwal operasi, rasanya badanya sangat lelah

Pesan masuk dari handphonenya yang tergeletak dimeja.Ali mengambilnya yang sedari tadi tak ia buka.ia membukanya,terpampang nama Adiba adik kesayanganya

Adiba
"Assalamualaikum Abang"

Ali mulai membalas pesan Adiba

Ali
"Waalaikumsalam"

Adiba
"abang aku kangen"

Ali sudah lama tak mengunjungi keluarganya karena jadwal yang sangat padat.Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk pulang, walau ia sudah sangat rindu

Ali "abang juga kangen,bagaimana sekolah kamu?"

Adiba
"Alhamdulillah bang aku dapat peringkat satu dikelas"

Ali
"abang bangga sama kamu"

Adiba
"iya dongg siapa dulu abangnya"

Ali
"kamu ini, tapi kamu jangan sombong apa yang kamu sudah dapatkan. Berbagi ilmulah terhadap temanmu karena ilmu yang bermanfaat adalah ia yang terus mengamalkan ilmunya"

Adiba
"iya aku selalu ingat pesan abang"

Ali
"good girls.bagaimana kabar abi sama umi?"

Adiba
"Alhamdulillah mereka baik bang"

Ali
"Alhamdulillah,sebaiknya kamu tidur ini udah malam"

Adiba
"oke bang. Assalamualaikum"

Ali
"Waalaikumsalam"

Ali beranjak dari duduknya pergi ke kamar.mengambil air wudhu setelah itu ia menutup matanya, menanti hari esok
*****

Ali memasuki mobil,menaruh perlengkapan yang ia bawa dikursi belakang. Segera menginjak gas, melaju membelah jalanan yang macet walau hari masih pagi

Setelah menempuh perjalanan satu jam,Ali telah sampai.memakirkan mobilnya dengan rapi

Sepanjang Ali berjalan ke ruanganya, banyak suster ataupun pasien yang menyapanya dengan ramah. Ali hanya membalasnya dengan senyuman terbaiknya

Pukul 14:05

Ali membuka knop pintu ruang kerjanya menaruh jas dokternya ditempat yang telah disediakan
Melangkahkan kakinya menuju meja kerja, menghempaskan badanya dikursi goyang.setelah tadi ia baru saja selesai operasi yang memakan waktu kurang lebih tiga jam

tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu membuat sang empu membuka matanya yang tertutup sesaat

"masuk"ucap Ali

Ceklek

"Ali ini aku bawain makanan untuk kamu.sebagai ucapan terima kasih karena kemarin sudah mengantarkanku pulang"ucap Safa

"tidak apa aku ikhlas menolongmu"jawab Ali

"aku juga ikhlas memberi ini, terimalah pasti kamu belum makan siangkan"ucap Safa memberikan kotak makan itu kepada Ali

Ali menerima pemberian Safa.bagaimanapun Ia harus menghargai sudah memasaknya

Kemarin mobil Safa mengalami kerusakan dibengkel.ia meminta tolong kepada Ali yang sudah ada diparkiran.Sebenarnya Safa sudah memesan taksi online tetapi tidak ada taksi yang 

kosong

saat Ali baru saja keluar dari gerbang rumah sakit, ia menjumpai Zahra yang sedang duduk dihalte menunggu bis seorang diri. Baju Zahra yang semakin basah akibat guyuran hujan.Ali 

menawarkan tumpangan padanya .Zahra akhirnya mengiyakan ajakan Ali karena tidak ada bis yang datang dan ditambah sore semakin gelap.Ali beruntung setidaknya ia tidak berdua 

saja didalam mobil
"ya sudah aku pergi dulu"ucap Safa

"terima kasih"jawab Ali
Safa menganggukan kepala,membalikan badan keluar ruangan Ali

Ali mencuci tangannya di wastafel.membuka kotak makan itu dan melahapnya sampai habis

"Barang siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada malam jum'at,dia akan disinari cahaya antara dia dan kaabah"(HR. Ad-Darimi)

20.Mencintaimu Dalam Diam

Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta.lembahnya adalah cinta kepada sesama??

Selesai shalat subuh.Aku membersihkan kamar kostku yang sedikit kotor.ku mulai mengerjakanya di mulai dari menyapu lantai di lanjutkan mengepel agar terlihat bersih dan wangi. 

Setelah itu mencuci baju yang sudah menumpuk beberapa hari ini,karena aku harus pergi kerumah sakit datang tepat waktu dan pulang sore

Aku menghempaskan tubuhku dikasur,keringat sudah mengalir dengan sendirinya.menutup mata sejenak untuk memulihkan kemabali otot-ototku yang sangat pegal ini

Merasa sudah enakan.aku membersihkan badanku agar terlihat segar kembali

Aku memakai gamis merah maroon dengan perpaduan motif garis-garis dibagian bawahnya dan tak pula khimar yang senada. karena hari ini ada kajian di masjid Al-Azhar,aku 

memutuskan pergi kesana. toh, hari ini aku syift sore,jadi bisa mengisi waktu luangku

Lima menit sudah cukup bagiku untuk mempersiapkan diri. Aku menyambar sling bag yang berada dimeja belajar lalu tak lupa mengunci pintu

"Assalamualaikum Ra"salam Raina yang baru saja keluar,memakai gamis berwarna biru
"Waalaikumsalam,masyaallah kamu cantik sekali Na"balasku tersenyum

Ya, aku pergi tak sendiri melainkan bersama Raina

Raina tersipu malu"ah Ra aku jadi malu kan hehe.kamu juga cantik"jawab Raina

Aku terkekeh"ya sudah kita berangkat sekarang nanti telat lagi"Raina mengangguk

Tidak membutuhkan waktu lama sampailah kami dimasjid.kajian ini hanyalah dikhususkan untuk muslimah saja. ramai sekali yang datang memenuhi ruangan,aku duduk dibagian baris 

ke dua.

"Assalamualaikum sahabat hijrah"salam ustadzah

"Waalaikumsalam"serempak seisi ruangan menjawab salam

"kali ini saya akan membahas tentang kebanyakan orang orang yang rasakan saat ini yaitu CINTA DALAM DIAM. apa itu cinta dalam diam?"

Cinta dalam diam adalah sebuah perasaan yang dipendam dan tak ingin diungkapkan dengan orangnya secara langsung namun selalu menjadi isi di dalam do'a disetiap sujud kita 

dihadapaNya. Cinta adalah fitrah, karunia Allah yang diberikan kepada setiap manusia, baik itu cinta kepada lawan jenis, sesama mahluk-Nya dan yang pasti cinta hamba pada Tuhan-

Nya yang memberi rasa cinta ini

Tetapi,ada juga yang jatuh cinta dalam diam namun masih suka memberi KODE secara langsung kepada cintanya tersebut, contohnya di instagram,kita mendapatkan quotes tentang 

CINTA-CINTAAN langsung menandai (mention atau tag) di komentar anda postingan tersebut. Sekali lagi, cinta dalam diam "tidak boleh diungkapkan kepada orangnya secara langsung"

Jadi harus bagaimana sahabat? Mau cinta dalam diamnya peka kepadanya inilah yang menjadi penyakit dari yang merasakanya. Cinta dalam diam itu tidak boleh sekali-sekali melakukan 

hal seperti itu, apalagi saling melemparkan perhatian.
Bukannya perhatian karena memang ia meminta tolong tapi pertolongan karena ada maunya akhirnya zina hati pun terjadi.Allah mengetahui segala bentuk niat kita sahabat, motivasi 

karena dia dan niatnya karena apa? dia juga? hanya manusia? HATI-HATI!
Ada sebuah kisah di Zaman Rasulullah SAW dari sahabat Ali dan Fatimah,keduanya saling memendam rasa suka antara mereka.Tetapi Allah mempersatukan mereka dan 

mempertemukan mereka dalam ikatan suci nan indah atas kehendak-Nya. Karena dalam diam itulah tersimpan kekuatan, kekuatan dalam sebuah harapan, mungkin saja Allah akan 

membuat harapan itu menjadi nyata hingga cinta dalam diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata. Bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap 

kepada-Nya


Aku pasti akan...
Karena diam adalah cara mencintai karenaNya,berharap hal itu lebih memelihara kesucian hati kita dan hati setelahnya. Dan jika memang mencintainya dalam diam itu tak memiliki 

kesempatan untuk berbicara didunia nyata, biarkan ia tetap diam. Jika diam memang bukan milik kita, Allah akan menghapus 'cinta dalam diam' itu dengan memberi rasa yang lebih 

indah dan orang yang tepat. Seiring berjalanya waktu,biarkan mencintai dalam diam kita menjadi memori tersendiri di sudut hati ini, menjadi rahasia antara kita dengan sang pemilik hati, 

Allah SWT.
Kita harus belajar mencintainya dalam diam dengan keimanan. Berharap agar dapat menjaga rasa malu kita dan memelihara kesucian hatinya.inilah cara kita mencintainya 

karenaNya,diam dan tak pernah terucap. Hingga diujung lidah kita bahkan tak pernah terlukiskan oleh aktifitas yang dapat mereka lihat.Berharap menjadi Fatimah yang tak pernah 

sekalipun mengungkapkan.
Dan membawanya menjadi Ali bin Abi Thalib yang tak pernah sekalipun mengecewakan apalagi menduakan

Diam, cukup diam dan do'akan namun jangan berlebihan dalam berharap. Kerena ketika harapan tak terwujud sanggupkah kita merasakan patah hati karena cinta? Bukan hanya putus 

cinta dengan pacar yang mengakibatkan patah hati namun cinta dalam diam juga dan justru lebih sakit dari sekedar patah hati.
Jangan risau, alangkah baiknya jika do'a itu diiringi dengan proses memperbaiki diri dijalanNya. Supaya kenapa? Saat memang Allah tak berkata YA atas do'a kita namun Allah memberi 

yang lebih baik dari isi do'a kita tak menimbulkan kekecewaaan justru bersyukur atas kehendakNya"

(dikutip dari google:")

"semoga kita tetap senatiasa memperbaiki diri ini dijalan Allah karena "wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang 
keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) "(QS. An-Nur[24] ayat 26)"
ucap ustadzah

Astagfirullah...Astagfirullah

Tak terasa air mataku mengalir begitu saja mendengarkan betapa selama ini ku berharap lebih kepada mahluk-Nya

"Ra, kamu kenapa"ucap Raina

Aku segera menghapus jejak air mataku,aku tak ingin Raina mengatahui ini semua
"aku gak papa Na"jawabku tersenyum
Raina mendekatkan wajahnya "beneran Ra, itu kok mata kamu kaya baru saja nangis"

"ah,ini aku kelilipan tadi"elakku

Ya Allah maafkan aku berbohong batinku

"tapi beneran kamu gak papa ? "tanya Raina sekian kalinya

"iya Raina"jawabku gemas

Raina tertawa"ya udah kita pulang yuk, acara juga udah selesai"

"ayo"jawabku

Aku melangkahkan kaki keluar dari masjid yang sudah terlihat sepi,selama itukah aku melamun sampai-sampai tidak menyadari orang-orang disekitarku sudah tak ada

Aku dan Raina menunggu dihalte dan tak lama bis pun datang. Aku memutuskan untuk pulang karena waktu sudah menunjukan pukul 14.30

"Ra nanti barangkatnya bareng ya"ucap Raina ketika kita sudah sampai didepan pintu

"oke"jawabku dengan tangan membentuk huruf 'O'

Ku taruh tas dan membuka kaus kaki yang membalut menutupi auratku

Diriwayatkan dari'Aisyah Radhiallahu'anha, beliau berkata, "Asma binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Shallahu'alaihi Wasallam dengan memakai pakaian yang tipis.

Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, 

"Wahai Asma', sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh),tidak boleh terlihat 
dari dirinya kecuali ini dan ini",beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tanganya.
(HR. Abu Daud 4140 Dalam Al Irwa [6/203])

Aku memasuki kamar mandi ketika baru saja keluar,azan asar berkumandang lantas aku pun menggelar sajadah menunaikan kewajibanku

"ya Allah maafkan aku selama ini berharap lebih kepada mahlukmu hingga kau cemburu. Sungguh ya Allah jika memang ia bukan jodohku, hilangkan rasa ini, lupakan akan sosok 

dirinya dan jika dia memang jodohku yang kau tetapkan untukku dekatkan kami pada ikatan yang halal,hingga tak ada lagi dosa. Aku tau ya Allah betapa diri ini menginginkan sosoknya 

yang akan menjadi pelengkap imanku.rasa kagum yang semakin bersarang dihati ini membuatku terkadang lupa pada siapa sang pemilik hati itu sendiri. Aku takut ya Allah jika rasa ini 

nanti menghadirkan luka yang amat mendalam.kini kupasrahkan rasa ini kepadamu karena kau lah maha mengetahui segalanya didunia ini, termasuk cintaku kepada Ali yang tak tau 

apakah dia juga memendam perasaan padaku.jadikanlah diri menjadi wanita yang lebih baik lagi dan tetap istiqomahkan aku dijalanmu ya Rabb"

Deras sudah air mataku membasahi mukena yang kukenakan.cukup lama aku masih terduduk diatas sajadah

Tok...tok... tok...
Cepat-cepat ku lipat alat shalat lalu menaruhnya kembali ke tempat semula.ah, aku lupa bahwa harus ke rumah sakit

Aku membuka pintu yang ternyata Raina yang sudah siap dengan pakainya

"Assalamualaikum Ra"salam Raina

"Waalaikumsalam,masuk dulu Na"jawabku

"kamu tumben lama Ra,biasanya kamu yang udah siap duluan"ucap Raina

Aku merasa bersalah,tadinya aku sudah janji,ini malah sebaliknya

"maaf ya Na"ucapku meminta maaf

"santai aja kali Ra, toh kamu juga sering nungguin aku kalau lama hehe"jawab Raina

Aku tersenyum"makasih Na"

"ya udah kamu siap-siap"

Aku mengangguk,mulai mengemaskan barang apa saja yang ku bawa.merapikan jilbaku yang sedikit berantakan

"aku udah siap, ayo"ucapku menghampiri Raina yang sedang memainkan benda pipih ditanganya

Raina menganggukan kepala ,memasukan ponselnya ke saku celanya

Membutuhkan waktu setengah jam sampailah kami. Aku langsung masuk bergegas mengambil apa yang sudah menjadi tugasku


21.Mencintaimu Dalam Diam

"Ra kamu pesan apa? "tanya
"eumm aku mie ayam sama jus jeruk aja deh Na"

"oke tunggu bentar ya"

Sambil menunggu Raina aku memainkan handphone ternyata ada pesan wattapp dari umi akupun langsung membalasnya
"Assalamualaikum Zahra"

Aku pun mendongak siapa si pemilik suara

"eh dokter Ali,
Waalaikumsalam"jawabku

"saya boleh duduk disini"ucap Ali

Ali bicara formal

"silahkan dok"

jantungku semakin berdetak lebih cepat,berhadapan denganya rasanya membuat jantung ini terasa ingin copot dari tempatnya

"eumm aku boleh minta tolong? "tanya Ali

"minta tolong apa dok"jawabku

Jangankan meminta tolong,jadi istrimu saja aku mau eh

"jadi gini saya mau beliin gamis buat Adiba tapi saya bingung bagaimana kesukaanya,apa kamu bisa bantu? "

Bingung. Apakah aku harus mengiyakan atau tidak?
"a..aku bisa bantu"ucapku gugup

"apa kamu tidak keberatan, kalau pun iya tidak papa biar saya saja"

"tidak sama sekali dok"

"terima kasih, nanti malam saya jemput kamu"

"I... Iya dok"

"ya sudah saya permisi,Assalamualaikum"salam Ali

"Waalaikumsalam"jawabku

Tidak lama kemudian Raina datang membawa makanan

"Ra tadi dokter Ali kesini?"tanya Raina

"iya"jawabku

"ciee, cerita dong tadi kalian ngomong apa"

"enggak ada apa-apa kok"elakku

Kenapa pipiku semakin memanas

Raina tertawa"tapi kok pipi kamu merah gitu"goda Raina

aku pun memegang kedua pipiku
"ih Raina udah ah ayo makan"

"Ra"

"hmm"
Aku masih setia memasukan makanan ke mulut

"kamu sama dokter Ali ada hubungan apa? "celetuk Raina

Uhuk

"aduh Ra, maaf-maaf ini minum dulu"dengan cepat Raina memberikan minum

"ak... aku gak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas teman"jawabku terbata

"teman? berarti kamu udah kenal lama dong? "

"iya"singkat padat dan jelas

"apa Ra!"teriak Raina
Aku langsung membekap mulutnya

"ish Na ngomongnya jangan teriak-teriak"

"abisnya aku kaget aja,secara dokter Ali itu tipe cowok yang sikapnya dingin dan cuek, dan oh ya jangan lupakan lagi dia selalu memasang muka datar, ya aku akui emang dia tampan 

sih"ucap Raina panjang kali lebar

Aku hanya bisa tertawa sepertinya Raina cocok menjadi Detektif

"ih kok kamu malah ketawa sih"jawab Raina memanyunkan bibirnya

"abisnya kamu lucu"
"emang aku lucu, cantik,baik dan tidak sombong"
"kepedean kamu,udah makan lagi"
Kami melanjutkan acara makan yang tertunda
*****
Seusai shalat magrib aku mengganti bajuku dengan gamis berwarna hijau sederhana tapi tetap elegan
tok... tok... tok...
"Assalamualaikum"salam Ali
"Waalaikumsalam"balasku
"apa kau sudah siap? "aku mengangguk
"eh dokter Ali"ujar Raina yang baru saja keluar
Kalian tidak lupakan kalau kamar mereka bersebelahan?
"iya"
"dokter mau kemana sama Zahra"tanya Raina melirik kepadaku meminta jawaban
"kami mau pergi, kamu?"
"oh saya mau ke mall dok"
"kebetulan kita satu tujuan,kalau begitu bareng saja,lagian kita cuma berdua"
"apa tidak merepotkan dok"
"tentu tidak"
"terima kasih dok"
Ali mengangguk,lalu kami memasuki mobil berwarna putih itu, aku duduk didepan dan Raina duduk dikursi penumpang
Tidak membutuhkan waktu lama sampailah kami dipusat perbelanjaan
"saya mau ke toilet dulu, kalian tunggu sebentar disini"ucap Ali
"iya dok"ucapku dan Raina
"oh jadi ini alasan kamu nolak ajakan aku tadi sore"ujar Raina setelah punggung Ali menghilang
"iya Na,aku hanya membantu kak Ali untuk membelikan gamis adiknya"jawabku
"haha manggilnya kak Ali lagi"
"ih apa sih Na"
"kamu udah kenal sama keluarganya, lampu hijau udah nyala tuh"Raina masih tetap saja tertawa
Apa iya?
"seterah kamu deh"
"eh tapi aku gak nyangka ya aslinya dokter Ali sikapnya gak cuek banget.apa mungkin dirumah sakit aja ya?"
"kamu sih seudzon mulu sama orang"
"hehe maaf deh Ra"
Terlihatlah Ali menghampiri kami
"ayo"ucap Ali
"maaf dok kayaknya kita sampai sini deh, soalnya saya mau ke arah sana"jawab Raina
karena memang toko yang akan kita datangi beda arah1
"oh jadi gitu, ya sudah.tapi nanti ketemuan disini lagi ya "balas Ali
"oke dokter,
Assalamualaikum"salam Raina
"Waalaikumsalam"
Namun belum saja pergi Raina melirik jahil padaku
Ah, aku tau sekarang? dasar Raina
"ayo Zahra"ucap Ali
"eh iya kak"jawabku
Sepanjang kami berjalan pasang mata mulai memandangi kami dan belum banyak lagi orang dengan terang-terangnya berbicara yang tidak-tidak
Ih itu siapa sih sama cowok ganteng itu
sok cantik banget
"jangan didengerin Zahra"ucap Ali
"iya kak"jawabku

Masuklah kami ditoko yang menjual baju-baju muslimah

Aku mulai mencari model gamis yang cocok untuk Adiba. Mataku tertuju pada gamis berwarna navy dengan perpaduan cream ditengahnya

 Mataku tertuju pada gamis berwarna navy dengan perpaduan cream ditengahnya
(kira-kira seperti ini)

"kak bagaimana kalau yang ini? "tanyaku memperlihatkanya pada Ali

"bagus, ya sudah kita ambil yang ini"aku mengangguk

"Zahra ini buat kamu"ucap Ali

Ali memberikan gamis berwarna pink dengan motif warna hitam ditengahnya

Ali memberikan gamis berwarna pink dengan motif warna hitam ditengahnya
(kira-kira seperti ini)

"tidak usah kak"jawabku menolak

"ambil saja, saya tau kamu suka warna pink kan"tebak Ali

Aku terdiam. Bagaimana bisa Ali tahu kalau aku suka warna pink?

"saya tau apa yang sedang kamu pikirkan, saya hanya melihat kamu sering memakai gamis berwarna pink"

Sudah kupastikan pipiku sekarang memerah bak kepiting rebus

"ini hanya ucapan terima kasih karena kamu sudah membantu saya"lanjutnya

"aku ikhlas membantu kak Ali. Gamis yang kakak beri waktu kuliah pun itu sudah lebih dari cukup"jawabku

"saya juga ikhlas memberi ini,tolong terimalah"ucap Ali memohon

Aku menerimanya dari tangan Ali"terima kasih kak"

"sama-sama"Ali tersenyum

Aku dan Ali berjalan menuju ke kasir

"ini mbak"ucap Ali menyodorkan dua buah gamis

"semuanya 550.000 ribu mas"jawab pelayan kasir

"ini"Ali memberikan uang seratus ribu,enam lembar

"kalian pasangan yang serasi, masnya ganteng, mbaknya juga cantik"ucap pelayan kasir

"semoga kalian cepat nikah yah"lanjutnya

"kami buk-"

"terima kasih mbak, doakan saja"potong Ali1

Deg

Apa? Aku gak salah dengerkan? Ali bicara seperti itu? Apa Ali mencintaiku?

Aku menggeleng kuat. Ah tidak-tidak mungkin Ali hanya salah bicara

"kamu kenapa Zahra"ujar Ali

Aku terpaku.menyadari kelakuanku

"eng... enggak papa kak"jawabku terbata

"kita tunggu dibangku itu saja"aku mengangguk

Hening

Ya, itulah yang terjadi saat ini.sedari tadi aku terus menahan gugup kerena baru kali ini aku berbelanja berdua saja dengan Ali dan jangan lupakan detak jantung yang terus saja 

memompa lebih cepat dua kali lipat. Apalagi duduk bersebelahan denganya dengan pipi yang bersemu merah membuatku rasanya ingin menyembunyikan wajahku dibantal.

Ah sudahlah
"Assalamualaikum"salam Raina membawa paper bag ditanganya

"Waalaikumsalam"balasku dan Ali

"maaf aku lama ya"ucap Raina

"tidak kami baru saja,kita kembali ke mobil."Jawab Ali

Aku dan Raina membuntuti Ali dari belakang

Sampai diparkiran kami langsung masuk. Membelah jalanan yang selalu macet,tidak sedikitpun berkurang. walau malam sudah hampir larut

Mobil terhenti diperkarangan kost

"dokter Ali sudah genteng, sholeh,baik pula.terima kasih ya dok"

Suara itu bukan berasal dariku tapi Raina. Raina orangnya memang begitu suka ceplas-ceplos

"iya sama-sama"jawab Ali

"terima kasih ya kak Ali,hati-hati dijalan"ucapku

Ali mengangguk
"saya pamit, Assalamualaikum"salam Ali

"Waalaikumsalam"Jawab kami

"Ra pasti kamu seneng banget ya, jarang-jarang loh dokter Ali sedeket itu sama cewek, aku gak pernah tuh lihat Ali jalan sama perempuan selain kamu"

"lebay deh"

"yee dibilangin juga"

Apa benar? Apakah selama ini Ali tidak pernah jalan dengan dokter Safa?
"udah ayo masuk"

"jangan kebawa mimpi ya Ra"Raina bermaksud menggoda Zahra

"ih kamu ini enggak lah"ucapku malu

"yakin? Tapi kok pipi kamu masih aja merah sih"jawab Raina tertawa kerena berhasil menggoda Zahra

"Raina!!"finalku

Raina langsung saja masuk
Aku melihat wajahku dicermin.pipi ini selalu saja bersemu merah jika bertemu Ali.semoga saja Ali tidak melihat ini

Aku membersihkan badanku,mengganti gamisku dengan baju tidur.tadi diperjalanan kami sudah shalat isya dimasjid

*****

"suster Zahra"

Aku yang sedang berjalan mendadak menghentikan langkahku kala mendengar namaku dipanggil seseorang.ku membalikan badanku

"Dokter Safa,ada apa yang dok? "tanyaku

"bisa kita bicara sebentar"ucap dokter Safa

"dokter mau bicara apa? "

Tumben sekali dokter Safa menemuiku

"tidak disini,ikut aku"

Aku mengikuti langkahnya dan Duduk dikursi panjang yang ada ditaman
"Ra, aku boleh nanya sesuatu?"tanya dokter Safa

"tanyakan saja dok"jawabku

"apa kamu mencintai Ali?"

Deg

Lidahku rasanya kelu untuk menjawab itu semua.tapi aku tak mungkin memberitahu perasaaanku kepada dokter Safa. Aku takut menyakiti hatinya

"kemarin aku melihat kamu dan Ali dikantin"

Ya Allah, jadi dokter Safa melihat itu semua

"ak...aku"ucapku terbata

"jujur Ra aku sangat mencintai Ali,sejak pertama kali kita bekerja bersama rasa itu muncul sampai sekarang"

"aku tau kamu lebih dulu mengenal Ali sejak lama dibandingkan diriku. Aku mohon Ra bantu aku mengutarakan perasaanku"

"aku-"

Suara dering handphone milik dokter Safa menghentikan ucapanku

"baik aku akan kesana"ucap dokter Safa menutup panggilanya

"aku pergi dulu Ra, ada operasi"

"iya dok"

Jadi selama ini dugaanku benar dokter Safa juga mencintai Ali

Oh Allah, apa yang harus ku lakukan? apa aku harus membantunya? tapi disisi lain hati ini sakit ya Allah. Aku tidak sanggup bila nanti melihatnya tanpa mereka sadari hati ini menahan 

sakit

Apa aku egois?

Aku mengusap air mataku beranjak pergi ke kamar mandi.membasuh wajahku diwastafel agar tak terlihat seperti orang menangis

22.Mencintaimu Dalam Diam

Kamu adalah wanita yang selalu kusebut dalam doa
~Muhammad Ali Ibrahim~


Ali POV

Pukul 10.15

Ali memarkirkan mobilnya diperkarangan rumah bercat putih dengan taman yang cukup luas membuat siapa saja ingin menghabiskan waktu kosongnya disana

Ali mengetuk pintu yang sudah lama tak ia kunjungi karena kesibukanya bekerja

Terlihatlah seorang gadis berparas cantik nan anggun, membukakan pintu

"Aaa bang Ali"Adiba berhambur memeluk abangnya

"Assalamualaikum,adik abang"Ali mengelus pucuk kepala Adiba yang tertutup jilbab

"Waalaikumsalam"jawab Adiba mengerucutkan bibirnya

"loh kok adik abang ini manyun sih katanya kangen,ini abang udah didepan mata loh"

"abisnya abang pulang enggak bilang-bilang, kalau tau kan aku bisa buat sesuatu buat abang"

"kamu ada disini aja abang udah seneng"

Adiba kembali memeluk abangnya.abangnya ini selalu saja bisa mencairkan suasana

"ya udah bang masuk"

Ali memasuki rumah orang tuanya yang diridukan

"ya Allah Ali"umi yang baru saja keluar dari dapur menghentikan langkahnya terkejut melihat anak pertamanya pulang

"Assalamualaikum umi"salam Ali mencium punggung tangan uminya

"Waalaikumsalam"jawab umi seraya memeluk Ali

"kamu pulang enggak beritahu umi"tanya umi

"maaf umi, Ali enggak sempet ngabarin umi"balas Ali

"ya sudah gak papa.yang penting kamu pulang dengan selamat"

"oh iya umi, abi mana?"

"oh itu abi lagi dimasjid ngisi pengajian"

Abinya Ali memanglah seorang ustad
"sekarang mending kamu makan,kebetulan umi masakin makanan kesukaan kamu"

Umi langsung saja memegang tangan Ali menuju meja makan

"ini kamu makan yang banyak, pasti kamu lelah menempuh perjalan yang lama"umi menyedokan nasi dan opor ayam kesukaan Ali

"makasih umi"Ali memasukan makanan kemulut yang sudah lama ini ia tak makan masakan uminya yang sangat enak

"Adiba dilupain nih mi"ucap Adiba
"sayang abangmu ini jarang dirumah loh"jawab umi

"iya deh mi,bang mana oleh-olehnya?"tanya Adiba menjulurkan tanganya layaknya anak kecil meminta permen

"emang adek nitip oleh-oleh?"tanya Ali selesai makan,berniat menjahili Adiba

"ih abang masa gak dibeliin sih"Adiba memanyunkan bibirnya

"iya tenang abang bawa"

"yeayy mana bang"mata Adiba berbinar

"tuh disofa"

Tanpa ba bi bu Adiba langsung saja pergi. Umi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat anaknya

"mi abang mau nyusulin Adiba dulu"ucap Ali
"ya sudah, nanti adikmu ngambek lagi"jawab umi

Ali menyusuli Adiba yang sibuk membuka paper bag yang dibawa Ali

"sangat cantik"balas Ali

"makasih bang"Adiba memeluk Ali

"Sama-sama"

"eh iya aku mau nanya, kok abang bisa beliin gamis kesukaan aku.padahal kan abang enggak tau"tanya Adiba menyipitkan matanya

"i... itu... a...nu"jawab Ali terbata

Kenapa Adiba harus nanya sih?
"anu apa bang?"Adiba semakin menyipitkan matanya

"itu Zahra yang bantuin abang milih gamis"lirih Ali

"hah? Apa? ciee abang jalan berdua sama kak Zahra"Adiba tertawa berhasil menyahili abangnya

"abang bertiga sama temanya Zahra"

"oh"Adiba mengangguk-anggukan kepalanya

"abang bisa ketemu kak Zahra dimana? "lanjut Adiba

"Zahra satu rumah sakit sama abang"

"berarti nanti aku bisa ketemu kak Zahra dong"

"iya"

"Assalamualaikum"salam Abi yang baru saja masuk

"Waalaikumsalam"jawab Ali dan Adiba mencium punggung tangan Abi

"Ali kamu kapan pulang?"tanya Abi

"baru saja bi"balas Ali

"bagaimana dengan pekerjaan kamu?"

"Alhamdulillah bi lancar"

"Alhamdulillah kalau gitu"

Umi menghampiri Abi, Ali,dan Adiba sedang mengobrol diruang televisi

"Semuanya ini umi bawa cemilan, yuk ketaman"

"oke umi. umi baik banget deh jadi makin sayang"ucap Adiba bergelut manja

"kamu ini udah besar masih aja kaya anak kecil"jawab umi

"ish umi aku kan masih SMA,masih imut lagi.iya kan bang?"tanya Adiba pada Ali yang berdiri disampingnya

"kata siapa?"jawab Ali

"ih umii"ucap Adiba mengadu ke umi

"udah-udah kalian ini, masih saja berantem"Ali dan Adiba hanya cengar-cengir saja

Taman dengan udara sejuk bertaburan bunga yang jatuh persatu dengan dua ayunan tempat ia bermain dengan Adiba sewaktu kecil

"bang kamu menginap disinikan? "tanya umi

"iya umi,tapi besok abang harus pulang"jawab Ali

Umi menganggukan kepala. Ia sangat mengerti profesi anaknya sebagai dokter

"bang umi mau nanya boleh?"

"aku ini anak umi.umi boleh bertanya apapun itu"

"umi ini sudah tua.umi pengen gendong cucu.apa abang sudah mempunyai calon istri? "

Jleb

Pertanyaan yang sukses membuat Ali menegang.calon istri?
"umur abang juga sudah pantas untuk mengemban rumah tangga.abang sudah mempunyai pekerjaan dan rumah.satu yang belum"jeda Abi"tinggal menyempurnakan imanmu"lanjut Abi

"sebenarnya ada seorang wanita yang abang sebut dalam doa. Tapi abang belum memberitahukan perasaan abang padanya"jawab Ali

"apa abang sudah memantapkan wanita itu menjadi calon istri abang?"tanya umi


"insyaallah mi kalau Allah berkehendak dia menjadi jodoh abang"

"Aamiin"

******

"dek bantuin umi taruh makanan ini dimeja makan ya"ucap umi

"siap umi"jawab Adiba

Adiba menata makanan dimeja dengan rapi

"Assalamualaikum umi"salam Ali yang baru saja masuk selepas shalat isya

"Waalaikumsalam"jawab umi dan Adiba

"abi mana bang? "tanya Adiba

"itu abi didepan lagi ngobrol bentar"jawab Ali

"Assalamualaikum semuanya"salam Abi

"Waalaikumsalam, nah itu Abi"ucap Adiba

"Ayo ini udah siap makananya"ucap umi membawa piring berisi lauk pauk

"iya mi"

Mereka makan seperti ajaran nabi Muhammad shallallahu'Alaihi Wa Sallam

"abang berangkat jam berapa besok? "tanya umi sesudah semua selesai makan

"jam enam mi,soalnya abang jam sepuluh ada jadwal operasi"

"yah,padahal aku masih kangen"ucap Adiba yang duduk disamping Ali

"maaf ya dek,abang enggak bisa ninggalin pasien"jawab Ali mengelus rambut Adiba yang tak tertutup jilbab

"Adiba kamu harus ngertiin abang kamu"nasihat umi

"iya umi"

"mi abang ke kamar dulu ya"ucap Ali dibalas anggukan oleh umi

Ali memasuki kamarnya.menaruh peci ditempat yang sudah disediakan lalu ia mengganti pakaiannya dengan baju berlengan pendek. Ia tak perlu membawa baju salinan dari rumah 

barunya karena ia memang sengaja tidak membawa pakaianya semua

Tok... tok... tok...

"bang aku masuk ya"ucap Adiba dibalik pintu

"masuk aja dek, gak dikunci"jawab Ali setengah berteriak

Ceklek

Adiba menghampiri Ali yang sedang duduk ditepi kasur

"Ada apa dek? "tanya Ali melihat raut wajah Adiba tidak biasa

"abang pernah suka gak sama seseorang waktu abang masih menempuh pendidikan?"tanya Adiba

"pernah"singkat Ali

"terus apa yang abang lakuin"

"kamu lagi suka sama seseorang? "

"i... iya bang"

"sama siapa? "

"dia ketua rohis disekolah"

"oh"Ali hanya ber'oh'ria

"jawab dulu pertanyaan aku"

"yang mana? "

"yang itu tadi, apa yang abang lakuin?"

"kamu tau kisah tentang Sayidah Fatimah Azzahra yang mencintai Sayyidina Ali dalam diam?"Adiba mengangguk

"jadilah seperti layaknya Fatimah Az-zahra yang memendam rasa cintanya tanpa Ali ketahui.sampai Allah mempersatukan dua insan yang saling mencintai itu dengan ikatan yang 

halal.bukan dengan cara yang salah misalnya dengan berpacaran.Allah tidak suka bagi hambanya yang melakukan Zina yang sudah jelas haram.tidak ada pacaran Syar'i dalam 

islam,kerena pacaran banyak mendekati zina contohnya berpegangan tangan, menatapnya dan masih banyak lagi.

"Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk"(QS. Al-Isra:32) 

adek paham? "

"paham bang"

"ya sudah sekarang kamu tidur gih"

"makasih ya bang udah nasihatin aku"Adiba memeluk Ali

"itu udah kewajiban abang dek, supaya kamu tidak mengambil jalan yang salah"

"iya bang,aku ke kamar dulu"Ali mengangguk

Adiba berjalan keluar menutup pintu

Sebelum Ali tidur, ia pergi ke kamar mandi mengambil air wudhu setelah itu menidurkan tubuhnya dikasur king size

*****

Ali terbangun dari tidurnya melihat jam menunjukan pukul setengah lima. Ia beranjak pergi ke kamar mandi.hanya lima menit saja Ali keluar kamar mandi lalu ia memakai sarung dan 

tak lupa pula peci dikepalanya menambah kadar ketampannya itu.
Ali menghampiri Abinya yang sudah menunggu didepan

Cahaya matahari mulai menerangi bumi dengan perlahan.tepat pukul setengah enam Ali telah sampai dirumah selepas pergi ke masjid

"Assalamualaikum"salam Ali mencium punggung tangan uminya

"Waalaikumsalam"jawab umi

"mi abang ke kamar dulu mau mengambil barang"dibalas anggukan umi

Ali mengambil kunci mobil dan perlengkapan yang ia bawa kemarin. Ia menuruni anak tangga satu persatu menghampiri orang tuanya

"abi,umi.abang pamit dulu"pamit Ali

"hati-hati dijalan jangan bawa mobil ngebut-ngebut"pesan umi memeluk erat Ali

"iya mi"

Ali menghampiri Adiba yang sedari tadi berdiam diri ditempat

"dek,abang pamit ya"Adiba tidak menjawab melainkan ia langsung berhambur memeluk abangnya

"abang hati-hati ya disana"ucap Adiba dengan air mata yang sudah mengalir dipipi mulusnya

"dek kok nangis sih"Ali mengusap air mata Adiba

"aku sedih bang"

"abang masih dijakarta dek enggak jauh.udah jangan nangis lagi"

Sedari kecil memang Adiba selalu saja menangis jika abangnya pergi.bagi adiba abangnya selalu jadi pelindung dan pendengar yang baik.maka dari itu ia merasa sedih ditinggal pergi 

dengan salah satu orang kesayanganya. Padahal jarak rumah orang tuanya dengan rumah Ali hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam saja memakai mobil.yah begitulah Adiba

"Assalamualaikum"salam Ali

"Waalaikumsalam"jawab semuanya

Ali memasuki mobil,menjalankan mobilnya meninggalkan perkarangan rumah
Sampailah Ali dirumah sakit setelah ia pulang terlebih dahulu ke rumahnya menaruh barang dan mengambil jas dokternya. padahal waktu masih menunjukan jam sembilan. Ia lebih 

memilih beristirahat saja diruanganya sembari menunggu jadwal operasi dimulai


***
23.Mencintaimu Dalam Diam


Salah satu cinta yang paling murni ialah ketika seseorang mendoakanmu tanpa kau mengetahuinya??

Mengikhlaskanmu adalah caraku untuk melupakanmu
~Zahra

Disaat mencintai seseorang,kita pernah berharap bahwa orang tersebut juga mencintai kita.segala hal dalam dirinya, mulai dari senyumanya,memandangnya dari jauh,dan ketaatanya .dari situlah harapan mulai muncul,bahwa suatu saat nanti,menghabiskan waktu bersamanya dimasa depan.

Aku menghembuskan nafasku pelan, mencoba menstabilkan detak jantung ini.ku buka pintu ruangan Ali dengan perlahan
"Assalamuala-"salamku terhenti melihat adegan yang tak ingin kulihat

"Zahra"sontak Ali langsung melepaskan dokter Safa yang memeluknya

"Zahra ini salah paham"ucap Ali ingin menghampiriku

"maaf dok saya mengganggu, Assalamualaikum"

Langsung saja aku keluar dari ruangan Ali.aku tak bisa berlama-lama melihat itu semua. ku berbalik badan ingin pergi,tempat dimana bisa menenangkan diri ini

Air mata yang kutahan kini tak bisa kubendung lagi.melihat itu hati ini rasanya sangat sakit. Sekarang aku menyadari sesuatu, aku merasakan pahitnya sebuah pengharapan pada menusia

"ketika dirimu terlalu berharap kepada seseorang,maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain dia.Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya"
(Imam. Syafi'i)

Aku berjalan dengan sangat cepat dan tanpa sengaja menabrak seorang pria mengenai dada bidangnya
"maaf saya tidak sengaja"ucapku menunduk tanpa melihat orang yang kutabrak

"Zahra"jawab pria itu

Aku mendongakan kepalaku melihat siapa pria itu,ternyata dia adalah Raihan

"kamu kenapa menangis"tanya Raihan
"aku tidak papa, permisi"jawabku berlalu pergi

Aku tak ingin orang lain mengatahui ini, cukup aku dan Allah saja

Aku terduduk ditaman rumah sakit, disinilah aku bisa menenangkan pikiranku dan juga hatiku

"Ya Allah maafkan diri ini. Aku terlalu terlena akan kataatan laki-laki itu, sampai-sampai kau cemburu dengan makhlukmu"batinku

"Assalamualaikum,Zahra"salamnya

Cepat-cepat aku menghapus air mataku.walau tak kuyakini air mata ini masih bisa ku bendung atau tidak

"Waalaikumsalam"jawabku

Aku mencoba bersikap denganya biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa
"kamu beneran tidak papa"tanya Raihan

"iya"singkatku

"saya tidak menyangka kamu menjadi perawat dirumah sakit ini"ucap Raihan

Aku mengangguk"Pak Raihan ngapain disini? "tanyaku

Raihan yang mendengar Zahra memanggilnya dengan sebutan pak mencoba memahaminya

"Saya mengantar nenek saya untuk berobat"jawab Raihan

"semoga nenek pak Raihan cepat sembuh"

"Aamiin"

"Zahra saya ingin menanyakan sesuatu padamu"

"apa saat ini ada seorang pria yang kau sebut dalam doa? "

"maksudnya? "

Aku melihatnya sesaat, lalu mengalihkan kembali pandangan ku kedepan
Raihan menghembuskan nafasnya pelan"aku mencintaimu"

"sejak pertama kali kita bertemu rasa itu muncul, entah dari mana rasa ini tumbuh yang membuatku kagum akan dirimu. Ketika saya ingin menyatakan rasa cinta saya, kamu sudah tidak bekerja lagi dengan sahabat saya.saya terus mencari kamu, karena saya tidak ingin berbuat Zina karena terus memikirkanmu dan sekarang Allah telah mengabulkan doa saya"jelas Raihan
Aku tak tau harus menjawab apa? Rasanya lidah ini kelu untuk menjawab itu semua? Ku akui rasa cinta ini masih untuk Ali, walau rasa ini entah sampai kapan menahan rasa sakit. Tapi apa aku harus menerimanya?
"maaf aku tak bisa"akhirnya kata itu terlontar juga yang kuyakini hati Raihan saat ini menahan rasa sakit yang mendalam

"tidak apa aku mengerti"

Semudah itu kah dia menerima kenyataan ini? Walau sudah jelas aku tahu ia merasa kecewa
23.Mencintaimu Dalam Diam


Salah satu cinta yang paling murni ialah ketika seseorang mendoakanmu tanpa kau mengetahuinya??

Mengikhlaskanmu adalah caraku untuk melupakanmu
~Zahra

Disaat mencintai seseorang,kita pernah berharap bahwa orang tersebut juga mencintai kita.segala hal dalam dirinya, mulai dari senyumanya,memandangnya dari jauh,dan ketaatanya .dari situlah harapan mulai muncul,bahwa suatu saat nanti,menghabiskan waktu bersamanya dimasa depan.

Aku menghembuskan nafasku pelan, mencoba menstabilkan detak jantung ini.ku buka pintu ruangan Ali dengan perlahan
"Assalamuala-"salamku terhenti melihat adegan yang tak ingin kulihat

"Zahra"sontak Ali langsung melepaskan dokter Safa yang memeluknya

"Zahra ini salah paham"ucap Ali ingin menghampiriku

"maaf dok saya mengganggu, Assalamualaikum"

Langsung saja aku keluar dari ruangan Ali.aku tak bisa berlama-lama melihat itu semua. ku berbalik badan ingin pergi,tempat dimana bisa menenangkan diri ini

Air mata yang kutahan kini tak bisa kubendung lagi.melihat itu hati ini rasanya sangat sakit. Sekarang aku menyadari sesuatu, aku merasakan pahitnya sebuah pengharapan pada menusia

"ketika dirimu terlalu berharap kepada seseorang,maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain dia.Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya"
(Imam. Syafi'i)

Aku berjalan dengan sangat cepat dan tanpa sengaja menabrak seorang pria mengenai dada bidangnya
"maaf saya tidak sengaja"ucapku menunduk tanpa melihat orang yang kutabrak

"Zahra"jawab pria itu

Aku mendongakan kepalaku melihat siapa pria itu,ternyata dia adalah Raihan

"kamu kenapa menangis"tanya Raihan
"aku tidak papa, permisi"jawabku berlalu pergi

Aku tak ingin orang lain mengatahui ini, cukup aku dan Allah saja

Aku terduduk ditaman rumah sakit, disinilah aku bisa menenangkan pikiranku dan juga hatiku

"Ya Allah maafkan diri ini. Aku terlalu terlena akan kataatan laki-laki itu, sampai-sampai kau cemburu dengan makhlukmu"batinku

"Assalamualaikum,Zahra"salamnya

Cepat-cepat aku menghapus air mataku.walau tak kuyakini air mata ini masih bisa ku bendung atau tidak

"Waalaikumsalam"jawabku

Aku mencoba bersikap denganya biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa
"kamu beneran tidak papa"tanya Raihan

"iya"singkatku

"saya tidak menyangka kamu menjadi perawat dirumah sakit ini"ucap Raihan

Aku mengangguk"Pak Raihan ngapain disini? "tanyaku

Raihan yang mendengar Zahra memanggilnya dengan sebutan pak mencoba memahaminya

"Saya mengantar nenek saya untuk berobat"jawab Raihan

"semoga nenek pak Raihan cepat sembuh"

"Aamiin"

"Zahra saya ingin menanyakan sesuatu padamu"

"silahkan"

"apa saat ini ada seorang pria yang kau sebut dalam doa? "

"maksudnya? "

Aku melihatnya sesaat, lalu mengalihkan kembali pandangan ku kedepan
Raihan menghembuskan nafasnya pelan"aku mencintaimu"

"sejak pertama kali kita bertemu rasa itu muncul, entah dari mana rasa ini tumbuh yang membuatku kagum akan dirimu. Ketika saya ingin menyatakan rasa cinta saya, kamu sudah tidak bekerja lagi dengan sahabat saya.saya terus mencari kamu, karena saya tidak ingin berbuat Zina karena terus memikirkanmu dan sekarang Allah telah mengabulkan doa saya"jelas Raihan
Aku tak tau harus menjawab apa? Rasanya lidah ini kelu untuk menjawab itu semua? Ku akui rasa cinta ini masih untuk Ali, walau rasa ini entah sampai kapan menahan rasa sakit. Tapi apa aku harus menerimanya?
"maaf aku tak bisa"akhirnya kata itu terlontar juga yang kuyakini hati Raihan saat ini menahan rasa sakit yang mendalam

"tidak apa aku mengerti"

Semudah itu kah dia menerima kenyataan ini? Walau sudah jelas aku tahu ia merasa kecewa

"apa kamu mencintai laki-laki lain? "Aku mengangguk

"beruntung sekali pria itu mendapatkan cinta oleh seorang wanita sepertimu"lanjutnya

Rasanya kalimat itu tak pantas untuk diriku? Kerena kenyataanya sekarang berbeda.

"maaf"berulang kali kata maaf ku ucapkan

"tidak usah meminta maaf,kamu tidak salah"

"kalau gitu saya pamit, Assalamualaikum"pamit Raihan

"Waalaikumsalam"balasku

Air mataku luluh begitu saja. Hari ini bukan aku saja yang merasa sakit hati. Raihan menahan rasa sakit amat mendalam oleh diriku sendiri.

Orang yang sudah menolongku dari kejahatan.hari ini aku telah membuatnya merasa kecewa.kalau pun aku menerimanya, namun pada kenyataanya hati ini masih tetap sama untuk Ali.aku tak ingin menjadi pembohong besar

Mungkin setelah ini aku tak lagi berharap padanya

*****

Ketika aku menangis, hujan seolah mengerti dengan keadaanku.saat ini aku berjalan diderasnya hujan yang mengguyur tubuhku.bajuku sudah basah dan kotor akibat cipratan mobil berlalu lalang. Aku tak lagi memperdulikan orang disekitarku memandangku aneh.saat ini aku ingin menyendiri

Aku membuka pintu kamar kostku.membersihkan diri ini dikamar mandi. Setelah itu ku gelar sajadah melaksanakan shalat magrib. Curhat kepada Allah, karena Allah adalah sebaik-baiknya teman curhat.
Lagi-lagi aku menangis, mengingat semua yang kulakukan selama ini

Aku merapikan kembali alat shalat yang kukenakan. Ku lihat pantulan diriku dicermin,mata sembab, hidung merah, dan air mata yang tak hentinya.aku mengusap air mataku kasar, tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.

Ku ambil koper yang berada diatas lemari, memasukan bajuku dan peralatan yang ingin ku bawa. Ya, aku ingin menenangkan pikiranku ke rumah orang tuaku yang berada di Aceh. Hari libur juga telah tiba, aku memutuskan pergi ke rumah orang tuaku saja. Rasanya aku sangat merindukan mereka

Ku pakai khimar yang menutupi dadaku. Mengoleskan bedak diwajahku dan sedikit agar tak terlihat pucat

Setelah semuanya sudah ku kemas.aku menggeret koperku dan menutup pintu. Ku ketuk pintu kamar Raina untuk berpamitan denganya,tapi tak kunjung terbuka.mungkin Raina masih perjalanan pulang.
Tak mau membuang waktu,aku segera pergi meninggalkan kostku

Menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.akhirnya telah sampai juga.aku mengucapkan salam sembari mengetuk pintu

"Assalamualaikum"salamku

"Waalaikumsalam"terlihatlah umi membukakan pintu

"Zahra"

"Umii"

Aku langsung berhamburan memelukanya dengan erat

"ya Allah Zahra, kamu tidak mengabari umi kalau mau kesini"ucap umi mencium kedua pipiku

"kejutan umi"jawabku terkekeh

"kamu ini ya, bisa aja."balas umi tersenyum

"hehe"

"kamu pasti lelah"ucap umi menuntunku masuk

"iya mi"jawabku

"mi,abi sama vino kemana?"tanyaku

"mereka lagi dipesantren, bentar lagi pulang"jawab umi

"oh, kalau gitu aku ke kamar dulu ya mi"

"iya sayang, nanti umi buatin makanan kesukaan kamu"

"makasih umi"

Aku memasuki kamarku yang sudah lama tak ku tempati.aku mengambil air wudhu melaksanakan shalat dhuha

Terdengar umi mengetuk pintu.ku buka mukena yang ku kenakan

"sayang, makananya udah siap"ucap umi

"iya mi nanti Zahra ke sana"jawabku

"ya sudah jangan lama-lama"

"iya mi"

Ku ambil jilbab instant panjang yang masih didalam koper.menghampiri umi di dapur

"Umi,sini Zahra bisa bantu"

"tidak sayang ini sudah selesai.kamu duduk saja"

Aku menuruti perkataan umi

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"jawabku dan umi

"Abi"aku langsung saja memeluknya

"Zahra"abi mencium pucuk kepalaku

"kak Zahra"aku membalas pelukan Vino adikku

"kok aku gak tau kakak pulang?"tanya Vino

"kejutan"ucapku tertawa

"oh"jawab vino menganggukan kepala

"ish kok 'oh' doang sih, gak kangen apa"

"siapa sih yang enggak kangen sama kakak ku yang cantik ini"

Aku kembali memeluknya.Vino adalah adikku satu-satunya yang nyebelin.meskipun begitu dia selalu menghiburku dengan candaan recehnya.Vino sekarang menginjak kelas sebelas SMA

"ayo makan"ucap umi

"iya mi"

"Zahra"ucap Abi selepas semua telah selesai makan

Aku menatap abi"iya bi"

"ada yang ingin abi bicarakan selepas isya nanti"

"bicara apa bi? "

"nanti juga kamu tahu"

"iya bi"

*****

Tok...tok... tok...

"kak aku boleh masuk"ucap Vino dibalik pintu

"masuk aja Vin"

Vino masuk menghampiriku yang sedang memasukan baju ke dalam lemari

"kak jalan-jalan yuk"ajak vino

Aku membalikan wajahku menatap Vino

"kemana? "tanyaku

"ikut aku aja deh"

"ayo, bentar kakak ganti baju dulu"

"aku tunggu didepan"

"oke"

Aku menuruti saja ajakan Vino untuk menenangkan fikiranku mengingat kejadian kemarin

Aku menghampiri Vino yang sudah siap dengan motornya

"udah kak"ucap Vino

"udah ayo"jawabku

Menikmati kembali hembusan angin dikota tempat kelahiran, membuatku merasa kesedihan itu terasa hilang semua.Vino menghentikan motornya dimasjid Raya Baiturrahman

Vino menghentikan motornya dimasjid Raya Baiturrahman

"kak senang gak?"tanya Vino

"senang banget"jawabku masih melihat Masjid indah ini

"aku tahu kalau kakak pulang pasti kesini"

Aku memeluknya, adikku ini selalu saja pengertian.setelah berkeliling dan berfoto dimasjid.Azan pun berkumandang memanggil umatnya untuk melaksanakan shalat asar.aku mengambil air wudhu.memakai mukena yang sudah disediakan dimasjid. Suara iqomah pun terdengar aku mulai melaksanakan shalat dengan khusyuk

Aku menghampiri vino yang sudah menunggu diteras masjid.kami langsung pulang karena hari sudah hampir sore

*****

"Sayang duduklah"ucap Abi agar aku duduk disampingnya

"iya bi"jawabku

"abi mau bicara apa?"tanyaku

"abi ingin menjodohkanmu dengan anak teman abi"

Deg

Ya Allah, apa ini jawaban atas semua doaku? Jika memang benar aku ikhlas menerima ini

"apapun yang menurut abi baik, Zahra bersedia"

Mungkin ini sudah jalanku untuk melupakan Ali

"kalau pun kamu keberatan.abi tidak memaksakan"

"tidak bi,abi adalah sosok yang berarti dalam hidup Zahra.selama ini abi selalu memberikan yang terbaik untuk Zahra"

Abi memelukku"terima kasih sayang"

"iya bi"

"aku ke kamar dulu bi"abi mengangguk

Aku menghempaskan tubuhku dikasur.tak terasa air mataku kembali lolos begitu saja.sosok yang selama ini kusebut dalam sepertiga malamku dan kini aku harus ikhlas menerima ini semua. Mungkin memang Ali bukanlah jodohku

Hidup merupakan sebuah rahasia yang penuh dengan teka teki.meskipun banyak orang-orang yang dianggap mampu menerawang masa depan,namun tetap saja Allah mempunyai seribu macam cara.manusia hanya perlu berusaha,bertawakal dan memperbaiki diri dijalan-Nya

Aku terbangun dari tidurku,beranjak mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.ku buka Al-Quran selepas berdoa sambil menunggu azan subuh berkumandang

*****

Sudah dua hari aku disini, luka ini kembali perlahan pulih untuk melupakan itu semua. Aku kembali dengan hari-hariku tanda berharap lagi denganya.Mencoba membuka hati pada laki-laki yang sudah dijodohkan denganku.
"Zahra apa kamu bisa menggantikan ustadzah Rifa untuk mengajar dipesantren? beliau sedang sakit"tanya Abi

"bisa kok bi"jawabku

Lebih baik aku mengisi waktu dengan hal yang bermanfaat

"ya sudah nanti bareng abi.abi mau ganti baju dulu"

Aku mengangguk.sembari menunggu abi,aku memakan cemilan yang ada dimeja.terlihatlah Abi yang sudah siap dengan baju kokonya

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

"Ustadzah ini anak saya untuk menggantikan Ustadzah Rifa"

"mari ikut saya"ajaknya

"kamu mengajar anak-anak disini"

"makasih ustadzah"

"iya sama-sama,Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

Aku berjalan memasuki ruangan yang ditempati anak berumur sekitar enam tahun

"Assalamualaikum"salamku

"Waalaikumsalam"jawab seisi ruangan

"nama kakak Zahra, disini kakak menggantikan ustadzah Rifa karena ia sedang sakit"ucapku

"hai kak Zahla"ucap anak perempuan berpipi gembul

"hai juga adik gemes"jawabku

Setelah itu aku mulai memberikan materi.aku sama seperti mereka sedari kecil sudah diajarkan tentang agama dipesantren ini

"kakak pamit dulu ya adik-adik, Assalamualaikum"salamku
"Waalaikumsalam"jawab semuanya

"Assalamualaikum adik-adik"salam seorang pria
"Waalaikumsalam,kak Ali!"teriak seisi ruangan

Aku yang sedang berjalan keluar menghentikan langkahku mendengar nama itu.

Deg

Apa aku sudah salah lihat? Ali ada disini? Apa ini benar?

"Assalamualaikum Zahra"salamnya

Aku tersadar dari lamunanku
"Waalaikumsalam"

Aku berjalan dengan cepat meninggalkan Ali yang terus saja memanggil namaku.cukup, aku tak ingin lagi berharap denganya

"Zahra tunggu"

Aku tak memperdulikan panggilanya.aku tak ingin bertemu denganya saat ini

"Aw"rintihku

aku yang tak sengaja tersandung batu kerena tak memperhatikan jalan.memegang kakiku yang berdarah,yang tertutupi kaos kaki

"Astagfirullah,Zahra kamu tidak papa"tanya Ali

"iya"aku kembali berdiri,berjalan perlahan dengan kaki yang kupegangi

"Zahra saya minta maaf.kejadian itu tak seperti yang kamu fikirkan.Safa waktu itu terpe-"

"Kenapa harus meminta maaf.lagian aku bukan siapa-siapa kak Ali"potongku
Benar bukan? Siapa aku dihidup Ali?
"Saya ingin mengkhitbahmu"ucap Ali setengah berteriak

Aku berhenti.terdiam ditempat. Telingaku masih berfungsi dengan baik kan? Ali ingin mengkhitbahku?
Kenapa ia datang diwaktu yang terlambat ketika aku sudah dijodohkan.

Ali berjalan menghampiriku
"Saya ingin kamu menjadi istri saya"

"maaf, aku sudah dijodohkan"

Ali menegang, seolah tak percaya dengar ucapanku

"aku permisi,
Assalamualaikum"salamku meninggalkan Ali
"Waalaikumsalam"Jawabnya

"ya Allah kenapa kau hadirkan ia kembali disaat hati ini mulai mengikhlaskanya"lirihku

24.Mencintaimu Dalam Diam

Jangan berharap kepada manusia, karena engkau akan kecewa. Berharaplah kepada Allah, niscaya engkau tidak akan pernah kecewa

-Yazid bin Abdul Qadir Jawas-


Tok... tok... tok...

"kak!"

Suara ketukan pintu membuatku menghentikan acara menulis dibuku diary. Aku menutupnya membuka pintu menghampiri Vino dibalik pintu yang masih tertutup rapat

"ada apa? "tanyaku

"dipanggil umi tuh"jawab Vino

"kakak ngapain sih dari tadi dikamar terus? "tanya Vino sambil menyundulkan kepalanya melihat ke kamar

"kepo deh kamu"aku menutup pintu. Melangkahkan kakiku menghampiri umi yang duduk disofa

"umi panggil Zahra? ada apa mi?"tanyaku

"iya sayang. kamu sekarang ke minimarket diantar sama Vino. Belikan bahan kue ya"jawab Umi

"memang ada tamu mi? "tanyaku

"nanti juga kamu tau,ini catetan belanjaanya"balas umi menyodorkan selembar kertas berwarna putih kepadaku.

"Vin anter kakakmu ke minimarket"ucap umi melihat Vino yang sedang asik memakan cemilan

"Siap umi"jawab Vino bergaya hormat

"Assalamualaikum umi"salamku dan Vino mencium punggung tangan umi

"nih kak helm nya"ucap Vino memberikan helm berwarna abu-abu.setelah memakainya aku langsung naik.aku tak perlu khawatir auratku akan terbuka, karena aku sudah memakai celana panjang sebagai dalemanya

"Sudah siap kak? "tanya Vino

"Sudah"jawabku

"ya sudah turun"ucap Vino cekikikan

"ish"aku langsung memberinya satu pukulan

"Aw, iya iya aku bercanda. Galak banget sih kakakku ini"

"biarin"
Vino menjalankan motornya meninggalkan perkarangan rumah

Jalanan yang tak terlalu macet hanya membutuhkan lima belas menit saja sampailah kami di minimarket.aku membuka helm memberikanya pada Vino

"kak aku tunggu disini saja"ucap Vino masih duduk dimotornya

"ya sudah"jawabku

Aku masuk dan mengambil keranjang belanjaan terlebih dahulu.berjalan menelusuri berbagai banyak kebutuhan sehari-hari yang tersusun rapi. Aku membaca kertas yang diberikan umi lalu mencari bahan-bahan kue yang lumayan banyak

Setelah semuanya sudah berada dikeranjang belanjaan.Aku berjalan menuju kasir untuk membayarnya.menghampiri Vino diparkiran yang sedang memainkan handphonenya

"sudah semua kak? "tanya Vino

Aku mengangguk"bentar Vin kakak mau ke sana dulu"

"ngapain kak?"

Aku tak menanggapi pertanyaan Vino.menghampiri nenek dipinggiran jalan yang sepertinya sedang takut untuk menyebrang

"Assalamualaikum nek"salamku

"Waalaikumsalam neng"jawab nenek

"nenek mau nyebrang? "tanyaku

"iya neng.nenek takut nyebrang nya"jawab nenek

"ya sudah saya bantu nyebrang ya nek. Sini tas belanjaanya biar saya saja yang bawa"Nenek itu memberikan kantong tas belanjaanya

"ini nek belanjaanya"


"Aamiin nek. Makasih doanya, saya pamit dulu Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

"Maafin kakak lama"ucapku yang sudah didepan Vino

"gak papa kak. Malah aku senang"jawabnya

"ya sudah pulang yuk"

*****

"Assalamualaikum"salamku dan Vino

"Waalaikumsalam"jawab umi

"ini umi"ucapku menyodorkan kantong belanjaan itu pada umi

"terima kasih sayang"

"Sama-sama umi. Biar Zahra bantu buat kuenya"

"boleh, sini ikut umi"Aku mengikuti umi ke dapur

*****

"Zahra sini duduk dekat Abi"panggil abi menepuk sofa disebelahnya

"iya bi"aku menurut duduk disamping abi

Abi membalikanya badanya menatapku"laki-laki yang ingin dijodohkan denganmu nanti malam akan mengkhitbahmu"jelas abi

Deg

Aku harus melupakanya.walau Ali ingin mengkhitbahku,aku tak ingin mengecewakan Abi

"iya bi"jawabku

"bersiap-siaplah selepas isya nanti"

"baik bi"

*****

Waktu yang sebantar lagi tiba.akan ada seseorang malam ini yang mengkhitbahku. Seseorang yang dulu ku harapkan yang akan menjabat tangan abiku kini semua harapan itu harus ku lupakan

Aku kembali teringat dengan perkataan Ali yang ingin mengkhitbahku. Jujur aku sangat senang mendengar itu semua tapi mengapa Ali mengatakan itu ketika aku sudah dijodohkan

Kalau boleh jujur aku masih menyimpan cintaku Pada Ali.Walau sudah beberapa kali ku coba,tapi entah mengapa masih terselip namanya.

Aku menatap pantulan wajahku dicermin.wajah yang ku rias tipis saja membuat kesan diwajahku tampak biasa saja

"Zahra kamu sudah siap? "tanya umi menghampiriku

"Sudah mi"jawabku

"kamu sangat cantik sayang"ucap umi

"Makasih mi,apa mereka sudah datang? "

"mereka masih dalam perjalanan mungkin sebentar lagi.ya sudah umi mau ke bawah dulu"

"iya mi"

Suara dering handphone menyadarkanku dari lamunan sesaat. Aku beranjak mengambilnya yang tergeletak dikasur

Raina is calling

"Assalamualaikum Zahra"salam Raina disebrang sana

"Waalaikumsalam"jawabku

"kamu apa kabar Ra? "tanya Raina

"Alhamdulillah aku baik"

"oh ya Ra aku lupa cerita"

"cerita apa"

"minggu lalu dokter Ali nyariin kamu"

"aku sudah bertemu denganya"

"dimana?"

"dipesantren"

"maksud kamu dokter Ali ada di Aceh? "

"iya"

"sebenarnya ada apa sih Ra? "

Tok...tok...tok...

"Na, udah dulu ya. Assalamualaikum "salamku

"mereka sudah datang yuk kebawah"ucap umi

Aku mengangguk berjalan menuruni anak tangga satu persatu bersama umi yang mendampingiku.semua orang yang ada diruangan ini berbalik badan menatapku,dipandang seperti itu membuatku semakin gerogi. aku menunduk,tanpa melihat pria itu.sampai diakhir tangga umi menuntunku menghampiri keluarga pria yang akan mengkhitbahku.

"Bismillah"ucapku berdoa dalam hati

Setelah sampai diruang tamu mataku langsung bertemu dengan seorang pria yang sedang duduk disamping abinya.
Deg

"kak Ali!"

"Zahra!"

"kalian sudah saling kenal? "tanya abi

"I.. Iya bi"

"Masyaallah, Zahra ini wanita yang umi ceritakan itu bi"timpal umi kak Ali

"Alhamdulillah kalau gitu"ucap abi kak Ali

Aku duduk disamping abi berhadapan dengan Ali.aku semakin gugup,jantungku sudah berdetak dua kali lipat

"Ali sekarang kamu bicara maksud kedatanganmu kesini"ucap abi kak Ali

"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh"salam Ali

"Waalaikumsallam Warahmatullahi Wabaraktuh"

"Nama saya Muhammad Ali Ibrahim, maksud kedatangan saya dengan keluarga saya kesini berniat ingin mengkhitbah anak bapak yang bernama Humairah Az-Zahra untuk menjadi pendamping hidup saya.Insyaallah saya akan berusaha membimbing Zahra menuju surga-Nya"

"Saya terima niat baik kamu, untuk jawabanya saya serahkan kepada Zahra karena dia yang akan menjalaninya"

Semua yang ada disini langsung terdiam.pasang mata memandangiku, menunggu jawabaku

"Bagaimana nak Zahra,apa kamu berkenan? "tanya abi kak Ali

"Atas izin Allah SWT zahra terima khitbahan kak Ali"

"Alhamdulillah"ucap Syukur semua yang ada diruangan ini

Tanpa sengaja mataku dan Ali bertemu.aku lansung menundukan kepalaku. Sudah ku pastikan pipiku sekarang memerah bak kepiting rebus

"jadi gini nak,kita sudah berunding gimana kalau pernikahanya dilaksanakan dua minggu lagi? "tanya abi kak Ali

"Kalau itu yang terbaik,zahra setuju"

"Baiklah tanggal pernikahan sudah ditentukan ya"ucap abi

"nak Zahra mau meminta mahar apa dari Ali"ucap abi kak Ali

"Jika kak Ali sanggup,Zahra meminta maharnya surah Ar-Rahman"

Aku memang berharap jika imamku kelak akan membacakan surah Ar-Rahman menjadi maharnya.aku pernah mendengar kak Ali membacakan surah Ar-Rahman tanpa melihat bacaan sama sekali dan ia pun hafal

"Masyaallah"ucap semua orang diruangan ini

"Bagaimana Ali apa kamu sanggup? "tanya abi kak Ali

"Ali sanggup bi"jawab Ali

"Umi gak sabar kamu jadi mantu umi"ucap umi kak Ali memelukku

"Iya nih, akhirnya kita besanan juga"ucap abi kak Ali

"iya Alhamdulillah"jawab Abi

Setelah acara inti selesai. semuanya memakan hidangan yang disediakan

"kalau gitu kami pamit dulu"pamit abi kak Ali

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

Seusai mobil keluarga kak Ali tak terlihat aku langsung memeluk umi

"Umii"

"loh kamu kok nangis sih sayang"umi menghapus air mataku

"Zahra bahagia umi"

"Alhamdulillah"

"Calonya kak Zahra ganteng juga. Ya meskipun gentengan aku"ucap Vino tampang pedenya

"keluar deh kepedeanya"

"haha"

*****

Aku terbangun disepertiga malam untuk melaksanakan shalat tahajud.beranjak dari tempat tidur mengambil air wudhu.

"Ya Rabbku inikah takdirmu,kau mempersatukanku dengan Ali. Aku tak menyangka bahwa yang ingin mengkhitbahku adalah ia yang ku cintai. Dia yang ku kagumi karena ketaatanya, yang selalu kesebut dalam doa yang akan menjadi pelengkap imanku. Aku bersyukur kau telah mengabulkan semua doa-doaku"

Aku teringat perkataan nenek tadi siang. Doa nenek yang Allah berikan padaku terkabul.

Terima kasih ya Allah

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadaku tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku,maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
(QS.Al-Baqarah:186)




Assalamualaikum??

Akhirnya sampai dipart ini juga hehe

Dipart selanjutnya author akan kasih cast mereka ya...

Siapa yang penasaran???

Jangan lupa perbanyak shalawat??


25.Mencintaimu Dalam Diam


Seorang pria yang akan mendampingimu mencari ridha Allah dan menjauhkanmu dari perbuatan dosa selalu layak dinanti
-Anonim-

Percayalah menikah tanpa pacaran itu indah
~Zahra


Aku menatap diriku dicermin,dengan diolesi make up dan dibaluti gaun putih yang menjuntai ke lantai.

Aku seperti bermimpi. Hari ini adalah hari pernikahanku.Melepas masa lajang yang beberapa jam lagi berganti status menjadi seorang istri dari Muhammad Ali Ibrahim. Ah,rasanya mengingat itu akan terjadi sebentar lagi membuat pipiku semakin memanas.

"kak Zahra harusnya gak usah diolesin blush on. Pipinya aja udah merah"ucap Vino tertawa
"ih Vino"

Entah sudah berapa kali Vino menjahiliku. Memang benar sedari tadi pipi ku terus saja memerah

"Masyaallah Ra kamu cantik sekali"ucap Raina

"Terima kasih Na"

"aku gak nyangka loh Ra kak Ali jodoh kamu? "ucap Syifa memelukku yang tak kalah girangnya

"Semuanya sudah ditakdirkan oleh Allah"

Seorang wanita menghampriku dan memegang bahuku

"Umi"ucapku

"kamu bahagia nak?"tanya umi tersenyum padaku dan memegang pipiku

"Zahra sangat bahagia umi"jawabku dengan mata berkaca-maca

"Anak umi kok malah sedih sih"ucap umi mengusap bulir air mataku

"ini tangis bahagia umi.Tapi zahra juga sedih dan khawatir akan meninggalkan abi, umi,vino"

Umi tersenyum"Sayang,itu sudah keharusan umi dan abi. Ditinggalkan anak umi yang disayangi. Karena sebentar lagi kamu akan mempunyai keluarga sendiri. Berbahagialah.Jadilah seorang istri yang shalehah. Kamu tidak usah khawatir ada Allah yang senantiasa melindungi kami. Kamu kan bisa kesini bersama Ali kalau ada waktu luang"

"Zahra sayang umi. Zahra banyak salah selama ini. Maafiin Zahra umi"

"Umi malah lebih sayang. Umi maafin kesalahan kamu sayang"

"Terima kasih umi"

"iya.Sudah jangan nangis lagi. Nanti make up nya luntur loh"

"ih umi"

"ya sudah umi mau kebawah. Tamu sudah banyak yang datang"

*****

Semuanya telah siap. Kini tinggal menunggu mempelai pria mengucapkan ijab kabul. Jantungku berdetak tidak karuan.dalam hitungan menit,sebentar lagi akan menjadi seorang istri dokter tampan.

"aku gugup"ucapku

"bismillah Ra"jawab kedua sahabatku

Aku terdiam mendengar kak Ali mengucap ijab kabul.

"SAH"2

Suara itu pun terdengar dari luar dengan keras

"Alhamdulillah"

Aku menitikan air mata.Sekarang aku telah sah menjadi seorang istri

"Umii"aku langsung menangis dipelukan umi

"Kamu sudah sah menjadi seorang istri sayang"

"hiks... hiks... "

"Sudah jangan nangis lagi"umi mengusap lembut kepalaku


Ketika kenyataan tak selara dengan harapan, cukup diam dan mengagumi menjadi langkah selanjutnya. Tidak ada kata menyerah untuk cinta yang tulus, karena dia menyimpan se...
"turun yu... suami kamu sudah menunggu"lanjut umi

Aku mengangguk. Mengusap sisa air mataku dengan Tisu

Aku menuruni Tangga bersama umi disebelahku dan sementara dibelakang sahabatku sambil memegang gaunku yang panjang.
Beberapa fotografer langsung memotretku.Setelah sampai dibawah semua memandangku tak berkedip.Terutama Ali yang terus saja memandangiku

Aku duduk disamping Ali. Perasaanku sudah sangat bercampur aduk antara bahagia dan gugup berhadapan denganya

"Sayang,salaman dulu dong sama suaminya"ucap umi

Aku semakin gugup.karena ini baru pertama kali bersentuhan dengan laki-laki selain Abi dan Vino

Tanganku sedikit gemetar.Perlahan aku mengulurkan tanganku lalu kutarik kembali dan alhasil atas kegugupanku, mengundang senyum geli semua yang ada diruangan ini.

Setelah beberapa detik. Aku memegang tangan Ali dan mengecupnya dengan perlahan

Sungguh indah menikah tanpa pacaran

Aku memberanikan manatap Ali.lalu tersenyum

Kak Ali memegang ubun-ubun kepalaku dan aku menunduk

"Alaahumma innii as-aluka khayraha wa khayra maa jabaltahaa'alaihi wa a'uudzu bika min syarrihan wa min syarri maa jabaltahaa'alahi"

Kak Ali tersenyum,lalu mencium lama keningku
Jantungku berdetak dengan kencang. Ada desiran aneh saat Ali menyentuhku.rona merah dipipiku semakin bertambah

Setelah itu kami saling betukar cincin. Kak Ali memasangkanya dijari manisku begitu pula sebaliknya.

Fotografer mengintruksi kami untuk foto.mengarahkan cincin yang sudah terpasang itu ke arah kamera.Tak lupa pula buku nikah.

Setelah semuanya selesai.kami mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua masing-masing.

"Abi selama ini makasih udah mendidik Zahra.Makasih udah jagain Zahra sampai sekarang. Maafin Zahra yang kadang gak nurut apa perkataan abi"tangisku dipelukan abi. Ali pun mengucapkan hal sama kepada abi dan uminya.

"Zahra itu sudah kewajiban abi mendidik Zahra.Jadilah seorang istri yang penurut. Abi maafin semua kesalahan kamu sayang"

"terima kasih abi"

"Makasih umi atas semuanya,makasih udah rawat Zahra.sekali lagi maafiin Zahra juga kalau selalu buat umi repot"umi tersenyum memelukku dengan air mata yang sama derasnya.

Kini,kuberalih pada remaja yang berada disamping umi.

"Dek maafiin kakak yang suka ngerepotin kamu.kakak sayang kamu"

Vino langsung memelukku"Vino juga sayang kakak. Maafin vino juga suka nyebelin"ucap vino melepaskan pelukannya. Aku mengangguk sembari tersenyum.

*****

Hampir semua tamu undangan menghadiri acara pernikahanku.Melihat tamu undangan yang banyak,mulai dari rekan sesama dokter,kerabat dekat,dan keluarga besar. Belum lagi teman-temanku sewaktu kuliah dan sahabat kak Ali.

Shalawat terdengar diruangan yang didekorasi bertemakan putih ini.

Sekarang aku dan Ali masih melakukan sesi foto.berbagai macam instruksi yang diberikan membuatku sangat gugup.

"Sekarang posisinya pak Ali berhadapan,memegang pinggul mbak Zahra"

Kami hanya menurut mengikuti instruksinya. Kedua tanganku juga mengalung dileher Ali.aku meruntuki diriku yang sedari tadi kaku dan tegang. Jangan ditanyakan lagi saat ini jantung ku memompa lebih cepat. Berhadapan dengannya, dengan jarak beberapa senti seperti ini membuatku bisa merasakan deru nafas Ali dan juga rona merah dipipiku semakin bertambah. Tak terhitung berapa kali Ali sudah melihat pipi ku bersemu merah.

"Oke. 1...2...3..."

Fotografer pun sudah menjepret posisi kami.setelah itu kulepaskan tanganku yang mengalung dileher Ali. Aku mencoba menstabilkan kembali detak jantungku.

Tak lama kemudian tamu undangan memberi selamat kepada kami.

"Selamat ya Ali"

yang mengucapkan salam kepada kami adalah dokter Safa.

"Terima kasih"

Dokter Safa berhadapan denganku lalu tersenyum. Aku tau pasti senyum itu menahan rasa sakit.

"selamat ya Zahra"ucap dokter Safa memelukku

"Maaf dok saya tidak bermak-"

"Tidak usah meminta maaf. Ini bukan salahmu. Ini semua sudah Allah yang mengatur,kamu berjodoh dengan Ali. Aku tak apa. Kamu jangan khawatir.sekali lagi selamat ya semoga sakinah mawadah warohmah"

"Terima kasih dok"dokter Safa tersenyum lalu pergi.

Sepeninggalnya dokter Safa aku masih memikirkannya.Ya Allah aku tau betapa sakitnya menahan itu semua.

Tamu undangan semakin membanyak walau sudah jam 21.00 malam. Aku melihat binar-binar raut wajah bahagia keluarga besarku sekarang.

*****

Aku mengucap Alhamdulillah dalam hati. Resepsi berjalan dengan lancar. Kini, aku sekarang berada dikamarku, ralat kamar Ali juga.

Aku terduduk dikasur.Mengingat sekarang Ali telah menjadi suamiku. Suami yang selama ini kucintai dalam diam. Yang selalu kubicarakan pada Allah dalam doaku. Aku bersyukur Allah telah mengabulkan semua doaku.

Saat ini dan seterusnya aku akan menua bersama Ali.aku berfikir bagaimana nanti sikapku padanya setelah ini,novel yang sering kubaca selama ini berkaitan dengan pernikahan membuatku berpikir kemana-mana.Ah,melihatnya saja sudah membuatku pipiku merah merona.

Suara ketukan pintu terdengar,nampaklah seorang pria masih memakai baju pengantin yang sudah menjadi suamiku.

"Zahra"ucapnya.

"i...iya"jawabku gugup.

"eum aku dulu apa kamu yang mandi"tanyanya.

Aku terdiam sesaat.Ali tidak lagi berbicara formal.

"kak Ali saja"balasku

"ya sudah"

Ali masuk ke marah mandi. Setelah pintu ditutup. Aku menghembuskan nafasku pelan. Sungguh tadi itu sangat membuatku gugup.

Aku berjalan ke maja rias. Ku tatap wajahku dicermin. Masih seperti tadi,wajah yang bersemu merah.
Aku melepaskan mahkota yang berada dikepalaku. Membuatku sedikit pusing. Ku taruh benda itu dimeja.aku mulai melepaskan jarum pentul satu persatu.hijab yang banyak dililitkan membuatku sedikit kesusahan.

Pintu kamar mandi terbuka.Ali keluar dengan rambut yang basah lalu mengeringkannya dengan handuk. Melihat itu membuatku menelan salivaku.
Ali sangatlah tampan

"Aw"ringisku

Jariku berdarah karena tertusuk jarum.

"Zahra kamu tidak apa-apa"tanya Ali yang sudah disampingku.

"i...ini hanya tertusuk jarum"

"biar aku yang membantu"

Belum saja aku menjawab.Ali sudah lebih dulu melepaskan jarum itu. Aku menegang. Detak jantungku kembali berdetak lebih cepat. Dengan lihai Ali melepaskan jarum itu dan menaruhnya dimeja.

"Sudah"ucapnya

"Terima kasih kak"

Ali tak menjawab.Malah memilih memandangiku.
"kenapa kak Ali memandangiku seperti itu"ucapku dalam hati

"eum kak aku mau mandi"ucapku berdiri dan langsung melesat ke kamar mandi.

Aku membuka sedikit pintu kamar mandi layaknya seorang yang sedang bermain petak umpat.Aku melihat Ali yang sedang memainkan handphonenya dikasur.Aku memberanikan diriku dan membuka pintu kamar mandi.

Aku sudah siap dengan piyama berwarna pink dengan hijab instan,Menghampiri Ali yang masih memainkan handphonenya.Aku naik ke atas kasur dan tertidur membelakangi Ali.

"Zahra"ucapnya

"i...iya"jawabku

"duduklah.aku mau bicara"

Aku membalikan badanku dan merubah posisiku seperti apa yang telah diperintahkan.

Ali menaruh handphonenya diatas meja lalu menghadap ke arahku.aku menunduk.

"Jangan nunduk dong sayang"

Apa katanya,Sayang?

"Aku cuma mau bicara. Jangan gugup,jangan ragu menanyakan sesuatu yang mengganjal dihati kamu.karena Sekarang aku suami kamu,yang selalu ada disamping kamu, dan aku siap mendengar semua curahan hatimu.Aku akan belajar membimbing kamu hingga ke jannah-Nya"ucapnya panjang lebar sambil Memegang kedua tanganku.

Aku yang mendengarnya pun terharu.Tanpa ragu aku memeluknya untuk pertama kali dan menangis dalam pelukanya.

Kak Ali mengurai pelukan"Udah jangan nangis"tangannya beralih mengusap lembut air mataku

"Makasih kak. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik"

"Kok masih kak sih manggilnya"

"Te... terus apa"

"Sayang juga boleh"

"ish"Aku langsung mencubit perutnya pelan

"Aw, perut aku sakit"ucapnya sambil memegangi perut

"Maaf maaf aku pelan kok.mana yang sakit"

"Disini"tunjuknya pada pipinya

"ish"

"Maaf sayang aku bercanda"

"Ya sudah kita tidur"lanjutnya

"i...iya mas"

Ku lihat mas Ali tersenyum dengan panggilan baruku.Aku
membaringkan tubuhku di sebelahnya.

"Kok malah belakangin aku sih tidurnya,gak baik loh"Aku menurut,membalikan badanku manghadapnya

Elusan lembut dikepalaku membuatku membuka mataku. Ku lihat mas Ali tersenyum depan wajahku dengan jarak beberapa senti

"Shalat tahajud yuk"

"i..iya mas"

Setelah ku selesai mengambil air wudhu. Ku hamparkan juga sajadahku satu shaf dibelakang dia yang sudah sah menjadi imamku,imam yang akan menuntunku untuk selalu taat pada sang pencipta, imam yang selalu mendengar curahan hatiku.Gerakan demi gerakan ku ikuti dengan khusyuk.
Seusai berdoa aku mencium punggung tangan mas Ali dan mas Ali mengecup lama keningku. Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti mas Ali.


26.Mencintaimu Dalam Diam


Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna,tapi menerima pasangan kita dengan sempurna
-Asma Nadia-
Sebagai seorang istri sudah seharusnya aku ikut kemana suamiku pergi.Hari ini aku pergi kejakarta meninggalkan kota serambi mekah itu. Menetap disana bersama kekasih halalku.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama,akhirnya aku dan mas Ali telah tiba.Rumah dengan halaman yang luas ditambah bunga yang tumbuh dengan indah menambah kesan cantik.

Mas Ali menggenggam tanganku memasuki rumah itu untuk pertama kalinya dan tidak lupa mengucap salam. Aku berdecak kagum. Rumah dengan nuansa warna cat dinding berwarna abu-abu dan kolam ikan dibelakang rumah.
"Aku sengaja membeli rumah ini karena rumah abi dan umi jauh dari sini.Apa kamu suka? "tanya mas Ali

"Suka mas,emm apa mas Ali yang membersihkan rumah ini setiap harinya? "

"Tidak. Ada mbok inem yang membersihkan rumah ini dan memasak. Kebetulan dia bertetangga dengan kita.Aku menyuruhnya bekerja sampai sore saja"

Aku menganggukan kepala"Kamar aku ada diatas ayo"

Mas Ali masih menggengam tanganku.menuntunku menuju ke kamarnya.

Kamar mas Ali begitu luas,warna abu-abu mendominasi ruangan itu. Sepertinya mas Ali menyukai warna abu-abu?.Didalamnya terdapat kamar mandi dan lemari empat pintu berukuran besar.Tidak hanya itu rak dengan buku tebal berisi ilmu kedokteran menjadi ciri khas kamar seorang dokter.Ada juga Sofa panjang disamping rak buku dan kasur yang luas nan rapi.

"Mas apa boleh aku menaruh novel ku disini"

"Sekarang ini juga kamarmu. Kamu boleh menaruh apa saja"

Aku mengangguk menaruh novel-novelku.kemudian memasukan semua bajuku dan baju mas Ali ke dalam lemari.

Aku telah siap dengan piyama bermotif bunga-bunga berwarna biru muda dan juga jilbab dengan warna senada.Aku menuruni tangga berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman. Setelah sudah jadi aku kembali ke kamar.

Ku lihat mas Ali sedang bersandar diranjang kasur.Aku menghampirinya dengan membawa nampan berisi secangkir teh untuk mengusir hawa dingin.Aku menaruhnya dinakas samping tempat tidur.

"Mas ini aku bawakan teh"

"Terima kasih Zahra"

Mas Ali meminumnya hingga tersisa setengah.Aku membaringkan tubuhku disamping mas Ali.
"Zahra apa kamu tidak panas memakai jilbab ketika tidur?"

Aku terdiam.
"aku ini sudah sah menjadi mahrammu"

Memang aku belum pernah membuka jilbabku didepanya walau mas Ali sudah menjadi mahram ku.Bukan aku tak ingin melepasnya,tapi rasanya aku masih malu.
"Maaf"

Satu kata yang bisa ku ucapkan.Aku merasa bersalah.Mas Ali tersenyum.

"Tidak apa kalau kamu belum siap melepas jilbabmu didepanku"

Dengan mantap aku berkata"Sekarang aku ingin melepasnya"

Mas Ali tersenyum"Boleh aku yang melepaskanya"

Aku hanya menganggukan kepala. Dengan perlahan mas Ali melepasnya.Terlihatlah sudah rambut panjangku didepan mas Ali yang selama ini kujaga hanya untuk mahramku.Aku menunduk.

"Masyaallah...kamu sangat cantik"Ucapnya dengan memegang rambutku yang terurai.
"Apaan sih mas"


Blush

Ya Allah... kenapa mas Ali selalu saja membuat pipiku memerah dengan kata yang membuat jantungku rasanya ingin copot dari tempatnya?
"Mas ini sudah malam"

Aku berucap seperti itu untuk menyembunyikan wajahku.Mas Ali mematikan lampu tidur yang berada disampingnya. Lalu kami tertidur saling berhadapan.

*****

Aku merasakan ada sesuatu yang berat menimpa bagian perutku. Perlahan aku menyingkirkan lengan kekar milik suamiku.aku membalikan badan menghadap mas Ali yang masih damai dalam tidurnya.aku memandangnya lekat sesekali aku mengelus permukaan wajahnya.Wajah tampan, hidung mancung, alis mata yang tebal, bulu mata yang lentik,bibir yang merah kerana tidak merokok, dan sorot mata yang sangat meneduhkan.Aku suka semua itu...

"Aku tau aku ganteng"Suara serak khas baru bangun tidur.membuatku menghentikan tanganku yang sedari tadi mengelus wajahnya.Malu.itulah yang kurasakan saat ini.
"Sejak kapan mas bangun? "tanyaku dengan pipi yang sudah kupastikan memerah seperti tomat.
"Sejak kamu mengelus lembut wajahku"Jawabnya dengan mata yang sudah terbuka sempurna.

"Ih mas"

Saat aku ingin beranjak dari tempat tidur,mas Ali menarik pelan tubuhku hingga aku terjatuh kepelukanya.

Entah kenapa aku merasa sangat nyaman saat berada dipelukanya.Aku menyembunyikan wajahku yang merah merona didada bidangnya. Mas Ali merenggangkan pelukanya.Aku langsung menutup wajahku menggunakan kedua tangan.

"Sayang kok ditutupin sih mukanya. Aku kan mau liat"

Ya Allah rasanya aku ingin terbang sampai langit ketujuh

Mas Ali menyingkirkan tanganku yang sedari tadi kututupi.Mas Ali hanya tersenyum manis.Aku menundukan kepalaku.
"Humairah"Mas Ali mengangkat daguku untuk menatapnya.Seketika jantungku berdetak dua kali lipat.
Blush

"Aku suka pipi kamu yang memerah seperti arti namamu"

Suatu hari orang-orang Habsyah pernah masuk masjid dan bermain-main disana. Rasulullah, lalu berkata kepada Aisyah "Ya Humairah" (panggilan sayang untuk Aisyah, yang artinya pipi yang kemerah-merahan).

"Apakah kau ingin menonton permainan mereka"

Aisyah menjawab"Ya"

Rasulullah lantas berdiri didepan pintu,Aisyah meletakkan dagunya dipundak beliau dan wajahnya disandarkan ke pipi beliau.

"Aku sudah pernah melihat pipimu memerah sejak pertama kali kita bertemu ditoko buku dan setiap kamu berada didekatku wajahmu selalu seperti itu.Tapi aku suka melihatnya"Jelas mas Ali menceritakan semua tentang wajahku.

Jadi selama ini mas Ali menyadari pipiku memerah.Ya Allah... mas Ali selalu saja membuat pipi ku merah merona menahan malu kerena godaan dan ucapan manisnya.

"Tetaplah seperti itu"

Cupp

Dua kecupan mendarat dikedua pipiku. Aku langsung memeluknya erat Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti mas Ali.
*****

Aku menuruni tangga hendak ke dapur untuk membuatkan sarapan. Ku buka kulkas namun tak ada satupun bahan makanan disana.

Terlihat mas Ali dengan pakaian santainya menghampiriku.
"Ada apa? "tanya mas Ali yang melihatku masih berdiri didepan kulkas.

"Emm mas bahan makananya kosong. Biar aku beli dulu"

"Maaf aku lupa mengisi bahan kebutuhan"

"Tidak apa mas biar aku yang membelinya"

"Biar aku yang mengantar.aku tidak mau kamu terjadi sesuatu"

aku hanya menuruti apa perkataan suamiku.Semenjak kami menikah,mas Ali selalu menghkawatirkanku berpergian sendiri.Padahal hanya untuk membeli bahan makanan saja.

*****

Mobil mas Ali terparkir rapi disalah satu Minimarket yang terdekat dengan rumah.

Aku mulai mencari bahan kebutuhan seperti sayuran,buah-buahan,makanan ringan dan minuman yang memiliki kandungan Vitamin C.

Jangan lupakan mas Ali.ia terus saja mengikutiku dari belakang layaknya seorang bodyguard. Aku terkekeh kecil. Padahal aku sudah bilang mas Ali menunggu saja dimobil tetapi ia tetap dalam pendirianya.
Aku mendorong troli yang sudah terisi itu ke area kasir.
"Semuanya 250.000 ribu mbak"ucap kasir
Mas Ali mengambil dompetnya yang berada dikantong celana lalu membayarnya.

"Wah ini pacarnya mbak ya? baik sekali"pujinya

"Ini suami saya"jawabku

"Oh maaf mbak"

"Tidak apa"

Setelah membayarnya aku dan mas Ali kembali ke mobil.Mas Ali menyalakan mesin mobilnya dan membelah jalanan kota Jakarta itu.
Tak membutuhkan waktu lama kami telah sampai.Aku menaruh tiga kantong plastik itu dan mengeluarkan bahan untuk memasak.

Aku menaruh makanan yang sudah jadi itu dimeja makan.Opor ayam adalah makanan kesukaannya. Aku tahu itu dari umi Aisyah ketika hari pernikahanku. Umi Aisyah memberitahuku apa saja kesukaan mas Ali dan tidak disukainya.

Mas Ali datang lalu duduk dimeja makan.

"Kamu kok tau aku suka opor ayam?"ucapnya

"Aku dikasih tau sama umi"

Aku menyedokkan nasi dan opor ayam itu dipiring.Mas Ali memasukan makanan itu ke mulutnya.Rasa penasaran menyeruak dibenakku.apakah enak atau tidak?
"Bagaimana mas rasanya"

"Enak loh sayang"mas Ali kembali memakan masakanku.

"Alhamdulillah"

"kamu jago masak"

"Aku diajarin sama umi"

*****

Aku dan mas Ali duduk dibalkon kamar menikmati semilir angin malam. Ku senderkan kepalaku dibahu mas Ali. Aku tak lagi gugup berdekatan denganya semenjak mas Ali berbicara pada malam itu.
Seseorang yang selalu hadir dimimpiku dan hanya menatap dari kejauhan,kini aku bisa memandangnya dari dekat.senyuman manis itu yang membuat ku terpesona olehnya.

"Mas terima kasih ya"

"untuk? "

"Terima kasih karena mas sudah memilihku menjadi pendamping hidup mas"

Mas Ali menangkup pipiku dengan kedua tanganya kemudian mengecup lama keningku.

"Aku yang seharusnya berterima kasih kerena kamu bersedia menerimaku menjadi imammu"

Air mataku lolos begitu saja, bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.aku langsung memeluknya.Pelukan dengan rasa yang sangat nyaman.
Mas Ali mengusap lembut bulir air mataku.

"Jangan menangis"mas Ali mengecup kedua mataku.

"Aku bahagia mas"

"aku juga"Mas Ali membawa tubuhku kedalam pelukanya,mengusap lembut kepalaku.
"Maka nikmat tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?"
(QS.Ar-Rahman:13)



Semoga suka ya...

Sehat selalu buat kalian:)

??Jazakallah Khairan??



26.Mencintaimu Dalam Diam
 12.9K  482  2

oleh Munawaroh283

Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna,tapi menerima pasangan kita dengan sempurna
-Asma Nadia-
Sebagai seorang istri sudah seharusnya aku ikut kemana suamiku pergi.Hari ini aku pergi kejakarta meninggalkan kota serambi mekah itu. Menetap disana bersama kekasih halalku.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama,akhirnya aku dan mas Ali telah tiba.Rumah dengan halaman yang luas ditambah bunga yang tumbuh dengan indah menambah kesan cantik.

Mas Ali menggenggam tanganku memasuki rumah itu untuk pertama kalinya dan tidak lupa mengucap salam. Aku berdecak kagum. Rumah dengan nuansa warna cat dinding berwarna abu-abu dan kolam ikan dibelakang rumah.
"Aku sengaja membeli rumah ini karena rumah abi dan umi jauh dari sini.Apa kamu suka? "tanya mas Ali

"Suka mas,emm apa mas Ali yang membersihkan rumah ini setiap harinya? "

"Tidak. Ada mbok inem yang membersihkan rumah ini dan memasak. Kebetulan dia bertetangga dengan kita.Aku menyuruhnya bekerja sampai sore saja"

Aku menganggukan kepala"Kamar aku ada diatas ayo"

Mas Ali masih menggengam tanganku.menuntunku menuju ke kamarnya.

Kamar mas Ali begitu luas,warna abu-abu mendominasi ruangan itu. Sepertinya mas Ali menyukai warna abu-abu?.Didalamnya terdapat kamar mandi dan lemari empat pintu berukuran besar.Tidak hanya itu rak dengan buku tebal berisi ilmu kedokteran menjadi ciri khas kamar seorang dokter.Ada juga Sofa panjang disamping rak buku dan kasur yang luas nan rapi.

"Mas apa boleh aku menaruh novel ku disini"

"Sekarang ini juga kamarmu. Kamu boleh menaruh apa saja"

Aku mengangguk menaruh novel-novelku.kemudian memasukan semua bajuku dan baju mas Ali ke dalam lemari.

Aku telah siap dengan piyama bermotif bunga-bunga berwarna biru muda dan juga jilbab dengan warna senada.Aku menuruni tangga berjalan ke dapur untuk membuatkan minuman. Setelah sudah jadi aku kembali ke kamar.

Ku lihat mas Ali sedang bersandar diranjang kasur.Aku menghampirinya dengan membawa nampan berisi secangkir teh untuk mengusir hawa dingin.Aku menaruhnya dinakas samping tempat tidur.

"Mas ini aku bawakan teh"

"Terima kasih Zahra"

Mas Ali meminumnya hingga tersisa setengah.Aku membaringkan tubuhku disamping mas Ali.
"Zahra apa kamu tidak panas memakai jilbab ketika tidur?"

Aku terdiam.
"aku ini sudah sah menjadi mahrammu"

Memang aku belum pernah membuka jilbabku didepanya walau mas Ali sudah menjadi mahram ku.Bukan aku tak ingin melepasnya,tapi rasanya aku masih malu.
"Maaf"

Satu kata yang bisa ku ucapkan.Aku merasa bersalah.Mas Ali tersenyum.

"Tidak apa kalau kamu belum siap melepas jilbabmu didepanku"

Dengan mantap aku berkata"Sekarang aku ingin melepasnya"

Mas Ali tersenyum"Boleh aku yang melepaskanya"

Aku hanya menganggukan kepala. Dengan perlahan mas Ali melepasnya.Terlihatlah sudah rambut panjangku didepan mas Ali yang selama ini kujaga hanya untuk mahramku.Aku menunduk.

"Masyaallah...kamu sangat cantik"Ucapnya dengan memegang rambutku yang terurai.
"Apaan sih mas"

KAMU AKAN MENYUKAI INI
aku makmum mu  by taeTATA_BT21
aku makmum mu
10.7K
170
Karna aku mencintai nya dalam diam .aku harap do.a ku  lah yang kau dengar di sepertiga mlm ku
Jodohku Ketua Rohis by ajlynt26
Jodohku Ketua Rohis
215K
9.1K
"itu cowo siapa sih? kok ganteng banget ya" -Zahra
"itu namanya zikra, dia ketua rohis di sekolah ini" -Zifa
"ihh gue suka liat tuh cowo"...
cinta dalam diam by fitria403
cinta dalam diam
10.6K
370
Zahra seorang gadis yang sangat salehah dan taat, yang mengharapkan jodoh seperti sayyidina Ali lelaki Sholeh yang mencintai Fatimah az-zahra dalam diam dan doa..
akan k...
Humaira Hamzelina  [END] by YAF_happyEND
Humaira Hamzelina [END]
17K
642
Jika kita menerima suatu keadaan dengan hati lapang dan ikhlas insyaallah semuanya akan baik-baik saja
Bad Girl VS Cowok Alim by Munawaroh283
Bad Girl VS Cowok Alim
1.4K
91
Kansa Fadhila Safitri, gadis yang terkenal kenakalanya. Disekolah barunya ia bertemu lelaki alim yang sudah memikat hatinya sejak pertama kali bertemu. Ini baru pertama...
Cinta di Sepertiga Malam by MarS2511
Cinta di Sepertiga Malam
354K
12.9K
Petualangan Cinta lewat sebuah do'a kepada Allah yang dibisikkan ke bumi.
Bertemu dengannya karena sebuah perlombaan. Dan kini kembali bertemu dengannya dengan cara yang...
Segenggam Harapan(END) by Ahuiboi
Segenggam Harapan(END)
7.1K
479
Ketika kenyataan tak selara dengan harapan, cukup diam dan mengagumi menjadi langkah selanjutnya. Tidak ada kata menyerah untuk cinta yang tulus, karena dia menyimpan se...
"Aku benar loh sayang"

Blush

Ya Allah... kenapa mas Ali selalu saja membuat pipiku memerah dengan kata yang membuat jantungku rasanya ingin copot dari tempatnya?
"Mas ini sudah malam"

Aku berucap seperti itu untuk menyembunyikan wajahku.Mas Ali mematikan lampu tidur yang berada disampingnya. Lalu kami tertidur saling berhadapan.

*****

Aku merasakan ada sesuatu yang berat menimpa bagian perutku. Perlahan aku menyingkirkan lengan kekar milik suamiku.aku membalikan badan menghadap mas Ali yang masih damai dalam tidurnya.aku memandangnya lekat sesekali aku mengelus permukaan wajahnya.Wajah tampan, hidung mancung, alis mata yang tebal, bulu mata yang lentik,bibir yang merah kerana tidak merokok, dan sorot mata yang sangat meneduhkan.Aku suka semua itu...

"Aku tau aku ganteng"Suara serak khas baru bangun tidur.membuatku menghentikan tanganku yang sedari tadi mengelus wajahnya.Malu.itulah yang kurasakan saat ini.
"Sejak kapan mas bangun? "tanyaku dengan pipi yang sudah kupastikan memerah seperti tomat.
"Sejak kamu mengelus lembut wajahku"Jawabnya dengan mata yang sudah terbuka sempurna.

"Ih mas"

Saat aku ingin beranjak dari tempat tidur,mas Ali menarik pelan tubuhku hingga aku terjatuh kepelukanya.

Entah kenapa aku merasa sangat nyaman saat berada dipelukanya.Aku menyembunyikan wajahku yang merah merona didada bidangnya. Mas Ali merenggangkan pelukanya.Aku langsung menutup wajahku menggunakan kedua tangan.

"Sayang kok ditutupin sih mukanya. Aku kan mau liat"

Ya Allah rasanya aku ingin terbang sampai langit ketujuh

Mas Ali menyingkirkan tanganku yang sedari tadi kututupi.Mas Ali hanya tersenyum manis.Aku menundukan kepalaku.
"Humairah"Mas Ali mengangkat daguku untuk menatapnya.Seketika jantungku berdetak dua kali lipat.
Blush

"Aku suka pipi kamu yang memerah seperti arti namamu"

Suatu hari orang-orang Habsyah pernah masuk masjid dan bermain-main disana. Rasulullah, lalu berkata kepada Aisyah "Ya Humairah" (panggilan sayang untuk Aisyah, yang artinya pipi yang kemerah-merahan).

"Apakah kau ingin menonton permainan mereka"

Aisyah menjawab"Ya"

Rasulullah lantas berdiri didepan pintu,Aisyah meletakkan dagunya dipundak beliau dan wajahnya disandarkan ke pipi beliau.

"Aku sudah pernah melihat pipimu memerah sejak pertama kali kita bertemu ditoko buku dan setiap kamu berada didekatku wajahmu selalu seperti itu.Tapi aku suka melihatnya"Jelas mas Ali menceritakan semua tentang wajahku.

Jadi selama ini mas Ali menyadari pipiku memerah.Ya Allah... mas Ali selalu saja membuat pipi ku merah merona menahan malu kerena godaan dan ucapan manisnya.

"Tetaplah seperti itu"

Cupp

Dua kecupan mendarat dikedua pipiku. Aku langsung memeluknya erat Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti mas Ali.
*****

Aku menuruni tangga hendak ke dapur untuk membuatkan sarapan. Ku buka kulkas namun tak ada satupun bahan makanan disana.

Terlihat mas Ali dengan pakaian santainya menghampiriku.
"Ada apa? "tanya mas Ali yang melihatku masih berdiri didepan kulkas.

"Emm mas bahan makananya kosong. Biar aku beli dulu"

"Maaf aku lupa mengisi bahan kebutuhan"

"Tidak apa mas biar aku yang membelinya"

"Biar aku yang mengantar.aku tidak mau kamu terjadi sesuatu"

aku hanya menuruti apa perkataan suamiku.Semenjak kami menikah,mas Ali selalu menghkawatirkanku berpergian sendiri.Padahal hanya untuk membeli bahan makanan saja.

*****

Mobil mas Ali terparkir rapi disalah satu Minimarket yang terdekat dengan rumah.

Aku mulai mencari bahan kebutuhan seperti sayuran,buah-buahan,makanan ringan dan minuman yang memiliki kandungan Vitamin C.

Jangan lupakan mas Ali.ia terus saja mengikutiku dari belakang layaknya seorang bodyguard. Aku terkekeh kecil. Padahal aku sudah bilang mas Ali menunggu saja dimobil tetapi ia tetap dalam pendirianya.
Aku mendorong troli yang sudah terisi itu ke area kasir.
"Semuanya 250.000 ribu mbak"ucap kasir
Mas Ali mengambil dompetnya yang berada dikantong celana lalu membayarnya.

"Wah ini pacarnya mbak ya? baik sekali"pujinya

"Ini suami saya"jawabku

"Oh maaf mbak"

"Tidak apa"

Setelah membayarnya aku dan mas Ali kembali ke mobil.Mas Ali menyalakan mesin mobilnya dan membelah jalanan kota Jakarta itu.
Tak membutuhkan waktu lama kami telah sampai.Aku menaruh tiga kantong plastik itu dan mengeluarkan bahan untuk memasak.

Aku menaruh makanan yang sudah jadi itu dimeja makan.Opor ayam adalah makanan kesukaannya. Aku tahu itu dari umi Aisyah ketika hari pernikahanku. Umi Aisyah memberitahuku apa saja kesukaan mas Ali dan tidak disukainya.

Mas Ali datang lalu duduk dimeja makan.

"Kamu kok tau aku suka opor ayam?"ucapnya

"Aku dikasih tau sama umi"

Aku menyedokkan nasi dan opor ayam itu dipiring.Mas Ali memasukan makanan itu ke mulutnya.Rasa penasaran menyeruak dibenakku.apakah enak atau tidak?
"Bagaimana mas rasanya"

"Enak loh sayang"mas Ali kembali memakan masakanku.

"Alhamdulillah"

"kamu jago masak"

"Aku diajarin sama umi"

*****

Aku dan mas Ali duduk dibalkon kamar menikmati semilir angin malam. Ku senderkan kepalaku dibahu mas Ali. Aku tak lagi gugup berdekatan denganya semenjak mas Ali berbicara pada malam itu.
Seseorang yang selalu hadir dimimpiku dan hanya menatap dari kejauhan,kini aku bisa memandangnya dari dekat.senyuman manis itu yang membuat ku terpesona olehnya.

"Mas terima kasih ya"

"untuk? "

"Terima kasih karena mas sudah memilihku menjadi pendamping hidup mas"

Mas Ali menangkup pipiku dengan kedua tanganya kemudian mengecup lama keningku.

"Aku yang seharusnya berterima kasih kerena kamu bersedia menerimaku menjadi imammu"

Air mataku lolos begitu saja, bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan.aku langsung memeluknya.Pelukan dengan rasa yang sangat nyaman.
Mas Ali mengusap lembut bulir air mataku.

"Jangan menangis"mas Ali mengecup kedua mataku.

"Aku bahagia mas"

"aku juga"Mas Ali membawa tubuhku kedalam pelukanya,mengusap lembut kepalaku.
"Maka nikmat tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?"
(QS.Ar-Rahman:13)

27.Mencintaimu Dalam Diam

Pilihlah lelaki yang baik agamanya,jika marah tidak akan menghina.Bila cinta akan memuliakan.
[Imam Hasan Al Basri]


Aku hari ini syift pagi kebetulan mas Ali juga sama sepertiku. Jadinya aku dan mas Ali berangkat bersama. Kami masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Aku turun dari mobil lalu mas Ali memegang tanganku dikeramaian orang berlalu lalang.

"Jangan dilepas"ucap mas Ali

"Tapi mas malu diliatin banyak orang"jawabku

Bukan malah melepaskan tapi mas Ali semakin menggenggam erat tanganku.Sepanjang kami berjalan banyak orang mamandangi kami.

"Wah selamat ya dokter Ali"

"Selamat suster Zahra"

"Udah halal mah bebas"

"Ah jadi pengen"

"uluh uluh pasangan yang serasi"

Ku lihat mas Ali hanya membalas dengan senyum khasnya.Ku rasa sekarang pipiku kembali memanas.


28.Mencintaimu Dalam Diam

Dear Allah...

Kenapa ia datang disaat hamba sudah mulai melupakanya...

Disaat hamba telah dijodohkan, ia datang ingin mengkhitbah hamba. Jujur, mendengar kalimat itu dari seorang yang hamba cintai selama ini membuat hamba merasa senang.

Tapi mengapa ketika hamba sudah mulai mengikhlaskanya ia menumbuhkan kembali benih-benih rasa cinta ini.

Disisi lain hamba tidak mau mengecewakan Abi dengan menolak perjodohan ini.

Biarlah hamba mencoba melupakanya dan mulai menerima seseorang yang akan menjadi pelengkap iman hamba.

-----------------------------
-----------------------------

14 September 2018.

Seperti layaknya Sayyidah Fatimah Az-Zahra yang mencintai Sayyidina Ali dalam diam yang Allah persatukan dua insan yang saling mencintai itu dengan ikatan suci.

Hari ini hamba tak menyangka, seorang yang dijodohkan dengan hamba,dia adalah orang yang selama ini hamba cintai dalam diam.

Sujud syukur engkau telah mengabulkan doa hamba selama ini. Dia yang selalu namanya hamba sebut dalam doa dan dia yang selama ini hamba kagumi yang akan menjadi imam hamba. Mempersatukan kami dengan ikatan suci.

Terima kasih ya Rabb skenario-Mu begitu indah...

----------------------------------------------------------

Degg...

Sudah empat lembar Ali membaca tulisan tangan Zahra dibuku diary nya yang dikemas rapi tanpa seorang pun tau termasuk dirinya.
Ali sama sekali tidak menyangka selama itu Zahra mencintainya dalam diam. Dan selama itu juga Zahra menahan rasa sakit.

"Mas i...itu"ucap Zahra
"Duduklah disampingku"jawabku

Zahra menurut, ia telah duduk disamping suaminya.
Ali membalikan badan menghadap istrinya yang menunduk.Ali membawa Zahra kedalam pelukanya.pelukan yang ia berikan dengan rasa nyaman.
Ali melepaskan pelukanya. Dipandangi wajah istrinya itu

"Jadi selama ini kamu mencintaiku dalam diam?"

"I...iya mas"

Ali kembali memeluk istrinya.
"Terima kasih sayang"

Zahra merenggangkan pelukan"Mas tidak marah?"

"Kata siapa aku marah? "

"Maafin aku.karena aku kamu manahan rasa sakit itu. Jujur, aku tidak mencintai Safa"

"Ini bukan salah mas"

"Maafkan aku yang diam-diam mengagumi mas"

"Sejujurnya aku juga merasakan perasaan yang aneh saat kita masih kuliah. Tapi aku tidak bisa menyimpulkan aku mencintaimu atau tidak"

"Kamu masih ingat waktu ucapanku dimall itu? "
(bisa kalian lihat dipart 22)
"Iya mas"

"Saat itu aku telah menyadari perasaanku. Aku berkata seperti itu karena ingin berniat mengenalmu lebih jauh.aku ingin membicarakan niat itu padamu,tapi terhalang ketika Safa memberiku makanan diruang kerjaku.Safa terpeleset dan tanpa sengaja ia memelukku.kamu masuk melihat itu semua. Aku ingin mengejarmu memberitahu kesalah pahaman itu, tapi aku tidak bisa karena harus ke ruang operasi"jelas mas Ali.
"Maafkan aku telah salah paham"

Ali menghapus bulir air mata yang jatuh membasahi pipi lembut istrinya.
"Ini bukan salahmu sayang"

"Aku boleh tanya sesuatu?"

"Tanyakan saja"

"eum mas kenapa bisa dipesantren itu?"

"Aku kesana untuk menenangkan pikiranku karena aku sudah berapa kali mencari kamu dan aku juga menanyakan kabar kamu lewat Raina tapi dia juga tidak tau kamu pergi kemana"

"Mas Ali ngapain kesana? dan kenapa juga anak-anak akrab banget sama mas"

"Abiku adalah pemilik pesantren itu. Aku sering kesana jika ada hari libur.Wajar saja mereka mengenalku"

"Kok aku gak tau sih"

Ali mencubit gemas hidung istrinya.
"Kamu sih enggak nanya"

"Kamu tau saat itu aku merasa senang bisa menemukanmu dipesantren itu. Aku ingin mengkhitbahmu. Tapi harapanku pupus ketika kamu bilang sudah dijodohkan"

Flashback on.

Ali mengendarai mobilnya menuju rumah orang tuanya. Sesekali ia mengacak rambutnya frustasi.

Ali sudah menyadari perasaanya pada Zahra dan ia juga sudah shalat istikharah. Ali berniat ingin memberitahu Zahra tentang niatnya tapi terhalang oleh kejadian salah paham itu.

"Maaf,aku sudah dijodohkan"

Pikiran Ali masih terngiang diotaknya mendengar itu. Harapan Ali pupus menerima kenyataan bahwa Zahra sudah dijodohkan.

Apa yang harus Ali katakan kepada orang tuanya?

Mobil sudah tiba dikediaman orang tuanya. Ia turun dengan wajah frustasi.Diketuknya pintu itu dengan lemas. Nampaklah umi yang membukakan pintu.Ali mencium punggung tangan uminya.

"Bagaimana bang?"tanya abi saat semua sedang berkumpul diruang keluarga.

"Dia sudah dijodohkan bi"lirih Ali

"Mungkin dia bukan jodohmu.Sebenarnya abi sudah menjodohkanmu dengan anak teman abi yang tinggal di Aceh.apa kamu menerima perjodohan ini?"

Deg...

Ali menegang.Apa ia harus menerima perjodohan ini?
Mungkin memang benar Zahra bukanlah jodohnya.

"Ali menerimanya bi"

"Alhamdulillah kalau gitu besok kita akan mengkhitbahnya"

Ali mengangguk pasrah. Ia harus mengikhlaskan Zahra bersama lelaki pilihan orang tuanya.

Flashback off.

"Aku bahagia saat mengetahui perempuan yang dijodohkan denganku itu kamu"

"Aku juga bahagia mas"Zahra memeluk Ali.

"Inni Uhibbuka Fillah istriku"

"Ahabbakalladzi Ahbabtani Lahu"



Inni Uhibbuka Fillah
(Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah)

Ahabbakalladzi Ahbabtani Lahu

(Semoga Allah mencintaimu, Dzat yang telah menjadikanmu mencintai aku kerena-Nya)

*****

Jam makan siang telah tiba. Disinilah aku dan Raina mengisi perutku yang kosong.ku lihat mas Ali bersama temanya sedang makan disebrang pojok sana.Aku terhenyak saat mas Ali membalikan badan menatapku dengan senyuman manis yang selalu ia berikan. Dipandang seperti itu saja sudah membuatku merona merah, apalagi dirumah ia selalu saja bersikap romantis.

"Ra suami kamu jalan kesini tuh"ucap Raina

Aku mengikuti arah pandang Raina. Ternyata benar mas Ali sedang berjalan kesini.
"Assalamualaikum"salam mas Ali.
"Waalaikumsalam"Jawabku dan Raina.
"kamu sudah makan? "tanyanya

"Sudah mas"jawabku

"Aduh aku pergi aja deh Ra. Aku gak kuat dengernya.Nasib jomblo mah gini"ucap Raina menutup telinganya.Aku dan mas Ali hanya tertawa.

Mas Ali duduk dikursi depanku.

"Tadi umi menelfonku katanya kamu tidak bisa dihubungi?"

"Maaf mas ponsel aku lowbat"

"Umi nanti malam akan ke rumah"

"Ya sudah nanti aku masak yang banyak"

"Pintar sekali sih istriku ini"mas Ali mengelus kepalaku

"Mas ih nanti diliatin orang"

"Biarin, udah halal mah bebas"

Blush

Ya Allah mas Ali ini...
"Tuhkan merah lagi"

Dengan refleks aku memegang kedua pipiku.
"Ih mas"

*****

Aku saat ini sedang berkutat didapur menyiapkan makanan untuk nanti malam.Aku menggoreng ayam sembari mencuci sayuran.
Aku terlonjak kaget ketika lengan kekar memelukku dari belakang.siapa lagi kalau bukan suamiku.

"Mas ih jangan ganggu aku"ucapku
"Biarkan seperti ini lima menit saja"jawabnya mencium rambutku yang terurai bebas.
Aku hanya membiarkannya saja seperti itu.

Setelah setengah jam memasak. Aku menghidangkan makanan yang sudah matang itu dimeja makan. Sebelumnya aku sudah mencicipinya terlebih dahulu.

Sambil menunggu aku bergegas ke kamar untuk mengganti gamisku. Aku membersihkan diri dikamar mandi,membuka lemari yang terdapat banyak sekali gamis maupun khimar berwarna pink.Aku mengambil gamis yang diberikan mas Ali lalu memakainya.
Mendengar suara mobil diluar sana aku dan mas Ali berjalan keluar membukakan pintu.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam"

Aku dan mas Ali mencium punggung tangan abi dan umi.
"Ya Allah menantu umi yang cantik ini apa kabar?"ucap umi memelukku.
"Alhamdulillah baik mi"

"Aaaa kak Zahra"ucap Adiba berhambur memelukku.

"Aku kangen kak"

"Kakak juga"

"Abang enggak nih?"tanya mas Ali menunjuk dirinya.
Adiba melepas pelukanya dan memeluk mas Ali.

Semuanya sudah berkumpul dimeja makan.Makan malam pun telah dimulai. Hanya dentingan sendok dan piring yang terdengar.

"Menantu umi sudah cantik pandai masak pula"ucap umi setelah semua selesai makan.
"Masakan kakak sangat enak,nanti kapan-kapan ajarin aku ya kak"ucap Adiba

"Dengan senang hati kakak ngajarin kamu"

"Makasih kak"

Setelah semua selesai makan malam. Kini, kami sedang mengobrol ditaman belakang menikmati cuaca malam yang sangat mendukung ditemani dengan bintang dan bulan memancarkan sinar Indahnya.

Umi menceritakan semua masa kecil mas Ali. Sesekali aku tertawa mendengar cerita mas Ali sewaktu kecil yang merengek ingin meminta permen Lolipop. Semua orang tertawa kecuali mas Ali yang saat ini sedang menahan malu.

"Mi sudah lah"ucap mas Ali

"Haha muka abang lucu banget"celetuk Adiba

Semuanya semakin tertawa melihat ekspresi wajah mas Ali.Dosa gak sih ketawain suami sendiri???

*****

Aku terbangun sekitar pukul tiga pagi mendengar lantunan ayat suci Al-quran.yang ku lihat mas Ali duduk diatas sajadahnya membacakan surah Ar-Rahman. kerena lagi berhalangan aku tak ikut menunaikan shalat.Aku menitihkan air mata.Lantunan ayat suci yang terdengar sangat merdu.
Mas Ali melipat sajadahnya, Ia Menghampiriku yang masih berada diatas tempat tidur. Kopiah yang masih dikepalanya dengan wajah yang selalu meneduhkan.
"Hey kok nangis"mas Ali mengusap lembut air mataku.
"Mas tau aku sering sekali mendengar mas membacakan ayat suci Al-Quran waktu kita sebelum menikah.Saat itu aku hanya bisa mendengarnya lewat tirai pembatas musholah".

"Sekarang kamu akan selalu mendengarnya"Mas Ali mengecup keningku lalu aku memeluknya.

Cukup lama berada dalam pelukan. Suara kumandang adzan subuh terdengar,membangunkan umat muslim didunia ini untuk melaksanakan shalat subuh. Aku melepaskan pelukanku.
"Mas sudah adzan, shalat subuh dulu"ucapku

"Morning kiss dulu"kata mas Ali sambil menempelkan telunjuk dipipinya.
"Masss"

Mas Ali semakin memajukan wajahnya agar aku menciumnya.

Cupp

Dengan singkat aku menciumnya.
"Satu lagi sayang"

Cupp

"Nah gitu dong, ya udah aku ke masjid dulu.Assalamualaikum"salam mas Ali.
"Waalaikumsalam"jawabku mencium punggung tanganya.

Aku tersenyum sendiri mengingat apa yang baru saja ku lakukan. Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Sembari menunggu mas Ali pulang dari masjid, aku pergi kedapur menyiapkan sarapan dengan menu nasi goreng.
"Assalamualaikum"salam mas Ali.
"Waalaikumsalam"jawabku mencium punggung tanganya dan tak lupa mas Ali mengecup keningku.
"Sarapanya sudah siap mas"ucapku.

"Aku ganti baju dulu"

Aku mengangguk, menunggu mas Ali dimeja makan. Sudah lima menit tapi mas Ali tak kunjung datang.aku membawa saja sarapan itu ke kamar. Mungkin mas Ali sedang sibuk?
Aku membuka pintu,mataku membulat sempurna melihat mas Ali tengah duduk disofa samping rak buku,di tanganya ia memegang buku berwarna pink.
Bukankah buku itu...
Ya Allah,itu buku diary ku yang tidak pernah disentuh oleh siapapun,didalamnya ada tulisan perasaanku selama ini. Kenapa mas Ali bisa menemukan buku itu?
Next...??

29.(END) Mencintaimu Dalam Diam

Author POV

1 tahun kemudian

Ruangan dengan suasana cat dinding berwarna putih, seorang wanita tengah merintih sakit.keringat sudah membanjiri wajah cantiknya.

Ali yang tadi mendengar kabar bahwa istrinya akan melahirkan dengan cepat ia bergegas pergi ke rumah sakit.
Zahra terus melawan rasa sakitnya agar bisa melahirkan secara normal.Ali dengan setia berada disampingnya menyemangati istrinya.ia terus menggenggam tangan Zahra dengan satu tangan dan tangan satunya terulur mengusap kening Zahra yang berkeringat.
"Ayo mbak sedikit lagi"ucap dokter Raisa.
"Bismillah sayang"ujar Ali dengan senyuman manis.Zahra terus mengatur nafas dan mengejen.
"Bismillahirrahmanirrahim... aaaaa"ucap Zahra diakhiri
suara tangis bayi.

"Selamat bayinya laki-laki"ucap dokter Raisa memperlihatkan bayi merah yang masih berlumuran lendir.
Kemudian dokter Raisa membersihkan bayi merah itu,membungkusnya dengan kain.Diberikanya bayi itu dipangkuan Zahra,tak terasa air mata Zahra menangis haru saat mengecup lembut putra pertamanya. Ali tersenyum bahagia,mengecup lembut kening Zahra.Ali mulai mengadzani anak pertamanya disertai suara gemetar karena Ali tidak lagi bisa menahan tangis bahagianya.

"Terima kasih sayang"ucap Ali berkali-kali mencium kedua pipi Zahra.
*****

"Masyaallah cucu umi ganteng banget"ucap umi-Zahra mencium lembut cucunya.

kini semua keluarga sedang berkumpul melihat cucu pertamanya.
"Cucu umi yang ganteng ini siapa namanya? "tanya umi-Ali

"Alvaro Argi Naruna umi"jawabnya
"Pemimpin yang bijak,menerangi jalan kebenaran untuk keselamatan umat manusia"lanjut Ali menjelaskan arti nama anaknya.2
"Masyaallah"

*****

Zahra POV

"Masyaallah Ra anak kamu ganteng banget"ucap Raina

"Ya iyalah Na papa nya aja ganteng"jawab Syifa

"Makasih ya Kalian sudah datang jauh-jauh kesini"ucapku.

"Santai aja kali Ra,lagian aku bosen juga dikost jadi aku kesini aja deh"ucap Syifa.

"Bener tuh"timpal Raina.

"Enak ya punya suami kaya Zahra"ucap Syifa dengan tangan yang masih mengelus lembut permukaan wajah Alvaro.
"Makanya jangan jomblo"celetuk Raina
"Yeah itu omongannya diralat ya,kamu juga jomblo"jawab Syifa tak mau kalah.

"hehe baru inget"cengir Raina
Aku melihatnya hanya bisa tertawa.

Sedangkan ditaman belakang mas Ali dan sahabatnya tengah asyik mengobrol. Aku menghampiri mas Ali membawa nampan berisi brownies yang sempat aku buat dan minuman untuk mereka.
"Mas ini brownies dan minumanya"ucapku
"Terima kasih sayang"jawab mas Ali tersenyum manis.
??????

Dipangkunya bayi usia delapan bulan yang sudah mulai aktif merangkak dengan mainan kerincingan ditanganya.Aku membawa mangkuk berisi bubur untuk Alvaro.
"Sayang makan dulu ya"ucapku meraih Alvaro dari pangkuan mas Ali.Aku mulai menyuapinya.
"Mas jagain Alvaro ya, aku mau jemur baju dulu"ucapku memberikan Alvaro kembali kepangkuan mas Ali.
"Siap sayang"jawab mas Ali sambil bergaya hormat.aku yang melihatnya hanya tersenyum.
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah aku kembali menemui mas Ali,namun tidak kutemui disana. Aku berjalan menaiki tangga menuju kamar, dilihatnya mas Ali dan Alvaro tengah tertidur pulas dengan posisi saling berhadapan. Aku tersenyum melihat pemandangan itu.
Setelah semua doaku dikabulkan oleh Allah, mempersatukan aku dan mas Ali. Allah menitipkan amanah yang sangat berharga dalam hidup kami.semoga keluarga kecilku tidak hanya didunia tetapi bertemu kembali disurga-Nya. Aamiin

End.

Hallo...
Alhamdulillah temen-temen cerita'Mencintaimu Dalam Diam'telah selesai. Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita ini.Aku mohon maaf dari kesalahan penulisan,cara penyampaiannya, dan ada part yang pendek.semoga dicerita ini sedikitnya ada hikmah yang bisa diambil.Oh ya, jangan dulu hapus cerita ini dari library kalian ya, karena aku akan publis secepatnya untuk extra partnya.semoga kita bisa bertemu kembali dicerita yang baru.

Salam ukhuwah??
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


30.Extra Part

Author POV

Keharmonisan keluarga ini semakin dirasakan seutuhnya setelah Sembilan belas tahun berkeluarga.Ali dan Zahra dikaruniai dua orang anak, satu lelaki dan perempuan.Anak pertama bernama Alvaro Argi Naruna,Remaja 18 tahun ini yang masih menempuh pendidikan kelas tiga SMA favorit diJakarta.Siswa berprestasi dimata pelajaran Matematika yang berhasil menjalani Olimpiade tingkat Nasional. Tak hanya itu ia juga ketua Rohis disekolahnya.ketampanan yang diwariskan papanya,banyak wanita yang terang-terangan mengatakan cinta padanya,tetapi Alvaro tidak akan melakukan Zina melalui pacaran.Bagi Alvaro lebih baik memperbaiki diri untuk menjemput jodohnya kelak.
Amirah Fauziyah Salsabila, si bungsu yang duduk dibangku kelas 1 SMA. Ia memiliki sikap yang sama persis seperti bundanya.gadis yang lemah lembut dengan dua lesung pipi yang menambah kesan cantik diwajahnya.gadis yang terkenal kecintaanya pada mata pelajaran Kimia dan IPA.Ia juga satu sekolah dengan sang kakak.kakak beradik ini yang sama-sama diidolakan disekolah.

Kini, Zahra sedang didapur membuatkan sarapan sebelum suami dan anaknya pulang dari masjid.

"Aku bantuin bunda ya"ucap seseorang dari belakang.
"Boleh sayang sini"jawab Zahra

Tak membutuhkan waktu lama sarapan pun telah siap. Amirah menaruh sarapan itu dimeja makan.
"Assalamualaikum"salam dua lelaki bermata teduh.Zahra mencium punggung tangan suaminya begitupun Alvaro mencium punggung tangan bundanya diikuti Amirah mencium tangan Ayah dan Kakaknya.
"Sarapan dulu yuk"Semua makan dengan keheningan hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Setelah sarapan selesai dua anak muda itu sedang bersiap-siap untuk pergi kesekolah.

"Bunda kakak dan adek pamit kesekolah"pamit Alvaro kepada orang tuanya yang sedang menonton tayangan acara ditelevisi.
"hati-hati jangan ngebut-ngebut,bismillah dulu sebelum berangkat"nasihat bunda pada kedua anaknya.
"Iya bunda,Assalamualaikum"salam mereka seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam"jawab Zahra dan Ali.
*****

Malam dengan bertaburan bintang yang memancarkan sinar indahnya.keluarga kecil ini sedang berada ditaman belakang ditemani minuman susu coklat panas.
"Kakak sudah lulus nanti mau lanjut kemana? "tanya sang ayah pada Alvaro.
"Insyaallah,cita-cita Al dari kecil pengen jadi dosen yah."jawab Alvaro saling menatap kedua orang tuanya.
"Sertakan Allah dalam setiap urusan ya kak"nasihat ayah Ali.
"Kalau gadis bunda yang cantik ini mau lanjut kemana? "tanya sang bunda.

"Insyaallah, adek pengen jadi dokter bun"jawabnya.

"Aamiin"ucap mereka mengaminkan impian anaknya.
*****

Ruangan yang didekorasi bertemakan warna putih.Hari ini,suami istri itu merayakan hari Anniversary mereka.senyum bahagia terpancar dari keluarga besar ini.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..."salam Ali.Semua orang menoleh ke arah sumber suara.

"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh... "jawab seisi orang diruangan ini.
"Saya akan mempersembahkan lagu untuk istri yang sangat saya cintai. Istri yang akan selalu menemani saya sampai maut memisahkan kita"Ali menuntun Zahra untuk naik ke atas panggung.

Zahra terharu mendengar ucapan suaminya. Betapa bahagianya ia menjadi seorang wanita yang sangat dicintai Ali.
Ali mulai memetik gitar yang ada ditanganya. Sorot matanya tak lepas dari wajah cantik istrinya.
Aku bersyukur kau ada disini kasih. Di kalbuku mengiringi dan padamu ingin ku sampaikan.

Kau cahaya hati
Dulu ku palingkan diri dari cinta
Hingga kau hadir ubah segalanya
Oh inilah janjiku kepadamu

Zahra menikmati lagu yang Ali bawakan dengan senyuman yang tak pernah pudar.
Sepanjang hidup bersamamu
Kesetiaanku tulus untukmu
Hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
Sepanjang hidup seiring waktu
Aku bersyukur atas hadirmu
Kini dan selamanya aku milikmu

Tak terasa air mata Zahra mengalir begitu saja.mendengar kata demi kata yang terucap dibibir suaminya dengan sangat indah. Ia tak menyangka suaminya memiliki bakat terpendam selama ini.Suaminya itu selalu bersikap romantis dengan hal apa saja yang ia bisa lakukan. Seperti sekarang pipi Zahra sudah merona merah dibuatnya.
Yakini hatiku kau anugerah Sang Maharani
Semoga Allah berkahi kita
Kekasih penguat jiwaku

Berdoa kau dan aku di Jannah
Ku temukan kekuatanku disisimu
Kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
Oh inilah janjiku kepadamu

Sepanjang hidup bersamamu kesetianku tulus untukmu
Hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
Sepanjang hidup seiring waktu
Aku bersyukur atas hadirmu
Kini dan selamanya aku milikmu

Yakini hatiku bersamamu ku sadari inilah cinta
Tiada ragu dengarkanlah
Kidung cintaku yang abadi

Sepanjang hidup bersamamu
Kesetiaanku tulus untukmu
Hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
Sepanjang hidup seiring waktu
Aku bersyukur atas hadirmu
Kini dan selamanya aku milikmu
Ya kini hatiku

Ali mengakhiri lagunya, disusul dengan tepukan tangan semua penonton. Ali berjongkok dihadapan istrinya, dilihat semua orang yang ada diruangan ini.ia memegang kedua tangan Zahra lalu menciumnya dengan tatapan yang mendongak ke atas melihat wajah istrinya yang memerah.
Ali berdiri dari posisinya. Diusapnya bulir air mata yang mengalir diwajah cantik istrinya. Kemudian Ali membawa Zahra kedalam pelukanya. Ia mengecup lama kening istrinya.

Semua orang menangis haru melihat sepasang suami istri yang sangat romantis diatas panggung.tak hanya itu banyak jomblo yang menggigit jarinya gemas melihat sepasang kekasih halal itu.

TAMAT

🌸Jazakallah Khairan🌸